25 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
"Gimana maksudnya? Kalau senyum, bukan berarti bagus," jawabku datar, menjatuhkan badan ke kursi kerjaku. Aku menatap layar komputer dengan pandangan kosong. Di dalamnya ada banner promosi yang tadi dihujat habis-habisan oleh Pak Bos. Kalau dipikir-pikir lagi, memang banner itu jelek. Warna-warnanya seperti pelangi yang diinjak-injak truk. Tapi kalau dipikir-pikir lebih lama lagi, aku juga tidak pernah menyetujui warna-warna itu sejak awal. Itu pilihan Mbak Inggrid. Ya sudah, Mbak Inggrid, sekarang namamu tercemar dua kali dalam sehari.
Ratih menyeret kursinya mendekat, "denger-denger, seisi meeting room sampai mendengar suara petir dari mulut Pak Bos. Kamu masih hidup, kan? Perlu kubelikan kopi hitam untuk membangunkanmu?"
"Aku masih hidup, tapi jiwaku sedang diambang kematian," jawabku sambil memijit batang hidungku. "Astaga, Rat. Mulutnya itu benar-benar seperti boncabe level tiga puluh. Kepedasannya meresap sampai ke tulang. Aku sampai tidak bisa menjawab apa-apa. Cuma bisa manggut-manggut seperti boneka donat."
Ratih tidak berhenti di situ. Dia berdiri, mengambil cangkir, dan menuangkan kopi dari dispenser—gerakan yang tidak pernah kulakukannya untukku sejak kami bekerja bersama—lalu meletakkannya di depanku tanpa berkata-kata. Dan aku tahu, tanpa ia mengatakannya, bahwa itu adalah cara Ratih mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tanpa benar-benar mengatakannya. Orang-orang memiliki cara mereka masing-masing untuk menghibur. Ratih punya kopi.
"Yang penting masih bisa manggut. Kalau sampai menggeleng, itu baru bahaya," ucap Ratih sok bijak. "Terus, banner-nya bagaimana? Diganti semua?"
"Diganti semua. Warna, font, slogan, semua. Dia mau konsep yang lebih 'dewasa dan elegan'. Apa yang dewasa dan elegan dari minuman kemasan rasa mangga, coba jelaskan padaku," keluhku. Aku membuka file banner itu dan mulai mencoret-coret konsep baru dengan tenaga yang tersisa. Tanganku bergerak, tapi otakku masih setengah ada di ruang meeting itu, mendengarkan ulang semua kata-kata pedas itu satu per satu seperti lagu yang rusak.
Ratih kembali ke mejanya dan pura-pura bekerja. Pura-pura, karena aku tahu betul dia sedang membuka toko online di tab sebelah. Aku tidak menegurnya. Hari ini aku butuh orang-orang di sekitarku berdosa sedikit, supaya aku tidak merasa sendirian dalam kegagalan.
Pekerjaan mengganti konsep itu memakan waktu sampai lewat jam makan siang. Aku lupa makan siang. Perutku protes keras, dan aku menjawab protesnya dengan dua sachet kopi instan yang hanya membuatnya semakin berisik. Menjelang sore, konsep baru itu akhirnya jadi—tiga opsi banner dengan warna-warna yang lebih kalem, lebih dewasa, lebih "elegan"—kata Pak Bos. Aku mengirimkannya ke e-mailnya dengan jantung yang berdebar seperti sedang menunggu hasil ujian sekolah.
Selama menunggu balasan itu, aku membersihkan mejaku dengan tingkat ketelitian yang tidak pernah kulakukan dalam hidupku—menyusun pena berdasarkan warna, merapikan kertas berdasarkan ukuran, menghapus layar komputer sampai bisa bercermin. Ratih menontonku dengan tatapan prihatin. "Kau gugup."
"Aku tidak gugup. Aku hanya bersih-bersih."
"Kau gugup. Orang tidak menyusun pena berdasarkan warna kalau tidak gugup. Pena merah di kiri, pena biru di tengah, pena hitam di kanan—itu bukan bersih-bersih, itu gejala."
Aku meletakkan pena keempat dengan kasar dan berhenti menyusunnya. Ratih benar, seperti biasanya, dan menyebalkan, seperti biasanya.
Tiga puluh menit kemudian, balasan datang: "Yang nomor dua. Pakai itu. Bagus."
Bagus. Satu kata. Aku menatap kata itu sampai aku yakin aku tidak salah baca. Pak Bos menulis "bagus" untuk pekerjaanku. Aku hampir ingin mencetaknya dan membingkainya dan menggantungnya di dinding kamarku. Hampir.
"Pak Bos bilang 'bagus'," ucapku kepada Ratih dengan suara datar yang tidak bisa menyembunyikan apa-apa.
"Tuh, kan. Aku bilang juga apa. Pak Bos itu galak di luar, baik di dalam. Kayak durian," jawab Ratih tanpa mengalihkan matanya dari layar tokonya.
"Jangan bandingkan bos kita dengan durian, Rat."
"Kenapa? Sama-sama berduri di luar, manis di dalam. Cocok sekali," dia tersenyum puas dengan analoginya sendiri, dan aku memilih untuk tidak membuang energi membantahnya.
Sore itu juga, aku menyusun ulang jadwal untuk tim promosi sampai hari peluncuran—satu halaman penuh dengan kotak-kotak kecil yang masing-masing berisi tugas, nama, dan tenggat. Aku menempelnya di papan tulis kantor dengan perasaan seperti seorang jenderal yang sedang menata peta perang. Besok adalah acara yang sudah kami kerjakan selama berminggu-minggu, dan tidak ada ruang untuk kegagalan. Tidak ada ruang untuk warna yang salah, slogan yang meleset, atau rundown yang terlambat sedetik pun.
Sore itu, saat aku membereskan mejaku untuk pulang, ponselku bergetar. Satu pesan dari nomor yang membuat tanganku berhenti di tengah-tengah merapikan tumpukan kertas.
"Dari Javar," bisikku pada diriku sendiri.
Pesan itu pendek: "Lovia, apa kau sudah makan? Aku di depan kantormu. Kalau kau mau, aku antar pulang. Kalau tidak, tidak apa-apa. Aku hanya lewat."
Aku menatap pesan itu lama sekali. Lewat, katanya. Kantorku tidak pernah dalam rute "lewat" dari mana pun menuju mana pun. Pria itu dan kata "lewat" adalah dua hal yang tidak pernah cocok dalam satu kalimat, sejak dulu, sejak delapan tahun yang lalu.
Ratih mengintip dari balik bahuku dengan mata yang berbinar seperti melihat konser gratis. "Mas Javar! Antarkan aku juga, bilang padanya!"
"Dia mengantarku, bukan mengantarmu," jawabku, menyembunyikan ponselku dari pandangannya yang tidak tahu sopan santun itu.
"Sama saja. Kalau dia mengantarmu, aku ikut. Kalau aku ikut, aku kenalan sama Pak Bos lewat dia. Rantai cinta itu harus ada yang memulai, Lovi, dan kau adalah mata rantai pertamanya," ucapnya dengan wajah serius yang membuatku ingin menceburkan kepalanya ke wastafel.
Aku mengetik balasan pesan itu. Menghapusnya. Mengetiknya lagi. Menghapusnya lagi. Dan akhirnya mengirimkan: "Tunggu sepuluh menit."
Sepuluh menit. Cukup untuk memperbaiki kantung mataku dengan concealer yang sudah terbukti tidak berefek. Cukup untuk menyemprotkan sedikit parfum. Cukup untuk berdebat dengan diriku sendiri di depan cermin toilet kantor tentang mengapa aku repot-repot melakukan semua itu untuk seseorang yang kemarin kumaki-maki.
Sepuluh menit yang ternyata tidak cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
Di toilet, aku menatap pantulanku sendiri di cermin dan bertanya dengan suara pelan, "Kau ini sebenarnya mau apa?" Pantulanku tidak menjawab. Pantulanku hanya menatap balik dengan kantung mata yang sama dan rambut yang sudah disisir tiga kali dan tidak mempan untuk jujur pada dirinya sendiri. Aku menghela napas, mematikan keran, dan berkata kepada pantulan itu, "Kau membingungkan." Dan aku keluar dari toilet dengan jawaban yang tidak lebih jelas dari sebelumnya.
Di lorong menuju lobi, langkahku melambat dengan sendirinya. Di luar sana ada dia—Javar dengan mobilnya, dengan pesannya, dengan "lewat"-nya yang tidak pernah benar. Dan di dalam sini ada aku—Lovia dengan kantung matanya, dengan kopi instan di perutnya, dengan hati yang sudah lelah berbohong kepada dirinya sendiri. Dan di antara lorong dan lobi itu ada sepuluh langkah yang terasa seperti sepuluh kilometer, karena setiap langkah membawaku lebih dekat kepada jawaban yang sudah kutahu sejak lama tapi tidak berani kuucapkan.