"Nggak usah berlagak b**o deh lo. Lo seneng kan gue dimarahin sama Jay di kantin tadi?" ucap Chika sinis. Flo mengernyit bingung. "Seneng banget kan lo kalo gue diabaikan sama Jay dan Papa?"
"Gue nggak ngerti maksud lo, Kak."
Chika berdecak kesal. "Gue tahu otak-otak licik kayak lo tuh. Pura-pura memelas dengan kaki cacat lo itu cuma buat dapetin perhatian orang lain. Rendah banget lo!"
Flo menggigit bibir bawahnya mendengar k********r yang keluar dari mulut kakak perempuannya itu. Ia tak mau terpancing emosi. Walau bagaimanapun Chika adalah kakaknya. Meskipun mereka hanyalah saudara tiri, tapi tidak seharusnya mereka bersikap seburuk ini kan? Buktinya Jayden juga bisa menganggap Flo sebagai adik kandung yang pantas disayangi dan dilindungi.
"Tapi gue nggak pernah bermaksud kayak gitu, Kak," jawab Flo.
Chika tersenyum mengejek. "Kalo maling ngaku, penjara penuh! Asal lo tahu aja ya, sampai kapanpun gue nggak akan pernah anggap lo sebagai ad–"
"Flo, lo udah tidur?" Suara Jayden di luar memotong kalimat terakhir Chika.
Chika mendengus. "Oke sekarang lo boleh menang, tapi lo akan liat kalo gue nggak bakalan diem aja. Ngerti?!"
Setelah mengucapkan itu, Chika segera keluar dari kamar Flo dan saat melewati Jayden yang berdiri di luar pintu, Jayden menahan langkahnya.
"Ngapain lo ke kamar Flo?" tanya Jayden curiga.
"Apa sih nggak usah curiga gitu napa? Gue ke sini cuma mau nanyain baju gue ikut kesimpen ke lemari dia nggak soalnya baju kesayangan gue nggak ada. Kali aja Bi Marni salah simpen ke sini," jawab Chika panjang lebar dan segera pergi dari sana dan melewati Jayden begitu saja.
Jayden segera masuk ke kamar Flo. "Beneran yang Chika bilang, Flo?" tanya Jayden.
Flo mengangguk. Ia tidak mau Jayden mengetahui apa yang diucapkan Chika padanya.
"Ada apa?" tanya Flo sambil kembali duduk di kursi belajarnya.
Jayden mengernyit bingung, namun sedetik kemudian dia mengerti maksud pertanyaan Flo."Gue cuma mau bilang kalo besok kita berangkatnya agak pagian soalnya gue ada rapat OSIS lagi. Nggak papa kan?"
Flo mengangguk."Iya, nggak papa. Gue malah seneng kalo kita berangkatnya agak pagian soalnya belum banyak yang berangkat."
Jayden menghela napas dan duduk di tepi ranjang Flo. "Lo dari dulu kayak gini ya?" tanya Jayden.
Flo mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Lo selalu minder kayak gini ya di sekolah?"
Flo menghela napas panjang. Ia mengusap kaki kanannya yang hanya sebatas setengah lutut. "Dulu enggak sebelum gue beda dari yang lain."
Jayden menatap Flo iba. Dia merasa seharusnya tidak perlu menanyakan itu pada Flo. Jayden bangkit dari duduknya dan mendekati Flo.
"Gue nggak suka lo minder kayak gini," ucap Jayden akhirnya.
Flo mendongak menatap Jayden yang sudah berdiri di depannya. "Tapi kenyataannya gue emang beda dari yang lainnya."
Entah mengapa Flo merasa nyaman jika mengeluarkan isi hatinya pada Jayden meskipun mereka terbilang dekat baru sebulan ini. Flo mengenal Jayden sudah cukup lama. Sejak Arya yang rutin mengunjunginya enam bulan sekali di tempat tinggalnya di Bandung, selalu menceritakan padanya bahwa dirinya mempunyai kakak tiri kembar. Yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Meskipun berada pernah bertemu, tapi Flo sangat bahagia mempunyai dua orang kakak.
Flo yang masih kecil saat itu tidak tahu arti kata "tiri". Yang ia tahu, dirinya punya kakak yang umurnya lebih tua setahun darinya dan lahir dari ibu yang berbeda. Flo yang masih berumur tujuh tahun saat itu pernah bertanya kenapa Papa dan ibunya tidak tinggal serumah dan Papanya selalu datang enam bulan sekali. Flo bertanya seperti itu karena ia melihat orang tua teman-temannya tinggal bersama dalam satu rumah. Dan jawaban yang Flo dapat dari orangtuanya adalah bahwa mereka tidak bisa tinggal serumah lagi karena jika mereka tinggal serumah, itu adalah dosa besar. Sejak itulah Flo tidak pernah bertanya-tanya lagi mengenai alasan yang membuat dirinya dan ibunya harus hidup berdua di Bandung tanpa kerabat sama sekali.
Yang Flo tahu, dirinya selalu menanti kedatangan Arya yang selalu datang enam bulan sekali menemuinya. Itupun di tempat yang jauh dari rumah yang ditinggali dirinya dan ibunya. Hingga Flo beranjak remaja saat dirinya tahu arti pernikahan, Flo juga tidak pernah bertanya lebih pada Arya maupun Ratna, ibunya kenapa usia dirinya malah lebih muda dibanding kakak tirinya padahal Ratna adalah istri Arya sebelum menikah dengan Maya dan kedua anak tirinya merupakan anak kandung Arya juga.
Yang Flo tahu bahwa Arya dan Ratna sudah bercerai. Itupun Flo tahu karena dirinya terus mendesak Ratna untuk memberitahu hubungan Papa dan ibunya itu seperti apa. Setelah pertanyaan itu, Ratna selalu menghindar jika Flo menanyakan topik yang sama. Karena itu Flo berhenti mempersoalkannya sampai kini, saat Ratna sudah meninggal dan Flo harus hidup dengan keluarga baru Arya.
Flo ingat pertama kali Jayden dan dirinya saling berkomunikasi adalah saat dirinya masuk SMP dulu. Saat itu memang Arya memberinya sebuah ponsel agar mereka bisa saling berhubungan kapanpun dan dimana pun. Jayden yang memulai percakapan dengan Flo melalui pesan singkat. Lalu bertukar alamat f*******: dan sering chat bersama. Mereka jadi tahu wajah satu sama lain dan semakin akrab. Jayden juga meminta Flo agar berbicara "lo-gue" daripada "aku-kamu" padanya karena menurut Jayden itu akan terasa lebih akrab. Flo pun menurut saja.
Jayden bahkan tidak mempersoalkan keadaan saat Flo memberitahu keadaan dirinya yang difabel. Mengetahui itu, Jayden malah ingin tinggal bersama Flo agar bisa melindunginya dari bully-an yang diterima Flo.
Namun, sampai sekarang hanya Jayden, keluarga Papanya yang menerima dengan baik kehadiran dirinya dalam keluarga ini. Chika menunjukkan secara terang-terangan ketidaksukaannya pada Flo sementara Mama tirinya tak menunjukkan dengan jelas, namun dari sikap dinginnya saja Flo tahu kalau Maya tidak nyaman dengannya.
Ya, Flo dan Jayden hanya berhubungan lewat jarak jauh saja karena Arya tidak pernah sekalipun mengajak Jayden atau anggota keluarga yang lain bertemu Flo saat Arya ke Bandung. Flo juga tidak tahu alasannya apa. Dan pertemuan pertamanya dengan Jayden adalah saat pertama kalinya Flo menginjakkan kaki di rumah ini sebagai anggota keluarga. Keduanya langsung akrab seperti sudah sering bertemu.
"Semakin lo minder, semakin lo direndahkan sama mereka."
Ucapan Jayden itu ada benarnya juga menurut Flo. Tapi Flo juga tidak bisa memungkiri bahwa dirinya sulit berbaur dengan orang yang jelas-jelas tidak suka dengannya. Apalagi kejadian di sekolah tadi siang sangat menunjukkan bahwa dirinya sulit diterima di sekolah elite itu.
"Gue akan bantu lo buat ngilangin rasa minder lo itu."
Flo mendongak dan tersenyum. "Iya, gue nurut lo aja."
Flo berpikir biarlah untuk sekarang Jayden berusaha menghilangkan rasa minder nya itu. Flo juga berharap semoga itu berhasil.
"Ya udah gue balik ke kamar dulu."
Flo mengangguk dan menatap Jayden yang sudah berjalan menuju pintu. Tapi tiba-tiba Jayden berbalik dan mendekatinya lagi. Tangannya terulur ke kepala Flo.
"Selamat malam," Jayden menggantung kalimatnya dan tersenyum manis pada Flo. "Adikku," lanjut Jayden sambil mengacak rambut Flo pelan.
Flo terpaku beberapa saat. Ia pertama kalinya Jayden mengacak rambutnya dengan sayang seperti ini. Sejak dulu ia memang selalu berharap diacak-acak rambutnya oleh seorang kakak laki-laki. Karena perlakuan seperti itu menunjukkan kasih sayang menurutnya, setidaknya itulah yang Flo tangkap saat melihat rambut temannya diacak-acak oleh kakaknya saat dirinya masih SD dulu.
Flo kemudian tersenyum. "Selamat malam juga, kakakku," ucap Flo saat Jayden sudah berada di ambang pintu.
Jayden sempat membalas ucapan Flo dengan senyuman sebelum dirinya keluar dari kamar Flo.
***