Ponsel Raja berdering tiba-tiba. Ia sedang duduk di ruang kerjanya, berusaha fokus pada laporan yang belum selesai. Namun, begitu melihat nama yang tertera di layar, konsentrasinya buyar. Nama itu, nama yang seharusnya tidak muncul lagi dalam kehidupannya, tapi tetap saja selalu datang tanpa aba-aba.
Celia.
Raja menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat telepon. "Kenapa?" tanyanya dengan suara berat, mencoba mengendalikan perasaan yang mulai mengganjal di dadanya.
"Om, bisa ketemu sebentar? Aku ada sesuatu yang penting mau ngomong sama Om," suara Celia terdengar agak cemas.
Raja mengerutkan kening. Ada sesuatu dalam nada suara Celia yang membuatnya semakin tidak tenang. "Di mana?"
"Terserah Om aja, yang penting tempatnya privat," jawab Celia cepat, seolah sudah memikirkan semuanya dengan matang.
Raja terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ini keputusan yang tepat. Akhirnya, ia mengirimkan lokasi yang agak jauh dari keramaian, tempat yang cukup sepi agar mereka bisa berbicara tanpa gangguan.
Beberapa waktu kemudian, mereka bertemu di sebuah kafe yang sepi. Raja memilih meja di sudut, tempat yang tidak terlalu mencolok. Saat Celia masuk, ia tampak gelisah, matanya terus melihat ke sekitar seolah memastikan tidak ada yang mengenalnya.
"Kamu datang sendirian?" tanya Raja setelah Celia duduk di depannya.
Celia mengangguk. "Iya. Aku nggak mau ada yang tahu kalau kita ketemu."
Raja mengamati Celia dengan perasaan bercampur aduk. Celia bukan anak kecil lagi. Ia sudah dewasa. Namun, hubungan mereka semakin rumit setelah kejadian semalam. Ia tahu, apa yang mereka lakukan adalah kesalahan besar.
"Celia," suara Raja terdengar serius dan dalam. "Apa yang sudah kita lakukan... itu salah. Kita tahu itu salah, kan?"
Celia mengangguk perlahan, tapi matanya tetap tidak bertemu dengan mata Raja. "Om, aku mohon... jangan bilang dulu sama Daddy tentang... tentang kita. Kalau aku nggak hamil, Om nggak perlu tanggung jawab. Kita bisa lupain aja semuanya. Tapi kalau aku hamil... aku bakal kasih tahu Om."
Raja merasa dadanya dihantam keras. Ia menatap Celia dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu... serius dengan apa yang kamu katakan? Kamu mau kita berpura-pura nggak terjadi apa-apa kalau kamu nggak hamil? Celia, ini bukan sekadar kesalahan yang bisa dihapus begitu saja. Ini lebih besar dari itu."
Celia menunduk, jemarinya saling meremas di atas meja. "Om, aku nggak tahu harus gimana. Aku takut. Aku takut Daddy bakal marah. Om tahu sendiri gimana Daddy. Kalau sampai dia tahu... hubungan Om sama Daddy pasti hancur. Om nggak takut?"
Raja menghela napas panjang. Ia memang memikirkan kemungkinan itu. Ayah Celia, Devan, adalah sahabatnya. Jika Devan tahu apa yang terjadi, ia tidak akan tinggal diam.
"Saya nggak bisa pura-pura nggak takut, Celia. Tapi saya juga nggak bisa pura-pura ini nggak pernah terjadi. Saya orang dewasa, saya seharusnya lebih bertanggung jawab. Saya yang salah karena membiarkan ini terjadi."
Celia menatap Raja dengan mata yang mulai berair. "Jadi, Om mau bilang sama Daddy? Mau bilang kalau kita... kalau kita udah melanggar batas?"
Raja terdiam. Ia tahu jawabannya, tapi ia juga tahu konsekuensinya.
"Saya nggak tahu, Celia. Saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang. saya merasa bersalah, saya merasa bodoh. saya nggak seharusnya melakukan ini sama kamu. Saya bukan cuma sahabat Daddy kamu, saya juga orang yang seharusnya menjaga kamu, bukan malah..." Raja tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Celia menyeka air matanya yang mulai jatuh. "Om, aku juga nggak mau ini terjadi. Tapi ini udah terjadi. Aku cuma... aku cuma nggak mau semuanya berantakan. Aku takut Daddy kecewa. Aku takut dia benci sama aku."
Raja menatap Celia dengan perasaan campur aduk. "Celia, kamu nggak harus menghadapi ini sendirian. Apapun yang terjadi, saya akan tetap ada buat kamu. Kalau kamu hamil... saya nggak akan lari dari tanggung jawab. Saya janji."
Celia menggeleng cepat. "Om, aku nggak siap! Aku nggak siap kalau harus menikah sama Om! Om kan udah punya anak dari pernikahan sebelumnya! Aku masih muda, Om! Aku nggak mau jadi istri orang dengan anak tiri tiga orang!"
Raja menundukkan kepala. Kata-kata Celia menusuknya dalam-dalam. "Saya ngerti, Celia. Saya nggak mau memaksa kamu untuk sesuatu yang kamu nggak siap. Saya cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Celia menatap Raja dengan mata yang penuh kebingungan. "Om, kalau aku nggak hamil... aku ingin kita lupain semuanya. Aku nggak mau kita saling menyakiti lebih jauh. Aku ingin tetap bisa ngobrol sama Om tanpa merasa bersalah. Aku ingin Daddy tetap melihat Om sebagai sahabatnya, bukan pengkhianat."
Raja meremas wajahnya, pikirannya kalut. "Saya nggak tahu apakah itu bisa semudah itu, Celia. Mungkin buat kamu, tapi buat saya... ini bukan sesuatu yang bisa saya lupakan begitu saja. Saya udah melanggar batas. Saya udah mengecewakan diriku sendiri. Saya nggak tahu bagaimana cara menghadapi ini."
Celia menggigit bibirnya, menahan tangis. "Om... aku nggak bisa bayangin hidup aku tanpa Om sebagai orang yang aku percaya. Aku cuma mau semuanya tetap baik-baik aja."
Raja menatap Celia lama, lalu mengangguk pelan. "Saya akan berusaha. Tapi kamu juga harus janji satu hal."
"Apa?" tanya Celia, suaranya bergetar.
"Kalau sesuatu terjadi—kalau kamu hamil atau kalau kamu merasa nggak bisa menghadapi ini sendirian—kamu harus kasih tahu saya dulu. Jangan biarkan saya tahu dari orang lain. Saya nggak mau kamu menanggung semuanya sendirian."
Celia mengangguk pelan. "Iya, Om. Aku janji."
Raja menatapnya dengan perasaan berat. Ia tahu, apa yang baru saja mereka sepakati mungkin tidak akan bertahan lama. Luka ini terlalu dalam untuk bisa dihapus begitu saja. Tapi untuk saat ini, itu satu-satunya jalan yang bisa mereka ambil.
Mereka duduk dalam keheningan. Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan akan berjalan, tapi satu hal yang pasti—tidak ada jalan kembali dari sini.
******
Celia duduk di tepi tempat tidurnya, tangannya mencengkeram selimut dengan erat. Kepalanya terasa berat, pikirannya berputar-putar tanpa henti. Bayangan malam itu berputar di benaknya, membuat dadanya semakin sesak.
Dia tidak seharusnya pergi ke klub malam. Dia tidak seharusnya menerima minuman dari temannya. Dia tidak seharusnya membiarkan dirinya terbawa suasana.
Tetapi semuanya sudah terjadi. Ia ingat bagaimana cahaya redup klub malam menyilaukan matanya, bagaimana dentuman musik menggema di telinganya, bagaimana alkohol mengalir dalam tubuhnya, membuatnya kehilangan kendali. Saat itu, ia hanya ingin bebas, hanya ingin melupakan semua tekanan yang ia rasakan di kampus.
Tapi kebebasan yang ia cari malam itu justru menghancurkannya.
Air matanya mulai menggenang saat ingatannya melompat ke kejadian setelahnya. Ia ingat bagaimana ia merasakan panasnya tubuhnya setelah seseorang memberinya sesuatu yang ia kira hanya sekadar minuman biasa. Bagaimana ia kehilangan kendali, membiarkan dirinya tenggelam dalam sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Celia meremas rambutnya, napasnya mulai memburu. Ia ingin berteriak, ingin mengulang waktu dan mencegah dirinya sendiri melakukan kebodohan itu. Tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Kenyataan yang harus ia hadapi adalah ia telah kehilangan sesuatu yang berharga. Dan yang lebih buruk, ia kehilangannya bersama seseorang yang tidak seharusnya menjadi bagian dari kisah ini.
Raja.
Sosok pria yang selama ini ia hormati, pria yang sering datang ke rumahnya, bercanda dengan Daddy, memberi nasihat padanya seperti seorang ayah yang baik. Dan sekarang, setelah malam itu, ia tidak tahu bagaimana cara menatap wajah Raja lagi tanpa merasa hancur.
Bagaimana jika Daddy tahu? Bagaimana jika Mommy tahu? Mereka pasti akan sangat marah. Daddy akan merasa dikhianati, dan Mommy… Mommy akan menganggapnya sebagai aib keluarga. Celia menggigit bibirnya, menahan isakan yang hampir keluar dari tenggorokannya. Ia ingin melupakan semuanya, ingin percaya bahwa ini hanyalah mimpi buruk. Tapi bekas-bekas kejadian itu masih terasa nyata. Rasa sakit di tubuhnya mengingatkannya bahwa semuanya benar-benar terjadi.
Pikirannya berlarian ke segala arah. Apa yang harus ia lakukan jika ternyata ia hamil? Apa yang akan ia katakan pada Raja? Apa yang akan ia katakan pada keluarganya? Tidak, ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Celia menggeleng kuat, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia harus mencari solusi, harus memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu. Ia tidak bisa menghancurkan keluarganya, tidak bisa menghancurkan persahabatan Daddy dengan Raja.
Tapi yang lebih dari itu… ia tidak tahu bagaimana cara memaafkan dirinya sendiri.
Air matanya jatuh tanpa henti. Penyesalan ini begitu dalam, begitu menyakitkan. Jika saja ia bisa kembali ke malam itu, ia akan memilih untuk tetap di rumah, tetap menjadi gadis baik yang Daddy dan Mommy percayai. Tapi semuanya sudah terlambat.
Dan kini, ia harus hidup dengan konsekuensinya.