Good reading
.
.
.
Aku kehilangan Papa dan Mama saat usiaku beranjak dua belas. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak korban tenggelamnya sebuah kapal di tahun itu. Karena mereka menikah tanpa restu dan berakibat dibuang oleh keluarga, hal itu membuatku nggak punya satu pun kerabat yang bisa menanggungku. Akhirnya sejak itu, aku tinggal di sebuah panti asuhan, di kota berbeda dari kota tempat tinggal kami dulu.
Dua tahun kemudian, seseorang datang menemuiku dan mengaku sebagai sepupu sekaligus sahabat dari Mama. Sejak mendengar kabar naas itu, dia dan keluarganya berusaha keras mencari keberadaanku. Orang itu adalah Tante Dewi. Mereka kemudian mengajakku tinggal bersama mereka, dijadikan anak asuh meski mereka tidak pernah memaksaku memanggil dengan sebutan Papa-Mama, Ayah-Ibu, atau sebutan lain untuk orang tua.
Awal-awal masuk di keluarga itu, tentu saja aku masih merasa aneh dan canggung. Apalagi sebelumnya aku memang sama sekali belum pernah ketemu sama Tante Dewi, hanya sekilas pernah ditunjukkan fotonya waktu Mama masih ada. Tapi kekakuan itu perlahan hilang karena mereka semua menerimaku dengan tangan terbuka, dan nggak pernah membeda-bedakan antara aku dan Gio, anak mereka yang umurnya lima tahun di bawahku. Bahkan, di hari pertama aku tinggal bersama mereka, Gio langsung memamerkanku pada semua teman-teman bermainnya.
Terkhusus Gio, dia memang sangat mementingkan kenyamananku. Dia selalu sesumbar bahwa aku adalah kakak tersayang yang akan dijaganya sampai kapan pun. Meskipun perhatiannya lebih sering berbanding lurus dengan kejahilannya padaku. Tapi di atas itu semua, Gio maupun Om Iqbal begitu menjagaku layaknya putri sulung di rumah itu.
Maka dari itu, aku sudah nggak kaget lagi saat sekarang melihat Gio uring-uringan karena mendapatiku pulang dalam keadaan yang bisa dikatakan tidak biasa. Ya, waktu ojol yang kunaiki sampai di depan gerbang, aku terkejut melihat Gio sedang membantu Tari-pegawai toko-menutup toko. Dan seperti selalu, aku nggak bisa menutupi apa pun dari anak itu.
"Udah deh Gi, aku pusing denger kamu ngumpat terus dari tadi!" kataku kesal, sambil merebut kain berisi es dari tangannya.
Gio berdecak, merebut kembali benda itu dan menempelkannya hati-hati ke pipiku yang memar. "Ayah pakai nggak bisa ditelepon, lagi! Kita harus tuntut cewek gila itu!"
"Nggak usah lebay, deh!"
"Kakak babak belur gini, gimana aku bisa diam aja? Gila!"
Aku memukul pahanya yang berada di depanku. "Kamu ngatain aku?"
"Enggak!"
"Udah deh kalian jangan ribut. Pusing aku dengernya!" sela Widya yang sedang memasak mi rebus untuk makan malam kami bertiga.
Ya, karena Gio akan menginap di sini selama Om Iqbal, Tante Dewi dan Nara masih di Malang.
"Lagian, pasti Om Ken bakal ngurus masalah ini, Gio. Jadi kita tunggu kabar dia aja," lanjut Widya.
"Nggak usah bahas Om Aa dulu. Dia bahkan ngebiarin Kak Ana pulang sendiri!" ketus Gio lagi.
Yang dibilang Gio itu benar. Tadi setelah mendapatkan tamparan keras itu, Lisa dan Widi tiba-tiba datang dan membawaku ke ruangan kami. Sejak itu, aku nggak tahu Kendra pergi ke mana. Dia sama sekali nggak kasih kabar apa-apa, bahkan sampai lewat dua jam dari jam pulang kerja. Karena capek nunggu dia, akhirnya aku mengirim pesan padanya kalau aku izin pulang.
"Masih sakit?" Gio menyentuh pelan pipiku, setelah kompresannya selesai. "s**t! Hukum mukulin cewek dihapus bentar bisa nggak sih?!"
"Udah ah, daripada marah-marah, mending kamu mandi sana. Aku nggak mau kasurku bau keringat kamu, ya. Apalagi kamu habis futsal gini!" kataku.
Gio cemberut, tapi akhirnya bangkit juga. "Bawel amat kayak Bunda."
"Handuk bersih di laci bawah!" seruku saat anak itu sudah masuk kamarku.
"Iya, tahu!"
"Makasih!" sindirku.
"Sama-sama!" balasan tak tahu dirinya membuatku mendengus jengkel.
"Dasar kakak beradik aneh!"
Aku hanya mengangkat bahu menanggapi komentar Widya. Tanganku lebih memilih membuka gawai untuk membaca gosip di grup karyawan GM yang sudah ramai membicarakan insiden tadi. Nggak sedikit yang menganggap aku beneran orang ketiga dalam hubungan bos dan pacarnya. Hell!
Gawaiku berdering. Nama yang tertera di layar membuatku terkejut.
"Hal-"
"Buka pintu gerbang, Ann. Aku di depan."
Ha?
Aku langsung lari keluar dan menuruni undakan samping toko. Dan ternyata benar, Kendra duduk di kap mobil, masih dengan setelan yang dipakainya seharian ini.
"Pak?" Aku bertanya heran, setelah membuka pintu gerbang.
Dia menegakkan badan, melangkah mendekat dengan tetap menatap wajahku, sampai aku jadi risih sendiri.
"Gimana keadaan kamu? Mana yang sakit?" tanyanya, tanpa menutupi ekspresi khawatir itu.
Dengan gelisah, aku menunduk, menutupi pipi kanan dengan sebagian rambut yang tergerai. "It's okay, Pak. Saya baik-baik aja."
Tapi aku lupa kalau Kendra memiliki sebagian sifat peka Gio. Dia langsung menyibak rambutku, dan menundukkan kepala untuk melihat lebih jelas keadaan wajahku.
"Ini namanya nggak baik-baik aja, Ann." Dia berdesis sambil melirik tajam, mengembuskan napas kasar. "Kita ke rumah sakit aja, ya?"
Aku spontan mundur dua langkah. "Nggak usah. Ini udah nggak apa-apa, Pak."
Dia berdecak. "Itu lebam, Ann."
Aku tetap menggeleng. Apa-apaan, sih? Dia kok jadi ikutan berlebihan seperti Gio?
Dia mendesah. "Ya udah. Terus, kamu nggak mau nyuruh aku masuk?"
Aku menghela napas, mengajaknya masuk. Dia mengambil posisi di belakangku saat kami menaiki undakan. Ya, rumah yang kutempati ini memang tipe rumah atap. Sekilas kelihatan seperti ruko, tapi ada perbedaanya juga. Kalau ruko, toko di lantai bawah memang didesain serumah dengan lantai atas yang difungsikan sebagai tempat tinggal. Sedangkan yang kutempati, lantai bawah sebagai toko buku dan rumah di lantai atas, berdiri sendiri-sendiri. Meskipun pemiliknya sama.
"Mau minum apa, Pak?" tanyaku, begitu Kendra memilih duduk di dipan bambu yang terletak di depan rumah. Fyi, yang kumaksud dengan depan rumah ini adalah semacam balkon luas berukuran sekitar 3x4m².
"Apa aja."
Aku mengangguk, segera masuk dan membuatkan dia kopi. Tidak lupa kuambil beberapa potong martabak yang dibelikan oleh Gio tadi.
"Ada tamu?" Widya bertanya heran, waktu aku melewatinya.
"Pak bos."
"What?!"
Aku hanya mengangkat bahu, meninggalkan Widya dengan ekspresi terkejutnya yang berlebihan.
"Makasih." Kendra langsung menyeruput kopinya begitu aku meletakkan itu di atas dipan.
Aku mengangguk. "Jadi, kenapa Bapak ke sini?"
"Buat lihat keadaan kamu, tentunya." Dia menjawab lugas. "Dan, bisa kamu berhenti panggil 'Bapak' di luar kantor? Aku bukan ayah kamu."
"Tunggu, ini Pak Ken atau Om Aa?"
Dia mendengus geli, bersidekap tangan. "Emang mereka beda orang?"
Aku mengangguk mantap.
Sebelah alisnya terangkat. "Apa bedanya?"
"Ya beda. Pak bos yang tiga hari saya temui itu bermuka datar, terus kalau negur pedes banget. Jarang senyum, lagi."
Aku berani mengatakan itu dengan jujur, karena dari tadi Kendra memasang ekspresi ramah ala Om Aa. Ya iyalah. Kendra saat jadi bosku mana mungkin pakai bahasa informal dan memenggal suku pertama nama panggilanku, dengan n dobel begitu?
Dan benar kan, dia terkekeh mendengar ucapanku itu. Dan tangannya dengan enteng membelai rambutku. Aku memalingkan muka, mendesis pelan.
"Tiga hari ini kan cuma ngetes kamu aja. Bisa nggak kamu bersikap profesional? Lagian, kamu tahu sendiri pekerjaan kita terlalu banyak. Fokus aku ya ke situ dulu."
Aku melongo. Bisa banget dia cari alasan!
"Terus apa hasil tesnya?"
"Lulus. Kamu bisa profesional banget. Sampai kelihatan takut gitu." Dia menggelengkan kepala, tersenyum geli.
Sudut bibirku sedikit terangkat. Aku kesal. "Saya juga bisa kok jauh lebih profesional dengan terus-terusan manggil 'Bapak'. Nggak cuma di kantor aja. Kayaknya lebih enak daripada manggil 'Om Aa'."
Bukannya tersinggung, dia malah terkekeh dan tangannya kembali mampir ke kepalaku. Kali ini dengan sedikit mengacak rambut. Aku meringis, spontan menjauhkan tangannya.
Dan itu sukses membuat raut wajahnya berubah. "Kenapa? Ada apa?"
Aku menggeleng, menghindar waktu dia berusaha meraih kepalaku.
"Ada yang sakit?"
Aku baru saja akan menjawab, waktu suara Gio tiba-tiba mendahului.
"Ya ada lah. Om Aa nggak liat itu pipi udah hampir biru gitu?" Gio sudah berdiri menjulang di depanku, menunjuk pelipisku dengan kesal. "Itu juga ada bekas cakaran. Dan kulit kepala Kak Ana lecet-lecet, bahkan sampai ada darahnya!"
Kendra kelihatan terkejut. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan bangkit berdiri. Tapi dia tidak menyerah, ikut berdiri dan meraih pundakku dengan satu tangan, lalu tangan lainnya memeriksa kepalaku.
"Tadi kamu bilang nggak apa-apa, Ariana." Kendra menyipitkan mata. Mode Lucifernya kembali lagi.
"Besok juga udah nggak apa-apa," bantahku, menepis tangannya dan kembali duduk.
"Om Aa punya temen pengacara, kan? Minta bantuan dia aja buat nuntut cewek gila yang udah bikin Kak Ana kayak gini!"
Mataku membulat. "Gio, apa-apaan, sih?"
Kendra mengusap wajahnya, mengangguk setuju dan langsung merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Tanpa pikir panjang, aku segera merebut benda itu dari tangannya.
"Ann!"
Aku menggeleng, menyembunyikan benda itu di saku hoodie. Singkirkan dulu sopan santun karena mencegah mereka lebih penting.
"Ann, kembalikan."
"Enggak. Kalian jangan berlebihan. Ini cuma luka kecil, dan nggak perlu jalur hukum buat menyelesaikan ini."
"Besar atau kecil, sama aja! Ini tindakan penganiyaan, Kakak!" bentak Gio. Dia menatapku marah.
"Gio-"
"Kakak jangan sok bersikap kayak tokoh utama di sinetron-sinetron itu. Nggak usah sok baik-baik aja kalau kenyataannya beda."
"Bukan gitu-"
"Aku gini juga karena khawatir sama Kakak!"
Aku memejamkan mata dan membukanya kembali. Napas Gio memburu. Rahangnya mengeras, menandakan seberapa besar emosinya. Menghela napas pelan, aku beranjak dan memeluk lehernya.
"Makasih udah khawatirin aku." Aku berkata pelan sembari mengusap-usap kepalanya. "Siapa bilang aku sok baik-baik aja? Aku juga ngerasa sakit, kali. Gila aja kepala dicakar gitu, nggak perih. Rasanya aja sampai mau nangis pas dikeramasin tadi." Aku tersenyum saat Gio berdecak keras sambil membalas pelukanku. "Tapi aku cuma nggak mau memperpanjang masalah ini. Lagian aku sebenarnya nggak ada hubungannya sama masalah cewek itu dengan Om Aa, kan?"
Seperti tersadar sesuatu, Gio melepas pelukan dan menoleh kesal pada Kendra yang sedari tadi cuma diam menyaksikan kami.
"Om Aa ngelakuin apa sampai diamuk cewek gila kayak gitu?" tanya Gio ketus.
Kendra menggeleng. "Itu cuma salah paham."
"Salah paham gimana? Maksudnya, Om Aa sebenarnya mau tanggung jawab sama adiknya cewek itu?" Gio berdecak. "Lagian kok bisa-bisanya sih ngelakuin hal kayak gitu? Makanya cepet nikah, Om. Biar nggak kejebak kayak gini. Nggak kasihan sama Eyang Mami, apa? Nyadar dong Om Aa tuh udah tua!"
Aku mengatupkan bibir, sekuat tenaga menahan tawa yang hampir keluar karena kalimat Gio yang lebih ke ejekan. Muka Kendra bahkan sudah masam.
"Om nggak kenal mereka, Gio. Jangan ngomong aneh-aneh kamu."
"Lah terus?"
Kendra mendesah, kemudian menoleh padaku. "Kamu tahu Kenzo, anak marketing?"
Aku mengangguk. Baru kemarin Kenzo-Kenzo itu menemui Kendra.
"Ken yang dimaksud itu sebenarnya Kenzo, bukan Kendra. Tapi perempuan tadi, alias kakaknya pacar Kenzo, belum pernah sekalipun bertemu pacar adiknya. Yang dia tahu cuma tempat kerjanya di GM. Nggak tahu juga kenapa bisa salah orang begitu."
Mulutku menganga. Jadi yang berengsek di sini betulan bukan Kendra? Ini cuma salah paham? Salah sasaran? Hell!
"Perempuan itu juga janji akan minta maaf ke kamu besok, Ann."
Aku mengangguk. "Jadi, masalah selesai, kan?"
"Belum."
Aku menatap bingung ke arah Gio. "Apa lagi?"
"Habis kejadian itu, Om Aa ke mana? Bisa-bisanya ngebiarin Kak Ana pulang naik ojol dengan kondisi kayak gitu!" Gio berdecak lagi. "Ayah udah minta Om Aa jaga Kak Ana, ya!"
Kendra menatapku dalam. "Maaf ya, Ann. Tadi selesai urusan sama perempuan itu, aku langsung balik ke kantor buat lihat kamu. Tapi di jalan, tiba-tiba aku dapat kabar kalau salah satu pegawai di kantor cabang mengalami kecelakaan kerja. Jadi aku ngurusin itu dulu."
"Jadi Om Aa baru balik dari Bogor?" Kendra mengangguk. "Langsung ke sini?"
"Iya." Kendra menggaruk tengkuknya.
Aku mengembuskan napas kasar. Pantas saja pakaian Kendra masih sama dengan yang dia pakai tadi pagi. Sudah kusut sana-sini, lagi. Tapi kok penampilannya tetap wooh keren, sih?
"Om udah makan?"
Sambil meringis, Kendra menggeleng. Aku memukul bahu Gio saat tawa anak itu lepas begitu saja. Ya ampun!
"Ehm ... maaf menyela sebentar," suara Widya di ambang pintu, membuat kami menoleh bersamaan. "Makan malam udah siap."
Aku mendengus melihat cengiran Widya. Gadis itu pasti menguping dari tadi.
"Ayo Om, makan dulu." Gio bangkit dan terbahak. "Nanti Eyang Mami bisa ngomel kalau tahu anak bontotnya telat makan."
Kendra mendengus, tapi tetap beranjak mengekori Gio. Berjalan di belakang mereka, aku tersenyum tipis. Ini dia Om Aa yang selama ini kukenal. Yang ramah dan perhatian, walaupun tidak terlalu humoris dan jarang menunjukkan aura dingin di depan keluarganya. Makanya, aku masih kaget kenapa dia bisa sedingin itu di kantor sampai dijuluki Lucifer oleh bawahannya.
***