Malam itu, angin menari tanpa suara di sepanjang lorong-lorong istana Esvarya. Lentera sihir bergetar pelan, seolah merasakan adanya sesuatu yang tak terlihat sedang berjalan bersisian dengan mereka.
Aeryn terjaga di tempat tidurnya. Mimpi buruk tak memberinya damai. Dalam mimpinya, ia melihat Elvaris tenggelam dalam lautan es yang melahap segalanya. Istana runtuh, dan dari dalam reruntuhan, suara yang familiar memanggilnya—Althera.
Ia duduk di tepi ranjang, jantungnya berdetak terlalu cepat. Tapi malam ini berbeda.
Dinding di sudut kamarnya… retak.
Retakan kecil. Hampir tak terlihat. Tapi dari balik retakan itu, hembusan dingin yang bukan dari musim, melainkan dari sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam, menyusup perlahan.
Aeryn berdiri, mendekatinya. Saat tangannya menyentuh permukaan dinding, retakan itu melebar, dan cahaya biru gelap keluar darinya. Dalam sekejap, dunia di sekitarnya lenyap, digantikan ruang kosong… tempat suara berbicara langsung ke dalam pikirannya.
“Darahmu adalah pintu.”
“Elvaris dibangun di atas penjara, bukan kerajaan.”
“Mereka menyembunyikan sejarah agar kau tidak bangkit.”
Aeryn menarik napas keras dan terdorong keluar dari penglihatan itu. Dinding kembali utuh. Udara membeku. Tapi kini ia tahu—apa yang ia lihat bukan mimpi.
Itu peringatan.
---
Pagi harinya, Aeryn meminta akses ke Perpustakaan Terdalam, tempat kitab-kitab sejarah yang hanya boleh disentuh oleh para tetua disimpan. Tapi ketika ia sampai di sana, penjaga memberinya kabar mengejutkan.
“Maaf, Yang Mulia. Bagian bawah perpustakaan ditutup. Perintah langsung dari Dewan Agung.”
“Dengan alasan apa?” tanya Aeryn dingin.
Penjaga itu menunduk. “Tidak ada yang boleh tahu.”
Aeryn menatap lurus ke arahnya. “Bukankah aku Putri Mahkota?”
“Maafkan hamba, Putri… kami hanya menjalankan perintah.”
Perlahan, rasa curiga dalam diri Aeryn berubah menjadi kemarahan yang beku. Jika mereka menyembunyikan sesuatu darinya, maka ia tak akan diam.
---
Malamnya, ia menyelinap keluar dari kamarnya dengan jubah hitam dan sarung tangan dari kulit naga beku. Bersama bayangan, ia berjalan ke arah perpustakaan, melewati lorong rahasia yang hanya dikenal oleh keluarga kerajaan.
Tangga menuju lantai bawah dibekukan dengan sihir pelindung. Tapi saat Aeryn mendekat, es itu pecah dengan sendirinya, seolah menyambutnya. Ruangan itu gelap, dipenuhi debu dan kitab tua yang terlupakan oleh waktu.
Ia menyusuri rak-rak kuno, hingga menemukan satu buku besar tanpa nama, hanya simbol berbentuk mata duri di sampulnya.
Saat ia membuka halaman pertama, tulisan-tulisan kuno menyala biru, dan suara muncul di kepalanya—tapi bukan suara Althera.
Suara ini... milik ibunya.
“Jika kau membaca ini, Aeryn, maka mereka gagal menghapus semuanya.”
“Kau adalah pewaris darah yang tak pernah dimaksudkan untuk dibangkitkan.”
“Gerbang yang kau lihat adalah pintu menuju fondasi Elvaris—penjara bagi Nevrakhaal, dan juga takdirmu.”
Tangannya gemetar.
Ibunya… tahu?
Ia terus membaca, menyerap setiap kalimat seperti napas terakhir. Kitab itu mengisahkan bagaimana Elvaris dibangun di atas reruntuhan pertempuran terakhir antara para penyihir kuno dan makhluk dari dimensi beku. Untuk mengurung mereka, para leluhur menciptakan segel hidup—darah yang mengikat, keturunan yang diwariskan satu tujuan: menjaga pintu tetap tertutup.
Tapi sesuatu telah berubah. Segel mulai melemah. Dan Aeryn… adalah kunci terakhir.
---
Saat ia keluar dari perpustakaan, seorang bayangan telah menunggunya di kegelapan.
“Aku tahu kau akan datang ke sini,” suara itu berkata.
Aeryn menoleh tajam. “Lady Virelle?”
Penasihat tua itu melangkah ke depan, wajahnya tak menunjukkan kejutan.
“Aku telah mencoba melindungimu dari kebenaran ini, Aeryn.”
“Kau tahu semuanya, dan kau tetap diam?”
Lady Virelle menunduk. “Karena jika kau mengetahui siapa dirimu sebenarnya… tak akan ada yang bisa menghentikanmu. Bahkan aku.”
---
Aeryn tak menjawab. Tapi dari dalam dirinya, sihir mulai menyala lagi. Ia tak lagi merasa takut.
Ia mulai mengerti. Dunia ini telah membohonginya. Mereka menyebutnya pewaris tahta, padahal ia hanyalah kunci yang disimpan, dijaga… ditakuti.
Tapi kunci juga bisa membuka jalan keluar. Atau menghancurkan semua gembok yang mencoba mengurungnya.
Dan malam itu, di langit Elvaris, bintang-bintang mulai pudar. Karena seseorang telah menyentuh es yang tak boleh dibangunkan.
Aeryn mundur selangkah, napasnya membeku di udara dingin. Gerbang kristal itu berdiri diam, tetapi mengisap cahaya di sekitarnya seperti jurang tak berdasar. Dari balik gerbang, bisikan asing mulai terdengar. Bahasa yang tidak pernah ia pelajari, tapi entah kenapa, ia mengerti.
“Darahmu memanggil kami.”
Suara itu bergema seperti gema dari masa lampau, dan Aeryn tiba-tiba melihat kilasan-kilasan aneh: sosok bersayap berdiri di medan perang, lautan terbakar, istana hancur dalam badai salju. Lalu semuanya menghilang.
“Ini… bukan mimpi, kan?” bisiknya.
Tepat saat itu, pintu kamarnya digedor keras.
“Putri Aeryn! Kunci ruangan ini! Kami mendeteksi gelombang energi sihir tak dikenal dari arah menaramu!” teriak pengawal di luar.
Aeryn tak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada gerbang yang berdenyut seperti jantung raksasa. Tapi begitu para penjaga mulai mencoba mendobrak, gerbang itu perlahan menghilang, larut menjadi butiran es yang lenyap di udara.
Pintu terbuka paksa. Empat penjaga lengkap dengan jubah lapis sihir masuk dan langsung mengangkat tongkat mereka. Tapi ruangan itu kembali sunyi. Tak ada jejak kristal. Tak ada gerbang.
Aeryn hanya berdiri di tengah, lemas, napas berat. “Aku… tak apa-apa.”
Namun saat para penjaga keluar, salah satu dari mereka menyadari: seluruh permukaan lantai telah berubah menjadi pola rumit, seperti ukiran kuno yang tak seorang pun bisa terjemahkan. Simbol-simbol yang tak berasal dari kerajaan mana pun di dunia atas.
Dan malam itu, di ruang rahasia para penatua, kabar itu sampai. Salah satu tetua berkata dengan nada berat:
“Ramalan lama… telah mulai bergerak.”