Kabar perpisahan Daniel Maheswara dan Alaya Syaren sama menggemparkannya seperti hari pertama mereka mulai bersama. Keduanya digadang-dagangkan sebagai couple goals baik dari segi fisik, karir dan latar belakang keluarga terpandang. Di balik semua yuforia itu, Daniel masih saja seperti patung di tengah antah berantah. Tak bergeming dengan apa saja yang terjadi. Hatinya semakin membeku tatkala banyak gadis pemburu. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika dicampakkan oleh dua wanita paling berarti sekaligus. Ibu kandungnya dan kekasih tercinta.
Di lift, ponselnya terus berbunyi meminta segera dijawab, “Aku ada meeting,” ungkapnya langsung mengakhiri. Pintu lift terbuka lebar untuknya keluar diikuti beberapa ajudan dan sebagian rekan bisnis. Suasana hangat di lobi perlahan ikut membeku seperti dialiri suhu minus. Para pegawai berderet di tempat berdirinya masing-masing untuk menganggukkan kepala.
Dua ajudan yang tidak lebih tinggi darinya, membukakan dua daun pintu menuju ruangan yang telah ditunggu beberapa orang. Mereka berdiri dan memberi anggukan sebagai tanda hormat, kemudian duduk setelah pemuda beraura kuat itu menempati kursi tahtanya. Setelah sukses dengan start up jasa, mereka akan membuka bisnis baru di sektor kuliner.
Di tengah perbincangan serius, layar ponsel Daniel bercahaya di mejanya. Untung saja ia sudah menyeting mode silent. Masa bodo jika nama besar yang terpampang di sana terus muncul meminta jawaban. Tidak peduli jika seorang penelepon di baliknya, berdecak kesal. Maheswara sang ayah mengeraskan rahangnya, berusaha menahan gejolak angkara murka di dalam tubuh atletisnya sambil mengumpat pelan, “Minta dihajar!”
“Apa dia nggak akan muncul?” tanya sebuah suara dari belakang, membuat pria tua berkaus kerah itu membalikkan badan. Tampak putra keduanya setengah basah kuyup dengan kaus cokelat yang dikenakannya. Naresh Maheswara baru saja selesai shooting adegan mencuci mobil di samping halaman rumah megahnya. “Sekarang giliran Ayah,” ujarnya sambill menggerakkan dagu.
“Kamu hubungi abangmu itu!” perintah Maheswara sebelum meninggalkan Naresh dan melangkah menuju aquarium untuk memamerkan koleksi ikan hias harga selangit yang baru dibelinya beberapa hari lalu, kepada media yang telah membuatkan program reality show keluarganya selama 2 tahun terakhir.
Baru saja mencoba menghubungi kakak laki-lakinya, Naresh langsung mendapat penolakan. “Memang nggak seharusnya lo di sini!” ungkapnya seorang diri disertai tatapan tajam menerawang. Kemudian melihat kemunculan Renata Key ibunya dari ruang kantor.
“Mama nggak suka lihat kamu ngemis-ngemis kayak begitu. Sesekali abaikan permintaan papa kamu buat nelepon anak sulungnya yang manja itu. Nggak bisa disayangi!” gerutu Renata. Sebagai ibu tiri ia selalu berusaha bersikap baik pada pemuda yang memegang perusahaan ayahnya, tapi anak itu tidak terlalu merespon dengan antusias.
Berkilo-kilo meter dari tempat mereka sibuk shooting, Daniel baru saja mengakhiri rapat pentingnya. Urusan yang terus bertambah membuatnya pusing sendiri karena harus mengerjakan segalanya. Ajudan yang selama ini dipercaya menggantikan sekretaris untuk sementara, rupanya tidak terlalu membantu. Dua tahun telah berlalu, tapi ia belum mampu menutupi rasa traumanya. Selama itu pula ia tidak ingin memiliki sekretaris perempuan.
“Sudah waktunya lo membutuhkan sekretaris. Bagaimanapun, perempuan memang paling pandai mempersiapkan dan mengatur banyak hal,” ungkap salah satu ajudan yang paling kurang ajar. Mentang-mentang sudah hidup bersama karena ia putra dari seorang sopir bawahan ibu dari atasannya itu, membuatnya berpikir jika Daniel adalah temannya.
“Dengan terpaksa. Carikan sekretaris buat gue.”
Ajudan mengangguk sambil menatap atasannya yang berlalu begitu saja. seperti angin ketika tanpa suara. Kemudian ajudan mendesis sebal.
@@@
“Pak, tolong Pak, siapa tahu masih dibutuhkan!”
“Sudah dibilang barusan ada pelamar baru, nggak bisa dikasih tahu!”
“Ini demi hidup Saya, Saya butuh pekerjaan, yang lain penuh, tolong Pak, Saya harus tanyakan langsung!”
“Kamu belum pernah ngerasain diusir secara tidak terhormat ya?!”
Percekcokan yang dilakukan oleh kedua orang berbeda generasi itu akhirnya berakhir. Merel Aquila berujung pasrah meninggalkan pelataran sebuah gedung perkantoran. Bahkan sebagai perempuan, ia sudah tidak peduli dengan ikat rambut rendah yang semakin melorot. Sebagian rambut di pelipisnya tidak lagi terbang terbawa angin, lepek penuh keringat. Ia duduk di bangku trotoar sambil menatap poster lowongan kerja terakhir yang baru saja dicabut dari dinding halte.
Sudah berapa banyak perusahaan yang dikunjunginya sejak seminggu terakhir, bahkan sebagian telah melewati proses acc via email dan hanya melakukan tahap wawancara. Namun selalu saja ada hambatan seperti baju yang kotor di perjalanan atau telat datang meskipun sudah berusaha pergi awal. Cukup hari ini ia sudah terlalu lelah menyambangi setiap tempat, hingga rasanya poster pencarian sekretaris itu harus terjatuh pelan dari tangannya.
Tanpa di sadarinya, ada seorang wanita awet muda yang memerhatikan dari dalam mobil. Menatap gadis itu yang tampak kelelahan dan putus asa. Menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan tas jinjing melorot dari lengannya. Lalu diam-diam seorang preman melintas dan langsung merebut tas itu dengan mudah. “Jambret!” teriak gadis itu berusaha mengejar preman yang berlari ke arah trotoar di mana pemilik mobil terjebak macet di tepiannya.
Setengah berani, wanita itu langsung membuka pintu mobil kencang hingga membuat penjambret terjatuh dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk mengambil tas rampasannya. Sempat terjadi tarik-menarik tas sejak bangkitnya preman itu. Namun teriakan Merel yang mengundang perhatian banyak massa membuat pria bertampang dekil itu langsung melepaskan tas hingga membuat wanita tadi tercekat dan kepalanya tepat jatuh di sudut trotoar.
“Bu!” pekik Merel menghentikan langkahnya tepat di hadapan wanita terkapar itu. Kemudian ia berjongkok untuk mengecek keadaannya. Pada menit yang sama massa mulai berkumpul merongrong keduanya. Sebagian lagi berusaha mengecek sedan putih itu di mana seorang sopir tampak tertidur pulas dan terkejut begitu terbangunkan oleh tangan-tangan yang mengetuk kaca jendela. Ia segera keluar dan menyesali dirinya sendiri yang lengah sampai tidak tahu apa yang terjadi dengan majikannya.
Kemacetan jalan raya sejak 20 menit yang lalu memang sudah menjengkelkan banyak pengguna jalan raya, di tambah kerumunan orang-orang membuat salah satu jalur sedikit tersendat. Keylana bergidik ngeri saat melihat tetesan darah yang tersisa di trotoar. Putri bungsu Maheswara itu baru saja dijemput sopirnya pulang sekolah.
“Kamu seharusnya hati-hati,” ucap wanita yang kini terbaring di ranjang troli menyusuri lorong rumah sakit. Merel tidak habis pikir, dalam keadaan sekarat seperti ini, wanita itu masih saja memedulikan dirinya yang padahal bukan siapa-siapa. Bahkan mereka tidak saling mengenal.
“Ibu nggak seharusnya melakukan ini untuk Saya. Ibu harus bertahan!” ungkap Merel hingga harus berhenti di depan pintu ruang UGD.
“Tolong kamu datang ke kantor ini dan bawa dia kemari ....” Kalimatnya menggantung karena suara yang melemah dan hilang. Wanita itu tak sadarkan diri. Untuk pertama kalinya Merel menangis untuk orang lain yang bahkan tidak dikenalinya. Sebuah kartu nama hampir jatuh dari sela jemarinya.
Merel tumbang di kursi tunggu sudut dinding. Semua rasa meliputi hatinya yang kian menyempit. Sudah tidak mendapat pekerjaan, sekarang malah membuat orang lain terluka dan bagaimana kalau sampai tiada? Penyesalan dan rasa bersalah akan bersahabat sepanjang hidupnya. Ia segera menjelaskan apa yang terjadi pada sopir yang menghampirinya, bahkan memperhitungkan CCTV yang ada di sekitar sana. Bukan maksudnya untuk lari dari masalah, melainkan agar sopir tersebut tidak salah paham padanya.
“Ungkapan Nyonya sudah menentukan siapa kamu, orang baik, jangan takut.” Sopir duduk berjaga jarak di sampingnya. “Nyonya hari ini sedang bahagia karena baru memberanikan diri menemui putranya setelah lama berpisah.”
Tangis Merel semakin pecah. Merasa telah menghancurkan harapan dan kebahagiaan wanita tadi. Sopir segera menenangkannya bahwa majikannya tersebut memang berhati malaikat dan menceritakan alasannya. Tak bisa menjadi hak asuh bagi putra-putrinya membuatnya merasa bahwa setiap anak muda yang ditemuinya pantas mendapatkan kasih sayangnya.
“Pak, Saya berjanji akan membawa putra Nyonya tadi ke sini.” Merel menatap yakin sopir di sampingnya. Kemudian ia menatap kartu nama itu dan melihat sebuah nama laki-laki di bawah nama besar perusahaan yang tadi dikabarkan mencari sekretaris di poster halte. Hati Merel semakin yakin dan mantap, mungkin ini rencana Tuhan untuknya mendapatkan pekerjaan sekaligus berbuat mulia dengan membantu urusan orang lain.