Anindira Maheswari
Aku butuh waktu beberapa saat untuk mencerna maksud dari kata-kata laki-laki di depanku ini. Ia masih menatapku dengan sinar mata yang sama yang tiba-tiba membuat nyaliku menjadi ciut.
"Ga, lu sadar dengan apa yang barusan lu omongin?" aku mengubah aku-kamu menjadi lu-gue, karena situasi kali ini membuat pandanganku terhadap dia tiba-tiba menjadi berbeda. Ia bukan lagi tipikal anak baik-baik seperti yang tercipta di dalam otakku sejak aku mengenal namanya dari Papa.
"Aku sadar. Benar-benar sadar." Dia menjawab dengan keyakinan penuh tanpa ada keraguan di nada suaranya dan membuatku tiba-tiba menjadi tidak nyaman.
"Lu laki-laki yang udah punya pacar, Ga. Oke gue tahu gue yang memulai semua ini tapi..." aku tertawa sendiri menutupi gugupku, sesuatu yang tidak boleh terjadi pada diriku bila berhadapan dengan laki-laki semacam Aga. "Kita hanya sekali ngobrol dan..." aku sampai kehabisan kata-kata.
"Anin..."
"Cukup Ga. Kita lupain semua. Gue minta maaf untuk yang sudah terjadi. Gue pulang."
"Anin! Tunggu."
Aku memutuskan untuk tidak mengindahkan panggilannya dan terus melangkah meninggalkannya. Aku cepat-cepat mengeluarkan mobil dari parkiran saat mataku menangkap Aga yang tadi terdiam di kursinya berjalan cepat keluar hendak menyusulku.
Aku menghembuskan napas mencoba menenangkan perasaanku yang mulai tidak menentu. Ada debar di dadaku namun aku yakin bukan karena aku jatuh cinta padanya tapi lebih kepada rasa waswas karena ide gilaku kemarin membuahkan hal yang tidak kuinginkan. Pengakuannya. Aku menyesal sekarang.
Mobil kuarahkan ke Nusa Dua. Aku butuh sesuatu untuk meredam semua ini. Satu batang rokok kuselipkan ke bibirku sambil membuang pandanganku ke arah lautan yang cukup ramai sore ini. Aku membenamkan kedua kakiku ke bawah pasir yang masih menyisakan hangat terik siang tadi.
Hei bukannya situasi ini bisa lu manfaatin buat nerusin rencana lu? Lu bisa kacaukan hidup Aga, dan Papa bakal kehilangan dia.
Suara hati di sudut yang tergelap mulai memanasiku. Aku menghembuskan asap dari mulutku mencoba menghalau suara itu. Bagaimana mungkin seorang Agastya suka pada perempuan sepertiku? Bukannya dia sudah punya seorang malaikat? Ah, aku lupa kalau iblis memang terlihat lebih menggoda. Aku mulai menyesali ucapanku waktu itu.
Aga menarik namun dia bukan laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta. Aku akui laki-laki itu cukup menyita sedikit perasaanku saat aku menggodanya waktu itu. Aku sedikit memikirkan tentangnya setelah itu. Hatiku senang saat ia mengirimkan fotoku yang ia tangkap dengan kameranya hingga membuahkan tulisanku yang sedikit berlebihan pada pesanku untuknya. Tapi aku tidak pernah berpikir dalam waktu sesingkat ini Aga memutarbalikan cerita yang awalnya kurangkai. Ia memintaku membuatnya jatuh cinta? Apa artinya itu? Dia sudah jatuh cinta padaku atau belum? Oke aku mulai menemukan titik terangnya. Aku yang terlalu berlebihan menilai. Aku terlalu cepat meninggalkannya.
Aku mematikan rokok di tanganku yang masih separuh. Meraih ponselku dan mendial nomor itu.
"Apa maksud lu tadi?"
"Kenapa kamu pergi kalau kamu masih punya pertanyaan?"
"Gue harap lu belum jatuh cinta sama gue dan yang lu omongin tadi hanya candaan lu aja."
"Anin kamu dimana?"
"Lu tinggal jawab aja."
"Kamu dimana?"
Aku langsung memutuskan pembicaraan dengan perasaan dongkol menguasai diriku. Aku benar-benar salah menilai laki-laki ini. Sialan! Kenapa sekarang aku sendiri yang masuk dalam perangkap bodohku. Seakan-akan Papa dan Aga sedang bekerjasama menjebakku. Aku benar-benar benci mereka saat ini.
***
Dimas Agastya
Apa kata-kataku salah? Aku memintanya untuk tidak berhenti membuatku jatuh cinta yang artinya bisa saja aku belum jatuh cinta padanya? Bisa jadi benar. Tapi aku suka dengan idenya untuk membuatku jatuh cinta yang artinya aku tidak keberatan untuk mencintainya kan? Perempuan ini benar-benar sudah membuatku gila.
Aku pertama kali menemuinya dengan pikiran yang jauh dari keinginan untuk melihatnya sebagai 'perempuan'. Kedua kali aku bertemu dengannya ia membuat hasrat laki-lakiku tumbuh padanya. Aku tidak munafik kalau aku tidak bisa lari dari pemandangan fisiknya yang sangat menarik, namun aku juga tidak bisa menafikan rasaku yang mulai tumbuh dari ketertarikan yang kata orang dangkal itu. Ada sesuatu pada dirinya yang membuat aku mulai terus memikirkannya. Bisa jadi ia bukanlah perempuan yang bisa dengan mudah Mama terima. Menyukainya berarti harus siap berjuang. Berjuang mendapatkannya dan berjuang memenangkannya di depan Mama.
Mengetahui bahwa ia pernah punya ide untuk menjadikanku alat untuk membalas marahnya pada Papa-nya, tidak membuatku sakit hati. Aku justru merasa spesial. Ya, Anindira Maheswari Hirmawan sudah membuatku menjadi orang yang berbeda.
Lalu sekarang apa yang harus kulakukan saat dia tampaknya sudah tak mau lagi berurusan denganku. Aku mungkin sudah salah langkah dan membuatnya takut. Seharusnya aku mengikuti alurnya saja dengan menjadikanku sebagai temannya. Tapi pengakuannya membuatku cukup terkejut dan mengacaukan juga rencana awalku. Aku sebenarnya ingin melakukan pendekatan yang normal. Mengajaknya bertemu, ngobrol dan minum kopi, satu dari beberapa hal favoritku, mengajaknya nonton kalau dia suka dan hal-hal lain yang normal dilakukan orang-orang lain. Tapi pengakuan itu mengusik harga diriku dan berbuah pengakuanku juga. Tentang aku yang tidak keberatan dengan ide gilanya meski aku tahu ia pasti merencanakan itu tanpa berniat untuk jatuh cinta padaku. Hal jahat itu ternyata tidak membuatku marah.
Aku masih berharap ponsel di depanku kembali berbunyi dan ada nama Anin di sana. Aku masih ingin menuntaskan pembicaraan kami dan mencoba untuk memperbaiki situasi ini. Mungkin aku sebaiknya mundur satu langkah agar bisa maju tiga langkah. Ya, itu strategi yang bagus, pikirku.
Ponsel berbunyi. Aku terlonjak dan menyambarnya cepat.
"Halo, Anin."
"Anin?" suara di seberang sana seketika menekan tombol kesadaranku. Aku memejamkan mataku dengan ekspresi sesal saat tahu itu suara Kiara.
"Hi, Ki. Maaf."
"Siapa Anin?"
"Ummm..."
"Mas Aga?"
"Anindira anak bosku, Ki. Tadi kami memang sedang bicara di telepon."
"Oh..." dia hanya berucap pendek tanpa membahasnya lebih lanjut. "Kamu apa kabar, Mas? Kok nggak nelpon?"
"Maaf, Ki. Kemarin pesawatku delay dan aku tiba agak terlambat di kantor jadi sudah keburu-buru masuk ruang meeting."
"Okay. Aku kangen." Aku terdiam. "Mas Aga?"
"Ya."
"Kamu nggak kangen?"
"Kiara ummm...aku rasa kita perlu bicara."
Ada jeda tercipta selama beberapa detik. Aku tahu kalimat 'kita perlu bicara' tidak punya kesan baik bagi Kiara saat ini.
"Kenapa? Hatimu berubah? Kamu nggak berniat membawa hubungan kita lebih serius lagi?" Tentu saja ia dengan mudah membaca keraguanku sekarang. Ia tahu hatiku mulai berubah.
Aku membisu. Aku tidak mungkin menciptakan alasan bodoh sekadar menghiburnya dan berbohong padanya lebih lama lagi.
"Aku berharap aku bisa mengatakannya secara langsung sama kamu, Ki."
"Apa karena Anin?" Tentu saja ia akan menyebut nama Anin mengingat betapa putus asanya nadaku saat menyapanya dengan Anin karena mengira teleponnya tadi berasal dari Anin. Itu bukan sapaan yang terdengar biasa.
"Bukan itu, Ki." Hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku agar membuat Kiara tidak terlalu tersakiti, tapi aku salah. Aku bisa mendengar Kiara terisak pelan di sana dan membuat aku begitu marah pada diriku sendiri.
"Kiara, aku minta maaf. Aku nggak mau kamu sedih seperti ini."
"Tapi kamu sudah buat aku sedih, Mas."
"Iya aku tahu. Aku bersalah banget sama kamu."
"Apa Anin juga suka sama kamu?"
"Ki..."
"Jawab aja Mas."
"Aku nggak tahu."
"Kalau misalnya dia nggak suka apa aku boleh menunggu kamu?"
"Kiara, jangan begitu. Aku nggak pantas buat kamu tunggu. Aku bukan laki-laki baik. Aku sudah nyakitin kamu."
"Tapi aku cinta sama kamu, Mas. Aku tahu, harusnya aku menunggu sampai kamu benar-benar bisa mengatakan kamu cinta sama aku. Tapi aku juga sudah terlanjur cinta sama keluargamu. Aku hanya takut kamu berubah dan kehilangan kamu." Ada nada sesal dalam kata-katanya. "Karena itu aku nggak bisa menahan diriku untuk menciummu waktu itu."
Aku sudah tidak tahu lagi betapa bodohnya aku sudah membiarkan seorang perempuan semanis Kiara sampai memohon padaku. Aku merasa sangat tidak pantas dan begitu menyesal sudah menyakiti hatinya. Kenapa aku merumitkan situasi ini. Mencintai Kiara adalah hal yang mudah namun kenapa aku memilih hal lain yang belum pasti dan tentu saja tidak akan mudah kedepannya.
"Ki, minggu depan aku pulang dan kita bicara."
***
Anindira Maheswari
Usiaku sekarang 28 tahun. Aku lulusan teknik arsitektur tapi tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang arsitek karena menjadi seorang arsitek adalah keinginan Papa untukku. Namun arsitek bukan hal buruk juga karena aku sebenarnya sangat tertarik dengan desain interior. Aku dan Mama sejak dulu suka sekali mendiskusikan hal-hal tentang desain interior, Mama adalah otak yang mendesain seluruh interior rumah kami. Termasuk kamarku yang begitu nyaman dan punya banyak kenangan dengannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah saat ini. Bik Yuni, salah satu asisten rumah tangga kami pernah memberi kabar padaku kalau Adelia banyak merubah desain interior di rumah bahkan mengganti beberapa perabot.
Aku sudah menduga hal itu terjadi ketika aku memutuskan untuk pergi dari Jakarta menuju Bali. Awal aku tiba di Bali aku adalah tipikal anak kaya yang manja dari kota besar yang datang ke sini hanya untuk sekadar bersenang-senang. Namun ketika aku bertemu Bagas aku belajar banyak hal dari dia. Salah satunya tentang kemandirian. Akhirnya aku mencoba untuk tidak menyia-nyiakan hidupku dan ingin memberi bukti pada Papa kalau aku bisa hidup tanpa uangnya. Aku pun mulai bekerja di sebuah wedding organizer selama setahun lebih. Aku belajar banyak dan merasa cukup punya keahlian saat ide-ideku dalam mendesain dekorasi khususnya, banyak disukai klien. Dengan modal itu aku memutuskan keluar dan mencoba berdiri sendiri dengan menjadi vendor dekorasi pernikahan memakai namaku sendiri. Aku beruntung pernah bekerja di sebuah WO cukup terkenal di Bali yang membuat aku bisa mengantongi banyak link yang berkaitan dengan dekorasi dulai dari supplier, relasi sampai klien.
Selama di Bali aku hanya sekali pulang ke Jakarta dan mendapati apa yang Bik Yuni katakan benar adanya. Namun aku menerima semua perubahan itu meski dengan hati patah karena aku mulai kehilangan jejak Mama. Kenangan Mama yang tersisa hanyalah kamarku. Semua barang-barang Mama yang masih tersisa kusimpan di sana tapi sekarang dengan teganya Papa mulai menyingkirkan yang tersisa itu. Ia mengirimkan semua barang itu ke sini.
Aku hanya bisa menatap kotak besar itu yang sama sekali belum kukeluarkan satupun isinya dengan mata berkaca-kaca. Papa seperti sedang menyingkirkan satu per satu masa lalunya. Kepergianku ke Bali tentu saja memudahkan Papa dalam hal menyingkirkanku. Saat itu ia memang memintaku untuk sekolah lagi ke Singapura namun dulu karena aku mengira itu caranya agar membuatku pergi dan memudahkan hidup Adelia, aku justru yang dengan sukarela pergi karena berpikir aku pergi bukan menuruti keinginannya. Tapi intinya sama saja. Papa menyingkirkanku dan juga kenangan-kenanganku yang tersisa bersama Mama.
"Adelia hamil." Begitu kabar yang Papa beritahukan pagi ini saat aku baru saja membuka mata dari tidurku yang tidak pulas karena terus memikirkan masalah yang telah kuciptakan sendiri dengan Aga. Sekarang aku sadar Papa sudah punya keluarga baru dan aku merasa benar-benar tidak memiliki siapapun. Air mataku kembali mengalir dan membuatku terisak. Aku meraih ponselku dan menelepon Kikan.
"Kikan, lu bisa kesini nggak? Gue butuh lu."
"Oke, oke. Aku mandi dulu ya." Kikan terdengar panik mungkin karena mendengar aku yang sedang menangis. "Oh ya kamu mau aku bawain apa?"
"Lu singgah ke Bakers bawain gue kopi, donat plus racun tikus."
"Ok....what?"
"Canda."
"Gila kamu ya lagi nangis sempet-sempetnya bercanda." Sembur Kikan di ujung sana dan membuatku sedikit terhibur. Aku suka Kikan yang panik karena dia terdengar lucu.
"Cepetan ya, Kan."
Kikan tiba di kontrakanku dalam waktu 30 menit sambil membawa dua gelas kopi dan sekotak donat tanpa racun tikus tentunya.
"Ada masalah apa sampai buat kamu berpikir untuk bunuh diri?" Kikan membuka kotak donat di hadapanku.
"Nggak sampai bikin gue bunuh diri kali." Aku mencomot satu donat yang dilapisi sugar glaze berwarna ungu favoritku. Kikan masih belum menyentuh kopi dan donatnya. Pandangannya masih ia arahkan padaku yang sekarang sudah sibuk mengunyah donat pertamaku.
"Oke gue cerita."
Dan mengalirlah cerita tentang kehamilan Adelia dan perasaanku tentang Papa yang mulai menyingkirkan aku dan kenangan Mama.
"Lu liat kotak besar itu?" Kikan mengikuti arah telunjukku. "Itu barang-barang Mama dan juga barang-barangku pemberian Mama. Papa mengirimnya semua ke sini minggu lalu."
"Wahhh..." Kikan hanya berucap pendek mengekspresikan kekecewaannya dan memahami kesedihanku.
"Dan lu tahu siapa yang nganterin kotak itu?"
Kikan menggeleng. Aku menyesap kopiku.
"Aga."
"Oh ya?" Kikan cukup terkejut seperti dugaanku. Aku memang menceritakan tentang Aga dan rencana bodohku pada laki-laki itu namun aku belum menceritakan tentang pertemuan pertamaku dengan Aga karena kotak besar berisi banyak kenangan Mama itu.
"Ya, hubungan Aga dan Papa sepertinya cukup dekat sampai-sampai dia menitipkan semua barang-barangku ini pada anak emasnya itu."
"Terus sekarang rencana kamu apa?" tanya Kikan sambil berpindah duduk di sebelahku.
"Aku nggak tau. Aku marah tapi aku nggak tahu harus gimana, Kan. Aku benar-benar merasa sendirian saat ini." Kikan mengelus-elus punggungku yang kini mulai kembali meneteskan air mata.
"Mungkin hanya perasaan kamu aja, Nin. Kamu bisa pulang ke Jakarta bicara dengan Papamu dari hati ke hati biar kamu jangan terus menduga-duga yang berakhir kamu yang tersakiti."
"Aku nggak tahu, Kan. Rumah Jakarta sudah asing buatku."
"Tapi kamu harus coba. Bicara dengan Papamu. Katakan apa yang kamu rasakan selama ini."
"Percuma." Aku menggeleng mengingat berapa banyak perdebatan yang terjadi antara aku dan Papa di telepon yang berakhir dengan tuntutan Papa agar aku memahaminya. Dia sepertinya tidak pernah mau memahamiku.
"Anin, laki-laki yang sering banyak nggak taunya kalau kita nggak bicara. Kasih tau mereka."
"Tapi laki-laki ini Papaku, Kikan. Seorang ayah harusnya tahu perasaan anaknya. Dia hanya sudah terlalu tergila-gila pada perempuan itu. Laki-laki yang sedang jatuh cinta kadang suka lupa dengan sekelilingnya bahkan anak sendiri."
Aku menyeka kedua mataku yang basah saat terdengar bel rumahku berbunyi. Kikan memberi tanda padaku kalau dia yang akan keluar melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi seperti ini.
Tidak sampai satu menit Kikan kembali lagi.
"Aga yang datang." Ia berkata setengah berbisik.
"What?" Aku menjerit tertahan.
"Dia masih depan pagar sih. Gimana?" Kikan menanti persetujuanku untuk mengijinkan Aga masuk atau pura-pura menulikan kuping sampai laki-laki itu mengira aku tidak di rumah. Tapi tentu saja mobil yang terparkir di carport akan dengan mudah menginformasikan keberadaanku di rumah.
Aku kembali menyeka kedua mataku memastika wajahku tidak sembab, mengikat rambutku seadanya dan berjalan keluar sambil meminta Kikan untuk tetap di dalam. Masih dengan kaus gombrong dan celana pendek aku menemui laki-laki yang kemarin membuatku tidak bisa tidur semalaman.
Dari balik pagar aku bisa melihat sosok yang sedang membelakangiku itu. Itu tampak sangat rapi dengan kemeja biru muda dan pantalonnya. Saat tanganku menyentuh pagar untuk membukanya, tubuhnya berbalik.
"Pagi." Katanya diiringi senyuman.
"Mau ngapain lu?" kataku dengan nada tidak suka.
"Mau memberi jawaban atas pertanyaan kamu kemarin."
"Lu nggak bisa seenaknya datang ke rumah gue. Apalagi pagi-pagi gini." Kata-kataku ketus tanpa mempersilahkan ia masuk.
"Bisa kita bicara di dalam?"
"Nggak bisa."
"Anin."
"Jangan panggil-panggil nama gue. Gue nggak suka!"
"Oke, kamu mau kita berdebat di jalan seperti ini lalu diperhatikan orang-orang?"
Aku berdecak tak percaya dengan ancamannya yang basi namun aku tidak punya pilihan lain. Aku rasa akan lebih beradab mengajaknya masuk dan bicara di dalam seperti orang normal dan bukan seperti pasangan yang sedang bertengkar.
"Aku nggak tidur semalaman memikirkan pertanyaan kamu. Jadi aku berpikir sebelum aku ke kantor aku ingin menuntaskan masalah ini."
"Masalah? Ini bukan masalah." Aku sedikit mencemooh mengecilkan arti dari apa yang terjadi kemarin namun sekaligus berbohong karena ini sebenarnya juga masalah buatku yang bahkan sampai membuat aku susah tidur.
"Bagimu mungkin nggak. Tapi bagiku iya."
"Kamu tau dari mana alamatku?" aku memicingkan pandanganku ke arahnhya.
"Papamu. Ia waktu itu memintaku mengantarkan barangmu ke rumahmu hanya saja saat itu kamu nggak di rumah dan aku sempat melihat i********: story-mu saat kamu sedang berada di Sofitel jadi aku coba ke sana dan untung sekali aku bisa bertemu denganmu di lobi." ia berkata-kata dengan sangat lancar.
Aku memandangnya dengan bersedekap sebagai ekspresi bahwa aku sebenarnya tidak suka dengan kehadirannya. Dan wow dia tahu akun Instagramku? Seberapa jauh ia sudah menguntitku?
"Kita memang nggak pernah ketemu tapi aku bisa mengenali wajahmu dari semua foto yang Papa-mu pajang di kantornya. Ia selalu bangga sama kamu." Kata-katanya ini mampu membuat kedua tanganku perlahan turun. Benarkah Papa memasang banyak fotoku di kantornya? Perlahan emosi dan amarahku larut bersama informasi yang kudapat dari mulut Aga.
"Aku menyukaimu, Nin." Kata-kata Aga tidak mengejutkanku. "Aku nggak tahu sebesar apa masalah antara kamu dan Papamu. Tapi aku nggak masalah kalau kamu memanfaatkanku. Pertanyaanku hanyalah apakah aku cukup berarti buat Papa kamu sampai ia akan merasa benar-benar kehilangan kalau kamu merebut aku?"
"Aku rasa iya. Karena dia selalu memuji apa yang kamu kerjakan dan bahkan memperingatkan aku saat aku mengatakan ingin membuat kamu jatuh cinta padaku."
"Kamu udah nggak lu-gue lagi. Aku suka." Dia tersenyum kini tapi tetap tidak mengubah ekspresiku.
"Oke kalau begitu. Lalu menurutmu kapan aku mengundurkan diri?"
Aku berdesis tak percaya.
"Aku sudah bilang kan aku sudah membatalkan rencana itu."
"Tapi akan lebih mudah sekarang kan? Karena aku juga tahu rencanamu dan aku nggak masalah aku dimanfaatkan."
Aku tertawa sumbang tidak percaya dengan semua yang ia mau lakukan untuk aku. Laki-laki ini bodoh atau ia memang punya harapan besar aku akan jatuh ke pelukannya karena pengorbanannya. Dia terlalu percaya diri dan itu bukan kesan yang kutangkap saat aku mengenalnya pertama kali. Ia benar-benar berbeda.
"Kamu serius? Kamu nggak takut karirmu berakhir?" aku mencoba mengikuti alur yang ia ciptakan dan melihat sampai mana keseriusannya.
"Aku bisa melamar ke perusahaan lain."
"Papaku punya banyak relasi ia bisa saja menutup jalan karirmu."
"Oke kalau begitu sambil menunggu amarah Papa kamu reda, kamu yang membiayai hidupku. Kamu kan punya usaha sendiri sekarang."
"Kamu gila." Akhirnya kali ini aku bisa tersenyum lebih tulus.
"Makasih sudah senyum."
"Begini cara kamu merayu perempuan?"
Dia menggeleng.
"Aku seperti ini hanya dengan kamu."
Oh entah aku harus tertawa atau tersanjung. Aku tidak percaya dengan mulut manisnya. Lalu bagaimana dengan perempuan yang ia bilang kekasihnya itu?
"Kamu membuat aku takut, tau nggak?"
"Kamu nggak harus membalas perasaanku kalau pada akhirnya aku memang nggak bisa membuat kamu suka. Kalau misalnya itu yang kamu takutkan. Tapi aku berharap kamu mencoba untuk mengenal aku. Dan kamu mengijinkan aku mengenalmu."
"Kamu akan memikirkan ulang kata-katamu ini setelah mengenalku. Kamu akan tahu aku bukan perempuan yang cocok kamu bawa ke hadapan ibumu." Dia terpana sesaat dan aku merasa aku sudah menembaknya di titik yang tepat. Berarti benar dia tipikal anak-baik-baik kesayangan ibunya. Aku tidak salah.
"Lalu bagaimana dengan malaikat itu?" aku menaikkan kedua alisku dan mencoba menariknya keluar dari diamnya.
"Kiara?"
"Ah namanya Kiara."
"Kami bukan...." Ia terdiam dan mengangkat wajahnya memandangku. "Aku akan bicara padanya."