19 JUNI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Sabtu malam itu aku sedang menulis di notebook-ku ketika pintu rumah kontrakanku diketuk dengan pola yang hanya dimiliki satu orang di dunia ini: tiga ketukan cepat, dua ketukan panjang, satu ketukan putus asa—kode darurat Ratih yang artinya "buka sekarang atau aku meledak di depan pintumu".
Aku membukanya, dan Ratih berdiri di sana dengan napas yang terengah, dengan rambut yang berantakan, dan dengan tangan kiri yang diangkat setinggi wajahnya—di jari manisnya ada sebuah cincin. Sederhana, bulat polos, tanpa berlian yang menyilaukan, dengan kilau yang justru karena kesederhanaannya terasa jauh lebih mahal.
"Dia melamarku," ucapnya, dan suaranya pecah di tengah, dan ia meledak di depan pintuku, persis seperti yang diancamkan kode ketukannya.
Aku menariknya masuk, mendudukkannya, menyodorkan tisu dan air dan kursi dan seluruh isi rumah kontrakanku, dan Ratih bercerita di antara isak dan tawa yang datang bergantian seperti hujan dan matahari di bulan April.
Malam itu Pak Bos mengajaknya makan—dan bukan ke restoran, melainkan ke warung bakso itu. Warung bakso yang mereka datangi setelah ziarah, warung yang menjadi tempat pertama mereka tertawa bersama setelah menangis bersama. Ratih tidak curiga apa-apa—mereka ke warung itu hampir setiap minggu, karena Pak Bos, kata Ratih, "sudah pindah kewarganegaraan rasa: dia tidak bisa lagi makan bakso selain bakso itu".
"Kami makan seperti biasa," ceritanya. "Dia cerewet soal acar seperti biasa. Dan waktu mangkukku habis separuh, dia mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya, meletakkannya di meja, di sebelah sambal—DI SEBELAH SAMBAL, Lovi—dan berkata: 'Aku sudah menanyakan ini kepada seseorang sebelum menanyakannya kepadamu.' Aku pikir maksudnya ayahku. Ternyata bukan. Minggu lalu dia kembali ke makam istrinya. Sendirian. Dan di sana, katanya, dia mengatakan keras-keras bahwa dia akan melamar seorang perempuan berisik yang membuatnya tertawa lagi, dan bahwa dia berharap—" Ratih berhenti, menyeka wajahnya dengan tisu kelima, "—berharap yang di sana tidak keberatan. Dan dia bilang, saat itu juga angin berhenti bertiup, dan dia memilih menganggapnya sebagai jawaban, dan kalau itu bukan jawaban, dia tidak mau tahu."
Aku menutup mulutku dengan dua tangan. Di dapur kecilku yang sunyi, kalimat itu jatuh dengan berat yang tidak bisa ditanggung meja kayu mana pun.
"Dan kemudian dia membuka kotaknya, dan berkata—dengarkan baik-baik karena ini kalimat yang akan kuhafal sampai tua: 'Ratih Ningrum, aku tidak melamarmu untuk menggantikan siapa pun. Tidak ada yang bisa digantikan, dan aku tidak akan menghina kalian berdua dengan pura-pura bisa. Aku melamarmu karena hidupku ternyata masih punya halaman kosong, dan aku ingin halaman itu ditulis dengan suaramu yang ramai. Maukah kau menulisinya bersamaku?'"
"Dan kau bilang?"
"Aku bilang?" Ratih menatapku dengan mata yang bengkak dan senyum yang tidak muat di wajahnya. "Aku bilang iya, tentu saja, tapi sebelum itu aku menangis dulu tiga menit penuh di warung bakso sampai pemiliknya keluar membawakan kami gorengan gratis karena dikira ada yang keracunan. Dan kemudian seluruh warung bertepuk tangan, dan pemiliknya menyatakan bakso kami gratis seumur hidup—SEUMUR HIDUP, Lovi—dengan catatan resepsinya nanti dia diundang dan boleh duduk di meja keluarga."
Kami tertawa dan menangis berbarengan sampai tetangga sebelah mengetuk dinding, dan setelah reda, Ratih menatap cincinnya lagi dengan tatapan yang tidak pernah kulihat di wajahnya seumur persahabatan kami—tatapan orang yang sudah selesai mencari, yang sudah tiba, yang sedang memandangi bukti kecil berbentuk lingkaran bahwa semua perjalanan bodohnya selama ini—menghitung jeda nama, menghafal jadwal, menyimpan catatan—berakhir di tempat yang benar.
"Kau tahu apa yang paling membuatku tidak bisa berhenti menangis?" ucapnya pelan. "Cincinnya bukan cincin baru. Ini cincin ibunya. Dia bilang, istrinya dulu juga memakai cincin ibunya—cincin yang sama. Dan sebelum memberikannya kepadaku, dia membawanya ke makam, menceritakan rencananya, dan memintanya dijaga sampai ke tanganku. Lovi, orang ini—" suaranya pecah lagi, "—orang ini mengajak semua perempuan dalam hidupnya duduk di meja yang sama, dan memastikan tidak ada satu pun yang merasa tersisihkan. Bagaimana aku tidak jatuh cinta kepada orang yang bahkan melamar pun dengan cara memeluk semua orang sekaligus?"
Malam itu, setelah Ratih pulang (dijemput calon suaminya, tentu saja, yang menunggu di bawah dengan sabar seperti orang yang sudah tahu persis berapa lama sesi curhat kami biasanya berlangsung), aku menelepon Javar—melanggar jam resmi lagi, dan kali ini dengan alasan yang sah secara internasional.
"Dia melamarnya. Di warung bakso. Dengan cincin ibunya. Ratih sudah jadi calon nyonya bos besar."
Hening sebentar di seberang sana, dan kemudian suara Javar yang pelan: "Dan begitulah. Warung-warung kecil di kota kita ternyata menyimpan lebih banyak lamaran daripada gedung-gedung tinggi. Sampaikan kepadanya: aku menagih janji duduk semeja di pernikahannya, dan aku akan datang dengan pidato yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari."
"Kau sudah menyiapkan pidato untuk pernikahan orang yang bahkan belum dilamar waktu kau menyiapkannya?"
"Aku direktur program, Lovia. Kami selalu punya dokumen untuk setiap skenario."
Seninnya, kantor meledak untuk kedua kalinya dalam setahun. Cincin di jari Ratih terdeteksi oleh radar pantry sebelum jam sembilan pagi, dan sebelum makan siang sudah ada empat versi cerita lamaran yang beredar—semuanya salah, dan Ratih membiarkan semuanya salah dengan senyum misterius, karena menurutnya "versi resmi hanya untuk orang-orang yang berhak". Pak Willy, yang ditodong komentar oleh ibu-ibu keuangan, hanya berkata sambil lalu: "Dulu saya melamar istri saya di terminal. Kalian pikir cuma zaman sekarang yang romantis di tempat aneh." Dan pantry punya bahan bakar baru untuk dua minggu ke depan.
Pak Bos sendiri hanya mengubah satu hal di kantor: di kalender mejanya, yang biasanya hanya berisi rapat dan tenggat, sekarang ada satu tanggal yang dilingkari spidol merah tanpa keterangan. Semua orang tahu tanggal apa itu. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang perlu bertanya.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Malam ini sahabatku dilamar di warung bakso, dengan cincin yang sudah berkeliling dari satu generasi ke generasi berikutnya, oleh orang yang mengantongi restoran mewah tapi memilih meja kayu di samping sambal. Dan aku semakin yakin pada satu hal yang sudah lama kuduga: tempat tidak pernah menentukan besarnya momen. Bakso, soto, bukit layang-layang, warung kopi bapak sopir angkot—semua momen terbesar dalam hidup orang-orang yang kusayang terjadi di tempat-tempat kecil yang jujur. Mungkin karena di tempat kecil, tidak ada ruang untuk berpura-pura. Dan cinta yang dilamar tanpa kepura-puraan adalah cinta yang akan dituliskan sampai halaman terakhir."
Dan dari dapur kecilku malam itu, aku ikut mengaminkannya, dengan tisu bekas Ratih yang masih berserakan di meja.