"Kau terdengar membela Ralph. Apa yang laki-laki itu tawarkan sehingga kau memilih berada di pihaknya, Revel?" Bella bertanya dengan marah, nada suaranya meninggi.
Revel yang menangkap kemarahan Bella hanya bisa mendesah panjang. Revel sudah menduga tak akan mudah membujuk Bella. Benar saja dugaannya. Kepribadian Bella tak berbeda jauh dengan Steve sejauh menyangkut emosi. Mudah marah, mudah terpancing, mudah meledak.
"Dengarkan kata-kataku dulu. Begini, Bella. Kau dan Ralph telah menjalin hubungan yang cukup lama. Lima tahun, atau mungkin enam?"
"Enam!" Bella menjawab dengan ketus. Bella masih tersinggung karena merasa Revel berada di pihak Ralph. Siapa yang adiknya siapa. Kenapa Revel malah membela orang luar? Apakah Revel tak peduli dengan perasaan Bella yang sakit hati seolah berdarah-darah?
"Enam tahun bukan waktu yang sedikit. Aku tahu pengkhiatan Ralph bukan hal yang baik bagimu!" Ralph mengatur agar nada suaranya tetap terkendali.
"Ini bukan hanya 'bukan hal yang baik'. Ini kekacauan besar dalam mental dan psikisku yang terkhianati! Jangan meremehkan sesuatu, Revel!" Bella kembali meledak.
"Baiklah baiklah. Aku paham, Bella. Pengkhianatan Revel menghancurkanmu. Aku tahu itu. Hanya saja, selama enam tahun, pasti ada hal indah juga, bukan? Masa-masa kebersamaanmu dengan Ralph, saat kau berbagi pikiran, berbagi kebahagiaan, berbagi mimpi, berbagi tekanan hidup, berbagi segalanya. Pasti ada sisi baik yang Ralph miliki, bukan?
"Sikapnya yang membuatmu tertawa, mengayomimu, memanjakanmu, mendukungmu tanpa kata. Ayolah. Banyak orang yang bisa melihat perhatian tulus dari Ralph untukmu. Bukan hanya aku. Mom dan Dad, mereka semua tahu sedalam apa Ralph mencintaimu!
"Dari semua waktu bersama, apakah kau yakin akan membuang itu semua? Jangan menyangkal dulu, Bella. Aku paham, paham sekali, pengkhianatan itu menghancurkan banyak hal di dalam hatimu. Tapi tolong lihatlah ke belakang. Enam tahun bukan waktu yang sedikit. Tidak bisakah kau menemukan hal penting yang membuat Ralph masih memiliki nilai di hatimu? Kau yakin mampu menyingkirkan Ralph begitu saja?" tantang Revel.
Hubungan itu seperti rajutan benang. Semakin lama, semakin banyak helai benang yang dirajut, semakin kuat hubungannya satu sama lain, dan semakin jelas dalam membentuk objek. Jika ingin mengakhiri hubungan yang telah terjalin lama, sama artinya dengan menarik paksa satu benang, membuat rajutan lainnya ikut hancur dan sia-sia. Sanggupkah Bella melakukannya?
"Aku tahu saat ini kau terlalu emosional. Semua itu menjadikan seolah-olah pengkhianatan Ralph adalah satu-satunya hal besar yang ada di matamu, melenyapkan semua hal baik yang ia punya. Tapi tolong pahami satu hal. Sanggupkah kau menyudahi segalanya? Apakah enam tahun yang kaubina dengan Ralph hanya akan menjadi cerita sampah tanpa nilai sama sekali?" Ralph terdengar lelah, tampaknya membutuhkan banyak usaha untuk menyampaikan hal ini.
Mendengar ini, ekspresi wajah Bella jadi lebih gelap. Dia menunduk dalam, mengatur napasnya agar tetap normal, mati-matian mengontrol emosi.
"Bella, wajar manusia melakukan kesalahan. Aku pun dulu juga pernah mengkhianati Morrisa. Pada akhirnya, aku menyadari kesalahanku dan kembali pada Morrisa. Kau lihat bagaimana pernikahanku sekarang! Pernikahan kami lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak pernah lagi melenceng dan mengkhianati istriku. Kami bahagia. Kepercayaan Morrisa padaku juga kembali perlahan-lahan seperti semula.
"Tidak semua pengkhianatan harus diganjar perpisahan. Ada saat-saat tertentu maaf memang diperlukan. Kau lihat karakter Ralph. Dia orang yang cukup bisa berkomitmen. Apakah hanya karena satu kesalahan semuanya akan hancur, Bella?"
Morrisa adalah istri Revel yang berkarir sebagai dokter juga. Pernikahan mereka dulu pernah diterpa badai. Revel berkhianat, kepercayaan Morrisa hancur, bahkan sempat terdengar kabar mereka akan bercerai.
Namun kemudian, entah bagaimana mereka memutuskan untuk kembali bersama. Setiap orang saat itu masih pesimis apakah hubungan mereka bisa bertahan lama, mengingat ketidaksetiaan Revel. Namun, waktu membuktikan prasangka mereka salah.
Kehidupan pernikahan Revel semakin membaik. Revel serius memperbaiki sikapnya terhadap Morrisa. Dia bahkan melakukan konseling pada penasihat pernikahan profesional, berusaha sekeras mungkin menciptakan pernikahan yang baik bersama sang istri.
Kasus Revel adalah kasus yang berakhir baik. Bella ikut bahagia dengan keberhasilan pernikahan mereka.
"Aku … aku tidak tahu, Rev!" Bella memejamkan mata, tangan yang menggenggam gagang telepon mencengkeram lebih erat lagi.
Jujur, Bella sendiri tidak terlalu yakin akan keputusan yang akan ia ambil. Hatinya masih tidak menentu. Pikirannya masih kacau. Saat ini, yang paling penting baginya adalah menenangkan diri dan mencoba menstabilkan emosinya yang terluka.
"Cobalah berpikir dengan matang, Bella! Aku tak ingin kau membuang kesempatan yang berharga. Aku tak ingin kau menendang laki-laki yang sebenarnya layak menyandingmu!" Revel tahu Bella bukan orang yang bisa dipaksa mengambil keputusan berdasarkan pendapat orang lain. Dalam hal ketegasan, Bella sama kuatnya dengan Steve. Itulah kenapa Revel pikir ia hanya bisa membujuk adiknya dengan lembut, perlahan-lahan.
"Aku memahami maksudmu dengan baik. Terimakasih telah mengingatkanku, Rev! Tapi aku saat ini belum bisa mengambil keputusan. Biarkan aku tenang untuk sementara waktu. Jika aku sudah yakin akan keputusanku, aku pasti akan mengabarimu!" Hanya inilah yang bisa Bella janjikan untuk Revel.
"Baiklah. Aku yakin kau orang yang rasional. Ngomong-ngomong masalah si L, tampaknya belum ada perkembangan lagi dari pihak berwenang. Aku harap kau bisa menjalani hari-hari di sana dengan baik. Bersabarlah sebentar lagi. Mungkin tak akan lama lagi polisi akan menemukan jejak si L itu!"
"Aku tahu, Rev! Jangan khawatir! Aku akan menjalani hari-hariku di sini dengan baik! Lagi pula, tempat ini cukup bagus untuk liburan. Anggap saja aku berlibur dan menambah pengalaman!" Bella meyakinkan kakaknya, tak ingin Revel mengkawatirkannya.
"Bagus."
"Rev, jangan biarkan Mom dan Dad mengetahui masalah ini sebelum aku mengambil keputusan. Jika nanti aku telah mengambil keputusan, biarkan aku sendiri yang memberi tahu mereka!" Bella tak ingin membuat keributan dan kehebohan. Dengan karakter kedua orang tuanya yang sangat posesif pada anak-anak, bukan hal yang mustahil Ralph lumpuh, atau mungkin babak belur hingga sekarat. Mom terlalu menyayangi Bella. Dad karakternya keras dan sulit dikendalikan. Jika bisa, Bella tak ingin kedua orang itu ikut campur.
"Tentu saja aku tahu!" Revel terkekeh. "Dengan karakter Dad, jika ia tahu, aku khawatir dia akan mengebiri Ralph di tempat!"
"Kau bisa berbicara seperti itu! Saat kau berselingkuh dari Morrisa, tidakkah kau takut Dad akan mengebirimu?"
"Oh dia memang mengancamku, tapi tidak benar-benar melakukan! Bagaimanapun juga, aku adalah putranya sendiri! Jika dia mengebiriku, aku tak akan bisa melanjutkan generasi lagi!"
Tawa Revel semakin keras. Di dunia ini, tak ada seorang ayah yang rela mengebiri putranya sendiri. Tapi lain halnya jika itu orang lain. Jika ditempatkan pada Ralph, yah … siapa yang tahu apa yang akan terjadi nantinya? Revel sendiri tak berani berspekulasi.
"Dad memiliki standar ganda!" Bella mengeluh tak terima.
Karena pembicaraan sudah tidak lagi membahas Ralph, situasi di antara mereka menjadi lebih alami dan tidak lagi dipenuhi ketegangan. Bella berbincang dengan kakaknya tentang hal-hal kecil selama seperempat jam, kemudian mengakhiri panggilan karena Revel harus bersiap berangkat kerja untuk shift berikutnya di sebuah rumah sakit swasta di D.C..
"Sudah selesai?" tanya Mic, berdiri di dekat pintu ruang tengah.
"Sudah! Ada apa? Apakah kau butuh aku melakukan sesuatu?" tanya Bella kemudian.
"Aku tidak bekerja hari ini." Revel menjelaskan.
"Oh? Jadi?" Bella yang tak mengetahui ke mana arah pembicaraan Mic, hanya bisa bertanya langsung.
"Ayo kita berkuda. Aku akan membawamu ke danau di dekat sini. Kau bisa meminjam pakaian berkuda dari ranch! Sekalian juga pinjam kuda yang akan kautunggangi!" Mic berkata dengan santai, seolah-olah yakin Bella pasti akan menerima ajakannya.
Bella menatap linglung.
"Ada apa denganmu?" Mic menatap Bella, curiga apakah ada yang salah dengan tubuh Bella.
"Kau mengajakku berkuda?"
"Kenapa? Tidak mau?"
"Tidak tidak! Tentu saja aku mau! Tunggu sebentar!" Bella tak ingin kehilangan momen ini. Bagaimanapun juga, Bella belum pernah melihat danau di kota ini. Lagi pula, jika Bella menolak, bukankah ia akan mati karena bosan di rumah?
…
Bella menatap punggung Mic yang lurus di depannya, pinggangnya bergoyang anggun seirama dengan gerakan kuda yang ia tunggangi. Mic kali ini mengenakan kaos polo berkuda berwana hitam, dipadukan dengan kaos tangan senada, dan topi koboi lebar yang menghalangi sinar matahari. Karena dia sudah sangat mengenal medan dan ahli dalam berkuda, Mic menolak memakai helm pengaman. Sangat berbeda dengan Bella yang memakai satu set pakaian berkuda lengkap. Dari helm, kaos tangan, jodphurs, kaos kaki, hingga boot.
"Kuda yang kautunggangi bernama Moon!" Mic membuka suara. "Dia kuda tua yang jinak."
Bella menatap kuda cokelat yang ia tunggangi, mengelus lembut surainya yang berwarna senada, dalam hati mulai memahami kenapa gerakan kuda ini cenderung pelan dan tidak selincah milik Mic. Ternyata kuda ini sudah masuk kriteria tua. Pantas saja.
"Siapa nama kuda yang kautunggangi? Dan bagaimana kau bisa tahu nama mereka?"
"Daniel! Karena aku akrab dengan kuda milik Richky" Mic menepuk kepala Daniel yang meringkik dengan bangga, seolah-olah sedang dipuji oleh pemiliknya. "Ini ras campuran. Tahun lalu dia menang di pacuan kuda sebagai juara pertama di Michigan!"
Bella menatap kuda hitam yang ditunggangi Mic, sedikit iri dengan keberuntungan Mic yang bisa menunggangi Daniel.
"Jangan iri. Jika belum familier, menunggangi Daniel bisa membuatmu jatuh. Kuda dan penunggang harus memiliki semacam kecocokan. Jika tak bisa mengendalikan, kuda juga bisa gugup dan hilang kontrol! Moon sangat lembut dan jinak. Cocok untuk pembelajar awal sepertimu!" Mic menjelaskan, seolah-olah bisa membaca pikiran Bella.
Mic dan Bella menyusuri jalan kecil menuju danau, sesekali berpapasan dengan beberapa orang yang sibuk beraktifitas. Kebanyakan dari penduduk yang bertemu dengan Mic menatapnya sekilas, jarang ada sapaan langsung.
Tampaknya rumor Mic sebagai pembunuh Sevana masih melekat di sebagian besar benak masyarakat, sehingga mereka enggan menerima Mic dalam pergaulan sosial. Tak ingin menyinggung Mic, Bella sengaja tak memperhatikan hal ini dan tidak membahasnya sama sekali.
"Lahan ini milik Clive!" Mic menunjuk lahan rumput luas di sisi jalan yang memiliki bangunan beberapa pondok sederhana. Luas bangunan ini cukup lumayan. Tampaknya selain menjadi sheriff, latar belakang Clive tidak sederhana.
"Dia cukup kaya!" Bella mengomentari.
"Ya. Orang tua Clive bisa dibilang salah satu tuan tanah di kota ini! Aset-aset lainnya diwariskan pada saudara dan saudari Clive."
Jalan yang mereka ambil mengarah pada belokan kecil, di mana kanan dan kiri mereka banyak pepohonan yang rimbun. Ada suara burung-burung bernyanyi, terbang bolak-balik antara dahan satu ke dahan lainnya. Beberapa burung memilih diam di sangkar, mungkin menjaga telur mereka.
Jalan yang Mic ambil semakin melebar, kemudian mengarah pada taman kecil dengan beberapa ayunan dan mainan anak-anak. Beberapa wanita tampak sibuk membawa anak-anak mereka, menghibur mereka dengan beragam mainan.
Setelah melewati taman, ada jalan berkelok yang cukup panjang, hingga akhirnya tiba di sebuah tempat yang agak landai.
"Ini danau Daria." Mic menunjuk danau berwarna hijau, dengan banyak angsa di permukannya. Airnya jernih dan terpelihara. Bella turun dari kuda, berjalan mendekat ke danau, dan menyentuh airnya yang ternyata sangat dingin.
Mic yang ada di belakangnya, ikut turun, kemudian mengikat kedua kuda di bawah pohon tak jauh dari mereka.
"Danau ini adalah danau buatan yang diprakarsai oleh keluarga Fitzgerald. Dia memiliki putri yang paling dicintai, sehingga danau ini diberi nama Daria, seperti nama putrinya. Sayang putrinya meninggal di usia kecil. Daria mengalami pneumonia di musim dingin, dan tak berhasil ditolong!" Mic menceritakan sejarah danau di hadapannya.
Saat ini cuaca cerah. Sinar matahari memantul di permukaan danau, membuatnya tampak seperti kaca transparan.
"Indah." Danau yang tampak menawan, dilatarbelakangi bukit hijau yang mempesona. Luas danau ini sekitar dua belas hektar, dengan kedalaman sekitar empat hingga lima meter. Ikan-ikan di dalamnya tampak jelas dari atas, berenang menyenangkan ke sana-ke mari.
"Ini!" Mic melemparkan suatu bungkusan pada Bella.
Bella mengerutkan kening, sedikit bingung. Ternyata ini … remah-remah roti.
"Ikut aku!" Mic berjalan ke arah selatan, membimbing Bella ke jembatan gantung. Dari sini, Bella bisa melihat keseluruhan danau yang luar biasa. Ikan-ikan di bawahnya juga tampak lebih jelas dan lebih aktif bergerak.
Bella mengambil remah-remah roti, menyebarkannya di danau dengan gerakan anggun. Ikan-ikan segera berkerumun, berebut menangkap makanan yang datang dengan murah hati. Salah satu angsa datang mendekat, membuat Bella terkekeh ringan dan memberinya remah roti untuk kedua kalinya.
Mic menatap Bella yang tampak bahagia. Sinar matahari tumpah di rambutnya yang pirang, membuat Bella tampak seperti malaikat. Wajahnya yang lembut dipenuhi senyum, seolah segala duka dan masalah hilang dalam sekejap.
"Lihat, Mic! Lihat! Mereka memakan remah-remah roti yang kuberikan!" Jari telunjuk Bella menunjuk segerombolan ikan yang bersemangat, tawanya terdengar seperti bel dari surga. Sangat merdu, indah, dan memabukkan.
Untuk sekejap, Mic tenggelam dalam tawa wanita itu. Bibirnya tanpa sadar melengkung indah membentuk senyum, dadanya berdetak lebih cepat daripada biasanya.
Jika mau diakui, sebenarnya, wanita itu cukup menawan. Matanya yang keemasan seperti mutiara laut yang dalam, lesung pipinya seperti titik kecil dari tinta kahyangan.
"Ya. Mereka tampaknya menyukaimu!" Mic tersenyum pada Bella, tak lagi memperhatikan ikan dan angsa di hadapannya. Fokus Mic jatuh pada Bella sepenuhnya. Bagaimana mata wanita itu menyipit bahagia, bagaimana bibir wanita itu melengkung indah, dan bagaimana binar mata itu memancarkan kilau menawan.
Jika begini, tampaknya, bukan hanya ikan dan angsa saja yang menyukai Bella.
Bella tiba-tiba merasakan sentuhan lembut di dahinya, bergerak ke belakang, berhenti di cuping telinga. Bulu mata Bella bergetar. Matanya bersirobok dengan mata Mic, keduanya jatuh dalam keheningan.
"Rambutmu berantakan!" kata Mic setelah jeda panjang. Dia bergerak lagi untuk mendorong anak rambut yang jatuh di sekitar mata Bella, meyelipkannya di belakang telinga seperti sebelumnya.
"Tersenyumlah." Suara Mic lembut, sangat lembut, berbeda dari biasanya.
"Hah?" Bella jatuh dalam kebingungan.
"Karena kau lebih indah jika tersenyum," bisik Mic, suaranya sangat dekat dengan telinga Bella.
Sejak Bella menerima kabar tentang pengkhianatan Ralph, inilah pertama kali ada seseorang yang memintanya untuk tetap tersenyum.
Detak jantung Bella mulai berubah tak teratur.
…