Mobil hitam itu melaju mulus membelah jalanan Jakarta yang mulai gelap, membawa Elara menuju kehidupan barunya yang asing. Di dalam kabin yang hening, Damien duduk di sisi lain, matanya terpaku pada layar ponselnya seolah Elara tidak ada di sana sama sekali. Keheningan di antara mereka lebih berat daripada beban hutang ayah Elara.
Elara menatap keluar jendela, membiarkan lampu-lampu kota yang berkedip memantulkan bayangan wajahnya yang lelah. Ia mencoba mengatur napas, mempersiapkan mental untuk menghadapi malam pertama di mansion Blackwood. Bukan malam pengantin yang romantis seperti di film-film, melainkan malam negosiasi batas wilayah.
"Mansion ini besar," ucap Damien tiba-tiba, memecah keheningan tanpa menoleh. Suaranya datar, informatif, bukan basa-basi. "Kau akan tinggal di sayap timur. Kamar utamamu ada di ujung koridor."
Elara mengangguk, meski pria itu tidak melihatnya. "Baik, Tuan Damien."
"Jangan panggil aku 'Tuan' di depan staf," lanjut Damien, nada suaranya sedikit lebih tajam. "Panggil saja Damien. Aku tidak ingin mereka berpikir kau adalah pelayan pribadiku."
Kalimat itu terdengar seperti penghinaan terselubung, tapi Elara memilih menelannya bulat-bulat. Ia tahu posisinya. Di mata Damien, ia memang hanya aset, bukan pasangan.
Mobil berhenti di depan gerbang besi raksasa yang terbuka perlahan. Mansion Blackwood berdiri megah di atas lahan luas, diterangi lampu taman yang temaram namun elegan. Pemandangan itu indah, tapi bagi Elara, itu hanyalah penjara mewah dengan pagar tinggi.
Seorang kepala pelayan berusia paruh baya menyambut mereka di pintu masuk. Wajahnya ramah namun profesional, matanya menyapu Elara dengan tatapan menilai yang halus.
"Selamat datang, Nyonya Blackwood," sapanya dengan sopan sempurna. "Saya Marta, kepala pelayan di sini. Jika Anda membutuhkan apa pun, silakan hubungi saya."
"Terima kasih, Marta," jawab Elara, memaksakan senyum tipis yang diajarkan Damien tadi. Senyum yang tidak mencapai mata.
Damien berjalan mendahului mereka menuju ruang makan utama. "Makan malam sudah disiapkan. Kita harus makan bersama sebelum Kakek datang besok pagi. Dia ingin memastikan 'cucu menantunya' terlihat layak."
Ruang makan itu luas dan sunyi. Meja panjang berlapis taplak putih bersih hanya diisi dua tempat duduk di salah satu ujungnya. Jarak antara kursi Damien dan Elara cukup jauh, seolah ada jurang tak kasatmata di antara mereka.
Pelayan menyajikan hidangan pembuka dengan gerakan senyap. Damien makan dengan tenang, posturnya tegak, setiap gerakannya terukur dan anggun. Elara mencoba meniru, tapi tangannya masih terasa kaku. Garpu perak di tangannya terasa berat.
"Ayahmu..." Damien memulai percakapan saat piring pembuka diangkat. Ia tidak menatap Elara, matanya tetap pada makanan. "...sudah dipindahkan ke rumah sakit swasta terbaik hari ini. Perawat khusus sudah ditugaskan. Kau tidak perlu khawatir soal biayanya."
Elara berhenti mengunyah. Rasa lega yang luar biasa menyeruak di dadanya, bercampur dengan rasa bersalah karena merasa lega atas kebaikan dari pria yang baru saja menghancurkannya.
"Terima kasih, Damien," bisiknya, kali ini tanpa embel-embel gelar.
"Jangan salah paham," Damien mengangkat wajah, tatapannya tajam menusuk. "Ini bukan bentuk kasih sayang suami. Ini investasi. Kesehatan ayahmu adalah jaminan agar kau tetap kooperatif selama perjanjian ini berlangsung. Jika kau melanggar aturan, perawat itu akan ditarik kembali, dan ayahmu akan dikembalikan ke fasilitas umum."
Ancaman itu disampaikan dengan nada setenang orang membicarakan cuaca. Elara merasakan dingin merambat di tulang belakangnya. Ia mengangguk pelan, menelan makanan yang tiba-tiba terasa hambar.
Makan malam berlanjut dalam keheningan yang mencekam. Hanya suara denting peralatan makan yang sesekali terdengar. Elara menyadari bahwa hidup bersamanya akan selalu seperti ini: transaksi, ancaman, dan kesunyian yang memisahkan mereka meski duduk semeja.
Setelah makan malam selesai, Damien bangkit. "Ikuti aku."
Ia memimpin Elara menuju tangga marmer yang megah, lalu berbelok ke koridor sayap timur. Langkah kakinya bergema di lorong yang sepi. Elara mengikuti beberapa langkah di belakangnya, merasakan semakin jauhnya jarak fisik dan emosional di antara mereka.
Di ujung koridor, Damien berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukir. Ia membuka pintu itu, menyalakan lampu, dan menyingkir memberi jalan.
"Ini kamarmu," ucapnya singkat.
Elara melangkah masuk. Kamar itu luas, didekorasi dengan warna-warna netral dan furnitur klasik yang mahal. Ada tempat tidur king size dengan sprei putih bersih, meja rias dengan cermin besar, dan jendela tinggi yang menghadap taman belakang. Semuanya sempurna, steril, dan... kosong. Tidak ada sentuhan pribadi, tidak ada kehangatan. Ini adalah kamar hotel bintang lima, bukan kamar pengantin.
"Peraturan tambahan," Damien berdiri di ambang pintu, tidak berniat masuk. "Kamar ini adalah wilayahmu. Kamar sebelah adalah milikku. Jangan pernah memasuki kamarku tanpa undangan tertulis. Dan jangan mengharapkan aku mengetuk pintumu malam ini."
Elara berbalik menatapnya. Tatapan Damien dingin, definitif, menutup semua kemungkinan.
"Paham?" tanyanya.
"Paham," jawab Elara, suaranya stabil meski hatinya remuk redam.
"Bagus." Damien mengangguk sekali, lalu berbalik dan berjalan pergi. Langkah kakinya menjauh, diikuti bunyi pintu kamar sebelah yang tertutup dengan klik pelan.
Elara berdiri sendirian di tengah kamar yang luas dan sunyi. Ia berjalan perlahan menuju tempat tidur, jari-jarinya menyentuh sprei putih yang dingin. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi pantulan dirinya di cermin meja rias.
Wajah di cermin itu pucat, matanya lelah, tapi masih utuh. Belum hancur sepenuhnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Air mata yang tadi tertahan di koridor kantor Damien akhirnya jatuh, tapi kali ini tanpa suara. Ia menangis dalam diam, membiarkan kesedihan itu mengalir sebentar saja.
Lalu, ia mengusap pipinya, berdiri tegak, dan berjalan menuju lemari pakaian. Ia membuka laci, menemukan baju tidur sederhana yang sudah disiapkan. Ia mengganti gaun pernikahannya yang berat dengan kain katun yang lembut.
Saat berbaring di atas tempat tidur yang terlalu besar untuk seorang diri, Elara memejamkan mata. Besok pagi, Kakek Damien akan datang. Dia harus memakai topeng kebahagiaannya lagi. Dia harus menjadi Nyonya Blackwood yang sempurna.
Tapi malam ini, di balik pintu tertutup ini, dia boleh menjadi Elara yang rapuh untuk sesaat.
"Aku akan bertahan," bisiknya pada kegelapan kamar. "Demi Ayah. Demi diriku sendiri."
Dan di kamar sebelah, Damien Blackwood berdiri di depan jendela, menatap bulan yang sama. Tangannya menggenggam gelas whiskey erat-erat. Wajahnya datar, tapi ada sesuatu yang berkecamuk di balik mata gelapnya—sesuatu yang bahkan ia sendiri belum siap untuk akui.
Kegelisahan itu bukan soal Elara. Damien tahu persis bahwa gadis itu hanyalah variabel dalam persamaan bisnisnya. Yang membuatnya tidak bisa tidur adalah bayangan wajah Kakek besok pagi. Pria tua itu memiliki insting seperti anjing pemburu; ia bisa mencium kepalsuan dari jarak seratus meter. Jika Kakek mendeteksi retakan sekecil apa pun pada topeng "pasangan bahagia" yang telah mereka bangun hari ini, seluruh struktur perjanjian ini akan runtuh sebelum sempat berdiri tegak. Dan keruntuhan itu berarti Damien kehilangan segalanya: warisan, kekuasaan, dan kendali atas hidupnya sendiri.
Ia menenggak whiskey dalam satu tegukan panjang, cairan panas itu membakar tenggorokannya namun gagal menghangatkan rasa dingin di dadanya. Ia meletakkan gelas kosong di atas meja samping jendela dengan bunyi tak yang terlalu keras untuk keheningan malam. Suara itu terdengar seperti peringatan. Seperti tanda bahwa ketenangannya yang selama ini ia banggakan mulai retak.
Damien berbalik dari jendela, matanya tanpa sengaja tertuju pada dinding yang memisahkan kamarnya dari kamar Elara. Dinding tipis itu seharusnya menjadi batas mutlak, pengingat fisik bahwa mereka adalah dua entitas yang terpisah. Tapi malam ini, dinding itu terasa transparan. Ia bisa membayangkan Elara di sisi lain sana, berbaring di tempat tidur king size yang sama-sama asing baginya, menahan napas, menunggu pagi datang seperti prajurit yang menunggu perintah perang.
Tiba-tiba, sebuah suara memecah kesunyian koridor sayap timur.
Bukan suara langkah kaki pelayan. Bukan suara angin. Itu adalah suara gesekan lembut, berulang, ritmis. Seperti seseorang yang sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar, atau... seperti seseorang yang sedang mencoba menahan tangis agar tidak terdengar sampai ke luar.
Damien membeku. Tangannya yang tadi hendak meraih botol whiskey kembali menggantung di udara. Instingnya berteriak bahwa itu hanyalah imajinasi, efek alkohol, atau kelelahan. Tapi telinganya yang terlatih sejak kecil untuk mendeteksi ancaman bisnis tidak pernah bohong. Ada kehidupan di balik pintu kayu jati itu. Ada manusia yang sedang berjuang, bukan boneka yang sedang dimatikan.
Ia melangkah mendekati dinding pemisah itu. Jaraknya hanya tiga langkah, tapi rasanya seperti menyeberangi jurang. Ia menempelkan telapak tangannya pada permukaan dinding yang dingin, merasakan getaran samar dari sisi lain. Getaran itu nyata. Kehadiran Elara itu nyata. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Damien menyadari bahwa kontrak yang ia tandatangani tadi siang tidak hanya mengikat tubuh Elara, tapi juga mengurung jiwanya di ruang yang sama persis dengan jiwanya sendiri.
Suara gesekan itu berhenti. Hening total kembali menyelimuti koridor. Tapi Damien tetap berdiri di sana, tangan masih menempel pada dinding, napasnya tertahan. Ia tidak bergerak. Ia tidak kembali ke tempat tidur. Ia hanya mendengarkan keheningan di sisi lain dinding itu, seolah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Lalu, dari balik pintu kamar Elara, terdengar suara bisikan yang begitu pelan hingga hampir tak terdengar, tapi bagi Damien yang berdiri tepat di sebelahnya, suara itu jelas seperti teriakan:
"Aku benci kamu."
Kalimat itu tidak ditujukan padanya. Mungkin Elara sedang berbicara pada dirinya sendiri, pada cermin, pada bayangannya di kegelapan. Tapi bagi Damien, kalimat itu menghantam dinding pemisah mereka dengan kekuatan yang membuat lututnya lemas. Bukan karena sakit hati. Bukan karena marah. Tapi karena ia baru saja menyadari fakta yang paling menakutkan dalam hidupnya:
Elara tidak membencinya sebagai suami. Elara membencinya sebagai penjara. Dan dia, Damien Blackwood, pria yang selalu memegang kendali atas segala sesuatu, baru saja menyadari bahwa dialah yang sebenarnya terperangkap di dalam sel yang ia bangun sendiri.
Ia menarik tangannya dari dinding seolah terbakar. Napasnya tersengal-sengal dalam keheningan koridor yang mencekam. Di seberang sana, Elara mungkin sudah tertidur atau berpura-pura tidur. Tapi di sini, di kamar yang seharusnya menjadi benteng kekuasaannya, Damien Blackwood berdiri gemetar, menyadari bahwa malam pertamanya bukan sebagai suami, melainkan sebagai tahanan dari perasaannya sendiri yang baru saja lahir—dan langsung dibenci oleh orang yang seharusnya ia miliki.
TO BE CONTINUED