Rowena tak pernah menduga bahwa ia merasuki tokoh ekstra yang bahkan tak pernah di jelaskan dengan benar di novel. Pantas saja ia sampai saat ini tidak tahu sedang merasuk ke novel mana. Jika ia tidak bertemu dengan Regis Mullen di rumah sakit, mungkin ia masih tidak tahu kenyataan ini.
"Kau yakin tidak apa-apa ?" tanya Tom tampak khawatir dengan kondisi teman nya itu.
"apakah kita ada kelas bersama dengan anak-anak dari departemen kesehatan ?"
" – yya tentu saja. Di kelas dasar-desar penyembuhan kita akan bersama dengan meraka. Apakah kau ada rencana untuk mengganggu err Sybil ?" tanya Nick ragu.
"tidak.. tidak. Tolong jaga diriku untuk tidak mengganggu nya lagi. Aku harus menyayangi nyawa ku mulai hari ini" mereka berdua tampak lega mendengarnya.
"bukan berarti aku menyukai nona itu, aku hanya khawatir jika teman ku terus menerus di juluki sebagai penjahat" ucap Tom jujur.
"apakah selama ini aku benar-benar merundungnya ? maksudku, apakah kau benar-benar melihatku secara langsung ?"
"tidak, tahu-tahu nona Sybil sudah terduduk di lantai sembari menangis dan dirimu tampak sedang memarahinya" Rowena tampak berfikir, apakah ini tipe pemeran utama wanita yang menyebalkan ? ia sudah banyak sekali membaca novel. Dan dari genre isekai, transmigrasi dan sejenisnya – sebagian besar pemeran utamanya adalah penjahat yang sesungguhnya. Jika memang Rowena bukan penjahat maka ia harus segera membongkar kebusukan pemeran utama wanita itu – ya meskipun ia berharap pemeran utama nya benar-benar baik. Maka ia tinggal meminta maaf saja padanya dan tak perlu berurusan lagi dengan nya.
"sepertinya ada yang tidak beres. aku berharap kalian tidak akan pernah meninggalkan ku dalam keadaan sendirian" ucapnya yang di jawab anggukan yakin oleh kedua temannya. Rowena, Tom dan Nick sudah berteman sejak mereka kecil. mereka tinggal di lingkungan yang sama dengan orang tua yang memiliki pekerjaan yang sama membuat mereka sering sekali bertemu sejak kecil. Tom dan Nick sangat yakin teman nya ini tidak akan melakukan tindak kejahatan. namun selama ini tidak bisa membela secara langsung karena yang mereka lihat nona Sybil seperti sedang di rundung oleh temannya itu.
"kau sebaiknya beristirahat dulu. hari ini ada kelas dasar-dasar penyembuhan. aku akan mengatakan pada profesor Oliver bahwa kau butuh istirahat - tidak , jangan memaksa. kau harus tetap disini" tom menahannya untuk tetap berbaring dan menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut motif garis putih dan hijau.
"kami akan segera kembali setelah pelajaran selesai" tambah Nick. Rowena melihat kasur sebelahnya, dimana pria itu seorang diri juga sama seperti dirinya karena teman-teman nya sudah pergi ke kelas selanjutnya juga. Tubuh pria itu tampak kaku dan sangat pucat seperti sudah tidak ada darah lagi di balik kulitnya, ia khawatir apakah pria di sebelahnya masih hidup atau tidak.
"kau bisa melubangi wajahku dengan tatapanmu" pria itu bersuara yang membuat Rowena nyaris terpekik kaget.
"maaf, aku bertanya-tanya apakah kau masih hidup atau tidak" ucapnya sembari mengalihkan pandangannya pada langit-langit rumah sakit.
"ya, seperti yang kau lihat aku masih sangat hidup." ucapnya masih tanpa membuka matanya.
"darimana kau mendapatkan luka nya ? bukankah seharusnya madam Norris bisa menyembuhkannya langsung ? - bukan berarti aku meragukan nya" tambahnya.
"ini ku dapatkan karena sihir di dalam tubuhku memberontak"
"kau penyihir ?"
"nona, jujur saja aku sedang malas menanggapimu karena tubuhku sangat lelah tapi ya - aku memiliki sihir. tidak seperti mu, aku memilikinya dari naga" ucapnya.
"dari mana kau tau aku..."
"seragam mu, sekilas tadi aku sempat melihatnya kau dari departemen sihir" Rowena tak menjawab hanya mengangguk singkat yang tentu saja jawabannya tidak dapat di lihat oleh lawan bicaranya.
"kau sepertinya tampak sehat, apa yang kau lakukan disini ?" kali ini yang bertanya setelah beberapa saat ruangan hening.
"ya, aku mengalami kecelakaan saat berangkat kemari. tak ada masalah dengan tubuhku. tapi aku kehilangan hampir semua ingatanku."
"apakah kau juga kehilangan ingatan pelajaranmu ?" Rowena tampak berfikir sejenak, ya - itu benar, ia kehilangan semua ingatan tentang pelajarannya. yang artinya ia benar-benar harus belajar lebih giat lagi untuk mengejar pelajarannya yang tertinggal.
"sepertinya - ya begitu." dia tertawa menanggapinya. Rowena sedikit lupa bahwa pemuda di sebelahnya ini adalah seseorang yang akan membunuh nya di masa depan.
"semoga kau cepat mengembalikan ingatanmu. sedikit merepotkan jika harus mengulang pelajaran dari awal"
"ya, terimakasih"
"maaf nona, ini ramuan untukmu. ku harap bisa segera memulihkan ingatanmu" ucapnya madam Norris yang kembali dengan secangkir besar ramuan yang tak tahu bentuknya seperti apa karena gelasnya terbuat dari kayu, namun asap yang mengepul aneh dari cangkir itu membuat Rowena merasakan kengerian yang aneh dan sepertinya isi gelas itu bukan sesuatu yang indah dan layak di lihat.
"Tak perlu melihat isi nya, minium saja lansung dengan memejamkan matamu" ucap madam Norris membuat kecurigaan Rowena semakin besar. aromanya sih sama sekali tidak mencurigakan karena tercium seperti aroma coklat kental dengan sedikit aroma mint menyegarkan. Akhirnya ia memutuskan untuk meminum sekaligus tanpa meilhat nya seperti saran yang di berikan oleh madam noris. Berbeda dengan aroma nya yang menggugah selera. rasa minumannya benar-benar berbanding terbalik - seperti rasa lumpur tebal dan terasa sangat pahit hingga ke tenggorokan. Tekstur nya kental sangat menjijikkan, belum juga ramuan itu habis, Rowena ambruk dari atas kasurnya dengan suara kedebum yang keras. ia jatuh pingsan yang buruknya ia tersungkur jatuh dari atas kasurnya yang membuat madam Norris memekik kaget dan Regis langsung terbangun dari kasurnya sambil merintih kesakitan.
"berbaringlah lagi. aku bisa mengangkatnya - dengan sihir tentu saja, kau tidak perlu khawatir" ucap madam Norris yang membuat Regis kembali ke kasurnya semebari memperhatikan tubuh wanita itu terangkat secara ajaib dan jatuh dengan lembut ke atas kasurnya.
"aku akan membuat ramuan yang lain" ucap madam Nor
ris lebih ke dirinya sendiri.
Disisi lain, Rowena berada di sebuah tempat yang sangat gelap, ia tak dapat melihat apapun sampai akhirnya seseorang menyentuhnya dari belakang, ia menoleh ke sosok itu namun tak dapat melihat apapun disana. Aneh nya, ia sama sekali tidak merasa takut saat ini.
"Disini tempat mu yang sebenarnya. Aku memberikan mu kesempatan untuk mengubah takdirmu sendiri. Terserah padamu untuk berjalan ke tempat yang lebih baik atau semakin dalam terjerumus ke dalam sebuah keputusasaan" suara itu menggema keras hingga membuat kepalanya terasa sangat sakit.
"Aku akan membantumu sedikit lagi. Ini adalah memori tubuhmu sampai saat ini. Ingatlah, semoga kehidupanmu jauh lebih baik anakku" sebuah video besar sekali terpampang di hadapannya. Video yang menggambarkan kehidupan Rowena sejak lahir dan tumbuh hingga sekarang. Ia mengingat semuanya, orang tua nya, teman-teman nya bahkan pelajaran yang sudah ia khawatirkan sebelumnya pun kembali masuk ke memorinya. Itu berlangsung sangat lama, tapi ia menikmati setiap detiknya seperti sedang bernostalgia.
"Kau, kenapa tidak mati saja kemarin ? Seharusnya aku melakukannya lebih keras sedikit supaya kau mati" seorang wanita berkulit pucat dengan rambut berwarna coklat gelap berbisik lirih namun tetap terdengar meskipun Rowena sama sekali tak dapat mendengarnya karena ia masih belum sadarkan diri. Ini sudah pukul enam malam, dimana semua murid seharusnya sedang ada di aula perjamuan untuk makan malam, itu alasan kenapa Rowena tinggal sendirian saat ini.
"Ya, tetap hidup juga hal yang baik. Kau bisa membawa ku menjadi seorang gadis malaikat yang baik hati meskipun sering di tindas" ucapnya lagi sebelum akhirnya ia pergi menjauh dari Rowena yang masih tertidur dan terdengar dengan jelas suara pintu tertutup yang menandakan gadis itu sudah pergi. Ia sama sekali tak tahu, ucapannya terdengar oleh seorang pria yang terbaring di kasur sebelah dan tertutup tirai. Ia melihat gadis itu dari tirai yang yang tak tertutup seutuhnya, mendengar semua ucapannya yang membuat mendengus jijik.
"Uhhhh sakit sekali" rintih Rowena lirih. Ia memang terdengar sering merintih sejak ia jatuh pingsan. Tak tahu memang rasanya ada yang menyakitkan atau ia sedang bermimpi buruk saat ini. Regis, yang terbaring di sebelahnya sama sekali tak bisa tidur. Bisa saja ia mengabaikannya dan tertidur mengingat lukanya jauh lebih banyak dan parah dari gadis di sebelahnya yang tentu saja ia butuh lebih banyak istirahat di banding gadis itu.
"Apakah begitu menyakitkan ?bukankah seharusnya aku yang merintih kesakitan di dalam tidurku saat ini ?" Bisiknya pada dirinya sendiri. Ia tidak mengenal gadis di sebelah nya, namun gadis ini memang sedikit populer karena tampak sering menindas gadis lemah. Drama perundungannya sering terjadi saat makan siang dimana seisi sekolah ada di tempat kejadian karena sedang makan siang. Dulu ia sempat kesal juga dengan gadis di sebelahnya ini. Menganggap Rowena adalah penyihir sombong yang tak ingin teritorialnya terganggu mengingat gadis yang tampak di rundungnya adalah seorang penyihir tanpa garis keturunan apapun dan berasal dari rakyat jelata di pemukiman yang kumuh.
"Menggelikan sekali" ucapnya lebih kepada mengomentari Arabela Sybil, si penyihir dari pemukiman kumuh itu.
-TBC-