10 JULI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Persiapan pernikahan Ratih dimulai dengan sebuah grup chat bernama "TIM SUKSES"—nama yang dipilih oleh Ratih sendiri, yang langsung diprotes oleh seluruh anggotanya, yang kemudian dipakai juga karena tidak ada yang sanggup melawan keputusan pengantin wanita bahkan sebelum tanggalnya ditetapkan.
Anggotanya: aku (yang ditunjuk sebagai pendamping pengantin tanpa ditanya, hanya diberitahu, dengan kalimat "kau pendampingku atau persahabatan dua puluh tahun ini berakhir di grup chat ini juga"), tiga anak tim promosi, dua sepupu Ratih, dan—hal yang tidak disangka siapa pun—Pak Willy, yang secara sukarela menawarkan diri mengurus logistik dengan alasan "kalian anak-anak muda tidak tahu cara menegosiasikan harga tenda".
Dan Pak Willy benar. Pak Willy sangat benar. Dalam dua minggu ia sudah menekan harga tenda, katering, dan sound system ke angka-angka yang membuat Ratih menangis haru dan membuat kami semua bertanya-tanya apakah selama ini beliau menyimpan kemampuan itu hanya untuk acara-acara yang ia anggap layak.
"Kalian ini generasi aplikasi," ceramahnya di rapat panitia pertama (yang ia pimpin sendiri, dengan daftar hadir, di ruang meeting kecil, di luar jam kerja—belum pernah ada panitia pernikahan yang lebih rapi dari proyek perusahaan). "Semua mau instan. Vendor itu bukan aplikasi. Vendor itu manusia. Manusia itu dinegosiasikan dengan kopi dan kesabaran. Sudah, itu pelajaran pertama. Pelajaran kedua: pengantin tidak boleh stres. Tugas kalian semua adalah memastikan perempuan itu"—ia menunjuk Ratih dengan dagu—"sampai ke hari H dengan kewarasan yang masih bisa diselamatkan. Itu KPI kita. Ada pertanyaan?"
Tidak ada yang berani bertanya. Pak Willy menjalankan panitia itu seperti menjalankan operasi militer, dan aku memandanginya dengan rasa kagum yang baru: orang yang dulu menentang semua konsep baruku, yang kutakuti di ruang meeting, sekarang membuat jadwal gladi bersih dengan presisi jadwal kereta api.
Di sela-sela semua itu, Ratih menjalankan perannya sebagai pengantin paling tidak pengantin dalam sejarah. Ia menolak gaun yang "terlalu putri" ("aku mau yang bisa kupakai lari, siapa tahu ada keadaan darurat"), menolak riasan yang "mengubah wajah" ("kalau dia tidak mengenaliku di pelaminan, itu salah siapa?"), dan menolak konsep resepsi besar ("dua ratus orang yang tidak kukenal makan gratis dan menilai dekorasiku? Tidak, terima kasih. Aku mau yang datang hanya orang-orang yang tahu nama panggilan masa kecilku").
Hasilnya: resepsi kecil, seratus lima puluh tamu, di sebuah pendopo dengan halaman luas—dan daftar tamu yang disusun dengan kriteria tunggal yang ditetapkan Ratih: "Orang-orang yang pernah meminjamkan bahunya, uangnya, telinganya, atau warungnya untuk kami berdua."
Pemilik warung bakso masuk daftar itu, tentu saja, dengan status yang ditulis tangan oleh Ratih di kolom keterangan: "Meja keluarga. Tidak bisa ditawar. Sudah tertulis di perjanjian bakso seumur hidup."
Dan Pak Bos—calon pengantin pria yang harus tetap memimpin perusahaan di sela-sela persiapan—menjalani semuanya dengan ketenangan orang yang sudah menyerahkan kendali sepenuhnya kepada dua kekuatan alam: calon istrinya dan Pak Willy. Satu-satunya hal yang ia kerjakan sendiri, dengan tangannya sendiri, tanpa bisa diwakilkan: daftar lagu untuk resepsi. "Ini bagian saya," katanya kepada Ratih, serius seperti membahas anggaran. "Tenda, kursi, makanan—itu wilayah kalian. Tapi lagu-lagu yang mengantar saya berjalan ke pelaminan, itu wilayah saya. Saya sudah menyusunnya sejak Februari. Ada tujuh belas lagu, dengan tiga cadangan, untuk berbagai skenario suasana hati."
Ratih menceritakannya kepadaku dengan wajah yang meleleh. "Tujuh belas lagu, Lovi. Dengan tiga cadangan. Untuk berbagai skenario suasana hati. Orang ini menyusun playlist lamaran seperti menyusun rencana kontinjensi bencana. Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis, jadi aku melakukan dua-duanya, di pantry, disaksikan mesin kopi."
Fitting gaunnya berjalan dengan drama yang sudah bisa diprediksi. Ratih mencoba enam gaun dan menolak keenamnya dengan alasan yang semakin lama semakin tidak masuk akal ("yang ini membuatku terlihat seperti mau bernegara"), sampai akhirnya ibunya—yang datang dengan stoples kue dan kesabaran yang sudah diasah dua puluh tujuh tahun—meletakkan tangannya di bahu Ratih dan berkata pelan: "Nak, gaun itu bukan untuk cantik-cantikan. Gaun itu tanda bahwa kau dihormati. Pakai yang paling membuatmu merasa dihormati, bukan yang paling membuatmu merasa cantik. Cantikmu sudah dikunci sama yang melamarmu, tidak akan lari." Ratih diam, mencoba gaun ketujuh—yang sederhana, yang paling sederhana dari semuanya—berdiri di depan cermin, dan menangis. "Ini," katanya. "Yang ini. Yang membuatku merasa seperti Ratih yang dihormati." Dan ibunya mengangguk sambil membuka stoplesnya dan menyodorkan kue kepada seluruh pegawai butik, karena di keluarga itu, semua momen besar dirayakan dengan kue.
Ayah Ratih, di fitting yang terpisah, mengenakan jas untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun—terakhir kali di pernikahan kakak sulung Ratih—dan berdiri kaku di depan cermin seperti patung museum sambil menggerutu, "Di angkot tidak pernah saya pakai beginian, sekarang disuruh pakai, tangannya ke mana saja tidak tahu." Tapi waktu Ratih datang memakai gaun ketujuhnya dan berdiri di depannya, sopir angkot paling keras di kota itu berhenti menggerutu di tengah kalimat, dan menatap anak ketiganya lama sekali, dan hanya berkata, "Ya sudah. Berisik-berisik ternyata ada juga yang mau." Lalu berbalik cepat dengan alasan mencari minum, dengan punggung yang bahunya bergerak-gerak.
Tugasku sebagai pendamping ternyata jauh lebih berat dari deskripsi resminya. Deskripsi resminya: menemani pengantin. Kenyataannya: menjadi tempat Ratih menelepon jam sebelas malam untuk pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti "kalau aku lupa kalimat akadnya bagaimana?" (kau tidak akan lupa, itu diucapkan wali), "kalau hujan bagaimana?" (tendanya sudah dinegosiasikan Pak Willy dengan anti air kelas tiga), dan yang paling sering, dengan suara yang pelan dan jujur: "Lovi, aku takut. Bukan takut menikah. Takut bahagia sebesar ini. Orang yang bahagianya sebesar ini kan biasanya ditagih sesuatu oleh semesta. Aku takut tagihannya."
Dan kepada ketakutan yang itu, aku menjawab dengan jawaban yang kudapat dari delapan tahun yang mahal: "Semesta tidak menagih kebahagiaan, Rat. Semesta cuma menagih hal-hal yang kita simpan tanpa kita rawat. Kebahagiaanmu dirawat setiap hari—oleh kalian berdua, dengan warung bakso, dengan tujuh belas lagu dan tiga cadangan. Tagihan itu sudah lunas, dibayar di muka, tiga tahun lamanya. Sekarang tinggal jalani saja. Kencang-kencang. Jangan pelan-pelan. Kau Ratih. Kau tidak pernah melakukan apa-apa dengan pelan."
Malam itu di notebook-ku kutulis: "Sahabatku akan menikah, dan panitianya dipimpin oleh mantan lawan politik kantorku dengan presisi militer, dan calon suaminya menyusun playlist dengan rencana kontinjensi, dan aku menjadi pendamping tanpa pernah ditanya. Hidup memang paling sering memberi kita peran-peran tanpa audisi. Dan peran ini—menjadi orang yang ditelepon jam sebelas malam untuk menenangkan pengantin—adalah peran terbaik yang pernah kuterima tanpa melamar."