11 SEPTEMBER 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Tawaran itu datang hari Selasa, lewat telepon, dengan suara ramah seorang konsultan rekrutmen yang sudah menyiapkan kalimat-kalimatnya dengan baik: perusahaan consumer goods besar, kantor pusat di Jakarta, posisi Manajer Brand untuk tim yang lebih besar dari timku sekarang, gaji yang—ia menyebutkan angkanya dengan nada yang tahu persis efeknya—hampir dua kali lipat gajiku.
Aku menuliskan angka itu di kertas, dan menatapnya lama setelah telepon ditutup, dan aku tidak akan berbohong di notebook ini: angka itu bekerja. Angka itu berbicara dengan suara yang meyakinkan tentang rumah kontrakan yang bisa diganti dengan rumah sendiri, tentang tabungan yang bisa beranak, tentang Bunda yang bisa dibelikan kursi pijat yang sudah lama kucicil dalam pikiranku. Angka itu pintar sekali berbicara.
Dan karena aturannya adalah keluar lewat mulut, bukan lewat pintu, maka malam itu juga—jam sepuluh, video call—aku menceritakannya kepada Javar. Semuanya. Termasuk angkanya. Termasuk bagian di mana angka itu berbicara kepadaku tentang kursi pijat Bunda.
Javar mendengarkan tanpa menyela, dengan ekspresi yang ia jaga dengan sangat hati-hati—terlalu hati-hati, dan justru karena itu aku tahu ia sedang menjaga sesuatu. Dan ketika aku selesai, ia berkata dengan suara yang rata: "Itu tawaran yang sangat bagus. Kau layak mendapatkannya. Dan keputusannya ada padamu, aku tidak akan memutuskan untukmu—kita sudah pernah sama-sama tahu rasanya diputuskan orang lain."
"Tapi ada yang tidak kaukatakan."
Ia diam sebentar, lalu tersenyum kecil—tertangkap lagi, seperti biasa. "Ada. Tapi aku tidak mau mengatakannya sebelum kau selesai memikirkannya sendiri, karena pendapatku tidak boleh mencemari keputusanmu. Jakarta itu jauh, Lovia. Bukan empat jam. Dan pekerjaan itu akan menelanmu—aku mengenal industri itu, aku mengenal ritmenya. Tapi itu pendapat orang yang berkepentingan, dan pendapat orang yang berkepentingan harus didengar terakhir, bukan pertama."
Maka aku memikirkannya sendiri—tiga hari, seperti yang kuminta kepada konsultan itu—dan tiga hari itu adalah tiga hari yang aneh, karena aku menemukan diriku membuat daftar pro-kontra di atas kertas, persis seperti yang kami lakukan dulu di meja makan rumah kontrakan, dan kolom-kolomnya berbicara dengan jujur.
Kolom pro pendek dan berkilau: gaji dua kali lipat. Nama besar. Karier yang melesat.
Kolom kontra lebih panjang, dan tidak satu pun berkilau, tapi semuanya berat: timku—tim yang sudah kami bangun dari krisis vendor sampai kenaikan tujuh belas persen, yang baru saja menemukan jalannya. Kemitraan CSR yang baru berjalan satu setengah pos, dengan Kotak Baca yang baru mulai berkeliling. Kota kedua yang keretanya empat jam—dari Jakarta, entah berapa jam lagi. Mbak Inggrid yang baru saja menjabat tanganku sebagai rekan. Pak Willy yang sedang sibuk menjadi panglima panitia pernikahan. Dan satu baris terakhir yang kutulis dengan pena yang berhenti lama di atasnya: "Di perusahaan baru itu, tidak ada satu pun yang pernah menyemprotku dan kemudian mengajarkanku berdiri lagi."
Ratih tahu tentang tawaran itu pada hari kedua—karena tidak ada rahasia yang bertahan lebih dari dua puluh empat jam di antara kami—dan reaksinya khas: "Dua kali lipat? LOVI. Aku akan menyekolahkan anakku kelak dengan cerita tentang tante Lovia yang menolak gaji dua kali lipat. Kau akan jadi dongeng pengantar tidur tentang orang yang tidak bisa disogok." Lalu ia menambahkan, dengan wajah yang lebih serius, sambil memain-mainkan cincinnya: "Tapi kau tahu, aku senang bukan karena kau menolaknya. Aku senang karena kau memikirkannya tiga hari dengan kepala dingin, dan menolaknya dengan alasan-alasanmu sendiri, bukan karena ada yang melarang. Tiga tahun lalu kau akan menerimanya hanya untuk lari. Atau menolaknya hanya karena takut. Sekarang kau menolaknya karena sudah menimbang. Itu bukan keputusan tentang pekerjaan, Lovi. Itu rapor tentang dirimu sendiri."
Kamis malam aku menelepon konsultan itu dan menolaknya—dengan sopan, dengan ucapan terima kasih yang tulus, dan dengan satu kalimat penutup yang bahkan membuatnya tertawa: "Tolong simpan nomor saya. Kalau suatu hari ada posisi yang membuat saya tidak harus memilih antara gaji dan hidup saya, saya pendengar yang baik."
Dan kemudian, dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari yang kuduga, aku melapor ke Mbak Inggrid—bukan karena wajib, tapi karena transparansi sudah menjadi caraku sejak forum bisikan itu. Mbak Inggrid mendengarkan seluruh ceritanya, dan bertanya hanya satu hal: "Kau memberitahuku ini supaya aku menaikkan gajimu?"
"Tidak, Mbak. Aku memberitahu karena menyembunyikannya akan terasa seperti membuka pintu belakang, dan aku sudah berjanji tidak akan pernah membuka pintu belakang lagi—di hubungan mana pun, termasuk dengan kantor."
Mbak Inggrid menatapku lama, lalu tersenyum—senyumnya yang jarang. "Gajimu akan naik di penilaian akhir tahun, dan itu sudah kuputuskan sebelum telepon dari Jakarta itu, dan kenaikannya tidak akan pernah menyamai angka mereka, dan kau tahu itu. Tapi aku akan memberimu sesuatu yang tidak bisa diberikan perusahaan mana pun di Jakarta: akhir tahun ini, kalau penilaianmu sebaik yang kuprediksi, aku akan mengusulkanmu untuk posisi yang sedang kami rancang—kepala seluruh tim kreatif, bukan hanya tim promosi. Bukan janji. Peluang. Bedanya: janji dibuat di telepon oleh konsultan rekrutmen. Peluang dibangun di sini, dengan kaki sendiri."
Jam sepuluh malam itu, di video call, kuceritakan semuanya kepada Javar—penolakannya, percakapan dengan Mbak Inggrid, peluang akhir tahun—dan ia mendengarkan dengan senyum yang semakin lama semakin lebar.
"Kau tahu apa yang paling kusukai dari cerita ini?" katanya. "Kau menolaknya bukan karena aku. Aku mendengarkan daftarmu tadi—tim, kemitraan, Mbak Inggrid, Pak Willy. Aku bahkan tidak ada di daftarnya."
"Kau bukan alasan aku tinggal, Javar. Kau bagian dari kota yang aku tinggali. Itu berbeda, dan bedanya penting." Aku tersenyum ke layar. "Aku tidak tinggal untukmu. Aku tinggal untuk hidup yang kebetulan ada kamu di dalamnya. Itu lebih sehat, dan kau tahu itu."
"Sehat sekali," jawabnya, tertawa. "Menyakitkan sedikit, tapi sehat sekali."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini aku menolak gaji dua kali lipat, dan rasanya bukan seperti kehilangan—rasanya seperti menimbang dan menemukan bahwa sisiku lebih berat. Uang bisa membeli kursi pijat untuk Bunda, dan aku akan tetap membelikannya, dengan gaji ini, dengan cara mencicil lebih lama. Tapi tidak ada gaji di dunia ini yang bisa membeli tim yang menepuk tangan untukku di ruang meeting kecil, atau kota kedua yang keretanya sudah kuhafal jadwalnya, atau meja pojok yang pemiliknya menolak melayaniku di meja lain. Beberapa hal memang tidak bisa ditukar dengan angka, betapa pun pintarnya angka itu berbicara."
Dan untuk Javar yang membaca ini nanti: kursi pijat Bunda tetap menjadi target. Jangan merasa tersaingi oleh kursi.