Pagi yang cerah menyambut seluruh makhluk di dunia untuk memulai aktifitasnya. Namun cerahnya matahari takkan berpengaruh bagi pemuda yang satu ini. Jaime Nathaniel Schneider, atau biasa dipanggil Nathan, pemuda berusia 28 tahun, seorang dokter bedah ini sedang menjalani pendidikan S3-nya di tanah kelahiran sang ibu, Korea Selatan. Ia hanya tinggal bersama dengan sang ibu sejak ia berusia 9 tahun. Mengapa? Bukan karena sang ayah meninggal, tetapi karena ayahnya harus bertanggung jawab atas apa yang telah sang ayah lakukan terhadap yaah kalian akan tau nanti. Nathan menggeliat, masih enggan membuka matanya walau ia tau ia akan terlambat berangkat ke kampus bila ia tidak bangun dengan segera.
KREEEEEEEEEK
Pintu kamar itu terbuka. Menampakkan seorang wanita paruh baya yang membawa handuk di tangannya.
"Nathan, ayo bangun. Ini sudah hampir jam 7 kau bisa telat nanti" ujar sang ibu pada pemuda dihadapannya itu.
"Iya aku bangun" jawabnya sambil beranjak turun dari kasurnya dan beralih mengambil handuk di tangan sang ibu lalu masuk ke kamar mandi untuk bersiap mengawali hari.
Tap tap tap
Derap langkah Nathan seketika terhenti sejenak ketika ia mengingat akan satu hal. Ia lupa memberitahu ibunya tentang jam kelasnya hari ini. Ia lupa sedang tidak ada kelas pagi. Biarlah, pikirnya. Setelah selesai berpakaian ia langsung turun menemui sang ibu untuk sarapan bersama.
"Morning mom" ujarnya dengan senyum yang melekat dibibirnya.
"Morning too honey" jawab sang ibu sambil menyiapkan roti untuk putra kesayangannya dan untuk dirinya sendiri
"Nathan, kau tidak bersiap berangkat ke kampus? Bukankah ada kuliah pagi hari ini?" Tanya sang ibu padanya.
"Aniya, tidak ada kelas pagi ini. Aku lupa mengingatkan eomma. Hehe" ujarnya disertai cengiran khasnya dan kembali melahap makanannnya.
Siang harinya, Nathan berangkat ke kampus dengan harapan tak ada hal aneh yang akan menimpanya. Ia mengendarai sedan sport miliknya, hadiah ulang tahun dari ayahnya yang berada di Milan, Italy. Ia mengendarainya dengan kecepatan sedang karena berhubung masih banyak waktu untuk memulai kelas hari ini.
Saat dalam perjalanan, Nathan mampir sebentar di sebuah cafe untuk membeli satu cup americano. Setelah menunggu pesanannya cukup lama akhirnya datang juga. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke kampus. Jalanan sudah cukup padat karena mengingat sebentar lagi adalah waktu jam makan siang.
Sesampainya di kampus, entah mengapa Nathan merasa parkiran mobil sangat ramai. Apa ada acara hari ini? Sudahlah biarkan saja, pikirnya. Ketika ia baru saja keluar dari mobilnya ada seorang yang tak sengaja menyenggol tubuhnya karena sengaja di senggol temannya. Otomatis minuman yang berada di tangannya itu tumpah dan reflek memegang anak itu.
"Hei kau baik-baik saja?" Tanyanya pada anak berkacamata tebal dihadapannya itu. Anak itu hanya menggelengkan kepalanya dan berdiri lagi dengan benar.
"Joeseonghimnida sunbaenim. Aku akan ganti minumanmu yang-"
"Tak perlu. Lagipula itu sudah tinggal sedikit. Aku duluan" ucap Nathan sambil tersenyum dan meninggalkan anak itu sendirian. Anak itu hanya menatap punggung Nathan dan kembali berjalan dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Ketika Nathan sampai di kelas, ia duduk di kursi paling belakang. Entah mengapa, tapi itu adalah tempat favoritnya. Sesaat setelah ia datang, ia melihat anak cupu yang tadi. Awalnya ia tidak ingin menegur tetapi entah kenapa ketika melihat anak itu dikerjai oleh anak seangkatannya ia merasa kesal. Seperti ada semacam ikatan batin.
"Yak! Hentikan itu!" gertaknya sambil berdiri dan menggebrak meja. Yang mengerjai anak culun itupun berhenti dan menyingkir ketika Nathan menarik anak itu keluar dari kelas dan mmembawanya ke toilet.
Saat berjalan ke toilet anak itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Entah karena ia takut atau karena ia malu. Bahkan hingga sampai di toilet pun ia terus menundukkan kepalanya. Bajunya basah kuyup dan bau telur busuk tepat di atas kepalanya. Nathan yang melihat kondisi anak itu hanya bisa menghela napas berkali-kali.
"Hei kenapa kau terus diam? Mengapa juga kau diam saja saat mereka mengerjaimu seperti itu? Kenapa kau biarkan dirimu dipermalukan begitu?" Ucapan Nathan tidak begitu penting mungkin bagi anak ini. Ia malah mengganti bajunya dan membersihkan rambutnya seperti mandi kembali.
"Sunbae, lebih baik kau kembali ke kelas. Jangan pedulikan aku" lirihnya. Tentunya Nathan kesal mendengarnya. Bagaimana tidak? Bukannya berterimakasih malah berbicara seperti itu.
Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Nathan langsung kembali pergi ke kelas dengan sengaja menabrak tubuh anak itu hingga badannya berbalik. Ia tidak menyadari bahwa anak itu menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
Hingga sore hari ketika Nathan selesai mengerjakan tugas bersama teman-temannya di kampus, ia tak melihat lagi bocah itu. Bahkan teman-temannya pun ikut bingung, kenapa Nathan terlihat seperti orang yang khawatir akan sesuatu hal yang buruk akan terjadi bila ia tidak bersama anak itu.
"Yak! Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau terlihat begitu cemas? Apa yang kau cemaskan? Janganlah terus berpikir ayolah sudah waktunya kita bersenang-senang" ucap Clark, salah satu teman Nathan.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja-"
"Aaaah sudah sudah! Sekarang lebih baik kita main ke game sentral? Bagaimana?" Tawar Jeffrey pada ketiga temannya dengan cara memotong ucapan Nathan.
"Boleh saja.Ayo" jawab Justin, teman Nathan yang lain. Nathan hanya mengangguk dan ikut bersama dengan semuanya. Tanpa mereka berempat sadari, anak itu sedang memperhatikan Nathan dengan tatapan iri.
Biasanya, Nathan akan langsung melupakan apa yang sedang ia pikirkan bila ia dan kawan-kawannya pergi ke pusat game ini. Namun, entah mengapa saat ini Nathan merasa gusar. Entah karena apa. Dia merasa bahwa ia seperti mengenal anak itu. Ia terus berpikir bahkan hingga sampai di rumah ia masih terus berpikir. Apa anak itu akan baik-baik saja setelah kejadian tadi? Sepertinya juga ia anak baru, atau anak pindahan? Aaah kenapa juga aku harus repot-repot memikirkannya. Lupakan sajalah batinnya.
"Nathan, apa eomma mengajarkanmu untuk mendiami makananmu hingga dingin hm?"ujar sang ibu padanya. Nathan hanya menampilkan senyum dengan menunjukkan giginya dan melanjutkan acara makan malamnya bersama dengan sang ibu.
"Okay, jadi bagaimana harimu? Apa kau tadi main lagi ke game sentral?" Tanya sang ibu bertubi-tubi.
"Ne, aku main ke sana sebentar. Lalu mampir ke rumah sakit karena katanya aku harus visit menemui pasien yang minggu kemarin di operasi" jawabnya sambil mengunyah makanan dimulutnya.
"Nathan, tadi eomma mendapat telfon dari appamu" ucapan sang ibu sontak membuat Nathan berhenti makan dan menatap eommanya dengan tak percaya.
"Benarkah? Lalu apa yang appa katakan? Apa dia bilang akan kemari lagi?" Tanya Nathan dengan sangat antusias.
"Ne, dia bilang 3 bulan yang akan datang ia akan pulang dan menetap disini. Tapi kau tak apakan bila appamu itu kembali ke sini?"
"Aku justru senang ia kembali. Sudah setahun appa belum pulang lagi ke sini. Aku sangat senang mendengar berita ini" senyumnya ia keluarkan setelah ia selesai bicara.
Dengan ini, Nathan lupa tentang bocah yang tadi bertemu dengannya. Mungkin saja, malam ini ia akan bermimpi indah dan berharap semoga semua ini cepat berlalu. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang ayah.