27 MARET 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Ada kabar-kabar yang membuatmu berhenti di tengah hari dan duduk, karena kakimu tiba-tiba butuh waktu untuk memahami apa yang baru saja didengar telingamu. Sabtu itu Ratih datang ke rumah kontrakanku dengan kabar seperti itu, dan ia menyampaikannya sambil duduk di lantai dapurku, dengan punggung bersandar ke lemari, dengan cara orang yang tidak sanggup menyampaikannya sambil berdiri.
"Dia mengajakku ziarah. Ke makam istrinya."
Aku meletakkan gelasku. Pelan-pelan. "Kapan?"
"Tadi pagi. Baru saja. Aku langsung ke sini dari sana, aku bahkan belum ganti baju."
Dan ia bercerita—dengan suara yang pelan dan berhenti-berhenti, suara Ratih yang paling jujur, suara yang hanya ada untuk dapur-dapur kecil dan sahabat-sahabat lama. Pagi itu Pak Bos menjemputnya dengan mobil yang di kursi belakangnya ada sebuket bunga. Bukan untuk Ratih. Bunga segar yang dibungkus sederhana, yang diletakkan dengan hati-hati seperti orang meletakkan bayi. Dan di sepanjang jalan ke pemakaman itu, Pak Bos tidak banyak bicara—tapi sebelum masuk gerbang, ia berhenti, mematikan mesin, dan berkata: "Kau tidak harus ikut masuk. Kau bisa menunggu di mobil, dan itu tidak apa-apa, dan tidak mengubah apa-apa. Aku mengajakmu bukan untuk membuktikan sesuatu kepadamu. Aku mengajakmu karena... dia harus tahu. Bahwa aku baik-baik saja. Dan bahwa ada orang yang membuatku baik-baik saja."
"Aku masuk, Lovi," kata Ratih. "Tentu saja aku masuk. Dan aku berdiri di sana, di samping orang itu, di depan nisan seorang perempuan yang tidak pernah kukenal tapi sudah kudengar ceritanya berkali-kali—dan kau tahu apa yang kulakukan? Aku menyapanya. Dalam hati. Aku bilang: tenang saja, aku tidak mengambil apa-apa yang punyamu. Aku cuma merawat sisa-sisanya. Dan sisa-sisanya, kalau kau mau tahu, masih sangat berharga."
Ratih berhenti di situ, dan menatapku dengan mata yang basah tapi tidak jatuh, dan bertanya dengan suara yang paling kecil yang pernah kudengar darinya: "Apakah itu aneh? Apakah aku aneh? Siapa yang mengajak bicara mendiang istri kekasihnya dalam hati? Aku butuh kau mengatakan bahwa aku tidak aneh, Lovi. Aku butuh sekali."
"Kau tidak aneh," jawabku, dan aku berlutut di lantai dapur itu dan memeluknya, di samping lemari, di antara gelas yang belum diangkat. "Kau tidak aneh. Itu hal paling tidak aneh yang pernah kauceritakan kepadaku seumur hidupku. Orang tidak diajak ke tempat seperti itu kalau dia tidak berarti. Orang diajak ke tempat seperti itu justru karena dia berarti—karena itu tempat paling dalam yang dimiliki seseorang, dan dia membagikannya kepadamu. Itu bukan ajakan, Rat. Itu kunci rumah."
Kami duduk di lantai dapur itu lama sekali, dan Ratih akhirnya menangis—bukan tangis sedih, tangis lega, tangis orang yang sudah berminggu-minggu bertanya-tanya apakah ia benar-benar masuk ke kehidupan seseorang atau hanya berdiri di terasnya—dan sekarang ia tahu, dengan cara yang tidak bisa dibantah oleh keraguan mana pun.
"Dan kau tahu apa yang terjadi waktu kami keluar dari pemakaman itu?" lanjutnya, sambil menyeka wajah dengan lengan bajuku, tanpa izin, seperti biasa. "Dia berhenti di gerbang, menatapku, dan bilang: 'Terima kasih sudah mau datang. Istriku dulu selalu bilang, orang yang mau menemanimu ke tempat yang berat adalah orang yang layak ditemani ke tempat yang senang.' Lalu dia—dengarkan ini, Lovi, kau harus mendengarkan ini—dia mengajakku makan bakso. Dari makam langsung ke warung bakso. Dan kami makan bakso sambil tertawa-tawa, dan aku tahu, aku tahu persis saat itu juga: ini orangnya. Orang yang bisa membawamu menangis di pagi hari dan tertawa sebelum siang, tanpa merasa bersalah untuk dua-duanya. Aku tidak butuh bukti apa-apa lagi. Aku selesai mencari bukti."
Aku memasakkan mi untuk kami berdua siang itu—keahlian tertinggi dapurku—dan kami makan di lantai yang sama, dan Ratih menceritakan detail-detail kecil yang tidak penting bagi siapa pun di dunia ini kecuali dua orang di dapur itu: bagaimana bunga itu diletakkannya, bagaimana ia membaca nama di nisan itu, bagaimana Pak Bos menyeka nisan itu dengan tangannya sebelum pergi, pelan-pelan, seperti orang merapikan kerah baju orang yang dicintainya.
Seninnya, di kantor, terjadi hal kecil yang tidak kecil. Pak Bos lewat di dekat mejaku—lantai operasional, lagi, dua kali dalam sebulan, dan pantry mulai membuat statistiknya—dan berhenti. Tidak ada buku saku kali ini. Ia hanya berdiri sebentar, dan berkata dengan suara yang dibuat pelan supaya tidak terdengar meja lain: "Dia bercerita kepadamu. Tentu saja. Kalian seperti saudara." Lalu, setelah jeda yang tidak dihitung siapa pun: "Terima kasih sudah menjawabnya dengan benar, apa pun yang kaukatakan hari Sabtu itu. Dia datang ke kantor hari ini dengan wajah yang... lebih ringan. Aku tahu wajah itu. Terakhir kulihat tiga tahun yang lalu, di cermin."
Aku tidak menjawab apa-apa selain mengangguk—karena ada percakapan yang tidak boleh ditambah-tambahkan—dan ia melanjutkan langkahnya, dan aku kembali ke layar komputerku dengan satu kepastian baru: dua orang itu tidak sedang bermain-main. Dua orang itu sedang membangun, dengan cara mereka masing-masing, dengan bata yang tidak sama bentuknya, dan bangunannya berdiri.
Malamnya, jam sepuluh, kuceritakan semuanya kepada Javar di video call—dengan izin Ratih, tentu saja, karena ada kode etik dalam hal ini—dan Javar mendengarkan dengan diam sampai selesai, lalu berkata: "Kau tahu apa yang membuatku kagum dengan bosmu itu? Tiga tahun ia mengira hatinya sudah jadi makam juga. Ternyata cuma jadi rumah yang lama kosong. Dan Ratih datang bukan untuk membongkarnya—cuma untuk membuka jendelanya. Itu bedanya orang yang tepat dengan orang yang buru-buru: yang buru-buru ingin mengganti segalanya, yang tepat cukup membuka jendela."
Malam itu di notebook-ku kutulis: "Hari ini sahabatku belajar bahwa cinta tidak selalu dimulai dari halaman kosong. Kadang ia dimulai dari halaman yang sudah penuh tulisan tangan orang lain—dan tugasnya bukan menghapusnya, melainkan melanjutkan ceritanya di halaman berikutnya, dengan tinta yang berbeda, dengan hormat kepada tinta yang lama. Tidak semua orang sanggup menulis dengan cara seperti itu. Ratih bisa. Dan aku tidak pernah sebangga ini kepadanya."
Dan sebelum menutup halamannya, aku memikirkan Javar dan diriku sendiri—kami yang juga menulis di buku yang sudah lama ada, yang delapan tahun dibiarkan terbuka di halaman yang salah. Kami tidak merobek halaman itu. Kami hanya membaliknya, bersama-sama, dan mulai menulis di halaman yang baru dengan tinta yang lebih tenang. Mungkin memang begitu cara semua buku yang baik bekerja: halaman-halaman lamanya tidak dihapus, hanya diberi teman.
Dan malam itu aku tidur lebih cepat dari biasanya, dengan dapur yang sudah rapi dan hati yang sudah rapi juga.