Semenjak pertemuannya dengan Alta dan Bryan, Lea terus-menerus diikuti oleh bayang-bayang ketakutan yang selama ini ia rasakan.
Hanya ada dua kemungkinan mengapa dirinya mampu di kenali dan di suruh untuk menemu kedua orang yang bisa ia ketahui dari auranya merupakan salah satu orang berpengaruh entah di satu pack atau mungkin di bangsa werewolf itu sendiri.
Alasan pertama adalah karena dirinya yang dengan sengaja menyembunyikan keberadaan wolf miliknya jauh di dalam alam bawah sadarnya atau alasan lain dan yang paling ia takuti adalah bahwa mereka telah mengetahui identitasnya yang sebenarnya.
Dirinya memanglah hanya seorang manusia biasa sekarang. Namun ketika wolf nya berada di dalamnya maka dirinya adalah salah satu she-wolf di dalam pack yang juga di penuhi oleh misteri keberadaannya sendiri.
Lea tidak bisa fokus dalam pekerjaannya hingga beberapa kali mampu membuat kedua teman barunya menatap bingung dengan tingkah dirinya yang teramat berbeda dari biasanya.
Keduanya menyadari jika sifat yang kini tengah ia tunjukkan itu sangatlah berhubungan dengan pertemuannya dengan kedua orang tadi. Namun mereka tidak sedikitpun berani untuk mencampuri urusan pribadi temannya yang baru mereka kenal seminggu belakangan ini.
"Lea! Kamu gak papa?"tanya Bella penuh kekhawatiran pada temannya itu sambil menatap kearah temannya dengan penuh rasa khawatir. "Hah? Ah! Aku gak papa kok. Cuman sedikit pusing aja kok,"balas Lea sambil tersenyum kepada temannya yang tengah khawatir itu.
"Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang? Kamu pucet loh,"ucap Bella sambil melirik sang kekasih seolah mengatakan untuk berusaha membantunya membujuk temannya itu.
"Gak usah, aku mau ke pantry dulu aja. Mau buat kopi. Kalian berdua mau juga?"tanya Lea berusaha tenang sambil menatap kedua teman dekatnya selama dirinya bekerja di perusahaan ini. "Kita gak perlu!"
"Ya udah, kalo gitu aku ke pantry dulu."pamit Lea smabil bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju pantry dengan pikiran yang terus berkecamuk tentang hal tadi.
Sesampainya di pantry, Lea dengan perlahan mulai membuat kopi miliknya sambil terus mengira-ngira apa yang nantinya akan diucapkan oleh dua orang yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.
Hingga suara dering telepon miliknya dengan tiba-tiba mampu membuatnya tersadar dan dengan segera di angkatnya telpon itu sesaat setelah meilihat siapa yang menelepon dirinya.
"Hi Jhoanna! Ada apa?"sapa Lea pada orang yang menelepon dirinya itu dengan nada yang terkesan sangat santai dan ramah.
"Lea! Kamu dimana sekarang?"tanya orang yang berada di seberang sana dengan nada yang tampak terdengar panik hingga mampu membuat Lea secara tak langsung juga merasa bingung dan panik di buatnya.
"Aku di kantor sekarang. Ada apa?"tanya Lea dengan nada yang berusaha ia buat setenang mungkin. "Kamu inget soal keluargaku bukan?"
"Iya inget. Kenapa?"
"Mereka mau kesini!"panik Jhoanna yang seketika mampu membuat Lea terdiam bingung sekaligus kesal lantaran dirinya dan Jhoanna hampir memiliki kisah hidup yang sama yaitu sama-sama kabur dari keluarga mereka.
"Ya udah, kamu sekarang ke apartment ku atau Marry. Nanti sepulang kerja aku akan segera langsung pulang. Aku masih ada urusan disini."balas Lea dengan nada yang terkesan sedikit malas dalam menanggapai kepanikan sang sahabat. "Oke!"
Sesaat setelah panggilan telepon terputus, Lea dengan pelan berusaha menyemangati dirinya sendiri meskipun rasa resah dan takut terus-menerus menggerogoti dirinya. "Oke! Apapun itu, semua harus di hadapi dengan baik!"
***
Jam istirahat makan siang telah berbunyi dan dengan langkah perlahan, di langkahkan kaki jenjang miliknya itu di tangga menuju rooftop dengan perlahan sambil berusaha untuk mengulur waktu guna menenangkan dirinya dari kegugupan dan kekalutan yang sejak tadi pagi ia rasakan dalam batinnya.
Sesaat sebelum membuka pintu yang menyambungkan antara anak tangga dengan sebuah taman yang berada di depannya, di tariknya nafas dalam-dalam guna mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin karena entah nantinya ia bisa atau tidak menghirup oksigen sebebas ini.
Ketika ganggang pintu itu di dorong, terpampanglah taman yang sangat indah yang sanyangnya sepi dari pengunjung karena kebanyakan karyawan di kantor ini hanya mendatanginya untuk sekedar merilekskan diri atau hanya mencari ide untuk projek mereka. Di ujung taman itu, terdapat dua orang pria yang berdiri gagah seakan tengah menunggunya sedari tadi tanpa menunjukkan raut ramah sama sekali.
Di langkahkannya kaki itu menuju ke arah mereka berada dengan perasaan kalut yang amat menggerogoti jiwanya. Sesaat setelah ia tiba, hanya terdengar suara hembusan napas dari ketiganya tanpa ada suara sedikitpun hingga ia memutuskan untuk menjelaskan dirinya tanpa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
"Mohon maaf sebelumnya. Saya ingin menjelaskan jika saya bukanlah seorang rogue seperti apa yang anda sekalian pikirkan,"ucap Lea dengan di buat sesantai mungkin tanpa menunjukkan sikap tak hormat sedikitpun kepada dua orang di depannya itu.
"Mengapa kami tidak bisa merasakan kehadiran wolf mu di tubuhmu? Dan dari pack mana sebenarnya asalmu?"utara Bryan yang kali ini menunjukkan sikap penasaran tanpa mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Lea.
"Ekhm! Saya berasal dari sebuah pack kecil di Alaska tuan. Untuk pertanyaan lainnya mohon maaf saya tidak bisa menjawabnya. Saya kemari bukan berniat kabur dari pack saya tuan, saya hanya berusaha untuk mengenal dunia lainnya yang berbanding terbalik dengan pack saya."jelas Lea yang kali ini berusaha ia buat sejelas mungkin sambil berusaha menutup-nutupi rahasia lainnya.
"Artem's Pack. Apa kau mengetahui tentang itu?"tanya Alta dengan nada datar serta pandangan penuh intimidasi yang terarah kepada Lea seakan tengah mengamati gerak-gerik wanita berusia 3 tahun di atasnya itu.
Mendengar nama pack nya di sebut, Lea tak bisa menutupi raut terkejutnya untuk sepersekian detik dengan respon tubuhnya yang menegang dan hal itu lagi-lagi tak luput dari pengamatan Alta terhadapnya.
"Ah! Atau kau sebenarnya berasal dari pack itu?"benar! Dugaan Alta terhadapnya menunjukkan sikap defense yang secara tidak sadar di tunjukkan oleh Lea tak kala lagi-lagi ia mendengar jebakan Alta yang mengarah padanya.
Sialan. Hanya u*****n itu yang dapat Lea umpatkan karea pertanyaan yang sudah berusaha ia hindari dengan gampangnya mereka tanyakan kepada dirinya dan lebih mengerikan lagi untuknya adalah sikapnya yang bertolak belakang dengan apa yang telah dirinya latih selama ini dengan seketika mampu membuat dirinya menginginkan untuk segera menyudahi pertemuan mereka sebelum pertanyaan lainnya dilontarkan oleh sosok pria yang usianya tampak beberapa tahun lebih muda darinya.
Sedangkan Bryan yang mendengarnya di buat membelalak tak percaya ketika mendengar sahabat sekaligus salah satu atasannya bertanya hal yang bisa di katakan mustahil olehnya.
"Bryan! Bawa dia ke pack house untuk dimintai keterangan terkait pack itu! Dan serahkan dia kepada King agar dia di interogasi secara langsung olehnya!"perintah Alta sebelum berjalan pergi hendak meninggalkan mereka sebelum suara Lea kembali terdengar di telinganya lagi.
"Tunggu! Saya tidak bisa! Saya mohon jangan bawa saya kesana! Anda bisa menanyakan saya apapun itu asalkan jangan bawa saya kesana!"bantah Lea ketika menyadari siapa jati diri Alta sebenarnya dan hal lainnya yang tidak bisa Lea katakan dengan jelas perihal masalah ini yang menurutnya dan pack nya terdengar sangatlah sensitif untuk di katakan kepada pihak lainnya.
"Oho! Hal itu bukanlah kuasa ku karena hal ini sangat penting untuk pack kami dan beberapa kaum lainnya,"balas Alta yang sudah berbalik badan menghadap ke arahnya sambil menatap tajam ke manik biru milik wanita di hadapannya itu.
"Saya bisa mengatakan apapun itu asalkan anda tidak membawa saya kesana!"ujar Lea lagi yang kali tampak sangat panik dan gusar dihadapannya.