Beberapa saat kemudian aku pun menepikan diri didepan rumah teman akrabku. Dania, aku mendekati pintu rumahnya dan mengetuknya berkali-kali, mengucap salam.
Tak lama seorang perempuan berambut pendek keluar dari rumah besar itu dan menjawab salamnya.
"Waalaikumsalam."
Ia langsung melotot saat melihat berdiri didepannya. "Ya ampun, Dian? Kamu udah pulang? Udah keluar dari penjara?" tanyanya antusias. Aku tersenyum, mengangguk dan memeluknya erat.
Rasanya ingin menangis, saat melihat sahabat lamaku ini sudah sukses. Jujur kita dulu sering bermain bersama saat kecil, kita satu kelas dan memiliki banyak kesamaan.
Kita adalah sahabat yang sangat dekat dulu, namun sayangnya aku malah terjerumus ke jalan yang salah berbeda dengan Dania yang kini sukses karena bisnis tasnya.
"Ayo duduk." ia menawariku duduk di kursi yang tersedia dibelakang kami.
"Kamu kok enggak bilang-bilang udah keluar dari penjara? Eh mau aku bikinin teh?" tanyanya. Aku menolak.
"Enggak, gak usah. Saya bentar lagi mau pergi kok dari sini." ucapku.
"Cepet amat sih. Jangan malu-malu lagi, udah kayak orang jauh aja." ucapnya.
Aku tersenyum menatapnya. Aku merasa cukup senang karena Dania masih mau menerimaku, setidaknya responnya sangat berbeda jauh dari beberapa orang yang melihatku muncul tadi.
Aku meneruskan jawab pertanyaannya yang masih belum dijawab.
"Saya barusan abis dari rumah, Mayang sama Destra... mereka mengusir saya." ucapku menahan pilu. Dania terkejut.
"Ya Allah, kok bisa gitu sih mereka?" tanyanya tidak percaya.
"Saya juga enggak tahu Dan, rasanya memang saya enggak punya rumah lagi buat pulang." ucapku semakin bertambah sesak saat mengatakannya.
"Aku ngerti, pasti berat saat tahu kalau kamu yang juga ibunya harus meninggalkan mereka selama sepuluh tahun. Dan pengaruh dari omongan tetangga juga pasti membuat mereka tersiksa. Ditambah lagi kedua orang tua kamu udah..." ucapnya menggantung.
"Oh iya Dan, aku penasaran. Kok ibu dan bapakku enggak ada di rumah ya? Mereka kemana?" tanyaku menyambungkan dengan perkataannya barusan.
Dania menatapku lirih. Ia menghela nafas lalu mulai berkata.
"Kamu masih belum tahu ya? Sebenarnya aku enggak tega ingin memberitahu hal ini sama kamu Di." ucapnya, aku semakin bertambah penasaran.
"Sebenarnya... mereka sudah meninggal." ucapnya yang langsung menghentakkan laju jantungku dan menusuk hatiku ibarat dengan belati. Kedua mataku sepintas berkaca-kaca.
Suaraku menggetar, aku menahan sebuah kesedihan yang amat dalam.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun." ucapku terbata dengan air mata yang menetes keluar. Dania mengusap-usap punggungku.
"Astagfirullah... ya Allah... tolong kuatkan hamba." batinku dengan beberapa kali isakan yang dalam.
"Sejak kapan mereka meninggal?" tanyaku berkali-kali mengusap air mata yang mengalir itu.
"Kayaknya lima tahun yang lalu Di.. saat anak kamu kelas 1 SMP. Yang pertama meninggal itu ibu kamu, sakit diabetes lalu satu tahun kemudian bapak kamu juga ikutan berpulang karena sakit kanker paru-paru." ucapnya.
Aku menangis tersedu, dengan wajah memerah. Dania terus mengusap punggungku.
Pantas saja anakku bersikap seperti itu, pasti mereka sangat menderita tanpa kakek dan neneknya.
Mereka merawat diri mereka sendiri di usia yang masih belia itu. Mereka juga pasti tertekan karena perbuatanku dulu.
Pantas mereka seperti tidak ingin menganggapku lagi. Pantas mereka jadi berubah seratus delapan puluh derajat seperti itu. Aku benar-benar menyesal ya Allah.
"Pasti mereka menahan semua beban itu seorang diri, tanpa kehadiranku. Mereka tersiksa karenaku Dan!" pekikku menangis parah. Dania jadi ikut sedih saat itu, semakin kencang usapan tangannya ke punggungku.
"Di.. ini semua memang berat. Tapi kamu masih memiliki kesempatan untuk menebus semua kesalahan kamu itu. Aku yakin kamu udah menjadi lebih baik sekarang. Kamu juga pasti banyak pelajaran yang didapat selama di penjara. Kamu masih memiliki kesempatan untuk berbaikan dengan anakmu itu. Percaya deh. Kamu bisa." ucap Dania. Aku masih menangis pilu.
"Ya Allah... pantas saja mereka bersikap seperti itu padaku padahal mereka dulu anak yang baik. Ya Allah aku telah merubah mereka. Aku merasa sangat hina Dan." ucapku masih menangis.
"Yang sabar ya Di.. aku yakin Allah juga sudah memaafkan kamu. Dan sekarang sudah waktunya kamu bangkit dan mulai semuanya dari awal lagi." ucapnya yang kini seluruh bahunya jadi tempat bersandar kepalaku.
Aku menangis didalam pelukannya.
Dari sahabat lama yang berhati malaikat itu. Tidak salah jika selama ini aku menganggapnya sebagai sahabat. Meskipun sebelumnya kita dilanda kecekcokan.
Setelahnya aku pun untuk sementara tinggal di rumahnya. Aku berjanji padanya kalau sudah menemukan pekerjaan nanti, aku akan segera pergi dari rumahnya.
Saat ini aku sedang berada di kamar kosong yang sangat rapih dan cukup luas. Katanya itu bekas kamar anaknya yang sekarang sedang dipondok.
Anaknya yang paling besar lebih muda 2 tahun dibanding Mayang karena setahuku Dania sedikit telat menikah, mungkin karena dia terlalu sibuk dengan bisnis tasnya.
Aku duduk di atas kasur spring bed king size itu setelah menaruh tasku disana. Dania mendekatiku.
"Kamu makan ya? Aku udah masak barusan." ucapnya.
"Maaf ya saya ngerepotin kamu lagi. Saya janji setelah ini akan langsung cari kerja." ucapku.
"Enggak usah sungkan gitu ah. Santai aja lagi, kayak sama orang baru aja." ucapnya tersenyum. Aku balik tersenyum.
Setidaknya... Dania adalah satu-satunya harapan yang tuhanku berikan, untukku menjadi lebih baik lagi ke depannya.
Tak lama, Dania pun mendekatiku lagi dengan membawa sepiring makanan dan minuman. Aku menerima itu semua seraya berkata.
"Maafin saya ya Dan, jadi enggak enak udah ngerepotin gini." ucapku masih sungkan.
"Santai." ucapnya tersenyum. Ia berangsur duduk disebelahku.
Aku mulai memakannya dengan menawarkannya makan terlebih dahulu, ia mempersilakanku. Selagi makan, wanita berusia 35 tahun itu masih mengajakku mengobrol.
"Aku jujur senang ngeliat kamu udah berubah gini Di.. kamu masih punya harapan. Apalagi usia kita sama, masih digolongin ibu-ibu millenial. Yah, memulai dari awal lagi enggak masalah." ucapnya.
Aku mengangguk. Aku terus mengunyah makanannya dengan halus. Aku sangat kelaparan jujur.
"Maaf ya Di, aku benar-benar enggak tahu kalau anak kamu lagi kesusahan selama ini. Semenjak kejadian saat itu aku yah... jujur ngerasa enggak enak sama kamu. Mau jenguk kamu juga ngerasa gimana gitu, takut kamu ngusir atau marah. Apalagi untuk mengunjungi atau membantu anak kamu, aku takut dianggap sama kamu sok ikut campur." ucapnya curhat.
Aku terdiam menatapnya. Ternyata dia berpikir seperti itu tentangku selama ini. Padahal aku yang merasa sangat bersalah dengan dia.
Aku segera mengalihkan topik lain karena kurasa suasana diantara kita sedang agak canggung saat itu.
"Disini pabrik atau apa perusahaan mana ya yang lagi butuh lowongan tanpa memakai skck? Saya mau coba kerja. Barangkali ada penghasilan dari sana biar saya enggak lama-lama tinggal disini." tanyaku.
Dania menepuk tanganku. "Yee tinggal lama-lama aja kali. Anakku juga lagi di pesantren. Suamiku juga kerja tiap pagi. Baru juga tinggal sehari." ucapnya
"Enggak apa-apa Dan, saya mau sambil nyari." ucapku. Dania berpikir.
"Hmm, kayaknya ada pabrik baru deh disini. Dengar-dengar sih mereka tanpa pakai syarat apa-apa bisa langsung kerja. Kamu seumuran denganku ya?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Yaudah itu aja."
"Iya... dekat ya dari sini?"
"Iya dekat, naik motorku aja." ucapnya
Malam harinya. Aku tak sengaja melihat Dania dan suaminya sedang bertengkar di dapur meski suara mereka agak dipelankan. Karena yang menjadi penyebab mereka bertengkar seperti itu adalah...
Aku.
Ya... aku.
Sayup-sayup suara mereka di ruang tamu sana didengar separuhnya olehku. Sejujurnya pendengaranku cukup tajam sejak dulu, hingga tak jarang suka sakit hati karena suara yang tidak seharusnya aku dengar.
"Dia itu pernah melakukan pembunuhan berencana dengan kawan-kawannya! Dia membunuh orang! Demi harta dia melakukan semua itu! Apa kamu enggak merasa ngeri?!
"Dia itu napi, Mah! Napi! Sekalipun dia teman kamu! Dan kamu lihat sendiri kan? Keluarganya itu berantakan karena ulahnya sendiri! Dia pantas menerima karmanya!" ucap suaminya dengan penuh penekanan meski terkesan dipelankan suaranya.