Carla berusaha membebaskan dirinya dari tempat yang sudah ramai dengan keributan ini. Namun nihil, malah entah sengaja atupun tidak, tiba-tiba sebuah tangan menyambarnya hingga ia terluka. Ia terus menggenggam erat tangan Fero agar bisa keluar dari sana, walaupun dengan tertatih-tatih akhirnya Fero berhasil menarik Carla keluar dari kerumunan.
"Car lo nggak papa?" tanya Fero khawatir dengan beberapa luka di tangan dan kaki Carla.
"UKS dimana?"
Tanpa berpikir panjang, Fero membantu Carla berjalan menuju ruang kesehatan yang tempatnya lumayan jauh dari lapangan basket.
"Akh," Carla kembali merintih saat dirasakannya sebuah benda tajam tak sengaja menggores pipinya.
"Carla! Darah," lirih Fero sembari memegang pipi Carla dengan tangannya yang bergetar ngeri melihat darah keluar dari pipi putih Carla.
"WOYY!"
"LO NGAPAIN BAWA CUTTER?" tanya Fero--tak terima dengan luka yang diterima sahabat kecilnya.
"BUAT PERANG!" balas salah satu siswa dari segerombol pria itu.
"Udah, anterin gue ke UKS aja." ujar Carla pelan sedikit terisak.
Fero kembali membantu Carla berjalan,
Mereka sampai di UKS,
Carla menggenggam erat tangan Fero, ia takut jatuh saat melepaskan sepatunya.
"Lo duduk dulu ya,"
Fero mendudukkan Carla di kursi yang tersedia, matanya celingak-celinguk mencari petugas yang seharusnya bertugas hari ini. Namun tak ada tanda-tanda ada orang selain mereka di sini.
"Car, petugasnya nggak ada. Gue keluar cari dulu ya?"
"I...iya,"
"Bentar ya!" Fero mengacak pelan anak rambut Carla sebelum ia benar-benar keluar dari UKS.
Fero berlari, ia khawatir dengan keadaan Carla di sana. Ia takut terjadi apa-apa pada teman masa kecilnya yang tengah sekarat di sana. Atau mungkin bukan temannya lagi karena sekarang ia sudah menaruh hati untuk gadis cantik berwajah dingin itu.
"FERO!!"
Fero menghentikan langkahnya,
Seorang gadis berlari menghampiri dirinya, keringat bercucuran dari dahinya. Eva. Ia tahu betul siapa dia. Bagaimana bisa ia melupakan cewek alay bersuara cempreng yang selalu membuntutinya waktu SD dulu. Jujur saja, ia tak akan pernah bisa melupakannya. Karena dulu Eva-lah perantaranya agar ia bisa dekat dengan Carla. Hanya dekat selama SD, dan setelahnya mereka berpisah karena ia memilih SMP yang berbeda dengan keduanya. Ia hanya berharap, semoga gadis itu sudah berubah dan tidak akan bertindak aneh-aneh setelah ini.
"Bentar, gue napas dulu,"
Eva mengatur deru napasnya yang tak teratur setelah berlari. Lalu manatap serius manik mata Fero.
"Lo tau dimana Carla nggak?" tanya Eva langsung, ia takut terpana dengan ketampanan makhluk di depannya.
Alhamdulillah. Fero tersenyum tipis melihat perubahan Eva setelah beberapa tahun lalu.
"Oh, dia di UKS. Lo kesana dulu! Gue mau panggil petugas buat nanganin lukanya. Lo tinggal belok kanan di sana," Fero menjelaskan dengan kode tangannya.
Eva paham, ia berjalan mengikuti arahan yang diberikan Fero. Mantan gebetannya. Sesuatu di saku roknya bergetar, reflek Eva menghentikan langkahnya dan mengangkat panggilan dari kontak yang ia beri nama 'ICE PRINCE,'
"Lo tau Carla?" tanya El dari seberang.
"El. Carla di UKS, lukanya banyak banget. Lo ke sini ya," ujar Eva dramatis.
Eva mematikan panggilannya. Ia ingin mengerjai El. Pasti sekarang raut wajah datarnya akan sangat menggemaskan kalau sedang khawatir, apalagi hanya gara-gara seorang Carla.
"OH MY GOD. CARLA LO KENAPA?"
Suara Eva berhasil menyita penuh perhatian seorang gadis yang berada di sana.
"OH OH MY. LO...LO NGGAK KENAPA-NAPA KAN?"
"SAKIT NGGAK?"
"ITU PIPI LO KENAPA?"
"YA AMPUN, KAKI SAMA TANGAN LO KENAPA JUGA?"
"TERUS KOK ROK LO BISA JEBOL SIH. CARLA JAWAB GUE!!"
"SILENT!!" pekik Carla agar Eva berhenti berkoar.
Sumpah demi apapun, Carla sangat-sangat ingin membunuh Eva. Ia menatap Eva penuh harap,
"CARLA LO NGGAK BAKAL OPERASI KAN GARA-GARA LUKA GINI?" Eva seperti tak ada niatan menghentikan ocehannya.
"KASIAN WAJAH CANTIK LO CAR, PASTI SAKIT KAN?"
"OHHHH MMYYYYYY!!!"
"SUMPAH CARLA GUE PIK--" teriak Eva menggantung karena terdengar suara dari ambang pintu.
"Eh,"
Carla dan Eva menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Di sana ada Fero dan satu orang siswa yang entah siapa--mereka berdua sama sekali tak kenal.
"Ya ampun. Fer, gue nggak pernah nanganin luka kayak gini. Gue panggil Bu Nita aja ya," ujar siswa yang baru datang itu, dan sekarang sudah nyelonong pergi begitu saja.
Dasar petugas abal-abal!!
●○●○
Sudah ada 15 menit mereka menunggu, sama sekali tak ada tanda-tanda kedatangan seseorang yang ingin menangani luka Carla. Malah Carla yang menjadi pendatang pertama dilupakan, para petugas lebih mementingkan pengobatan untuk anak-anak yang terluka akibat tawuran tadi. Fero sudah berusaha keras mencari pertolongan, tapi yang ada ia dikacangin. Dan malah diberi tatapan sinis dari teman-temannya karena mungkin, mereka berpikir kalau ia bukannya mementingkan sekolahannya dan malah memberi simpati salah satu siswa dari sekolahan yang sekarang sudah menjadi musuh SMA-nya mulai hari ini.
"Car, gue obatin dulu aja ya," ujar Eva yang kesekian kalinya. Namun tawarannya terus saja ditolak oleh Fero, karena Fero tau betapa cerobohnya Eva. Jadi mana mungkin ia menyuruh sahabatanya itu diobati orang seperti Eva?
"Huh. Iya gue tau, dulu gue ikut PMR gara-gara cogannya banyak. Tapikan seenggaknya gue tau sedikit-sedikit tentang pertolongan pertama buat ngatasin luka lo kan?"
"Please Fer? Lo nggak kasihan liat Carla kayak gini?" lanjut Eva berharap agar Fero mau membantunya.
Akhirnya Fero mengangguk, dan respon itu langsung mendapat tanggapan positif dari Eva. Eva menuju ke etalase di sana, mencari refanol, obat merah, dan kasa untuk mengatasi sementara luka Carla.
Dengan wajah berbinar Eva meneteskan sedikit refanol ke kasa guna membersihkan dahulu luka-luka itu, namun saat tangannya hendak menuju luka bagian kaki Carla, seorang wanita berusia sekitar seperempat abad mendatangi Fero.
"Bu, tolongin temen saya," ujar Fero sesegera mungkin.
"Maaf ya Fero. Tadi ibu lagi ngurusin berkas-berkas di kantor," ujar Bu Nita meminta maaf.
"Iya bu, nggak papa,"
Bu Nita langsung ambil alih kegiatan yang tadinya hendak dilakukan Eva.
Eva dan Fero sedikit menjauh, memberikan ruang untuk Bu Nita agar lebih mudah mengobati Carla.
●○●○
"Kantin dimana?" tanya El ketus pada Fero yang duduk di samping Carla saat ia tengah berjongkok di depan Carla--membantu Carla memakai sepatu.
Tak ada sahutan, El mendongak--pantas saja tak menjawab pertanyaannya, cowok yang sama sekali tak dikenalnya itu tampak serius mengamati Carla dari samping--tanpa disadari Carla.
Carla yang juga menatap El langsung menoleh ke samping. Ia mengernyit melihat Fero yang masih belum menyadari kalau dirinya sedang menatap balik Fero. Mungkin Fero melamunkan seseorang tapi sembari melekatkan pandangannya ke Carla.
El mendengus pelan, lalu berdiri setelah selesai menyelesaikan tugasnya.
"Woy!"
Fero menyadarkan dirinya. Ia gelagapan karena tatapan maut dari pria di depannya, dan juga Carla yang melihatnya bingung.
"Kenapa?" tanya Fero polos,
"Fero! Kantin dimana?" tanya Carla
"Oh, namanya Fero," batin El
"Di--"
"Kelamaan lo!" potong El,
"Lo cari aja sendiri," ujar Fero kesal.
El mendengus dan dengan kasar tangannya menggeser cowok bernama Fero itu agar menjauh dari pacarnya. Mungkin cemburu.
"Lo apa-apaan sih!" geram Fero
"Pikir aja sendiri," balas El acuh.
Carla mengerucutkan bibirnya melihat tingkah kekanak-kanakkan dua pria di depannya.
"Fer, jangan marah yaa. Temen gue emang gini. Cowok PMS-an" ujar Carla sinis--terdengar seperti sindiran untuk El.
"Bukan temen, tapi PACAR!"
●○○●
"Kapan pulangnya?" tanya Carla sembari menyeruput es tehnya.
El melihat jam tangannya,
"Satu jam lagi,"
Mereka di sini. Di kantin SMA KAREN yang bahkan sama sekali tak terlihat sedikitpun seperti kantin. Dekorasi yang mewah, makanan-makanan bermerek, dan cara aneh untuk bisa makan di sini--mereka diharuskan menunjukkan kartu tanda pelajar, khusus untuk yang bersekolah di sini. Sedangkan dari luar sekolahan? Mereka harus menyebutkan nama, dan asal sekolah mereka kalau mau makan dengan tenang. Aneh. Di meja nomor 4 itu hanya ada dua penghuni saja-El dan Carla. Dua pengikut setia itu sudah pergi. Eva yang memang sudah keluyuran mencari Revan sejak kedatangan El di UKS tadi, dan Fero yang terpaksa pergi karena tatapan maut El yang membuatnya risih.
"Lo nanti naik mobil,"
"Sama anak basket," lanjut El.
Carla menatap El bingung,
"Kenapa?"
"Gue nggak mau lo kenapa-napa,"
Glek!
Carla menelan air ludahnya sendiri mendengar ucapan El yang seakan-akan seperti tengah menghawatirkannya. Namun secepat mungkin ia bersikap biasa saja,
"Nggak mau," jawab Carla--sok jual mahal,
"Sama gue naik taksi,"
"Gue berangkat sama Eva, ya pulangnya sama Eva lah,"
"Yakin?"
"Banget,"
"Terserah lo aja sih," putus El acuh.
●○●○
"Naik!
"Nggak mau!"
El kehabisan kata-kata menanggapi Carla yang tetap kekeh dengan keputusannya pulang bersama Eva naik sepeda motor. Sebenarnya apa sih yang ada di otak gadis itu. Jelas-jelas lukanya banyak, jalan aja masih kesulitan, kok malah mencari mautnya sendiri. Akhirnya El memilih cara ini. Menggendong Carla dan manaikkannya ke dalam taksi online yang sudah dipesannya tadi.
"EL LO GILA!!" pekik Carla tak terima.
El juga ikut masuk ke dalam. Dan langsung menginstruksi Pak Sopir supaya segera melesatkan mobilnya, sebelum gadis es yang berubah menjadi bar-bar ini malah aneh-aneh nantinya.
"El. Lo apa-apaan sih,"
"Malu-maluin,"
Mungkin memalukan untuk Carla. Tapi tidak dengan El, ia tersenyum simpul saat mendengar teriakan-teriakan heboh dari luar mobil.
"Akhirnya gercep juga si Jones," ujar Revan
"OH MY... El co cweet banget sih," tambah Eva dengan girangnya.
Dan masih banyak lagi teriakan dari teman-temannya yang melihat El dan Carla. Bahkan guru olahraga yang melihatnya pun hanya geleng-geleng kepala.
"Lo harus jadi milik gue Carla," bisik El di samping telinga Carla
••••