27 FEBRUARI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Meja itu akhirnya terjadi—satu meja panjang di ruang tengah rumah orang tua Javar, dengan delapan kursi yang tidak semuanya terisi oleh orang yang kukenal setahun yang lalu.
Ada Bunda di sisi kanan, dengan kebaya terbaiknya dan tatapan waspada ibu yang sedang menilai seluruh ruangan sekaligus. Ada ayah dan ibu Javar di ujung meja, dengan surat kabar ayah yang untuk pertama kalinya ditinggalkan di kamar—"malam ini tidak ada berita yang lebih penting", katanya, dan kalimat itu dari mulutnya setara dengan pidato tiga halaman dari orang lain. Ada Ratih, yang datang membawa kue dan membawa Pak Bos—ya, Pak Bos, bos besar kami, duduk di meja makan rumah keluarga Javar dengan jas yang sudah dilepas dan lengan kemeja yang digulung, karena ternyata ayah Javar dan dia sudah berteman baik sejak acara peluncuran dulu, dan dunia memang sekecil itu kalau kau memperhatikannya cukup lama. Dan ada Wisnu, yang terbang khusus dari kotanya "untuk memastikan orang yang kurekrut tidak berubah pikiran di detik terakhir".
Dan ada kami berdua, di tengah meja itu, dengan sesuatu yang akan diumumkan—walau semua orang di meja itu sudah tahu, karena pengumuman yang paling penting selalu tentang hal-hal yang sudah diketahui semua orang tapi belum pernah diucapkan di depan mereka secara bersamaan.
Aku datang satu jam lebih awal untuk membantu di dapur, dan di dapur itulah ibu Javar—di antara uap dan bunyi tumisan—berkata tanpa menoleh, dengan cara orang yang mengucapkan sesuatu yang sudah disimpan sangat lama: "Kau tahu, Lovia, surat-surat di laci itu bukan satu-satunya yang tidak terkirim. Aku juga punya satu. Untukmu. Kutulis tahun kedua dia pergi, saat aku tahu betapa hancurnya dia dan betapa salahnya kami memintanya memilih. Tapi surat itu tidak pernah kukirim, karena aku tidak tahu harus minta maaf sebagai apa—sebagai ibu yang memintanya pulang, atau sebagai ibu yang membiarkannya diam." Ia menoleh kepadaku sebentar, hanya sebentar. "Malam ini surat itu kuanggap terkirim. Lewat meja ini. Lewat kau yang mau datang membantuku mengupas bawang, padahal kau tamu."
Aku tidak bisa menjawab dengan kata-kata, jadi aku menjawab dengan cara dapur: aku mengambil alih tumisannya, menyuruhnya duduk, dan menyelesaikan masakannya dengan resep yang ia bisikkan dari kursi—dua perempuan yang tidak pernah saling mengirim surat, akhirnya berkirim kabar dengan cara yang lebih tua dari tulisan.
Makanannya masakan ibu Javar, yang artinya meja itu penuh seperti pelabuhan. Obrolannya mengalir dengan mudah yang mengejutkan—Bunda dan ibu Javar menemukan kesukaan yang sama pada sinetron yang sama dan langsung bersekutu; Pak Bos dan ayah Javar membicarakan alat-alat pertanian dengan keseriusan sidang kabinet; Wisnu dan Ratih menemukan bakat yang sama dalam menggoda semua orang dan langsung bersekutu juga, yang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia.
Dan di tengah-tengah semua itu, Javar berdiri dari kursinya, mengetuk gelasnya dengan sendok—kebiasaan yang ia pelajari entah dari mana, karena di keluarganya tidak ada yang pernah melakukan itu—dan ruangan itu pelan-pelan hening.
"Aku tidak pandai berbicara tanpa naskah," katanya, dan Wisnu menyela "bohong" dari ujung meja, yang disambut tawa semua orang. "Baik, aku pandai berbicara tanpa naskah. Tapi malam ini aku gugup, jadi anggap saja aku tidak pandai." Ia menarik napas. "Delapan tahun yang lalu, aku meninggalkan kota ini dengan cara yang salah—tanpa pamit, tanpa penjelasan, tanpa meja seperti ini. Minggu depan aku akan pergi lagi. Dan kali ini, sebelum pergi, aku ingin semua orang yang paling berarti dalam hidupku duduk di satu meja dan mendengar langsung dari kami berdua: aku dan Lovia bersama. Resmi. Dengan kata-kata. Dan kepergianku kali ini bukan kepergian—ini jadwal kerja dengan tiket pulang setiap dua minggu dan sebuah kota yang jaraknya cuma empat jam dan satu rest area."
Hening sebentar. Kemudian Bunda mengangkat gelas tehnya pertama kali, sebelum siapa pun sempat bereaksi, dan berkata dengan suara yang tenang dan penuh: "Akhirnya. Ada yang bilang dengan kata-kata. Delapan tahun saya menunggu ada orang di meja ini yang bilang dengan kata-kata."
Dan meja itu pecah—ibu Javar menangis sambil tertawa, Ratih menangis tanpa tertawa (dan menyangkalnya dengan keras ketika ditunjuk), ayah Javar mengangguk berkali-kali dengan rahang yang mengeras menahan sesuatu, dan Wisnu berteriak "SAH!" seperti wasit yang sudah menunggu terlalu lama untuk meniup peluit.
Pak Bos berdiri terakhir, dengan cara berdirinya yang membuat ruangan otomatis memberi perhatian, dan mengangkat gelasnya. "Saya tidak kenal kalian berdua selama orang-orang di meja ini. Tapi saya kenal kerja keras, dan saya kenal kejujuran, dan dua-duanya ada di meja ini malam ini." Ia menoleh ke Javar. "Anak muda, kau meninggalkan perusahaan ayahmu untuk membangun sesuatu dari nol. Itu bukan keputusan orang yang lari. Itu keputusan orang yang berani. Saya pernah muda dan tidak seberani itu." Lalu ia menoleh ke Bunda dengan setengah membungkuk. "Dan Ibu telah membesarkan perempuan yang memimpin tim terbaik di perusahaan saya. Meja ini penuh dengan orang-orang yang layak. Untuk itu—" ia mengangkat gelasnya lebih tinggi, "—saya ikut berbahagia."
Malam itu berakhir larut, dengan foto bersama di depan meja yang sudah berantakan—delapan orang yang setahun lalu tidak akan pernah bisa kubayangkan berada dalam satu bingkai—dan dengan satu momen kecil sebelum kami semua pulang: ayah Javar menarik putranya ke teras, dan aku melihat dari jendela dua orang itu berbicara pelan, dan kemudian berpelukan dengan cara pria yang canggung dan tulus, dan aku tidak mendengar apa yang dikatakan, tapi aku tidak perlu mendengarnya, karena beberapa percakapan memang bukan untuk didengar orang lain.
Di mobil dalam perjalanan pulang, Javar menyetir dengan tangan yang memegang setir sedikit lebih erat dari biasanya. "Kau tahu apa yang dikatakan ayahku di teras?" tanyanya akhirnya.
"Apa?"
"'Kalau perusahaanku bangkrut besok, aku tetap pulang dengan untung, karena malam ini anakku memperkenalkan masa depannya di meja makan, dan masa depannya lebih bagus dari apa pun yang pernah kubuat.'" Ia berkedip beberapa kali, menatap jalan yang lurus. "Delapan tahun aku merawatnya dan tidak pernah sekalipun dia bilang bangga. Malam ini dia bilang. Di teras. Tanpa surat kabar."
Aku meraih tangannya yang satu di atas konsol tengah dan menggenggamnya, dan kami pulang ke kota yang sebentar lagi akan ditinggalkannya—dengan hati yang penuh, dengan meja yang sudah resmi, dengan satu minggu terakhir yang menunggu di depan.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Malam ini satu meja menampung dua keluarga, dua kota, dan delapan tahun yang akhirnya selesai. Kalau kepergian dulu dimulai dari keheningan, kepergian kali ini dimulai dari doa bersama dan gelas yang diangkat tinggi-tinggi. Selesai sudah urusan dengan diam. Mulai sekarang, semuanya dengan kata-kata."