(Dira Dwinata)
“Sarapannya nak Dira” kata wanita separuh baya pada remaja laki-laki dihadapannya. Dira baru saja turun dari lantai dua rumahnya dan langsung menuju meja makan di dapur. Wanita yang memanggilnya tadi sedang menyiapkan hidangan untuk sarapan.
Dira menarik salah satu kursi dari meja, meletakkan tasnya di kursi yang satunya lagi kemudian duduk. Meja makan tersebut berisi empat kursi kayu jati yang mengelilingi meja segiempat. Tiga diantara kursi itu masih kosong. Sudah sejak lama ia terbiasa dengan pemandangan itu, bahkan semenjak dia pindah ke Jogyakarta tiga tahun lalu.
“Sarapannya nak Dira” wanita itu kembali mengulang perkataannya. Sebenarnya Dira sudah mendengarnya sedari tadi tapi ia tak kunjung menjawab
Dira meminum s**u di dalam gelas yang ada di hadapannya, ia menggeleng ke arah wanita itu menandakan jawaban atas pertanyaan si wanita sebelumnya.
Sebuah pertanyaan muncul lagi “Atau mau makan roti aja nak?”
Gelengan untuk yang kedua kalinya ditujukan pada sumber suara, memberikan jawaban dengan jelas. Ia menolak makan apapapun hari ini. Entah kenapa tiba-tiba ia tidak selera makan.
Dira Dwinata, cowok remaja yang mempunyai tinggi sekitar 170 cm, kulit putih dan wajah tampan bersih tanpa jerawat. Persis seperti ibunya yang mempunyai kulit putih. Rambut hitam agak kecoklatan dan bola mata abu-abu diwarisi dari sang Ayah yang merupakan keturunan Jerman. Warna bola mata ini sangat langka dan jarang ditemui di belahan dunia lain tapi sering ditemui di Eropa bagian utara dan timur, seperti Jerman, Polandia, Islandia, dan lainnya. Keajaiban yang hanya dimiliki dia dan ayahnya dari segelintir keturunan Eropa lainnya. Kadang-kadang dia merasa beruntung karenanya.
Dira meletakkan gelas yang kosong diatas meja. Kemudian meraih dan mengandeng ransel abu-abu miliknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 dan dia siap untuk berangkat sekolah. Rutinitas umum yang dilakukan oleh para remaja. Kadang-kadang bahkan dia enggan melakukannya.
“Makasi mbok, tapi aku lagi gak pengen makan roti” ujarnya santai sembari berterima kasih atas tawaran Mbok Bella.
Dira kembali memperhatikan sekelilingnya sebelum berangkat. Meja makan masih kosong tanpa penghuni dan hanya ada dia sendiri. Sepertinya juga tidak ada tanda-tanda bakal terisi. Mama dan Papanya jarang berada dirumah, sibuk mengurus bisnis keluarga di luar Jogjakarta dan Jerman. Jika suatu pagi mereka tiba-tiba ada di rumah, hal itu merupakan kejaiban.
Ia tahu bahwa ia tak mampu berbuat banyak, berkali-kali alasan dibalik kesibukan keduanya adalah biaya pendidikan Dira. Alasan yang klise memang. Kedua orangtuanya bahkan sangat antusias untuk menyekolahkan Dira sampai ke Oxford atau yang setara dengannya seperti Cambridge.
“Nak Dira harus makan sebelum berangkat” kata si mbok lembut. Mbok bella adalah pembantu di rumah itu, usianya sekitar 50 tahun. Sudah tiga tahun lamanya si mbok bekerja disana, sejak keluarga Dira pindah pertama kali ke Jogja.
Bella, kepanjangannya Issabella adalah nama asli beliau. Kadang-kadang mbok merasa bahwa namanya benar-benar super kekinian untuk wanita seusianya. Tidak jarang saat berkenalan dengan orang lain, mbok dikira mengganti nama.
“Serius itu nama saya, aaaasli dari bapak saya” begitu jugalah jawaban yang terlontar darinya saat mencoba meluruskan dugaan yang beredar. Nama itu diberikan oleh Tuan tempat dimana ayah mbok bekerja dulu pada saat zaman penjajahan. Ayah mbok begitu disayang oleh Tuannya yang asli keturunan Belanda. Sehingga diberikanlah nama Issabella saat mbok lahir.
“Tapi aku lagi gak nafsu mbok” kata Dira menyanggah. Kenapa ya rasanya hari ini Dira malas melakukan apapun. Makan apapun. Juga termasuk malas pergi ke sekolah. Tapi kewajiban itu terpaksa tetap harus dilakukan.
Ia ingat saat baru pindah sekolah satu semester di Jogyakarta, Dira mencoba bolos sekolah dengan mengatakan dirinya pura-pura tidak enak badan pada si Mbok dan menyuruhnya untuk menghubungi guru supaya Dira tidak masuk sekolah. Awalnya ia berencana untuk tidak masuk tiga hari, tapi tentu saja semuanya batal terjadi.
Begitu mendengar kabar Dira tidak bisa hadir, wali kelasnya langsung menghubungi orangtua Dira yang saat itu tengah berada di Malaysia. Dalam waktu hitungan jam, kedua orangtuanya sudah berada di rumah dan mencoba-memastikan-bahwa-Dira-baik-baik-saja.
Tentu saja kabar yang orangtuanya dengar dari guru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Betapa marahnya kedua orangtua Dira saat itu. Hukuman yang setimpal pun langsung terjadi pada Dira, uang jajan yang dipotong selama sebulan. Sejak saat itu, Dira-berusaha-agar-tetap-sekolah dan terlihat baik-baik saja.
“Padahal si mbok uda masak nasi goreng buat nak Dira. Nak Dira suka toh?”
Dira tersenyum tipis. Dia memperhatikan sebaskom nasi goreng dihadapannya. Makanan kesukaannya itu dari tadi telah tersusun rapi di meja makan. Setelah itu pandangan matanya tertuju pada si mbok yang masih sibuk membereskan perlengkapan makan dan menuang s**u di gelas yang ada di meja.
“Mbok, buat siapa susunya? Kan cuma aku yang ada di rumah” tanya Dira memastikan.
.“Dira, kamu harus sarapan!” seseorang wanita berkata tegas dari arah belakang. Dira mengenali suara itu, sontak kepala dan badannya langsung menuju arah sumber suara. Suara kaki itu semakin mendekat menuju meja makan. Dia kaget bukan main.
Mama? gumamnya dalam hati. Dia masih tertegun, bukannya mama ada di Jakarta?
“Kenapa? Kamu kok lihatin mama sampai segitunya, kayak lihat hantu. Kamu kaget mama disini?” wanita itu kemudian duduk disalah satu kursi makan yang kosong tadi dan meminum s**u yang ada di meja.
Dira tak menjawab. Antara senang, kaget dan entah jenis perasaan apa lagi yang muncul didalam dirinya.
Seolah bisa membaca raut wajah anak semata wayangnya itu, akhirnya wanita tadi mengatakan sesuatu “Mama baru aja sampe jam 3 pagi tadi. Mama sengaja nggak banguni kamu, karena kamu sekolah hari ini”
“Ooh” jawab dira cuek.
“Kamu uda mau berangkat?”
“Iya”
“Harusnya sarapan dulu dong”
“Dira gak nafsu!” jawab Dira tegas.
Kini mamanya mentapa Dira. “Kamu tau kan bahaya gak sarapan pagi”
“Tau” jawabnya singkat dan masih cuek.
“Kamu harus sarapan!” wanita itu mengambil sendok nasi dan menuangkan nasi goreng ke piring dihadapannya.
“Dira gak nafsu dan memang setiap pagi begitu”
“Dira!” kata wanita itu dengan nada keras “Kenapa kamu gak pernah nurut apa yang mama bilang. Kamu itu gak kayak...”
“STOP ma!” potong Dira gak kalah keras. Ia seaakan tahu kata-kata apa yang akan dilontarkan mamanya. Bahkan belum sempat kata-kata itu keluar, Dira dengan cepat memotongnya.
“Bukannya mama dan papa juga jarang sarapan di rumah? Gimana Dira mau nafsu makan kalo meja makan setiap pagi kosong tanpa penghuni. Gak adil kalau mama nyuruh Dira sarapan, sedangkan mama dan papa jarang ada” Dira menarik nafas “Dan plis jangan pernah bandingi aku dengan....”
Dira bahkan gak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dadanya terlalu sesak. Sejenak waktu terasa berhenti. Tidak ada yang berbicara satu pun. Suasana di meja makan kali ini selalu sama. Sudah lama tidak ada obrolan manis di meja makan lagi. Entah sejak kapan.
Kadang-kadang saat suasa dingin seperti ini melanda, si mbok pasti akan membantu mencairkan suasana. Tapi kali ini si mbok sepertinya tak ingin berkata apa-apa. Kejadian yang sama selalu berulang. Ia seakan tahu bagaimana perasaan ibu dan anak tersebut.
Suara klakson mobil terdengar berbunyi dari arah garasi. Tanda pak Agus, supir pribadi Dira siap mengantarnya berangkat ke sekolah.
“Aku mau sarapan di kantin aja!” tukasnya singkat. Dengan segera Dira bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan meja makan saat itu juga. Dia akhirnya bisa menghela nafas. Nafasnya tertahan sejak berdebat dengan mama tadi.
Sebuah pertanyaan terbesit di fikirannya sebenarnya apa yang salah, kenapa hidup yang kurasakan kini begitu beratnya. Dira mencoba menarik nafas perlahan, tapi kenapa terlalu sesak hanya sekedar untuk bernafas? Sepanjang perjalanan menuju garasi, Dira masih mencoba menahan amarahnya.
Di meja makan kedua wanita itu hanya terdiam meyaksikan kepergian Dira. Suasana masih hening. “Buk, mau nambah lagi susunya?” Mbok menawarkan s**u lagi ke hadapan Mama Dira seakan berusaha memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.
“Makasi mbok” kata Mama Dira perlahan. “Sejak kapan anak itu selalu marah-marah” tukasnya perlahan sambil memegang kepalanya.
“Oh Tuhan..” desah mamanya pelan.
*****
(Vega Fadhelia)
“Kenapaw harush dathang sephagi inyi sih, maah?” tanya Vega sambil memasang dasi di kera bajunya. Dari nada pertanyaanya ia seakan protes kepada mamanya yang sudah mengganggu kedamaian pagi hari ini. Mama Vega melirik kearah anak sulung perempuannya sambil memutar setir mobil.
“Kok malah nanya balik?” tanya mama Vega, seakan pertanyaan yang terlontar dari putrinya adalah pertanyaan paling aneh sedunia. “Ini Hari pertama kamu jadi murid baru loh” jawab mamanya semangat. Tangan kanan dan kirinya santai memutar setir mobil melewati jalan tikungan di depan mereka.
Suasana di rumah mereka, pagi hari tadi memang lebih ramai dari biasanya. Pagi-pagi sekali mama Vega sibuk membangunkan mereka berdua, Vega dan Vino. Keriuhan pagi ini juga tambah ramai berhubung Ayah Vega harus berangkat ke bandara sebelum jam 06.30 pagi.
Suara piring dan masakan terdengar dari dapur rumah. Seperti biasa, walaupun sudah dibangunkan lebih awal, Vega dan Vino masih saja mengendap di kamar. Bahkan wangi masakan dari dapur pun tidak dapat membangunkan mereka.
Hingga akhirnya setelah Ayah Vega berangkat ke bandara, hidup tenang mereka di atas kasur harus berakhir. Mama dengan suara merdunya terdengar membangunkan mereka berdua. Keriuhan pun dimulai kembali, kali ini giliran Vega dan Vino yang membuat suasana ramai.
Setelah hampir setengah jam bersiap-siap, mereka akhirnya berangkat ke sekolah.
Vega Fadhelia cewek bertubuh tinggi sekitar 165 cm, berkulit putih, berhidung sedikit mancung dan memiliki rambut lurus lewat bahu yang selalu diikat serta dipadukan dengan poni sampingnya yang lumayan agak panjang.
Suaranya bahkan hampir tidak bisa lagi kedengaran oleh mamanya. Roti coklat mendominasi seluruh mulutnya sehingga untuk mengatakan beberapa katapun rasanya seperti percuma saja. Nggak bakal kedengaran. Tapi entah kenapa mama Vega bisa mengerti gurauan putri sulungnya.
“Mah, inyi masih jham enyam lewat sepuluh” protes Vega. “Dhan bhel berbunyii jham tuyuh lewhat lhima belas” mulutnya masi penuh dengan roti coklat yang membuatnya masih susah bicara normal. Vega melirik jam mungil bergambar mickey mouse miliknya.
Dia sudah selesai menyimpul dan memasang dasi berwarna abu-abu yang bertengger di lehernya. Nada suaranya masih seperti nada protes, kalau seandainya dia diizinkan demo, saat itu juga dia pasti sudah mendemo mamanya.
“Hmmm, roti coklat di mulut kamu muncrat tu kemana-mana” celetuk mama.
“Eiiiinggak kooooggg” Vega melihat mamanya seakan curiga.
“Tuh kan, hayooo, muncraaat. Hujan roti deh” kata mama usil.
“Ihhh mamahhhh” ia memukul pelan lengan mamanya
“Habisin dulu yang dimulut baru bicara”
Secepat mungkin Vega mengunyah roti coklat dan dalam beberapa detik roti coklat itu berhasil hilang dari mulutnya. Segera di sambarnya botol air mineral dari dalam dashbor mobil. Sekali tegukan cukup membuatnya merasa lega.
“Vino juga kan hari ini bakal jadi murid baru” Mama melirik anak laki-lakinya yang sedang asyik bermain game di jok belakang. “Jadi kita memang harus berangkat lebih awal pagi ini. Mama juga mau ketemu wali kelas kamu”
“SMP Nusantara kan ma?“ kini giliran Vega yang ngelirik adik laki-lakinya itu. Yang dilirik malah cuek seakan gak merasa lagi diomongi.
“Tapi kan ma, SMP Nusantara and SMA Harapan Nusa lumayan dekat”
“Lebih cepat lebih baik” tegas mama.
“Vega jadinya ga sempat sarapan mah” ujar Vega protes.
“Lah kamu uda mama banguni nggak bangun juga.” ucap mama. “Lagian tuh roti yang tadi? apa namanya kalau bukan sarapan?”
“Ya maaf ma, keenakan libur panjang” jawab Vega cepat “Rotinya juga tu cuma selingan ma dan belum cukup” Vega mulai nyengir.
“Memang kamu ya, porsinya segede gaban.”
“Kak Vega tu kan ma, kayak Patricknya spongebob yang hobi makan” tukas seseorang dari arah jok belakang. Mama yang tadinya fokus nyetir mobil malah tertawa cekikikan.
“Eh bukan deh” sanggah Vino cepat. “Kayak luffy, itu di anime one piece. Kan perutnya karet jadi bisa muat apa aja”
“Hei hei hei Vino!” Vega menoleh kebelakang kearah adiknya yang sedari tadi sibuk main game di handphone baru miliknya.
“Maksud kamu, kakak tuh kayak bintang laut malas yang hobinya cuma makan doang? Atau siapa tu satu lagi perut karet” kata Vega sambil menyubit kaki Vino.
“Aduuh.. duuuuh… Luffy..” Vino ketawa sambil bergeser sedikit mendekat ke pintu mobil, mencoba menghindari cubitan kakaknya.
“Ha, iya itu. Kamu pikir perut kakak kayak dia”
“Aku.. nggak ada bilang kak Vega males. Kakak loh yang bilang sendiri” jawab Vino “Porsi makan kakak diatas manusia normal tau, betulan mirip patrick sama luffy” Vino tertawa lagi.
“Yee sama aja ngatain. Puas kamu tuh ngatain kakak” protes Vega ke arah bekang sambil mencubit Vino.
“Baperan amat. week” Vino menjulur lidah mengejek kakaknya.
“Tapi emang bener ya. Porsi makan kakak tu kok banyak ya.” kata Vega. “Ma, kakak ini anak ayah sama mama bukan sih” kata Vega menunjuk dirinya sendiri sambil melihat ke arah mamanya.
“Jangan-jangan kakak itu anaaaaak…” sambung Vino.
“Hush. Kamu mau ngomong apa..” potong Vega.
Vino justru makin ketawa melihat tingkah kakaknya. “Dan satu hal lagi. Apa-apaan itu sebutan patrick-nya spongebob? Kayak patrick itu milik spongebob aja. Sejak kapan mereka jadian?” Vega nuruni tangannya.
“Eh iya ya” sambung Vino polos. “Tu kan, kak Vega kalau yang begituan langsung nyambung. Sabar ya kak, aku tau kakak jomblo.”
Jleb. Vino s****n, kata Vega dalam hati. “Ya Tuhan, maafkan lah mulut pedas adik hamba ini..” kata Vega seraya mengangkat tangan ke atas.
“Amin ya Tuhan” sambung Vino.
“Uda lanjuti main gamenya, jangan dengeri apa yang kakak omongin bareng mama, rahasia cewek tau!” sambung Vega sambil melirik belakang dan menjulurkan lidahnya-seolah mengejek adik laki-lakinya itu.
Vino mendengus sambil geleng-geleng. “Rahasia cewek apaan sih emangnya?”
“Rahasia tau” Vega membalas cepat perkataan terakhir Vino. Kadang-kadang dia heran sendiri, Vino terlihat lebih dewasa dari remaja laki-laki seumurannya. Ya, dengan kata lain sudah tidak bisa dikibuli seperti saat masih anak-anak dulu. Sekarang, obrolan mereka sudah bisa dikatakan seri satu sama lain.
“Nah uda sampai” sahut mama memotong percakapan Vino dan Vega.