"Yer, gue pulang dulu,"
Yera menarik kedua ujung bibirnya, membuat senyum manis terpatri di wajah cantiknya. Ia menyerahkan helm yang tadi dipakainya kepada sang pemilik.
"Hati-hati Vano,"
"El. Bukan Vano," ujar El merevisi ucapan Yera.
Yera menautkan alisnya. Ia berjalan selangkah mendekati El--tangannya terangkat untuk mengacak gemas rambut El.
"Lo lucu deh Van,"
El memegang tangan Yera--menghentikan aktivitas Yera di kepalanya. Ia tak ingin Yera menaruh perasaan lebih kepadanya. Ia tahu jelas isi hati Yera kepadanya, sangat terlihat jelas dari sikap sahabat kecilnya itu kepadanya. Tapi, ia tak ingin meninggalkan gadis brokenhome itu demi kepentingan dirinya sendiri. Ia tak terlalu tega menyakiti Yera.
"Gue pulang dulu,"
El perlahan melepaskan cekalan tangannya pada Yera, lalu kembali memakai helm fullface-nya. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Lo udah berubah Elvano," batin Yera dalam hati.
Yera tersenyum getir. Ia masuk ke dalam halaman rumahnya yang terlihat sepi, tak berpenghuni.
●○●○
Keesokan harinya...
Carla mondar-mandir, sesekali ia melihat jam yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. Ia menggigit bibirnya, cemas. Tinggal 10 menit lagi gerbang akan ditutup, tapi tak ada tanda-tanda orang yang ia tunggu datang menjemputnya. Sedari tadi ia menunggu El di ruang tamu. Karena tadi ia juga sudah menolak ajakan Dion untuk berangkat bersama hanya demi menunggu orang yang belum ada kepastian akan menjemputnya. Ia juga sudah mengirimkan pesan pada El agar datang ke rumahnya-- jalankan balasan, pesannya saja belum sampai kebaca sama si pemilik nomer itu.
"Loh, kok masih di rumah?" tanya Zia yang baru pulang setelah mengantarkan Rendra bersekolah.
"Udah jam setengah tujuh lo Car,"
Carla membelak kaget, ia melupakan kalau dalam seminggu ini akan terus diadakan pendisiplinan murid di sekolahan. Artinya gerbang akan ditutup 15 menit lebih awal dari biasanya. Ia berlari mengambil tasnya,
"KAK AKU BERANGKAT DULU!" Carla berteriak sembari berlari keluar rumah--meninggalkan kakaknya yang baru datang.
"Dasar bocah," geram Zia sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Sudah hampir satu kilo meter Carla berlari, tapi tak satupun taksi ataupun angkutan yang lewat. Percuma saja sekolah, ia yakin sekarang pasti gerbang sekolah sudah ditutup. Ingin dirinya membolos, namun kasihan kakaknya yang nanti harus di panggil ke sekolah karena dirinya. Lebih baik ia terus berjalan, mungkin sebentar lagi makhluk kiriman Tuhan akan datang membantunya. Ya, pasti ada!
"Car!" Carla terhenyak sebentar,
Aldo mengerem motornya, sudah dari tadi ia memanggil Carla. Tapi bukannya menoleh dan memberikan respon, malah gadis itu berlari semakin kencang meninggalkannya. Alhasil ia memperlambat kecepatan motornya--sampai akhirnya Carla berhenti karena kelelahan.
"ALDO! GUE NEBENG YA?"
Tanpa basa-basi Carla langsung naik ke motor Aldo--bahkan ia tak berniatan meminta persetujuan dulu pada cowok tampan itu.
"Buruan! Keburu telat,"
"Siap bu boss!"
Aldo melajukan motornya mengikuti permintaan Carla. Ia rela melupakan niat awalnya untuk bolos sekolah dan nongkrong dengan teman-temnnya hanya demi menuruti permintaan Carla berstatus sebagai teman masa kecilnya,
●○●○
Setelah menerima hukuman, Aldo mengantarkan Carla ke UKS karena luka di tangannya terbuka akibat menata lima rak buku di perpustakaan sebagai hukuman karena telat datang ke sekolah. Aldo mengamati petugas yang tengah mengganti perban Carla dengan intens. Suatu keajaiban untuknya karena bisa bersama Carla yang biasanya dingin kepadanya.
"Dek. Kamu balik ke kelas duluan aja, biar adeknya ini petugas yang jaga," ujar petugas itu. Bukan maksudnya mengusir Aldo keluar, tapi memang sudah menjadi peraturan, bahwa selain petugas dan pasien tidak boleh berada di UKS saat jam pelajaran berlangsung, terkecuali kalau ada kepentingan.
"Nggak papa kak. Gue temenin Carla aja, terus kakak yang ke kelas," kilah Aldo
"Ha?"
"Gak papa kak. Saya dulu juga pernah ikut PMR kok. Ya walaupun cuma ikut dua kali pertemuan, tapi kan lumayan,"
"Pliss dek, jangan buat gue pusing,"
"Makanya biar nggak pusing, saya aja yang jaga UKS sama sekalian jaga Carla. Nah kan jadinya kakak nggak perlu capek-capek di sini,"
"Dek, kamu keluar aja. Saya nggak mau bikin keributan,"
"Hih, kakak tuh mau banget ya memisahkan saya dengan kekasih tercinta ini. Kakak tahu nggak hukumnya memi--"
"Do, lo ke kelas aja," potong Carla cepat memisahkan perdebatan Aldo dan kakak kelas yang tak dikenalnya itu.
"Oke! Gue ke kelas," serah Aldo
Akhirnya Aldo menyerah, ia memberikan tatapan tajamnya sebelum keluar dari ruangan yang ditempati Carla. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seorang pria yang mendengarkan dari ruangan yang berada di samping ruangan Carla. Pria itu menggenggam tangannya sendiri erat untuk melampiaskan kekesalannya sekarang.
"Van, Kamu nggak papa kan?"
"Hmm,"
Yera tersenyum lembut sembari tangannya yang meraih tangan El lalu menggenggamnya erat.
"Yera, gue ke kelas," pamit El lalu keluar dari sana, lagi-lagi ia menghindari perlakuan Yera kepadanya. Alasannya masih sama, menjaga perasaan gadis yang sekarang ia cintai. Walaupun ia sendiri masih ragu tentang bagaimana perasaan gadis itu kepadanya.
"Van, lo kenapa berubah sih?"
"Kenapa cuma gara-gara cewek, kamu jadi cuek sama aku?"
"Aku kurang apa sih Van?"
Sedangkan wanita yang berada pada ranjang di balik gorden itu hanya mendengus malas mendengar keluhan Yera tentang orang yang sekarang mempunyai status sebagai pacarnya.
Carla memang sudah menebak semua ini dari awal. Tentang perasaan Yera pada El, semula ia percaya kalau hubungan mereka itu hanya sekedar sahabat ataupun teman lama saja, tapi setelah mengamati, ralat bukan mengamati tapi mendengar ungkapan Yera barusan malah membuatnya semakin yakin bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya, atau lebih jelasnya bagaimana perasaan Yera yang sebenarnya Carla mengambil bantal di bawah kepalanya--ia mengambilnya dan sekarang bantal itu menjadi di atas kepalanya, berfungsi sebagai penyumbat telinganya, agar ia bisa tidur dan tak mendengarkan monolog Yera yang membuatnya kesal lagi. Carla terlelap, membiarkan matanya terpejam dan mimpi indah menghampirinya.
●○●
Carla menatap sosok dihadapannya dengan tatapan malas,
"Tinggal jawab aja kenapa sih Car?"
"Nggak usah nggantungin perasaan gue. Kalau lo nggak suka, tinggal ngomong, jangan kayak gini!"
"Kenapa diem? Bener kan? Lo emang suka sama Aldo,"
El. Cowok itu melayangkan pertanyaan-pertanyaan pada Carla setelah mendengar kabar dari Revan kalau gadis itu tadi berangkat bersama Aldo.
Tadi ia hanya mengira kalau Carla mungkin hanya kebetulan sakit dan Aldo yang mengantarkannya. Tapi kenyataannya, Carla sakit karena dihukum dan itu karena ia terlambat--lebih mengejutkannya lagi, ia terlambat dengan Aldo dan katanya mereka tadi datang bersama.
Siapa yang tidak kesal mendengar pacarnya bersama dengan pria lain. Bahkan setelah mendengar itu semua, ia rela meninggalkan kelas lalu langsung menghampiri Carla di UKS dan menanyakan semua yang ada dipikirannya pada gadis yang berbaring di dipan UKS.
"Lo mau apa sih?" tanya Carla dengan nada dingin.
"Lo nggak mikir kenapa gue bisa telat?"
"Kencan sama Aldo," tebak El sinis.
"Gue telat gara-gara nungguin lo! Puas?"
Kepalanya benar-benar pening sekarang, dengan sisa tenaganya Carla berjalan keluar meninggalkan El yang masih mematung di tempatnya. El mengacak rambutnya frustasi, kenapa masalah dalam hidupnya bukannya mengurang tapi malah semakin banyak saja setiap harinya.
●○●○
El sudah siap dengan rencananya yang akan membolos kelas demi mengatakan sesuatu pada pacarnya. Dengan percaya dirinya ia mengangkat tangannya pada guru fisika yang sedang mengajar.
"Iya El?" tanya Bu Dian, selaku guru Fisika di kelas itu.
"Saya izin mau ketemu Carla," ujar El tanpa beban. Ia sama sekali tak menghiraukan tatapan tajam dari teman-teman sekelasnya.
"Lo gila!" bisik Revan
"Mending jujur daripada bolos," jawab El santai.
"Iya gak papa," Bu Dian tersenyum sembari menjawab pertanyaan El.
"Makasih bu,"
El menenteng tasnya di bahu, seraya berjalan mendekati Bu Dian. Ia mencium tangan Bu Dian dan pergi meninggalkan kelas.
"Loh bu. Kok El boleh keluar sih," protes Revan tak terima.
"Biarin aja. Kalau mau boleh kok keluar,"
El adalah murid kesayangan beberapa guru mapel yang mengajar. Banyak dari mereka menyukai El karena ia yang pendiam, yang cepat paham kalau diterangkan, dan El pasti akan cepat mengerjakan bila diberi tugas. Guru ya pasti seperti itu, suka pilih kasih.
El berdiri di luar kelas Carla, masih tersisa sepuluh menit sampai bel istirahat berbunyi. Dapat dilihatnya Carla duduk di barisan paling depan, terlihat tengah memahami apa yang diucapkan guru itu.
Tujuannya menemui Carla ada dua, untuk mengajaknya pulang bersama dan menghindari Yera untuk sementara waktu. Ia sangat tak ingin Yera merusak hubungannya lagi.
Ia tak sadar kalau sedari tadi ia menjadi pusat perhatian di sana, semua siswa dan siswi yang berada di beberapa dalam kelas itu mengamati El. Dari tatapan kagum sampai dengan terang-terangan mencibir terlihat dan terdengar jelas di telinga El.
KRINGGG!!
Bel berbunyi, sekarang El tinggal menunggu guru itu keluar dari kelas. Ia melangkah mendekati pintu kelas.
"Assalamu'alaikum bu," salam El ketika wanita berusia sekitar seperempat abad itu keluar dari kelas. El juga mencium tangannya sebagai tanda sopan kepada orang yang lebih tua.
"Nunggu siapa El?"
"Nunggu temen bu,"
"Oh. Yaudah ibu ke sana dulu ya," pamit guru itu.
El mengangguk sebagai jawaban. Dan langsung masuk ke kelas itu--melawan arus beberapa siswa dan siswi yang ingin keluar kelas.
"Lo ngapain di sini?" tanya Eva
"Suruh temen-temen lo keluar," ujar El
"WOYY GAISSS!! YANG COWOK, YANG CEWEK KELUAR!! Soalnya Carla, sahabat gue mau ketemuan ama si cowok ganteng di depan gue nihh. Tapi tenang, mereka nggak pacaran kok. Yang mau gebet sahabat cetar membahana gue boleh kok, masih jomblo gaiss soalnya."
"ALDO!!! KELUAR!!" pekik Eva saat dilihatnya Aldo malah menghampiri Carla di mejanya.
"Masih jomblo?" bisik Aldo di samping telinga Carla.
Carla mendongak, ia melihat Aldo tersenyum kepadanya dan juga terlihat membisikkan sesuatu di telinga El. El menatap kepergian Aldo dari kelas itu. Sekarang benar-benar tinggal dirinya dan Carla saja yang berada di ruangan ini.
"Kurang kerjaan?" sindir Carla
El menghela napas pelan,
"Punya," jawab El seadanya sambil duduk di kursi guru,
"Lo bolos?"
"Nggak kok,"
"Alasan!"
"Gue izin!"
"Ke kamar mandi? Trus ke sini? Bullshit!" umpat Carla sinis
"Mulut lo!" El bersedakep d**a, kakinya terangkat dan ia sandarkan di meja guru.
"Gue bilang ke guru kalau mau ketemu Carla,"
"Jadi gue nggak bohong," ujar El santai
Carla dibuat membelak mendengar penyataan El. Ia tak salah dengar kan? El bilang kalau guru kelas dengan mudah memperbolehkannya keluar untuk menemuinya. Sudah gila kah guru di sekolahan ini.
"Lo pulang bareng gue!" El kembali mengulang perintahnya pada Carla.
"Dijemput!"
"Tinggal telfon kan?" El jengah dengan jawaban Carla
"Males!"
"Car!"
"What?"
"Maaf,"
Carla memusatkan perhatiannya pada cowok di sana,
"Gara-gara gue, tangan lo jadi sakit lagi."
"Gue bakal berusaha jauhin Yera."
"Demi lo!"
••••