31 DESEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Malam tahun baru selalu membuat orang berpikir tentang waktu—tentang tahun yang pergi dan tahun yang datang, tentang resolusi yang akan dilanggar sebelum Februari, tentang kembang api yang mahal harganya dan lima detik umurnya. Aku menghabiskan malam tahun baru kali ini di rumah Bunda, dengan Javar, dengan panci besar bakso yang menjadi tradisi keluarga kami sejak aku kecil, dan dengan satu tamu tambahan yang tahun lalu tidak pernah kubayangkan akan duduk di kursi itu.
Bunda dan Javar sudah mencapai tahap hubungan yang membuatku iri sedikit: tahap di mana mereka bisa mengobrol tanpa aku. Aku menemukan mereka di dapur sore itu—Javar mengupas bawang dengan keterampilan yang patut dipertanyakan, Bunda mengawasinya dengan ekspresi guru yang muridnya berbakat tapi ceroboh—dan mereka sedang membicarakanku, tentu saja, karena tidak ada topik lain yang disepakati dua orang itu.
"Dia waktu kecil keras kepala sekali," ucap Bunda, tanpa menoleh ke arahku yang berdiri di ambang pintu. "Sekali bilang tidak, tidak sampai tua. Pernah tidak mau makan bayam tiga tahun penuh. Tiga tahun, Javar. Aku sampai menyelundupkan bayam ke dalam bakso."
"Bunda, itu penjahatan gizi."
"Itu kemenangan ibu-ibu. Dan kau—" Bunda menunjuk Javar dengan pisau, "—harus tahu hal-hal seperti ini kalau mau berurusan dengan anakku dalam jangka panjang. Dia tidak berubah. Keras kepalanya cuma pindah topik. Dulu bayam, sekarang perasaan."
Javar tertawa, dan menjawab tanpa menyadari bahwa aku mendengar: "Saya tahu, Bunda. Delapan tahun saya menunggu keras kepalanya melunak. Ternyata tidak melunak—cuma belajar memilih perang yang benar." Ia berhenti mengupas sebentar. "Dan saya bersyukur untuk itu. Orang yang keras kepala untuk hal yang benar lebih berharga dari orang yang lunak untuk segalanya."
Aku mundur dari ambang pintu sebelum mereka menyadarku, dengan jantung yang bekerja lebih keras dari yang seharusnya di sore yang biasa. Ada hal-hal yang lebih berharga didengar sebagai pendengar gelap daripada sebagai peserta—dan kalimat itu adalah salah satunya.
Malamnya, menjelang tengah malam, kami bertiga duduk di teras dengan bakso masing-masing—Bunda dengan tehnya, aku dan Javar dengan mangkuk yang mengepul—menunggu kembang api yang akan muncul di atas atap-atap tetangga. Dan Bunda, dengan cara Bunda yang tidak pernah direncanakan dan selalu tepat sasaran, berkata ke langit yang gelap tanpa menoleh kepada siapa pun:
"Tahun lalu, tahun baru ini, rumah ini sepi. Anakku makan bakso sendirian di kamarnya sambil menonton film yang sudah ditontonnya dua puluh kali. Aku tahu karena aku menghitung dari dapur. Dua puluh kali, Javar. Film yang sama." Ia menyesap tehnya. "Tahun ini dia tertawa di dapurku, dan rumah ini ada suaranya lagi. Jadi kalau kau mau pergi ke kota itu, pergilah. Tapi dengar baik-baik: kau pergi untuk bekerja, bukan untuk menghilang. Bedanya satu: orang yang pergi bekerja selalu punya jadwal pulang. Kau punya jadwal pulang?"
"Punya, Bunda," jawab Javar. "Setiap dua minggu. Dan kalau jadwal itu berubah, Bunda orang pertama yang tahu—setelah Lovia."
"Bagus." Bunda mengangguk, masih ke langit. "Karena aku sudah terlalu tua untuk membenci orang dua kali. Sekali saja sudah menghabiskan tenaga."
Aku tertawa—dan kemudian tidak, karena aku menyadari apa yang baru saja dikatakan Bunda dengan caranya yang berbelit: bahwa ia sudah pernah membenci Javar, selama delapan tahun itu, diam-diam, tanpa pernah mengatakannya kepadaku. Dan kalimatnya tadi adalah pemakaman resminya. Di teras ini, dengan bakso dan teh, lima menit sebelum tahun baru.
Kembang api pertama meledak tepat tengah malam—milik tetangga sebelah yang setiap tahun berlebihan—dan di bawah cahaya yang berganti-ganti warna itu, Javar meraih tanganku di atas meja teras, tidak diam-diam, tidak sembunyi-sembunyi, di depan Bunda yang melihat dan pura-pura tidak melihat dengan tingkat akting yang buruk sekali.
"Tahun baru," ucapnya pelan, hanya untukku. "Ada resolusi?"
"Aku tidak percaya resolusi. Aku percaya keputusan bersama yang ditulis di atas meja."
"Itu resolusi versimu?"
"Itu resolusi versi kita."
Ia tersenyum di bawah kembang api yang kedua. "Kalau begitu resolusi kita tahun ini: tidak ada lagi kata yang tertelan. Apa pun yang terjadi—jarak, lelah, takut, salah paham—keluar lewat mulut, bukan lewat pintu."
"Sepakat. Dan satu lagi."
"Apa?"
"Makan bakso di sini lagi tahun depan. Bertiga. Tidak boleh ada yang absen, apa pun pos belajarnya, apa pun rapatnya."
Dan Bunda, yang ternyata mendengar semuanya dengan akting tidak melihat yang buruk itu, mengangkat cangkir tehnya ke udara tanpa menoleh dan berkata, "Amin. Sekarang habiskan baksonya. Bakso yang didoakan tidak boleh dingin."
Pukul dua belas lewat empat menit, ponselku berdering dengan nada khusus yang hanya kupasang untuk satu orang di dunia ini. Ratih. Aku mengangkatnya dan disambut oleh suara kembang api yang jauh lebih meriah dari kembang api tetanggaku.
"TAHUN BARU, LOVI!" teriaknya, dan di belakangnya aku mendengar sorakan banyak orang. "Tebak aku di mana!"
"Kalau kau bilang di rumah Pak Bos, aku akan menjatuhkan bakso ini."
"Bukan! Lebih gila! Acara tahun baru yayasan sosial perusahaan—dia mengundang seluruh tim CSR, dan aku diundang secara pribadi oleh beliau, dengan kalimat, siap-siap ya, 'Bawa teman-temanmu, semakin ramai semakin baik.' Bawa teman-temanmu, Lovi. Dia ingin mengenal lingkaranku. Itu langkah ketujuh dalam manual yang kubaca!"
"Kau membaca manual tentang apa?"
"Tidak penting! Yang penting—" suaranya turun sedikit, menjadi lebih jujur, "—dia mengenalkanku kepada anaknya malam ini. Anaknya yang kuliah di luar negeri, yang pulang untuk liburan. Dia bilang, 'Ini Ratih, orang yang membuat ayahmu tertawa lagi.' Di depan anaknya sendiri, Lovi. Aku hampir menangis di sela-sela kembang api seperti orang tidak waras."
Aku tersenyum ke dalam telepon, ke malam tahun baru yang tiba-tiba terasa lebih penuh dari yang sudah penuh. "Aku ikut senang, Rat. Benar-benar."
"Dan kau? Bagaimana malam tahun barumu? Masih dengan film yang sama dua puluh kali?"
Aku menoleh ke teras—ke Javar yang sedang membantu Bunda mengangkat piring-piring, ke dua orang yang paling kusayangi di dunia berdebat kecil tentang siapa yang mencuci dan siapa yang mengeringkan. "Tidak, Rat. Tahun ini filmnya diganti pemain."
Ratih diam sebentar, lalu tertawa—tawa yang tahu segalanya. "Bagus. Sudah waktunya film lama itu pensiun. Dua puluh kali, Lovi. Dua puluh kali. Itu bukan menonton, itu penyiksaan."
Kami menutup telepon dengan janji bertemu awal tahun, dan aku kembali ke teras dengan dua kabar tahun baru di dua kota yang berbeda—kabar yang sama-sama dimulai dari ketukan kecil di pintu yang sudah lama tertutup.
Di notebook-ku malam itu—halaman terakhir tahun ini—kutulis: "Tahun ini dimulai dengan aku yang sendirian di kamar dengan film yang sama dua puluh kali, dan berakhir dengan tangan yang digenggam di teras di bawah kembang api tetangga. Kalau ada yang bertanya apa bedanya setahun bisa membuat apa, jawabannya: semuanya. Setahun bisa membuat semuanya, asalkan ada satu orang yang berani mengetuk pintu yang sudah lama tertutup, dan satu orang lain yang akhirnya—setelah delapan tahun—berani membukanya."