Gadis itu berjalan percaya diri mengekori HRD dan berusaha mensejajari langkahnya yang panjang dan cepat. “Peraturan yang harus dipatuhi adalah, dilarang cari perhatian kepada atasan, dilarang sok perhatian kepada atasan dan,” ujarnya tertahan, tubuhnya berbalik hingga membuat gadis itu terkejut. “Jika Anda berniat menjadi istrinya, jangan mimpi, tapi ... kalau jadi istri Saya sih itu bisa nyata banget!” lanjutnya kemudian tertawa. Merel menatapnya hingga bapak yang tampak tak tahu diri itu berhenti bertingkah konyol.
Mereka sampai di pintu dua daun. HRD berusaha mengetuk pintu dan setelah ada jawaban dipersilakan masuk, ia mendorong sebelah pintu dan Merel yang ada di belakangnya seakan-akan terlempar ke belakang saking melihat betapa kuatnya pesona seorang Daniel Maheswara yang duduk di balik mejanya, menatap lurus ke arah mereka. Tatapan yang seolah wajah cantik Merel tidak terdeteksi oleh retina matanya.
Sedetik kemudian suasana di ruangan tersebut membuat Merel merasa kaku dan tegang. Rumornya tentang sifatnya yang dingin seolah telah merambat ke setiap partikel udara yang dihirup dan mengelilingi mereka. “Silakan duduk,” ucap Daniel dengan suara seperti bongkahan batu es di kutub utara.
“Terimakasih. Kedatangan Saya kemari ingin memperkenalkan sekretaris baru untuk Anda, Merel Aquila,” ungkap HRD menoleh ke wajah gadis bersetelan kemeja sifon berwarna merah fanta yang dibalut jeans skirt. Untuk pertama kalinya ia melihat sekretaris baru yang tidak berespon berlebihan seperti mengangkat kedua telapak tangan di wajahnya sambil menyipitkan mata dengan senyum terlalu lebar.
Merel tersenyum tipis sambil mengulurkan tangan. “Merel Aquila, Saya siap bekerja mulai detik ini juga, mohon bimbingannya.” Ia berbicara dengan fasih, mampu menyembunyikan kegugupannya dengan rapi dan berperan seperti wanita karir yang profesional.
Daniel menatap gadis itu sambil menyambangi telapak tangannya sekilas. “Mari Saya tunjukkan meja kerja Anda,” ajaknya beranjak menuju sebuah kubik kaca bermotif horizontal blur selang-seling. Letaknya tepat berada di samping pintu. “Beberapa data dan jadwal telah tersedia di sana untuk Anda pelajari.”
Sekretaris barunya hendak tersenyum tapi urung saat melihat tumpukan berkas di atas meja yang teramat tebal. Sejak awal berkenalan, atasannya itu sudah terlihat menyebalkan dan benar-benar semakin menjadi. “Saya beri waktu hari ini untuk mempelajari itu semua, barulah besok Anda mulai bekerja,” lanjut CEO tanpa merasa lidahnya getir memikirkan bagaimana perasaan orang lain.
“Apa?” reflek Merel dengan suara tertahan.
“Anda keberatan? Masih banyak yang mengantri di luar.” Tatapan Daniel menyorot tajam. Namun itu tidak menciutkan mental sekretarisnya yang justru malah tersenyum lebar kepadanya.
“Itu tidak terlalu berat. Serahkan saja sama Saya,” ungkap Merel langsung duduk di kursi kerjanya dan menatap kedua pria berbeda generasi yang masih memadati ambang pintu kubik. “Terimakasih akhirnya Saya diterima sebagai sekretaris di sini.” Senyuman tipisnya malah membuat orang HRD jadi meleleh dan nyaris lupa caranya keluar dari ruangan megah itu.
“Anda mau membantu dia, Pak?” tanya Daniel meliriknya.
HRD itu tertawa bodoh. “Tentu saja tidak, selamat bekerja, Saya permisi,” ucapnya segera keluar dan menutup pintu.
“Selain mengurus jadwal, jangan lupa untuk mengecek tamu dan membuka pintu, serta siapkan coffe break, Saya tidak mau bertatap muka langsung dengan pelayan.” Setelah berpesan, Daniel meninggalkan sekretaris barunya di ruangan kubik dan kembali ke mejanya.
Merel masih dalam posisinya. Bedanya, ada sepasang tanduk gaib yang muncul dari atas kepalanya. Benar-benar dingin dan pelit senyum meskipun hanya seutas saja. Lalu dia mengatakan tidak ingin bertatap muka langsung dengan pelayan? Angkuh sekali pria satu ini, benar-benar memandang sesuatu dari segi status sosial dan mengkotak-kotakkannya. Merel lantas melihat sekeliling, dirinya juga dikotaki oleh kubus transparan.
Jika begini jadinya, bagaimana caranya memberitahu laki-laki dingin itu bahwa ibunya sedang sekarat di rumah sakit dan menyeretnya ke sana? Benar-benar di luar akal manusia. Meski begitu, Merel harus melakukannya demi membalas hutang budi. Ia sadar harus segera menyudahi pembelajarannya hari ini meski itu akan menguras tenaganya. Di tengah-tengah kesibukannya, Merel malah menemukan sebuah surat misterius di laci. Ia pun membacanya.
Hallo, sekretaris baru?
Perkenalkan, gue mantan kekasih sekaligus sekretarisnya Daniel Maheswara.
Surat ini ditulis di hari terakhir gue menduduki kursi yang sekarang lagi lo dudukin.
Berat meninggalkan sesuatu yang berharga tetapi nyatanya nggak selalu mampu membentengi gue dari rasa keinginan besar untuk mengejar mimpi.
Daniel tipe cowok yang cuek, gue tahu itu. Bahkan gue jamin bakalan susah sebanyak apa pun kandidat sekretaris yang tahan sehari pun dengan dia, jika pun ada, sudah pasti malah Daniel yang nggak tahan buat mendepaknya.
Terus lo, entah siapa, bisa membaca surat ini, artinya selamat, kemungkinan karirnya panjang meski akan selalu ada badai musim dingin. Dan di momen inilah gue merasa terancam, Daniel akan berhenti memikirkan gue dan berganti menyelinap di dunia lo.
Gue mengawasi lo, bahkan tanpa lo sadari. Kapan pun, di mana pun. Jangan pernah mendekat atau berada di kedekatan tanpa senti dalam urusannya. Kecuali kalau lo ingin tahu rasanya sambaran petir dari langit aurora seperti gue.
Salam kenal, Syaren Aurora.
Usai membaca, kertas itu terjatuh dari cengkraman Merel yang mendadak badannya terdorong ke belakang. Pipinya menggembung sambil mengeluarkan uap panas yang berasal dari dadanya yang penuh dahaga. Lalu tertawa lebar tanpa suara. Kepalanya menggeleng. Apa ini? Sekali lagi, apa-apaan ini? Baru saja menginjakkan kaki di ruangan ini beberapa jam yang lalu, sudah menemukan wasiat sailan ini? Gerutu Merel dalam kepalanya yang gaduh. Tentu saja tidak mungkin membuat ruangan tersebut gaduh dengan suaranya.
Ponsel berdering di samping monitor. Merel segera mengangkatnya. “Ya?”
“Pukul tujuh ini kita bisa nongkrong kan?” tanya seseorang di seberang.
“Ada urusan. Jam sembilan lebih beberapa menit, gimana?”
“Sekretaris apa yang di hari pertama kerjanya langsung sesibuk atasannya?”
“Ayolah, bentar lagi telepon gue matiin,” ancam Merel malas.
“Hmm, bye!”
Setelah panggilan berakhir, Merel sekaligus menatap jam di sudut layarnya. Sudah waktunya coffe break. Baru saja ia berniat keluar dari ruangannya, terdengar yang mengetuk pintu. Ketika diintip dari jendela samping, ternyata itu seorang pelayan yang membawa minuman dan kudapan. Segera Merel mengambil alih.
“Mulai sekarang Anda tidak perlu repot lagi, Saya sekretaris baru akan melakukannya sendiri, kecuali jika dibutuhkan. Terimakasih,” tutur Merel disertai senyuman hangat membuat pelayan laki-laki di hadapannya mengangguk respek. Kemudian membantu menutup pintunya.
Merel meletakkan nampan berisi secangkir kopi dengan beberapa potongan kue itu di meja yang terletak tepat di inti ruangan. “Silakan menikmati kudapan sorenya, Pak,” katanya sambil melirik ke arah meja di mana sang CEO tampak sudah memerhatikannya sejak tadi dan baru beranjak dari sana dengan langkah yang nyaris tanpa suara.
Daniel duduk di sofa dan mulai mengangkat cangkirnya. Di momen inilah, Merel berusaha mencari akal bagaimana memulai obrolan yang sangat serius, takut-takut malah mengganggu dan berbalik jadi imbasnya. “Ada yang ingin Saya katakan.” Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari lidah kelu Merel yang kini terasa getir.
Baru saja air kopi mengalir di tenggorokkannya, mata Daniel sudah melirik tajam ke wajah sekretaris yang masih berdiri. Daniel agak menurunkan cangkirnya setara d**a. “Anda tidak akan menyatakan perasaan seperti yang dilakukan sekretaris lain kan?”
Merel mendadak tersenyum lebar, bahkan ia ingin ngakak kalau saja tidak ditahan. Betapa percaya dirinya lelaki itu terlalu tinggi. “Saya tahu Anda tampan, tapi apa alasannya jika semua perempuan akan menyatakan cinta?”
Suara bawah cangkir berdentum dengan permukaan alasnya di meja. Merela segera menghentikan ocehannya dan mendapati lelaki itu mengeraskan rahangnya. “Saya juga cantik, tapi tidak ada alasan untuk Anda menyatakan cinta kan?” tanya Merel lagi melanjutkan kalimatnya. Wajah Daniel semakin menegang dan itu menyadarkan Merel jika dirinya sudah kurang ajar.
Terbuat dari apakah mekanisme di balik otak perempuan ini? Tanya Daniel dalam benaknya. Ia baru menemukan spesies perempuan yang berlagak tidak tertarik dengan pria mapan nan tampan, tapi justru malah tebar pesona kepadanya. “Maaf Pak, Saya lupa lagi apa yang akan Saya katakan, permisi,” ungkap perempuan itu. Lagi-lagi mendahuluinya untuk berbicara. Dan sekarang menghilang di balik pintu.