Radinka memutuskan untuk kembali ke kelas setelah selesai menyantap batagornya.
Untuk menuju kelasnya di lantai 2, ia harus melewati koridor kelas 10 yang biasanya terdapat banyak anak yang berinteraksi di depan kelas. Entah itu bergosip, memperhatikan dia yang tidak juga peka, bercanda, sampai ada yang bermain petak umpet atau hanya kejar-kejaran.
Entah apa serunya. Radinka belum pernah mencoba hal itu. Selama di sekolah ini, ia hanya melakukan kegiatan bersenang-senang di dalam kelas atau dilapangan. Tidak pernah di koridor.
Saat Radinka lewat, tidak ada satupun adik kelas yang menyapanya seperti saat teman-teman yang lain disapa dengan hangat. Semua menganggap Radinka adalah anak yang harus dijauhi. Mereka seperti itu karena termakan gosip yang entah dari mana. Seperti contohnya, gosip tentang Radinka yang menyogok masuk sekolah ini, Radinka yang setiap tahun mendapat bocoran soal semester, Radinka seperti ini, Radinka seperti itu.
Radinka sendiri memilih menutup mata dan telinga daripada mengklarifikasi semua gosip miring itu. Tidak ada gunanya, pikir Radinka.
"Radinka."
Radinka reflek menghentikan langkahnya dan menoleh saat ada yang memanggil namanya.
"Mau apa lo manggil gue?" Tanya Radinka ketus. Bagaimana ia tidak ketus kalau yang memanggilnya adalah sumber kekesalannya pagi ini. Siapa lagi kalau bukan Bara.
"Pulang sekolah temuin gue di taman sekolah. Jangan coba-coba kabur atau lo gak bakal bisa naik kelas." Setelah mengatakan itu Bara pergi. Radinka gelagapan karena ia baru saja mencerna kata-kara Bara dan ingin protes. Tapi Bara sudah tidak ada di depannya.
"Ihhh dasar Aldebaran jantung deg-degan. Kesel banget gue sama lo. Lo pikir lo itu siapa hah? Dasar cowok sok perfect! Gue bakal musnahin cowok macem lo!" Radinka ingin sekali berteriak tapi ia tahan karena banyak yang memperhatikannya. Ia tidak habis pikir Bara akan seenaknya begini.
Radinka memilih melanjutkan langkahnya menuju kelas. Terserah Bara ingin bilang apa yang jelas Radinka hanya ingin segera ke kelas dan duduk mendengarkan musik.
(Buk)
"Ups. Maaf."
Radinka tidak ambil pusing saat ada yang menabraknya kemudian meminta maaf dengan raut wajah bersalah yang dibuat-buat. Ia tau orang itu. Orang itu adalah Neina. Neina. Murid famous yang seakan-akan punya wewenang penuh disekolah ini.
Dan murid jenis itu adalah murid yang Radinka benci. Mereka berlaku semena-mena. Mereka akan menyapa jika mereka membutuhkan sesuatu tapi jika tidak, jangan harap dilirik. Bahkan sadar atau tidak, para guru selalu memihak mereka. Mereka cantik, kaya, dan juga pintar. Dimata guru, mereka lah murid idaman.
Radinka sangat tidak menyukai mereka. Apalagi kalau mereka secara tidak sadar menindas yang lemah.