Apa yang dikatakan Mahesa sangat mengejutkanku. Dia memang tidak mengakui secara langsung bahwa aku adalah pacarnya. Tapi gestur dan kalimat yang dia ucapkan merujuk pada hubungan kami yang lebih dari sekadar teman. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan seberani itu.
"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?" tanyaku saat kami berjalan memasuki cafe.
“Ngomong apa?” Dia menoleh sekilas dengan ekspresi seolah pertanyaanku sama seperti saat aku bertanya tentang cuaca padanya.
“Yang kamu bilang sama Deni tadi. Soal ….” Tak kulanjutkan ucapanku. Lidahku rasanya sulit sekali mau mengulangi apa yang dia katakan di depan tadi.
Bukan marah, aku juga tidak tahu kenapa aku tidak marah saat dia bilang seperti itu. Aku hanya terkejut karena Mahesa terlalu berani mengatakan hal semacam itu di depan temannya. Entahlah, sepertinya otakku mulai tidak waras. Tapi jujur, aku merasa seperti remaja yang sedang dimabuk cinta. Pengakuan Mahesa itu membuat jantungku berdegup kencang. Rasanya persis seperti waktu dulu pertama kali Mahesa menyatakan cinta padaku dan mengakuiku sebagai pacar di hadapan teman-temannya.
"Aku cuma mau jujur pada diriku sendiri." Dia menjawab sembari tersenyum tipis dengan pandangan mengarah ke bawah.
Jawabannya membuatku terdiam. Beberapa saat setelah dia menjawabku, dia menoleh. Senyum di wajahnya semakin lebar lantas dia berkata, "Nggak usah kamu pikirin. Anggap saja omonganku itu angin lalu."
Mudah bagi Mahesa untuk mengatakan demikian. Namun sulit bagiku untuk mengatur irama detak jantung yang semakin bertalu-talu. Aku senang dia mencintaiku begitu besar, tapi aku juga takut. Aku takut kalau perasaanku pada Gilang akan goyah.
Ayolah, aku hanya perempuan biasa yang memiliki perasaan sensitif. Jika Mahesa terus menerus memberikan perhatian padaku, aku takut tidak akan bisa mengendalikan perasaan ini lagi. Memangnya perempuan mana yang bisa tahan dengan perhatian seintens itu?
"Kita duduk di sini saja, ya." Mahesa menuntunku ke sebuah meja yang paling belakang.
Aku mengangguk karena aku juga tidak akan merasa nyaman jika berada di tengah-tengah orang yang tak kukenal. Dia menarik kursi lalu mempersilakan aku untuk duduk. Setelahnya, dia duduk di kursi yang ada di samping kiriku.
"Tegang banget," katanya sambil membenarkan posisi kursi supaya nyaman untuk duduk. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami.
Ah, memangnya apa yang terjadi di antara kami? Hh … kurasa aku yang overthinking.
"Eh, biasa aja, kok," sahutku dengan senyum kikuk sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. Aku membasahi bibir lalu menggigit ujung bibir bawahku kuat-kuat untuk mengalihkan perasaan tidak nyaman di dadaku.
Dari ekor mata, aku bisa melihat Mahesa mengulum senyum. Apa gestur yang kutunjukkan kelihatan banget kalau aku sedang salah tingkah? Hh ... suka-suka dia sajalah. Aku tidak mau terlalu memusingkan masalah semacam ini.
Saat kupalingkan wajah ke pintu, tak sengaja aku melihat mbak Lisa yang baru saja masuk. Tanpa sadar aku langsung tersenyum lebar dan memanggilnya. Buru-buru kututup mulut dengan telapak tangan saat menyadari bahwa suaraku terlalu keras, hingga membuat orang-orang di sana memperhatikanku. Aduh! Malu sekali aku.
Karena letak meja yang berada di paling belakang, mbak Lisa langsung mendengar panggilanku. Tentu saja dia mendengarnya, aku memanggilnya terlalu keras. Aish … sepertinya ada yang salah dengan diriku.
"Zizi! Kok kamu bi—oh ... pantesan." Mbak Lisa tersenyum lebar sambil berjalan ke arah kami dengan raut terkejut melihatku ada di acara ini. Tapi begitu melihat Mahesa duduk di sebelahku, dia langsung membuat ekspresi mencibir yang aku yakin itu ditujukan untuk Mahesa.
Aku berdiri waktu mbak Lisa sampai di dekatku. Kami bersalaman lantas berpelukan ala perempuan. Aku suka dengan sikap mbak Lisa. Meski kami belum lama kenal, tapi dia memperlakukanku seolah kami sudah kenal lama. Humble banget dia orangnya.
"Masa Zizi doang yang dipeluk?" Seseorang yang menjadi partnerku datang ke acara ini protes.
Masih dengan ekspresi mencibir, mbak Lisa menyalami Mahesa sambil berkata, "Gercep juga kamu, ya."
"Dia cantik, sih," sahut Mahesa seolah orang yang dia bicarakan tidak ada bersamanya.
Wajahku rasanya panas. Aku sangat yakin pasti ada semburat merah di pipiku. Kenapa Mahesa suka sekali membuatku tersipu seperti ini? Lama-lama lelaki itu bisa membuatku gila.
Mbak Lisa tertawa renyah seolah paham dengan sifat Mahessa. Lantas dia mengambil posisi duduk di sebelahku.
"Mbak Lisa sendirian?" tanyaku.
Kularikan pandanganku ke arah pintu, mencari-cari keberadaan pasangan mbak Lisa karena dari tadi aku tidak melihat seorang pun yang datang bersamanya. Dia, kan, sudah menikah. Barangkali saja dia datang dengan suaminya.
"Iya, aku datang sendiri," jawabnya.
"Kok Pak Erlang nggak ikut?" tanyaku lagi.
"Um ... itu ... dia ada acara lain," jawab mbak Lisa.
Kenapa aku merasa mbak Lisa jadi salah tingkah waktu aku menanyakan Pak Erlang? Dia melipat bibir sambil melarikan pandangan ke arah lain, seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Gini deh kalau cewek-cewek lagi kumpul." Mahesa menggerutu karena dari tadi aku dan mbak Lisa sibuk mengobrol sendiri dan lupa dengan keberadaannya.
"Eh, jangan panggil aku 'mbak', dong. Berasa tua banget aku," keluh mbak Lisa dengan bibir mengerucut.
Aku tertawa. "Ya, kan, aku cuma menghormati mbak Lisa aja sebagai staf pusat."
"Udah, nggak ada 'mbak-mbakan' lagi. Panggil Lisa aja kayak si Hesa," sahutnya cepat.
Oke, mulai sekarang aku akan memanggil nama saja, seperti permintaannya. Malah itu membuatku merasa semakin akrab dengannya. Memangnya kapan lagi aku bisa berteman dengan staf pusat? Apalagi dengan menantu pemilik perusahaan seperti dia ini.
"Lagian ... ini, kan, di luar jam kerja. Aku sama dia juga biasa panggil nama aja kalau di luar," sahut Mahesa.
"Iya, iya ... aku nggak bakal pakai embel-embel 'mbak' lagi biar kita makin akrab," balasku.
"Eh, ngomong-ngomong ... kalian dulu kenalnya di mana, sih? Kok kayak udah akrab banget gitu." Lisa menyipitkan mata, mungkin dia curiga melihat kedekatanku dan Mahesa.
Aku menggigit bibir lalu melirik Mahesa, berharap dia akan membantuku menjawab. Tapi yang dia lakukan cuma cengar-cengir. Aku berani bertaruh kalau dia sengaja melakukan itu. Dia membiarkan aku menjawab sendiri pertanyaan Lisa. Sialan memang! Awas saja nanti, aku pasti membalasnya.
"Heh! Malah bengong." Lisa menepuk pahaku. Sejenak kemudian dia tersenyum tengil sambil menunjukku dan Mahesa secara bergantian. "Jangan bilang kalau kalian pernah pacaran!" ujarnya.
Sumpah, aku tidak tahu harus menjawab apa. Kami memang pernah pacaran dan hubungan kami terjalin dalam waktu yang tidak singkat. Namun untuk menjawab pertanyaan semudah itu saja rasanya sulit sekali. Mulutku membuka dan menutup, persis seperti ikan di akuarium. Lalu, tiba-tiba saja Mahesa melingkarkan tangannya di pundakku. Membalas ketengilan Lisa dengan ekspresi yang tak kalah menyebalkan.
"Kalau kami pernah pacaran, memangnya kenapa?" Mahesa mengangkat sebelah alis.
Lisa berdecak sambil memutar mata malas. "Emangnya kamu bisa jatuh cinta sama cewek? Bukannya kamu itu sukanya sama timun?" ledeknya.
Mungkin Lisa hanya bercanda, tapi kenapa aku merasa kalau ucapannya itu sangat menggambarkan Mahesa. Apa selama ini Mahesa memang tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain sehingga Lisa berbicara seperti itu?
"Mulut, dijaga!" Mahesa tertawa. "Aku betah menjomlo karena ada satu cewek yang nggak mau pergi dari sini." Mahesa berkata seperti itu sambil menunjuk dadanya sendiri dengan mata melirik padaku.
"Aku curiga, deh, sama kalian. Jangan-jangan cewek itu Zizi, lagi."
Sekali lagi, tebakan Lisa membuatku seperti ditikam dengan belati. Mulutku bungkam. Aku tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyahut ucapannya. Namun pembicaraan ini harus segera dihentikan.
Kutarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk menyela pembicaraan Mahesa dan Lisa sebelum melebar ke mana-mana.
"Kalian apa-apaan, sih? Udah, ah! Itu acaranya udah mau mulai." Cukup, obrolan ini harus segera dihentikan. Jika tidak, entah sejauh mana masa lalu yang akan terbongkar dalam percakapan kami.
Kuembuskan napas lega saat acara sudah dimulai. Setidaknya kami tidak perlu membahas tentang masa lalu lagi. Aku belum siap jika hubunganku dan Mahesa di masa lalu diketahui oleh orang lain. Seperti aku yang tidak siap jika ada orang lain yang mengetahui bahwa aku sudah menikah.
Selama acara, semua berjalan baik-baik saja. Begitu acara selesai, kami segera pulang. Karena Lisa datang sendiri, Mahesa berbaik hati menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Kasihan juga kalau Lisa pulang sendiri, jadi aku tidak keberatan meski arah rumahnya berlawanan dengan arah rumahku.
"Sorry, ya, jadi kemaleman pulangnya," kata Mahesa sesaat setelah menurunkan Lisa di depan gerbang rumahnya.
"Nggak apa-apa. Kasihan Lisa kalau pulang sendiri." Aku memakluminya. "Eh, itu tadi rumah Pak Bara?" tanyaku ingin tahu.
Rumah mewah yang baru saja kami tinggalkan itu membuatku penasaran. Wajar, sih, kalau itu rumah Pak Bara. Besar dan mewah. Secara Pak Bara itu pemilik perusahaan besar yang sudah memiliki puluhan cabang dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
Mahesa mengangguk. "Iya."
Aku manggut-manggut mengerti. Setelah itu kami kembali terlibat obrolan seru yang membuat perjalanan panjang kami terasa begitu singkat. Bagaimana tidak? Rasanya pembicaraan yang kami lakukan masih tanggung banget, tapi kami sudah hampir sampai di rumahku.
"Cepet banget sampainya," celetuk Mahesa waktu membelokkan laju mobil ke kompleks perumahan yang aku tinggali.
"Kamu ngomong terus, sih, makanya nggak kerasa. Tahu-tahu udah sampai aja di rumah," sahutku.
Dia tersenyum tipis, lalu menghentikan laju mobil tepat di depan rumahku.
"Zi," panggilnya lirih.
"Ya?" sahutku sambil menoleh padanya.
"Makasih, ya, udah nemenin aku."
Kedua manik Mahesa melihat tepat ke mataku. Ditatap seintens itu oleh Mahesa membuatku terpaku. Mendadak aku merasa paru-paruku berhenti bekerja. Napasku seolah tercekat di tenggorokan dan aku kehilangan fungsi otak untuk mengendalikan gerakan tubuhku. Rasanya aku tersedot ke dalam dimensi lain yang membuatku terhanyut dalam ruang yang menyesatkan.
Dalamnya tatapan mata Mahesa masih sama seperti dulu, membuatku tenggelam dalam keindahannya. Hingga aku tidak menyadari bahwa jarak wajah kami sekarang sudah sangat dekat. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang menerpa wajahku. Satu tangannya meraih tengkukku dengan lembut. Lantas, hal itu pun terjadi. Dia mencium bibirku. Bukan! Bukan dia yang mencium bibirku, tapi kami memang berciuman karena aku membalasnya. Ya, aku membalas gerakan bibir itu karena aku juga menginginkannya. Kupejamkan mata untuk menikmati sentuhan hangat bibirnya di atas bibirku.
Suara di dalam kepalaku terus berbisik untuk tidak melewatkan kenikmatan ini. Bibirnya masih semanis dulu, masih selembut dulu. Rasa ciuman itu masih terpatri kuat dalam ingatanku, dan ini masih sama. Dalam setiap kelembutan yang kurasa, aku semakin menginginkannya. Aku tidak ingin kami berhenti untuk saling mencecap rasa.
Cukup lama kami terhanyut dalam ciuman itu, seolah kami sedang meluapkan kerinduan yang selama ini bersarang di dalam hati.
Ketika membuka mata, aku merasa sebuah tangan tak terlihat langsung menampar wajahku dengan sangat keras. Refleks aku menjauhkan wajahku dari Mahesa. Kedua mataku membelalak, melihat seseorang yang baru saja keluar dari balik pintu rumah.
"Gilang?"