Rio berjalan santai melewati koridor dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Bayangan wajah manis Flo terus saja berkelebat di kepalanya membuat kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.
"Yo!"
Rio mendongak menatap gadis yang baru saja memanggilnya.
"Kata Angel lo nyariin gue? Ada apa?" tanya Rio yang tetap meneruskan langkahnya meski Chika sudah menghampirinya.
Chika sedikit mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan langkah kaki Rio yang lebar-lebar.
"Yo, bantuin gue dong," pinta Chika manja.
Sikap inilah yang sebenarnya tidak terlalu Rio sukai dari diri Chika. Gadis bernama lengkap Chika Putri Darmawan itu mempunyai sifat manja, egois dan 'sedikit' agresif. Sangat berbeda jauh dengan sifat Jayden, kembarannya yang cenderung kalem. Tapi Rio tidak bisa menghindari begitu saja gadis di sampingnya ini karena bagaimanapun mereka sudah bersahabat sejak SMP.
"Bantuin apaan?" tanya Rio berusaha tak terdengar datar.
"Mobil gue udah waktunya diservis jadi ntar pulang sekolah temenin gue ke bengkel ya? Kan bosen kalo sendirian di bengkel," rengek Chika sambil menggamit lengan kiri Rio.
"Kenapa nggak sama temen cewek lo aja? Lo kan punya dua temen cewek," sahut Rio sambil terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun pada Chika.
"Angel sama Tania? Mereka jadwal bimbel ntar sore."
"Si Jay?"
Chika menghentikan langkahnya namun tangannya tetap memegang lengan Rio membuat Rio mau tak mau berhenti juga.
"Gue ngambek sama dia," jawab Chika sambil mengerucutkan bibirnya.
Rio menaikkan alisnya melihat Chika yang cemberut. Tiba-tiba ia membayangkan bagaimana jadinya kalau Flo yang cemberut seperti itu, pasti kelihatan lucu.
"Kok malah ngelamun sih? Ngeselin ih," ucap Chika kesal membuat Rio tersadar dari lamunan nya.
Rio memutar bola matanya bosan kemudian melanjutkan langkahnya. Chika kembali menyejajarkan langkahnya.
"Ngambek gara-gara apa?" tanya Rio.
Sebenarnya Rio tahu penyebab Chika marah pada Jayden, karena dirinya juga melihat langsung kejadian kemarin di kantin.
"Ya abisnya si Jay ngeselin. Masak lebih milih ngebela cewek cacat itu ketimbang gue," terang Chika lengkap dengan nada manjanya yang membuat Rio jengah.
"Cewek cacat?" tanya Rio berusaha sedatar mungkin. Ia menghentikan langkahnya dan menatap tajam Chika.
Jika saja gadis di sampingnya ini bukanlah adik dari sahabat baiknya, mungkin Rio sudah memberi pelajaran tidak peduli apakah dia perempuan atau laki-laki. Mendengar gadis pujaannya dikatai seperti itu membuat dirinya ikut merasa tersinggung juga.
"Iya, si anak baru itu. Bisa-bisanya Jay ngebela cewek cacat itu ketimbang adeknya sendiri," sahut Chika yang belum sadar tatapan tajam Rio yang tertuju padanya.
"Lagian ya ... sekolah kita kok mau-maunya sih nerima murid cacat kayak dia. Udah kayak panti sosial aja."
Rio mengepalkan tangannya yang berada di balik saku celananya. Jika bukan Flo yang dikatai seperti ini, mungkin emosinya tidak akan separah ini. Tapi dirinya tidak akan pernah rela jika Flo direndahkan oleh siapapun termasuk sahabatnya sendiri.
"Gue bener-bener gak habis pikir sama Jay. Bahkan kemaren si Jay ngebela cewek cacat itu kan pas lo mau ngebully dia? Pake susuk apaan tuh cewek ca–"
"Udah ngomongnya?!" potong Rio dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf membuat Chika kaget.
"Lo kenapa sih, Yo?" tanya Chika menyadari perubahan raut wajah Rio.
"Elo yang kenapa?!" balas Rio sambil menghempaskan tangan Chika yang sedari tadi memegang lengannya.
"Yo–"
"Gue nggak suka lo ngomong kasar kayak tadi," potong Rio.
"Kasar? Bagian mana yang kasar? Perasaan gue ngomongnya biasa aja deh," sahut Chika sambil terkekeh mengira Rio hanya bercanda.
Tapi raut wajahnya berubah serius saat melihat Rio memasang wajah dingin.
"Soal gue ngatain cewek itu cacat?" tebak Chika namun tak ditanggapi oleh Rio. "Emang bener kan kalo tuh cewek cacat."
Rio menoleh dan memberikan tatapan tajam pada Chika.
"Cewek manja kayak lo nggak bakalan ngerti cara ngebedain mana omongan yang kasar dan mana yang enggak. Jadi percuma kalo gue ngejelasin," ucap Rio yang kemudian pergi meninggalkan Chika.
Chika mematung dengan kata-kata Rio barusan. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah yang tadi berbicara padanya benar-benar Rio, sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya? Bahkan sebelum ini Rio tidak pernah berkomentar apapun saat dirinya merendahkan orang lain. Apa ini juga karena cewek cacat itu? Chika mengepalkan tangannya dan menggeram marah.
***
"Mang, es krim nya yang rasa cokelat dua ya," seru Nindi sambil menggandeng tangan Flo.
Kedua gadis kecil berusia sembilan tahun itu sedang berada di taman dekat jalan raya di sekitar kompleks perumahan mereka. Mereka baru saja pulang dari sekolah sore itu, karena ada pelajaran tambahan. Udara yang cukup panas membuat keduanya berhenti sebentar di taman dan berniat menikmati es krim segar kesukaan mereka.
"Ini Neng es krimnya."
Kedua gadis kecil itu segera menerima cup es krim itu dan membayarnya. Kemudian mereka berjalan beriringan menyeberang jalan menuju rumah mereka yang searah.
"Di, tungguin. Tali sepatu aku lepas," ucap Flo sambil berjongkok berniat membetulkan tali sepatunya.
Nindi yang sudah berjalan beberapa langkah di depan Flo, menghentikan langkahnya dan berbalik. Mata bulatnya memandang Flo yang tampak kesusahan membetulkan tali sepatunya. Nindi berjalan mendekat berniat membantu saat sebuah mobil berwarna putih melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Tapi Nindi kecil tidak menghiraukannya dan tetap berjalan mendekati Flo.
"Mana es krimnya aku pegangin dul—FLO AWAS!"
Suara dentuman mobil memekakkan telinga dan beberapa menit kemudian tempat itu telah ramai oleh kerumunan orang-orang yang melihat langsung kejadian yang berlangsung secepat kilat itu. Ada yang berdiri hanya menonton sambil berucap istighfar berkali-kali. Ada yang langsung sigap memeriksa keadaan mobil berwarna putih yang menabrak pohon besar di jalan raya itu. Dan ada yang sibuk berbicara lewat telepon memanggil mobil ambulans.
Nindi kecil berdiri mematung. Es krim yang digenggamnya sudah sedari tadi jatuh dan meleleh di atas aspal yang panas. Mata bulatnya memandang kosong ke arah kerumunan beberapa meter di depannya. Dari sela-sela kaki orangpun itu, jelas terlihat genangan darah segar yang memenuhi jalan beraspal itu. Tubuh gadis itu gemetar dan menggigil namun tak berani mendekati tubuh yang tergolek lemah di sana. Kejadian itu terjadi tepat di hadapannya membuat kepalanya pusing seketika. Hingga suara ambulans menyadarkannya.
"FLO!"
Flo membuka matanya tiba-tiba. Keringat dingin membasahi keningnya. Suara melengking Nindi terdengar dengan sangat jelas di telinganya membuat napas Flo tersengal-sengal. Tangan mungilnya mengambil boneka berbentuk bunga dandelion dan memeluknya erat sambil berusaha menormalkan napasnya yang masih tak beraturan.
Flo mengusap butiran air yang tak sengaja mengalir dari kedua sudut matanya dengan punggung tangan yang bergetar. Mimpi ini, Flo tidak suka mimpi buruk ini. Mimpi yang membuatnya kembali mengingat kejadian naas yang mengubah hidupnya itu.
Flo menggigit bibir bawahnya. Sungguh ia tak ingin menangis. Terlalu lelah untuk menangisi hal yang sudah ditakdirkan untuknya itu. Hal yang membuat jalan hidupnya berbeda dari gadis-gadis sebayanya. Flo bahkan tidak bisa menyalahkan pengemudi mobil yang mengemudi dengan ugal-ugalan dan membuat kaki kanannya hilang.
Flo memejamkan matanya sejenak. Ia rindu Nindi. Sahabat dekatnya yang menyayangi dirinya seperti saudara sendiri. Bahkan Nindi ikut tersiksa dengan apa yang menimpa Flo sehingga Nindi menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menolong Flo. Hal itu membuat Nindi sedikit trauma dan orangtuanya akhirnya membawanya pergi ke Australia untuk menghilangkan trauma itu.
Flo rindu Nindi. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah itu. Apakah saat ini Nindi masih ingat padanya?
Flo menghela napas. Ia melirik jam weker yang tergeletak di nakas. Jarum pendek menunjukkan angka dua. Ya, ini baru pukul dua dini hari dan Flo bahkan sudah tak merasa mengantuk setelah mimpi buruk itu.
Selalu begitu. Selama tujuh tahun belakangan ini dirinya selalu sulit kembali tidur setelah dibangunkan mimpi buruk yang mengganggu istirahatnya. Entah kenapa Flo juga tidak tahu alasannya.
Flo menggerakkan tubuhnya menuju tepi ranjang dan menapakkan kaki kirinya di lantai. Ia terduduk sambil terus memeluk boneka dandelion yang lembut itu.
Lama Flo terdiam hingga akhirnya ia memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Sholat tahajud selalu ia yakini mampu mengurangi kegelisahan hatinya. Dan ia ingin melakukan itu saat ini.
***