24 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Krisis selalu datang di hari Senin. Aku tidak tahu siapa yang mengatur jadwal itu di alam semesta, tapi aku punya teori bahwa krisis-krisis menghabiskan akhir pekan mereka berkumpul di suatu tempat, minum kopi, menyusun strategi, lalu menyerbu kantor-kantor di hari Senin pagi dengan kekuatan penuh.
Krisis kali ini bernama vendor percetakan. Lima hari sebelum peluncuran materi promosi terbesar kami tahun ini—materi untuk produk baru yang sudah menghabiskan dua bulan hidupku dan hidup timku—vendor kami menelepon dengan kabar yang disampaikan dengan nada orang yang menyampaikan ramalan cuaca: mesin mereka rusak, pesanan kami tidak bisa selesai tepat waktu, dan mereka "sangat menyesal atas ketidaknyamanan ini".
Aku menatap teleponku selama sepuluh detik penuh setelah telepon itu ditutup. Kemudian aku berdiri, mengambil napas yang panjang, dan melakukan hal yang sudah kulatih selama berminggu-minggu sebagai kepala tim: tidak panik di depan timku.
"Rapat darurat. Lima menit. Ruang meeting kecil," ucapku, dan suaraku keluar lebih tenang dari perasaanku, dan aku berjalan ke ruang meeting dengan langkah yang lebih pasti dari kakiku, dan selama lima menit itu aku membiarkan otakku bekerja seperti yang sudah diajarkan semua kegagalan masa laluku: bukan mencari siapa yang salah, melainkan mencari apa yang bisa dilakukan.
Di ruang meeting, timku duduk dengan wajah-wajah yang menunggu—wajah-wajah yang sudah belajar mempercayaiku, yang merupakan kepercayaan sekaligus beban yang paling berat yang pernah kupikul.
"Vendor kita gagal. Kita punya lima hari. Opsi kita tiga," ucapku, dan aku menuliskan ketiganya di papan tulis seperti yang pernah kulihat Pak Bos lakukan bertahun-tahun yang lalu. "Satu: cari vendor baru yang bisa kerja kilat—mahal, tapi cepat. Dua: pecah pesanan ke beberapa vendor kecil—rumit, tapi lebih aman. Tiga: kurangi volume cetakan dan maksimalkan materi digital—paling murah, tapi jangkauannya berubah. Aku tidak akan memutuskan sendirian. Kalian yang akan bekerja dengan keputusan ini, jadi kalian berhak bicara. Mulai dari sekarang."
Ruangan itu meledak—bukan dengan kepanikan, tapi dengan diskusi. Pak Willy, yang dulu menentang semua konsep baruku, berbicara paling keras dan paling berguna: ia kenal dua vendor kecil dari jaringan lamanya yang "kuno tapi tidak pernah gagal sejak zaman Soeharto". Anak-anak muda di timku menyodorkan perhitungan ulang anggaran dalam hitungan menit. Ratih—Ratih!—tiba-tiba menghasilkan daftar kontak percetakan dari "berbagai kenalan yang tidak perlu dijelaskan asal-usulnya".
Dalam satu jam, kami punya rencana: pecah pesanan ke tiga vendor, geser dua puluh persen materi ke digital, dan jadwal ulang yang ketat seperti tali sepatu tentara.
Tiga hari berikutnya adalah tiga hari yang akan kuingat sebagai hari-hari ketika aku belajar bahwa memimpin itu sebagian besar adalah berdiri di tengah badai dan berkata "kita bisa" dengan suara yang tidak gemetar—meskipun di dalam, gemetar itu ada, selalu ada, dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku menginap di kantor sampai lewat tengah malam dua kali. Anak-anak timku bergantian membawakan kopi tanpa diminta. Pak Willy datang lebih pagi dari siapa pun dan pulang lebih malam dari siapa pun, mengawasi vendor-vendor "zaman Soeharto"-nya dengan mata elang yang tidak memberi ampun.
Dan Ratih—ya Tuhan, Ratih—berubah menjadi mesin koordinasi yang tidak pernah kuduga ada di dalam dirinya. Ia mengatur jadwal tiga vendor sekaligus dengan tiga ponsel (satu miliknya, dua "dipinjamkan"), mengejar-ngejar sopir pengiriman seperti intel mengejar buronan, dan di tengah semua itu masih sempat menempelkan catatan kecil di monitorku: "Kau bisa. P.S. Tolong jangan mati dulu, aku masih butuh teman curhat."
Di malam ketiga, ketika kiriman terakhir akhirnya terkonfirmasi berangkat, timku berdiri di ruang meeting kecil itu dan bertepuk tangan—bukan untukku, kupikir saat itu, tapi untuk kami semua. Tapi kemudian Pak Willy angkat bicara, dengan suaranya yang kasar seperti amplas: "Kepala tim yang baik membuat timnya merasa menang bersama. Kita menang bersama karena dia." Dan ia menunjukku dengan dagunya, dan ruangan itu bertepuk tangan lagi, dan aku berdiri di sana dengan mata yang panas dan tidak tahu harus berkata apa selain, "Besok masuk siang. Semuanya. Itu perintah."
Dan di hari kelima, materi promosi itu selesai—tepat waktu, utuh, dan entah bagaimana justru lebih baik dari rencana semula, karena perpaduan cetak dan digital itu menjangkau orang-orang yang tidak akan terjangkau oleh cetakan saja.
Pak Bos memanggilku Jumat sore. Aku masuk ke ruangannya dengan persiapan mental untuk segala kemungkinan, dan ia menatapku dari balik mejanya dengan tatapan yang sudah kupelajari artinya selama bertahun-tahun—tatapan menimbang, tatapan menyimpan nilai.
"Lima hari," ucapnya. "Vendor gagal, dan kau menyelesaikannya dalam lima hari dengan hasil yang lebih baik dari rencana awal. Kau tahu apa yang membedakan manajer biasa dari pemimpin, Lovia?"
Aku menggeleng, tidak berani menebak.
"Manajer biasa menyembunyikan krisisnya dari atasan. Pemimpin menyelesaikannya dulu, baru melaporkannya beserta solusinya. Laporanmu masuk ke mejaku bersama hasilnya. Itu yang kulakukan dulu, dan itu yang sekarang kaulakukan." Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Mbak Inggrid tidak salah orang. Jangan buat dia menyesal."
Aku keluar dari ruangan itu dengan kaki yang sedikit lebih ringan, dan aku tahu—dari pengalaman bertahun-tahun—bahwa "jangan buat dia menyesal" dari mulut Pak Bos adalah terjemahan resmi dari "aku bangga kepadamu", dan aku menyimpan terjemahan itu di tempat yang paling aman di dadaku.
Di luar ruangan, timku pura-pura sibuk dengan cara yang tidak meyakinkan sama sekali—semua mata tertuju ke layar, semua telinga jelas tertuju ke pintu yang baru kututup. Ratih mendekat dengan dua gelas kopi dan satu pertanyaan di wajahnya. "Jadi? Disemprot atau dipuji?"
"Dipuji. Dengan bahasanya sendiri."
"Alhamdulillah," ucapnya, menyerahkan kopi kepadaku seperti menyerahkan medali. "Karena kalau kau disemprot setelah minggu ini, aku yang akan masuk ke ruangan itu dan berdebat dengan beliau, dan kita berdua tahu itu tidak akan berakhir baik untuk karierku."
Aku tertawa—tawa pertama yang benar-benar lepas setelah lima hari—dan kantor itu, untuk sesaat, terasa seperti rumah.
Malamnya, aku menceritakan semuanya kepada Javar lewat telepon—krisisnya, lima harinya, kata-kata Pak Bos—dan ia mendengarkan dengan serius yang tidak ia tunjukkan untuk hal-hal lain.
"Kau tahu apa yang paling kusukai dari cerita itu?" tanyanya akhirnya.
"Apa?"
"Kau tidak sekali pun bilang 'aku'. Yang kaukatakan sepanjang cerita adalah 'kami'. Timmu, perhitungan mereka, kontak mereka, kerja mereka. Itu yang membuatmu pemimpin, Lovia. Bukan jabatannya. Bukan amplopnya. Itu."
Aku diam di ujung telepon dengan kalimat itu, dengan malam Jumat yang sudah larut, dengan minggu yang sudah menguras semua yang kumiliki dan mengembalikannya dalam bentuk yang lebih baik. Dan aku berpikir bahwa ada orang-orang yang tahu persis kalimat apa yang kau butuhkan di akhir hari yang panjang, dan Javar—setelah delapan tahun, setelah semuanya—masih menjadi orang itu.
"Terima kasih," kataku, pelan. "Untuk mendengarkan. Selalu."
"Selalu," jawabnya, hanya satu kata itu, dan satu kata itu cukup untuk membuatku tertidur malam itu dengan senyum yang bahkan krisis hari Senin pun tidak akan berani ganggu.