18 DESEMBER 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Penilaian akhir tahun itu berjalan seperti sidang—semua penilaian akhir tahun berjalan seperti sidang, di perusahaan mana pun, di negara mana pun—tapi kali ini aku masuk ke ruangannya dengan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya: tanpa perlu membuktikan apa-apa.
Angka-angkanya sudah bicara sebelum aku duduk. Krisis vendor yang diselesaikan dalam lima hari. Kenaikan tujuh belas persen. Kampanye penghujung tahun yang melampaui target. Kemitraan CSR dengan dua belas pos belajar dan laporan yang bersih sampai ke koma. Surat pelanggan yang dibingkai di ruang meeting. Dan tim—tim yang berjalan tanpa perlu dipegang tangannya, yang merupakan satu-satunya metrik kepemimpinan yang benar-benar kupercaya.
Mbak Inggrid membacakan penilaiannya dengan nada resmi, tapi di akhir ia meletakkan dokumennya dan berbicara dengan nadanya yang lain—nada yang hanya keluar untuk hal-hal yang benar-benar penting: "Tahun lalu aku mengajukan namamu untuk promosi, dan ada yang bertanya apakah kau siap. Hari ini aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan cara yang lebih baik: pertanyaannya salah dari awal. Bukan kau yang harus siap untuk jabatan itu. Jabatan itulah yang harus siap untukmu." Ia mendorong sebuah map ke seberang meja. "Mulai Januari: Kepala Tim Kreatif. Bukan hanya promosi—seluruh tim kreatif perusahaan ini. Konsep, konten, kampanye, semuanya. SK-nya sudah ditandatangani. Bukan hadiah—tugas. Dan tugas ini lebih berat dari yang sebelumnya, jadi rayakan malam ini, karena besok bebannya mulai."
Aku membuka map itu dan membaca SK-nya dua kali—bukan karena tidak percaya, tapi karena ada kalimat-kalimat yang harus dibaca dua kali supaya ia pindah dari mata ke dada. Kepala Tim Kreatif. Setahun yang lalu aku diumumkan sebagai kepala tim promosi dengan amplop di meja dan jantung yang mau copot. Sekarang, dengan tim yang lebih besar, dengan tanggung jawab yang lebih luas—dan dengan tangan yang tidak lagi gemetar saat memegang kertasnya. Itu yang paling kusadari: tanganku tidak gemetar. Bukan karena aku tidak merasakan apa-apa—aku merasakan segalanya—tapi karena aku sudah tahu bahwa aku bisa.
Kabar itu diumumkan di akhir tahun bersamaan dengan rangkaian penilaian lain, dan perayaannya diadakan timku di ruang meeting kecil—dengan pizza, tentu saja, karena tradisi adalah tradisi, dan dengan satu pidato pendek dari Pak Willy yang berdiri dengan gelas plastik berisi teh dan berkata: "Dua tahun lalu saya menentang konsep-konsepnya di ruang meeting ini. Saya kira dia terlalu muda, terlalu cepat, terlalu banyak warna. Hari ini dia jadi atasan saya secara resmi, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal bekerja di bawahnya. Itu bukan karena dia selalu benar—dia sering salah, dan saya sering mengingatkannya, dan dia selalu mendengarkan. Itulah yang membuat orang layak memimpin: bukan tidak pernah salah, tapi selalu mau mendengarkan saat salah. Selamat, Bu Lovia. Jangan berubah."
Aku tidak menangis di ruang meeting itu—aku sudah belajar menyimpan tangis untuk tempat-tempat yang tepat—tapi aku berdiri di depan timku dan mengatakan satu hal yang sudah lama ingin kukatakan: "Jabatan ini bukan milikku. Jabatan ini milik meja ini. Aku hanya orang yang ditunjuk untuk menandatangani atas nama meja ini, dan aku akan terus menandatangani hanya untuk hal-hal yang sudah melewati meja ini dulu. Itu aturannya, dan aturannya tidak berubah walaupun SK-nya berubah."
Dan sebelum bubar, anak-anak timku mengeluarkan satu kotak lagi dari balik kursi—hadiah yang mereka patungan diam-diam: sebuah mug besar bergambar karikatur kami semua satu tim, dengan tulisan di bawahnya, "RUANGAN INI MILIK MEJA INI"—kutipan yang mereka ambil dari kalimatku di forum terbuka dulu, yang ternyata mereka ingat dan mereka cetak dan mereka jadikan semboyan resmi tanpa memberitahuku. Di bawah gambar itu ada dua puluh tanda tangan kecil-kecil, memenuhi setiap sisi mugnya. "Supaya di ruangan baru nanti Ibu tidak lupa dari mana Ibu berasal," kata salah satu dari mereka, dan aku memeluk mug itu sepanjang jalan pulang seperti orang memeluk piala, karena memang itulah dia—piala yang sebenarnya, yang tidak bisa dimenangkan lewat penilaian akhir tahun mana pun.
Malamnya, perayaan kedua—yang lebih kecil, yang lebih penting—diadakan di dapur rumah kontrakanku: Ratih dengan suaminya (Pak Bos datang membawa kue dan ucapan yang dibuat singkat atas permintaannya sendiri: "di rumah ini saya bukan bos, saya suami Ratih yang membawa kue"), dan Javar yang datang dari kota kedua dengan kotak kecil yang diletakkannya di tanganku tanpa kata-kata.
Di dalamnya: sebuah pena. Bukan pena mahal yang berlebihan—pena yang bagus, yang pas di tangan, dengan ukiran kecil di gagangnya: satu baris tanggal. Tanggal hari ini.
"Setiap bab baru butuh halaman yang baru," ucapnya, mengutip kalimatnya sendiri dari setahun yang lalu, dari kartu di kotak notebook pertama. "Dan setiap halaman baru butuh pena yang tidak macet di tengah jalan. Untuk menandatangani SK-SK berikutnya. Dan untuk menulis halaman-halaman yang tidak ada hubungannya dengan kantor—halaman-halaman yang cuma untuk kita."
Dan Bunda, lewat telepon malam itu, memberikan berkatnya dengan cara Bunda yang biasa—setengah bercanda, setengah sungguhan, seratus persen tepat: "Kepala Tim Kreatif. Anakku. Yang dulu tidak mau makan bayam tiga tahun." Ia berhenti sebentar, dan suaranya melunak. "Ayahmu akan bangga, Nak. Dia tidak sempat melihat ini, tapi aku tahu persis apa yang akan dia katakan: dia akan bilang, 'Sudah kuduga sejak dia keras kepala soal bayam itu. Keras kepala untuk hal yang benar tidak pernah sia-sia.'"
Aku menutup telepon itu dengan mata yang basah di dapur kecilku, dengan pena baru di tangan, dengan orang-orang yang kusayang berkumpul di ruangan yang sempit—dan aku berdiri di tengah semuanya dan membiarkan rasa itu datang sepenuhnya, tanpa ditahan, tanpa disaring: rasa berada persis di tempat yang seharusnya.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini SK baru itu keluar, dan tanganku tidak gemetar. Butuh bertahun-tahun untuk sampai ke tangan yang tidak gemetar ini—melewati semprotan di ruang meeting, amplop di atas meja, krisis lima hari, bisikan di lorong, dan satu forum terbuka. Ternyata kepercayaan diri itu bukan sesuatu yang datang. Ia sesuatu yang dibangun, hari demi hari, kesalahan demi kesalahan, orang demi orang yang percaya padamu sebelum kau percaya pada dirimu sendiri. Dan malam ini, di dapur kecil dengan pizza dan teh dan pena baru, aku berdiri di atas bangunan itu—dan pemandangannya, dari sini, sangat layak untuk setiap anak tangganya."
Dan di bawahnya kutambahkan, dengan pena baru yang tintanya mengalir tanpa macet: "Terima kasih untuk semua meja yang sudah mengizinkanku menandatangani. Mug itu akan kubawa ke ruangan baru, dan ruangan itu, mulai Januari, juga akan menjadi milik meja."