Detektif Edelmar berdiri di depan batu nisan yang bertuliskan nama Angela Edelmar. Ia lalu berjongkok dan meletakkan buket bunga yang ia bawa di depan batu nisan.
"Hai, ayah datang, Angela," ucap Detektif Edelmar. Ia lalu mulai berdoa.
Dokter Halbert yang berdiri di belakang Detektif Edelmar ikut berdoa saat melihat Detektif Edelmar berdoa. Tidak terlalu lama, tetapi ia berdoa cukup panjang untuk seseorang yang sudah pergi terlebih dahulu.
Detektif Edelmar mengubah posisinya menjadi duduk saat ia selesai berdoa, "ayah datang bersama seseorang. Ia rekan kerja baru ayah."
Detektif Edelmar menceritakan banyak hal pada Angela. Mulai dari bagaimana kesehariannya, apa saja yang ia lakukan, kasus yang sedang ia tangani serta hal-hal lainnya. Ia bahkan tidak lupa menceritakan pertemuannya dengan sang mantan istri. Dokter Halbert hanya memperhatikan apa yang Detektif Edelmar lakukan. Ia memilih untuk diam dan memberikan waktu pada Detektif Edelmar untuk melepas rindu pada orang yang ia sayang.
Tiga puluh menit berlalu, Detektif Edelmar berdiri dari duduknya. Ia masih menatap batu nisan putrinya, "ayah akan mengunjungimu lagi nanti. Selalu sehat dan bahagia di sana."
Detektif Edelmar mengelus pelan batu nisan milik putrinya. Ia lalu menoleh pada Dokter Halbert yang masih berdiri di belakangnya dan tersenyum kecil, "maaf jika membuatmu menunggu lama."
Dokter Halbert balas tersenyum kecil, ia menggeleng pelan, "tidak masalah. Kau pasti sangat merindukan putrimu. Kau bahkan bercerita banyak hal padanya. Ia pasti sangat senang mendengarnya, bahkan melihatmu selalu sehat saja dan datang mengunjungi dirinya aku yakin putrimu pasti sudah senang."
Detektif Edelmar mengangguk, ia menatap Dokter Halbert masih dengan senyum kecil, "ingin langsung mengunjungi istrimu, Dokter Halbert?"
Dokter Halbert mengangguk, ia lalu mulai berjalan menuju tempat lain dan diikuti oleh Detektif Edelmar. Tempat yang ia tuju tidak terlalu jauh dari batu nisan putri Detektif Edelmar berada. Berhenti di salah satu batu nisan yang tersusun rapi, Dokter Halbert lau berjongkok dan meletakkan buket bunga yang ia bawa.
"Hai, sayang. Aku datang. Bagaimana kabar mu di sana?" ucap Dokter Halbert. Sama halnya seperti yang dilakukan oleh Detektif Edelmar, Dokter Halbert juga menceritakan kesehariannya kepada mendiang sang istri. Suaranya terdengar bergetar saat menceritakan sesuatu, terlihat ia mengelus pipinya pelan.
Detektif Edelmar hanya memperhatikan, ia memilih untuk berdiri agak jauh dari tempat Dokter Halbert berada. Memberikan privasi pada sang dokter untuk menceritakan kesehariannya. Waktu berlalu selama dua puluh lima menit, Dokter Halbert berdiri dari posisi jongkok lalu mulai menyatukan kedua tangannya. Ia mulai berdoa untuk mendiang istrinya. Selesai berdoa ia mengelus pelan batu nisan yang ada di depannya.
"Aku harap kau selalu bahagia di sana. Terima kasih karena kau selalu menjagaku dari atas sana, Clara," ucap Dokter Halbert.
Dokter Halbert berjalan mendekati Detektif Edelmar, ia lalu menepuk pelan pundak Detektif Edelmar, "maaf membuatmu menunggu lama, Detektif Edelmar."
"Tidak masalah," ucap Detektif Edelmar.
"Sebaiknya kita segera kembali," ucap Dokter Halbert. Ia lau berjalan ke arah pintu keluar.
"Kau benar," ucap Detektif Edelmar sambil mengikuti Dokter Halbert.
Tidak ada yang berbicara, bahkan Detektif Edelmar yang melihat sudut kedua mata Dokter Halbert yang memerah hanya memilih diam. Saat mereka sudah berada di dekat mobil, handphone milik Detektif Edelmar berbunyi nyaring. Dokter Halbert menatap Detektif Edelmar yang sedang menatap layar handphone miliknya.
"Ada apa?" tanya Dokter Halbert.
"Ah, aku tidak tahu. Sir James menghubunginku. Tetapi ia segera memutuskan panggilan sebelum aku mengangkatnya," ucap Detektif Edelmar.
"Sebaiknya kau hubungi balik, mungkin sesuatu yang penting," ucap Dokter Halbert.
Detektif Edelmar menekan tombol berwarna hijau yang ada di layar handphone miliknya. Ia kembali menghubungi Sir James. Saat ia baru saja mendudukan diri di dalam mobil, suara Sir James terdengar dari seberang telepon.
"Kau sedang di mana?" tanya Sir James dari seberang panggilan.
"Aku sedang mengunjungi putriku bersama Dokter Halbert. Apa ada sesuatu yang terjadi, Sir James?" ucap Detektif Edelmar.
"Waktu yang sangat bagus kau saat ini bersama Dokter Halbert. Aku ingin kau segera pergi menuju danau Maple Leaf saat ini. Aku akan menunggumu dan Dokter Halbert," ucap Sir James.
Detektif Edelmar terdiam beberapa saat, ia menatap Dokter Halbert yang juga mendengar apa yang Sir James katakan. Dokter Halbert lalu mendekati handphone milik Detektif Edelmar dan berbicara, "apa sudah terjadi sesuatu di danau Maple Leaf, Sir James?"
"Ya. Segera pergi ke danau Maple Leaf," ucap Sir James lalu panggilan telepon terputus.
Detektif Edelmar segera menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Jarak dari danau Maple Leaf cukup jauh di dari tempat mereka berada saat ini, kurang lebih memerlukan waktu tiga puluh menit.
"Dokter Halbert, berpegangan. Aku akan mengebut," ucap Detektif Edelmar. Salah satu tanganya mengambil rotary lamp dan meletakkannya di atas mobil.
Dokter Halbert menatap terkejut pada Detektif Edelmar saat mobil berjalan lebih cepat. Ia memegang erat seat belt yang ia gunakan. Dua puluh menit kemudian mereka sudah tiba di danau Maple Leaf. Dokter Halbert segera keluar dari mobil dengan nafas memburu. Detektif Edelmar yang melihat hal itu mendekati Dokter Halbert lalu menepuk pelan punggung Dokter Halbert.
"Kau sudah gila, Detektif Edelmar," ucap Dokter Halbert.
"Maaf, ini keadaan darurat," ucap Detektif Edelmar. Ia masih menepuk pelan punggung Dokter Halbert.
Merasa sudah cukup tenang, Dokter Halbert menatap kesal pada Detektif Edelmar, "hampir saja kita mengalami kecelakaan saat kau hampir menabrak kumpulan angsa yang sedang lewat."
"Maaf, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Kecuali untuk hal yang sangat mendesak," ucap Detektif Edelmar.
"Lebih berhati-hati, kau hanya akan menambah masalah jika mengalami kecelakaan," ucap Dokter Halbert.
Detektif Edelmar menggaruk pipinya pelan menggunakan jari telunjuk miliknya. Ia lalu mengangguk pelan dan mengajak Dokter Halbert untuk mendekati beberapa Petugas Polisi yang terlihat sedang berkumpul di tepi danau. Di sana juga terlihat sosok Sir James yang sedang berbicara dengan salah satu Petugas Polisi.
"Ada apa Anda meminta kami untuk segera datang ke sini, Sir James?" tanya Detektif Edelmar saat ia sudah berada di dekat Sir James.
"Ah, akhirnya kalian datang. Seorang wanita tua menghubungiku. Ia mengatakan jika suaminya menemukan jasad seseorang saat memancing di danau," ucap Sir James.
"Apa jasad tersebut sudah dikeluarkan dari danau, Sir James?" tanya Dokter Halbert.
"Belum. Perahu karet yang kami bawa ternyata tidak memungkinkan untuk menuju tempat jasad itu berada. Sementara itu kami tidak bisa meminta sang pria tua untuk segera menepi," ucap Sir James.
"Aku akan berenang dan membawa jasad itu ke permukaan," ucap Detektif Edelmar. Ia mulai melepas kancing kemeja yang ia gunakan.
Sir James memukul pelan kepala Detektif Edelmar, "jangan melakukan hal bodoh. Jika kau masuk ke dalam danau, kau hanya akan mendapatkan flu setelah itu."
"Terlalu lama mendiamkan jasad di dalam air bukankan juga tidak baik, Sir James?" tanya Detektif Edelmar.
"Jika dalam kondisi seperti ini, itu tidak masalah," ucap Sir James.
Saat Detektif Edelmar ingin kembali menjawab, seorang Petugas Polisi mendekati Sir James. Ia mengatakan jika mereka sudah menemukan perahu kayu dan sedang dibawa ke sini. Sir James mengangguk lalu berjalan menuju tepi danau. Detektif Edelmar yang melihat hal itu menghela nafas pelan, membuat Dokter Halbert menggeleng pelan.
"Bersabarlah. Jika kau melakukan hal nekat, Sir James bisa saja melarangmu untuk ikut campur dalam urusan kepolisian," ucap Dokter Halbert.
"Ya, kau benar sekali, Dokter Halbert," ucap Detektif Edelmar.
Dokter Halbert memperhatikan sekitar, saat melihat seorang wanita tua yang terduduk lemas di pada kursi yang berada di depan rumah, Dokter Halbert mendekati sang wanita tua, "permisi, Nyonya. Apa Anda memiliki botol yang sudah tidak digunakan?"
Sang wanita tua sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Dokter Halbert. Wanita tua itu tersenyum kecil saat menatap Dokter Halbert, "kau membuatku terkejut, nak. Sebentar, aku akan mencarikan botol yang kau perlukan."
Dokter Halbert memperhatikan sang wanita tua yang menghilang di balik pintu rumah. Tidak berselang lama, sang wanita tua kembali sambil membawa botol kecil. Wanita tua itu berjalan mendekati Dokter Halbert lalu memberikan botol tersebut, "hanya ini yang aku temukan. Apa kau tidak masalah, nak?"
Dokter Halbert tersenyum, ia menerima botol kecil tersebut dengan senang hati, "ini saja sudah cukup, Nyonya. Terima kasih banyak. Maaf aku sudah membuat Anda terkejut tadi."
"Tidak apa," ucap sang wanita tua, ia kembali duduk di kursi miliknya dan memperhatikan para Petugas Polisi yang berada di tepi danau.
Dokter Halbert memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang wanita tua. Ia sekali lagi mengatakan terima kasih lalu berjalan ke tepi danau. Berjongkok di tepi danau, Dokter Halbert membuka tutup botol dan memasukkan botol tersebut ke dalam air danau. Sensasi dingin seketika ia rasakan saat tangannya yang memegang botol terendam air danau. Meresa air yang masuk sudah cukup, Dokter Halbert kembali menutup botol yang ia pegang dan pergi menuju mobil. Ia meletakkan botol tersebut di dalam mobil lalu kembali mendekati sang wanita tua.
"Apa pria yang berada di atas perahu itu suami Anda, Nyonya?" tanya Dokter Halbert.
"Ya, ia suamiku. Ia sudah cukup lama berada di atas perahu. Hal itu membuat ku khawatir," ucap sang wanita tua.
"Saat suami Anda kembali, segera berikan minuman hangat. Ia pasti sangat memerlukan hal itu," ucap Dokter Halbert.
"Kau benar, nak. Kalau begitu aku akan segera menyiapkan air hangat untuknya."