Fattan samasekali tak puas mendengar jawaban Talia. Melihat ekspresi Fattan yang sedikit aneh dengan jawabannya, Talia malah tersenyum.
"Gue nggak tertarik sama peraturannya, tapi kalau sama kualitasnya beda lagi. SMA Garuda adalah gerbang menuju cita-cita gue, kita tau sendiri kan di sekolah ini kualitas alumninya gimana."
Mendengar jawaban masuk akal tersebut, Fattan mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Sebenarnya tak jauh berbeda, Fattan berada di sana juga demi cita-cita karena SMA Garuda menawarkan jalan terbaik menuju kesuksesan.
"Lo sendiri?" Tanya Talia.
"Mau cari jodoh," ujar Fattan asal.
Segera saja Talia tertawa mendengar jawaban ngaur tersebut, apakah kalimat tersebut dapat ia anggap jawaban?
"Jadi udah ketemu?"
"Belum, nih. Lagi usaha."
"Semoga cepet ketemu."
Keduanya tertawa dengan percakapan aneh mereka, ngobrol dengan Fattan memang sangat menyenangkan.
***
Hawa dingin menelusup menembus pori-pori kulit, nyanyian jangkrik seolah berpesta menyambut hari. Matahari belum naik sepenuhnya memberi gelap waktu menghilang sempurna.
Barisan rapih semut-semut tengah mengantre di jalanan, jejak-jejak tertapak di tanah lembek atau yang lainnya lenyap tertutup rerumputan.
Pagi ini mereka telah dibagunkan dentum-dentum nyaring memekakkan telinga memaksa mereka membuka kelopak mata yang masih meronta ingin tertutup.
Peta sudah bergilir dari Fattan, Alana, Keyra, Talia bahkan Shaka telah berusaha memahami kerumitan peta tersebut. Sebelum mereka memulai pencarian bendera, mereka mendapat bekal sebuah peta. Kini giliran Sagara yang memahami, setelah melihat dan berusaha memahami ia mendapat salah satu petunjuk di awal perjalanan.
"Gimana ada tanda-tanda benderanya nggak?" Keyra membuka suara. Tak ada sahutan, itulah jawabannya. Sagara belum terlalu yakin dengan garis dan titik yang ia baca sebagai morse. Tugas mereka hari ini adalah mengumpulkan bendera sebanyak-banyaknya, kelompok yang mendapatkan bendera di urutan terbawah atau paling sedikit akan mendapatkan hukuman.
"Kita nggak tau kata kunci dari pencarian ini." Kali ini Alana yang bebicara.
"Sungai." Sagara menginterupsi. Tatapan bingung minta penjelasan dari kelompoknya membuat Sagara menjelaskan.
"Maksudnya?" Tanya Keyra. "Jadi kita harus menyusuri sungai atau malah menyebrang sungai?" Lanjut Keyra masih serius menatap simbol yang tak ia pahami.
••• •• _ _• __• •_ ••
Masalah selalu datang, tenggelam akan mati, lari akan terluka, jalani dan temukan petunjuk.
"Jalani di sini maksudnya telusuri atau kita menyebrangi sungai?" Tanya Fattan.
"Masalah adalah petunjuk," celetuk Talia. Fattan menatapnya meminta penjelasan, Talia menarik napas sedikit kurang yakin.
"Jadi gini, masalah adalah petunjuk, peta ini yang buat kita jadi bingung. Tenggelam akan mati aku pikir maksudnya petunjuk itu di dasar sungai tapi tidak tenggelam. Lari akan terluka jadi kita gabisa melewati tantangan ini karena tantangan ini adalah kunci menuju tantangan berikutnya. Jalani dan temukan petunjuk kalau menurutku kita telusuri sungai mencari petunjuk ketika kita menemukannya berarti kita telah menyelesaikan masalah yang artinya kita boleh melewati atau menyebrangi sungai."
Langsung saja tanpa membuang lebih banyak waktu, mereka berjalan ke arah sungai mengikuti aliran sungai dan mengikuti instruksi Talia. Shaka menawarkan diri untuk menyusuri sungai mencari petunjuk di dalam aliran sungai yang tak terlalu deras.
"Akhirnya Shaka bisa jadi manusia yang berguna," ujar Keyra bersorak bahagia.
Hampir setengah jam Shaka menyusuri sungai, basah sudah pakaiannya tapi belum menemukan apapun. "Gimana, masih aman?" Tanya Sagara cukup kasihan melihat Shaka yang mulai kedinginan.
"Kayaknya ada yang salah deh," ujar Talia yang merasa bersalah melihat Shaka.
"Gue juga ngerasa ada yang janggal," aku Alana menggigit bibir bawahnya.
"Tujuan dari kita di sini ngapain?" Tanya Talia berusaha meluruskan.
"Melatih kekompakan!" Sahut Keyra yakin.
"Yah! Itu kuncinya kompak! Kita harus kompak menyusuri sungai, satu orang basah semua basah. Setelah itu kita baru bisa melanjutkan ke pos pertama!" Kini giliran Fattan yang berkomentar. Tanpa menunggu lama, mereka langsung ikut menceburkan diri sambil bergandengan agar tak ada yang terbawa arus. Kini mereka sudah berada di tepi sebrang sungai tentunya dengan keadaan basah. Dari kejauhan ternyata sudah ada yang berjaga dan memperhatikan mereka sejak tadi—pengurus OSIS.
"Selamat kalian bisa lanjut ke pos pertama di balik bukit itu dan ini bendera hadiah kekompakan kalian," ujarnya langsung disambut tawa bahagia karena berhasil mengumpulkan satu bendera.
***
Pos I berisi lima orang kakak kelas yang langsung menyambut mereka dan meminta berjongkok di depan pos.
"Baiklah, selamat karena kalian telah berhasil melewati tantangan kekompakan. Beritahu saya satu orang yang mau bertanggungjawab atas kesalahan kelompok kalian," ujar salah seorang dari pengurus OSIS. Tentu saja mereka kebingungan, salah apa lagi? Mereka merasa tak melakukan kesalahan apapun. Dan siapa yang akan bertanggungjawab atas kesalahan yang tak mereka tahu.
"Tidak ada yang mau bertanggungjawab?" Lagi laki-laki berperawakan tinggi itu bertanya.
"Untuk apa kami mempertanggungjawabkan suatu kesalahan yang kami sendiri tak tahu?" Tanpa pikir panjang Shaka langsung memprotes. "Jadi ya tidak ada yang mau mewakili," lanjut Shaka.
Kakak kelas yang berada di pos cukup takjub dengan keberanian Shaka menjawab pertanyaan tapi bukan itu poinnya.
"Baiklah kamu silahkan push up!" Tunjuk laki-laki itu kepada Shaka. Fattan, Sagara, Talia, Keyra dan Alana langsung ingin protes tapi Shaka menahan. Ternyata inilah cara Shaka untuk menjadi penanggungjawab kelompoknya tanpa terlihat seperti penanggungjawab. Tapi hal lain yang dilakukan kelompoknya, Fattan dan Sagara siap mengambil posisi push up sama seperti Shaka sedangkan Talia, Keyra serta Alana mengambil posisi Squat jump.
Sekali lagi, pengurus OSIS sungguh takjub dengan kekompakan mereka dan setelah menyelesaikan hukuman kelompok tersebut dipersilahkan melanjutkan perjalanan karena sekali lagi berhasil menunjukkan kekompakan secara nyata bukan hanya lisan belaka. Satu lagi bendera berhasil mereka dapatkan.
"Capek banget, kaki Keyra rasanya udah mau copot!" Pekik Keyra hiperbola.
"Yaudah copot aja," sahut Shaka dengan santai.
Keyra langsung melotot dan bersiap mengoceh dengan kecepatan 100 kata per menit. "Pinter banget Shaka ya, emangnya Shaka mau gendong Keyra kalo kaki Keyra beneran copot?" Protes Keyra dengan nada kesal.
"Gue emang pinter, Key. Lo aja yang nggak sadar!" Jawaban ajaib dari Shaka semakin membuat Keyra naik darah.
"Sejak kapan? Prasaan dari dulu nyontek mulu. Orang pinter pantang nyontek," sarkas Keyra membantah pernyataan Shaka.
Baru saja Shaka ingin membalas, Fattan langsung menengahi kedua manusia tersebut. Percekcokan antara Shaka dan Keyra memang tak akan ada habisnya jika tak ada orang ketiga yang menengahi pasti percekcokan itu akan merembet kemana-mana.
"Ayo lanjut cari benderanya," ajak Fattan menginterupsi perdebatan.
Untung saja Shaka dan Keyra menyetujui, jadi mereka dapat melanjutkan perjalanan.
Langkah terhenti di persimpangan jalan setapak, Sagara kembali melihat peta yang ia bawa. Garis peta tersebut menyatu, dia tak bisa memutuskan memilih ke kiri atau ke ruas kanan.
"Sebentar, petanya rancu. Coba dilihat," ujar Sagara memberikan peta tersebut kepada Keyra yang berdiri di belakangnya.
"Iya yah, garisnya samar gitu Keyra juga nggak ngerti," ujar Keyra menyodorkan kertas peta kepada Fattan yang berada di belakangnya.
"Sepertinya garis ke kanan lebih dominan deh sama jika kita lihat dari kondisi jalannya, di jalan ruas kanan itu lebih terang dan rumputnya nggak sebanyak di ruas kiri."
"Ya mana saya tahu saya kan Shaka!"
"Diem!" Sagara langsung saja melemparkan buah pinggir jalan yang asal ia petik.
"Jadi kita ke ruas kanan ya?"
"Iya!" Jawab mereka kompak membuat Alana mengangguk paham.
Perjalanan kali ini dipimpin Fattan. Sagara berada di posisi paling belakang sebagai penjaga.
Rasa keram di masing-masing kaki semakin terasa, Keyra lagi-lagi mengeluhkan hal tersebut. "Istirahat dulu, kaki Keyra rasanya mau patah," ujar gadis itu masih dengan nada hiperbola.
"Yaudah kita istirahat dulu," putus Fattan. Tanpa ditentukan, Fattan sudah otomatis menjadi ketua bagi kelompok mereka.
Lima belas menit mereka habiskan untuk beristirahat sampai akhirnya kembali melanjutkan perjalanan ke pos kedua. Rumput yang tadinya hanya sebatas lutut kini yang mereka hadapi sudah hampir menenggelamkan mereka. Rasa gatal sudah tak terdefinisikan melekat di tubuh yang sudah lengket karena keringat.
"Ini jalannya nggak salah?" Tanya Talia mulai ragu melihat medan yang mereka hadapi.
"Iya semakin lama kayaknya kita semakin masuk hutan deh," sahut Keyra sambil menggaruk bagian tubuh yang gatal hingga menimbulkan bintik merah.
Fattan merasa bersalah, dirinya juga semakin tak yakin melihat rumput tinggi dan jalan yang semakin sempit.
"Apa kita balik ke jalan sebelumnya aja?" Tanya Fattan berusaha membuka jalan untuk yang berjalan di belakang.
"Bisa ... Pasti bisa ... Asalkan berusaha ...," Nyanyian itu berasal dari Shaka. Sambil tersenyum bahagia dia melewati jalan yang menurutnya sangat seru. "Yang penting yakin!" Lanjutnya lagi malah melewati Fattan yang sebelumnya memimpin perjalanan.
Lain Shaka lain juga Keyra, rasanya dia sudah siap menimpuk Shaka yang begitu lincah seperti anak kecil. Fattan ikut saja langkah Shaka yang berjalan dengan yakin menyusuri hutan.
"Shaka jangan main-main deh, Keyra nggak mau nyasar di hutan ya!" Peringat Keyra yang kini berjalan di belakang Fattan.
"Nggak denger," rancau Shaka tak jelas masih dengan semangat membara. Ia sangat yakin jalan yang mereka ambil adalah jalan yang benar karena jika dilihat dari peta, mereka sudah berada di jalur yang tepat.
"Ngeselin banget sih!" kesal Keyra. Mau tidak mau ia mengikuti langkah fattan yang tentunya mengikuti jalan Shaka yang membawa peta.