Adelia Winata
Aku memperhatikan d**a kecil Ethan yang bergerak naik turun secara teratur. Kedua tangan mungilnya terlipat ke atas persis seperti orang dalam posisi menyerah. Terkadang bibirnya bergerak sendiri dan senyum kecil tercipta di sana, entah mimpi indah apa yang sedang ia alami.
Bibirku mengulas senyum kecil mencoba larut dalam kenikmatan yang sedang kuarasakan saat ini, menatap Ethan yang tertidur dengan damai tanpa peduli pada perdebatan di bawah sana. Hal yang dengan mudah diprediiksi, kehadiran Anin yang bersamaan dengan Ibu mertuaku akan dengan mudah menciptakan perang.
Aku berjalan perlahan mendekati pintu kamar Ethan dan dari sana aku bisa mendengar lantangnya suara ibu mertuaku menghardik Anin dan Papa-nya.
“Sebagai sulung dari Bratadikara kamu sama sekali nggak becu