Sehari kemudian, Ralph McPatterson dan Rose Madelline tiba di kota Outhsphilled. Steve ikut dalam kunjungan kali ini. Mereka terbang menggunakan jet pribadi yang telah berijin dan mendarat di ranch milik Richy Smith, teman Mic.
Ada penginapan yang telah disediakan oleh Mic khusus untuk pengunjung. Sebuah bangunan victoria satu lantai yang terletak di bagian selatan, dekat dengan jalan berkuda yang mengarah ke sungai untuk ternak.
Ini masih memasuki musim gugur. Meskipun cuaca mulai dingin, tapi pemandangan masih bisa dinikmati. Ada banyak hal yang ditawarkan oleh Ricky sebagai fasilitas ranch miliknya. Meskipun Richky lebih berfokus mengelola ternak sapi, tetapi bukan berarti tak ada objek tambahan yang menjadi nilai lebih dari ranch yang ia kelola. Ada juga kuda kuartal, yang sering disebut sebagai quarter horse yang Richy biakkan dan beberapa jenis spesies campuran. Selain itu, Richy memiliki penyulingan anggur pribadi di ranch, dengan rasa unik yang hanya ia jual dan konsumsi secara terbatas. Berkunjung di ranch berarti menerima layanan semua itu dengan keramahan pegawai ranch yang tinggi.
Dalam keadaan normal, kunjungan Ralph dan Rose ke tempat ini mungkin akan membawa banyak kesenangan. Untuk penduduk kota metropolitan yang tak terbiasa menghirup udara alami seperti Outhsphilled, siapa yang tidak tergoda dengan pemandangan dan kondisi alam kota kecil ini?
Hanya saja, banyak masalah yang melatarbelakangi Ralph dan Rose. Sulit bagi mereka merasakan keindahan ranch dalam situasi saat ini.
Siang hari setelah Ralph menghabiskan waktu untuk beristirahat singkat, Steve membawa Ralph dan Rose ke pondok pribadi berukuran sedang tak jauh dari kandang kuda. Aroma cendana terasa harum, menguar di seluruh ruangan.
Tak lama kemudian, Bella datang dengan didampingi Mic. Wanita itu masih mengenakan kruk, berjalan pelan memasuki bagian dalam pondok yang berperapotan kayu.
Hal pertama yang Bella lihat saat ia masuk ke dalam ruangan adalah seorang wanita bergaun merah dengan rambut sewarna digerai hingga pinggul. Mata wanita itu tampak biru seindah lautan, dengan pesona dalam yang sulit ditolak.
Tidak asing. Di masa lalu, tampaknya Bella pernah melihat wanita itu beberapa kali saat ia berinteraksi dengan Ralph terkait pekerjaan. Benar kata Steve. Wanita itu memang sekreraris Ralph.
Mata Bella menyipit, mengamati Ralph yang kini duduk di sisi wanita itu dengan punggung kaku. Wajah Ralph memiliki bekas luka yang meskipun samar dan terlihat mulai pudar, masih tampak jejak yang sedikit gelap di beberapa sisi. Di pelipis kiri, dagu, dan pangkal leher. Bella melirik Steve yang duduk dengan tatapan kebencian pada Ralph. Dilihat dari sutuasi ini, tampaknya jejak luka yang Ralph miliki pasti terkait Steve. Siapa lagi yang akan melakukan itu jika bukan kakaknya sendiri?
"Dia wanita itu?" tanya Bella, tak bisa menyembunyikan kesinisan dalam suaranya. "wanita itu" mengarah pada Rose Madelline.
"Kau bicaralah perlahan pada mereka. Jangan menjadi orang yang mudah dibodohi!" Steve bangkit berdiri, berjalan meninggalkan ruangan bersama Mic. Meskipun Steve ingin melihat dan menyaksikan interaksi mereka, tapi ia tahu tak pantas baginya ikut campur dalam masalah adiknya terlalu dalam. Bagaimanapun juga, Bella perlu membicarakan masalah ini secara pribadi.
Setelah tinggal mereka berdua dalam ruangan, Bella duduk di salah satu kursi berlengan, mencoba menstabilkan emosi batinnya yang berfluktuasi hebat.
"Bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku?" Bella menopang dagunya, sorot matanya rumit menatap dua orang secara bergantian.
Sesaat, Bella tampak terkendali. Tapi hanya Tuhan yang tahu bagaimana setiap kuku tangan kirinya mencengkeram kuat, membuat kulit telapak tangan tergores dan menghasilkan rasa sakit.
"Aku tahu Steve pasti telah menjelaskan sesuatu padamu terkait aku dan Rose!" Ralph yang biasanya tenang, tampak ragu-ragu saat ia melirik ke arah wanita bergaun merah yang tampak menawan. Sadar dilirik oleh Ralph, Rose menundukkan pandangannya, ekspresi wajahnya suram.
"Kau mengkhianatiku, hamil dengan wanita itu, dan menggugurkan janin kalian sepuluh hari yang lalu!" Bella memejamkan matanya, hatinya berdenyut saat ia mengatakan semua itu dalam satu kalimat.
Ralph memejamkan mata, kedua tangannya mengepal menahan semua emosi yang ditekan mati-matian. Penyesalan, penyesalan, dan penyesalan. Hanya saja, kesalahan yang terlanjur dilakukan tak bisa diubah dengan mudah.
"Kami melakukan kesalahan satu malam bersama setelah pesta peresmian cabang di Texas. Ini adalah kesalahan besar yang kami lakukan!" Ralph membuka matanya, mendesah panjang tak berdaya.
Bella bukan wanita yang suka dibodohi. Semakin Ralph berkelit dan menyangkal, semakin Bella membencinya. Satu-satunya hal yang masih bisa Ralph perjuangkan sekarang adalah mencari naaf Bella.
"Ini semua memang kesalahaan. Kami mendatangi pesta untuk urusan bisnis. Kami mengonsumsi banyak alkohol waktu itu dan terbawa suasana. Tolong maafkan keterlibatanku. Aku tak bermaksud menghancurkan hubungan kalian. Aku tak bermaksud menjadi pihak ketiga." Rose bersuara. Matanya berkaca-kaca, wajahnya penuh kesedihan yang mendalam.
"Bella, aku tahu kau dan Ralph telah bertunangan. Jangan kacaukan hubungan kalian hanya karena aku!" Tak bisa menahan air mata, akhirnya Rose terisak kecil dengan menyedihkan.
Sepasang mara Rose yang bulat terlihat penuh pesona. Penampilannya yang rapuh seolah menarik simpati orang lain untuk melindunginya.
"Aku tak berniat mengkhianatimu, Bella. Aku mencintaimu, aku menghormatimu, aku menghargaimu dari lubuk hatiku. Apa yang terjadu adalah sebuah kesalahan. Itulah kebapa kami menggugurkan janin tersebut. Karena kami tak memiliki persaan satu sama lain, sehingga tidak mungkin menciptakan hubungan lebih jauh lagi." Ralph menjelaskan dengan lembut, berharap Bella memahami posisinya.
Hubungan antara Bella dan Ralph telah menuju keseriusan. Semua keluarga dan teman-teman mereka tahu ke arah mana hubungan mereka akan berlabuh. Jika hanya karena satu kesalahan dari Ralph menghancurkan segalanya, bukankah ini terlalu menyedihkan?
"Bagaimana kalian bisa membela diri atas nama kesalahan satu malam setelah semuanya seperti ini? Pada akhirnya, Rose hamil dan itu sudah menunjukka kalian berdua melewati batas yang terlalu jauh. Anak bukan sesuatu yang seharusnya disingkirkan begitu saja. Jika kalian cukup bertanggung jawab, seharusnya kalian memikirkan nasib anak itu lebih jauh lagi."
Menggugurkan janin. Hal itu bukan sesuatu yang bisa Bella terima dengan mudah. Kesalahan apa yang janin itu lakukan sehingga ia pantas disingkirkan begitu saja?
Bella duduk dengan lemas, menatap langit-langit ruangan cukup lama. Ternyata Steve benar. Ralph sungguh berkhianat. Setelah semua waktu yang mereka jalani, setelah semua janji masa depan yang mereka ucapkan, pada akhirnya, lelaki itu menghancurkan segalanya dengan alasan kesalahan satu malam.
"Ralph, aku menganggap hubungan kita adalah hubungan serius dan selalu menjaga itu dengan baik. Aku menghormatimu lebih dari yangkaubayangkan. Aku setia padamu sekuat yang aku mampu. Tidak pernah sekalipun aku tergoda pada orang lain. Tidak pernah sekalipun aku ambigu pada orang lain. Bagaimana bisa kau membalas sikapku dengan cara seperti ini?" Bella menatap Ralph, tak bisa menutupi kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan.
"Aku memberikan segalanya untukmu, Ralph! Dan kau menghancurkanku! Aku memberikan kesetiaan tertinggi, dan kau merusaknya. Bagaimana bisa aku menanggung semua itu? Apakah kaupikir hubungan kita adalah permainana yang saat kaubilang maaf dan segalanya akan baik-baik saja?" Suara Bella semakin gemetar lemah, hampir pecah oleh tangis.
…