Suasana remang merupakan hal yang pertama kali ia lihat saat memasuki salah satu bar yang tidak sengaja ia lewati. Menuju meja bar dan memesan satu botol bourbon pada bartender, ia lalu mendudukan dirinya pada kursi tinggi yang ada di depan meja bar.
"Minuman Anda, Nyonya," ucap sang bartender saat memberikan satu gelas kosong berisi es batu berbentuk bola dan satu botol bourbon yang sudah terbuka.
Wanita itu segera menuangkan cairan berwarna cokelat dari dalam botol ke dalam gelas. Menggoyangkan gelas itu beberapa kali, ia lalu menegak cairan cokelat itu dalam satu kali minum. Suara keras ia keluarkan saat cairan itu berhasil melewati kerongkongan dan membuat rasa panas ia rasakan. Ia kembali menuangkan isi cairan di dalam botol ke kada gelas yang sudah kosong dan meminumnya. Ia melakukannya hingga satu botol bourbon yang ia pesan habis.
"Hei, Tuan Bartender, aku ingin satu botol bourbon lagi," ucap wanita itu. Wajahnya mulai terlihat memerah.
Saat sang bartender memberikan satu botol Bourbon yang ia pesan. Seorang pria yang mengenakan topi pandora berwarna hitam duduk di samping sang wanita dan memesan satu botol rum. Sang pria menatap sang wanita beberapa saat. Sang pria lalu tersenyum kecil.
"Apa kau sendirian, Nyonya?" tanya sang pria.
Sang wanita yang mendengar pertanyaan dari sang pria menatap sang pria setelah menghabiskan minumannya, "ya, apa ada masalah tentang itu?"
Sang pria menggeleng pelan, ia kembali menatap sang wanita sambil tersenyum tipis, "tentu saja tidak, Nyonya."
Usai mengatakan hal itu, sang bartender meletakkan satu botol rum dan satu gelas berisi es batu berbentuk bola di depan sang pria, "pesanan Anda, Tuan."
Sang pria tersenyum kecil ke arah sang bartender saat ia menerima pesanannya, menuangkan isi dari botol rum ke dalam gelas, ia lalu mengangkat gelasnya dan mengarahkannya ke arah sang wanita, "ingin minum bersama?"
Sang wanita tersenyum mendengar tawaran yang dikatakan oleh sang pria. Ia lalu mengisi kembali gelasnya lalu mengangkat gelas tersebut dan mengarahkannya pada sang pria, "tentu saja. Aku dengan senang hati menerima tawaran Anda, Tuan."
"Bersulang?" tanya sang pria.
Sang wanita tertawa mendengar pertanyaan sang pria, ia lalu mendekatkan gelas miliknya pada gelas sang pria hingga menghasilkan bunyi ting dari sentuhan antara dua gelas tersebut. Sang wanita kembali menarik gelasnya dan meminum cairan yang berada di dalam gelas dalam sekali teguk. Begitu pula dengan sang pria, ia meminum cairan yang berada di dalam gelas miliknya.
Suara keras dari sang wanita membuat sang pria menoleh padanya. Wajah sang wanita terlihat semakin memerah, ia lalu terlihat kembali menuangkan isi dari botol ke dalam gelas, tetapi hanya tersisa sedikit cairan yang memenuhi gelasnya, "oh, sudah habis?"
"Ingin mencoba mencampurnya dengan rum?" tanya sang pria sebelum sang wanita kembali memesan minumannya.
Mendengar hal itu, sang wanita mengarahkan gelasnya kembali pada sang pria. Sang pria terlihat tersenyum, ia lalu mengambil botol rum miliknya dan menuangkan isi cairan yang ada di dalam botol ke dalam gelas sang wanita. Setelah gelas terisi setengah, sang wanita menarik kembali gelasnya dan langsung meminumnya.
"Wah, ternyata rum tidak seburuk itu," ucap sang wanita.
Sang pria kembali tertawa, "apa kau ingin mencoba yang lain, aku dengan senang hati akan membuatkannya untuk Anda, Nyonya."
"Oh, Tuan. Bukankah ada seorang bartender yang bertugas untuk membuat minuman untuk kita? Untuk apa Anda membuatkan minuman untuk saya, Tuan?" tanya sang wanita. Ia menatap heran pada laki-laki asing yang ada di sampingnya.
"Sebenarnya aku juga seorang bartender. Tetapi jika kau tidak ingin, aku tidak akan memaksa," ucap sang pria.
Sang wanita terdiam beberapa saat, ia menimbang untuk menerima atau menolak tawaran dari sang pria yang tidak ia kenal. Mengangguk pelan, sang wanita lalu memeluk lengan kiri sang pria, "baiklah, aku akan menerima tawaran Anda, Tuan."
Sang pria tersenyum lebar, ia lalu meminta bahan dan alat untuk membuat silver bullet pada sang bartender. Pada awalnya sang bartender menatap bingung sang pria dan menolak permintaan sang pria. Tetapi saat sang pria menjelaskan keinginannya dan akan bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan serta mengatakan jika ia mengenal sang pemilik bar, sang bartender lalu memberikan bahan serta alat yang diminta oleh sang pria.
"Ini bahan dan alat yang Anda perlukan, Tuan," ucap sang bartender setelah ia selesai meletakkan semua bahan dan alat yang diperlukan oleh sang pria.
Sang pria lalu melepaskan pelukan sang wanita pada lengan kirinya. Ia lalu berdiri dari duduknya dan mulai membuat minuman yang akan ia berikan pada sang wanita. Saat akan mengocok semua bahan dengan menggunakan shaker, sang pria memasukkan sesuatu ke dalam shaker lalu mengocok minuman tersebut. Ia melakukannya hanya dalam waktu singkat lalu menuangkan minuman tersebut ke dalam sebuah gelas tinggi. Meletakkan potongan jeruk di atas gelas, sang pria lalu memberikan minuman tersebut pada sang wanita.
"Satu gelas spesial silver bullet untuk Anda, Nyonya," ucap sang pria sambil memberikan satu gelas tinggi pada sang wanita.
Sang wanita tertawa pelan, ia lalu menerima minuman tersebut, "oh, kau sungguh manis sekali, Tuan. Terima kasih."
"Dengan senang hati, Nyonya," ucap sang pria dengan senyum kecil dan bersikap seperti seorang bartender.
Sang wanita lalu meminum silver bullet yang diberikan oleh sang pria hingga gelas tersebut kosong, "tidak buruk. Aku beri rating delapan untuk silver bullet yang kau bikin."
"Oh, terima kasih atas kerendahan hati Anda, Nyonya," ucap sang pria, ia kembali bersikap seperti seorang bartender yang sedang menerima pujian.
Sang pria kembali duduk di kursinya, ia lalu menuangkan isi botol rum pada dalam gelasnya. Ia lalu menoleh pada sang wanita, "ingin satu gelas rum kembali, Nyonya?"
Sang wanita mendekatkan gelasnya kembali pada sang pria, "jika Anda tidak keberatan untuk membagi rum Anda pada saya, Tuan."
Sang pria segera mengisi kembali gelas kosong sang wanita dengan rum miliknya, "tentu saja, Nyonya. Aku merasa senang jika memiliki teman untuk minum bersama."
"Kau memang seorang pria yang manis, Tuan," ucap sang wanita.
Sang wanita lalu meminum cairan yang ada di gelasnya hingga habis. Wajahnya terlihat semakin memerah, ia kembali memeluk lengan sang pria, "oh, Tuan. Apa kau tahu, aku sedang merasa sedih."
Sang pria menatap bingung pada sang wanita yang terdengar mulai meracau, mungkin efek dari banyaknya alkohol yang sudah ia teguk, "apa yang membuat Anda merasa sedih, Nyonya."
"Aku merasa sangat sedih karena tunanganku memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan kami," racau sang wanita. Nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang marah tetapi juga sedih.
"Oh? Mengapa ia memilih untuk membatalkan pernikahan kalian, Nyonya?" tanya sang pria.
Sang wanita mendengkus keras, wajahnya yang sangat merah terlihat marah, "semua isi salah wanita sialan itu. Bahkan setelah ia mati, ia masih saja merebut tunanganku dari diriku. Sangat menyebalkan, padahal aku sudah melakukan banyak hal untuk menjatuhkan wanita itu hingga ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tetapi sepertinya kematian wanita itu merupakan hal yang tidak berguna."
Sang pria terdiam sesaat, ia melirik sang wanita yang masih memeluk lengan kirinya, "siapa yang Anda maksud, Nyonya."
"Tentu saja wanita sialan itu, siapa lagi kalau bukan Sally Stone," ucap sang wanita.
Sang pria kembali terdiam, kali ini ia menatap sang wanita dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan, ia lalu tersenyum mengerikan saat melihat sang wanita mulai kehilangan kesadarannya.
.
.
.
Dokter Halbert menghela nafas, ia menatap tumpukan dokumen yang berada di atas meja kerjanya. Dua hari lalu Dokter Frans datang ke ruangannya dan meminta ia merapikan dokumen laporan yang tertumpuk pada rak buku yang ada di ruangannya. Dokter Frans juga meminta laporan tersebut dipisah sesuai bulan laporan itu dibuat.
"Mereka tidak akan bisa merapikan diri sendiri jika kau hanya menghela nafas, Halbert," ucap Dokter Floren.
Dokter Halbert menatap Dokter Floren yang sedang merapikan laporan yang sudah mereka pisahkan sesuai bulan dan urutan tanggal yang sudah disusun, "ya, aku tahu."
Dokter Floren mendengkus, ia melempar kotak pensil yang ia bawa ke arah kepala Dokter Halbert hingga membuat Dokter Halbert terkejut. Dokter Halbert dengan sigap menangkap kotak pensil yang dilempar oleh Dokter Floren sebelum mengenai kepalanya, "hei! Itu berbahaya kau tahu."
"Cepat selesaikan pekerjaanmu, apa kau tidak melihat jika masih banyak laporan yang tertumpuk di sudut ruanganmu? Kebiasaanmu yang menumpuk laporan tanpa memisahkannya sangat menyebalkan, Halbert," ucap Dokter Floren.
"Aku akan melakukannya, bahkan sejak tadi aku melakukannya, Floren," ucap Dokter Halbert.
"Lakukanlah dengan cepat kalau begitu, Halbert," ucap Dokter Floren.
Dokter Arthur yang memperhatikan mereka sedari tadi berdiri dari duduknya lalu mendekati Dokter Halbert. Ia lalu menepuk pundak Dokter Halbert dan berbisik, "sebaiknya kau lakukan saja apa yang Floren katakan. Kau tidak ingin membuatnya memukulmu, bukan, Halbert?"
"Apa ia sedang PMS?" bisik Dokter Halbert pada Dokter Arthur.
"Sepertinya, emosinya lebih meledak-ledak dibanding hari biasa," ucap Dokter Arthur.
"Dengan kalian membicarakan diriku, itu tidak akan membuat pekerjaan kalian selesai dengan sendirinya, Halbert, Arthur," ucap Dokter Floren sambil menatap mereka dengan wajah menakutkan.
"K-kami akan segera merapikan laporan itu, Floren," ucap Dokter Halbert dan Dokter Arthur.
Dokter Halbert segera duduk di kursi kerjanya dan mulai memilah laporan yang ada di atas meja kerjanya. Sedangkan Dokter Arthur, ia memilih untuk merapikan dan memilah laporan yang ditumpuk di pojok ruangan. Sekitar satu jam Dokter Halbert habiskan untuk memilah laporan berdasarkan bulan dan mengurutkan laporan tersebut dari awal bulan ke akhir bulan. Saat selesai dengan pekerjaannya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.