09 APRIL 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Kabar besar itu disampaikan dengan cara yang paling Ratih dari semua cara yang mungkin: lewat sekotak kue yang dikirim ke mejaku di kantor, dengan kartu bertuliskan, "Selamat. Kau akan jadi tante. Kue ini pembayaran di muka untuk semua malam yang akan kauhabiskan mengasuh."
Aku menatap kartu itu lima detik penuh sebelum isinya sampai ke otakku—dan kemudian aku berlari melintasi lantai menuju mejanya dengan kecepatan yang tidak pantas untuk seorang Kepala Tim Kreatif, dan memeluknya di depan seluruh divisi promosi, dan pantry meledak untuk ketiga kalinya dalam dua tahun, dan kali ini ledakannya sampai ke lantai-lantai lain.
Ratih hamil. Sembilan minggu, kata dokter, dengan kandungan yang sehat dan ibu yang tidak bisa berhenti tersenyum sekaligus mual dalam waktu yang bersamaan.
"Dan suamimu?" tanyaku, di apartemen mereka malam itu, dengan teh hangat dan kaki yang diselonjorkan di sofa mereka seperti rumah sendiri—karena memang sudah jadi rumah kedua.
Ratih tertawa—tawa yang sudah kudengar ribuan kali tapi kali ini punya warna yang baru. "Lovi. Orang itu. Orang itu—" ia berhenti, mencari kata-kata, dan memutuskan untuk menceritakannya saja dari awal. "Aku memberitahunya lewat kotak sepatu. Kumasukkan testpack ke dalam kotak sepatu, kubungkus seperti kado, kuberikan saat makan malam. Dia membukanya, menatapnya lama sekali—dan kau tahu, untuk orang yang menghadapi rapat direksi tanpa kedip, tangannya gemetar. Pertama kali kulihat tangannya gemetar. Dan dia bertanya, 'Ini artinya yang kupikirkan?' dan aku bilang iya, dan dia—" suara Ratih melembut, "—dia berdiri, berjalan ke jendela, memunggungiku, dan diam lama sekali. Aku takut. Aku pikir dia kaget dengan cara yang buruk. Ternyata dia menangis. Pak Bos. Di depan jendela. Dan waktu berbalik, dia bilang satu kalimat yang akan kusimpan selamanya: 'Aku kira hidupku sudah selesai memberi. Ternyata masih ada yang mau diberikan.' Lalu dia menelepon anaknya—di luar negeri, jam dua pagi waktu sana—dan anaknya teriak kegirangan sampai aku bisa mendengarnya dari seberang ruangan."
Aku membayangkannya: bos besar kami, yang tiga tahun hidup di rumah yang sunyi, berdiri di depan jendela apartemennya dengan air mata dan kalimat tentang memberi—dan aku memahami, sekali lagi, bahwa kebahagiaan yang datang kedua itu tidak lebih kecil dari yang pertama. Ia hanya lebih berharga, karena ia datang ke tempat yang sudah tahu harga dari kehilangan.
Dan reaksi ayah Ratih—tentu saja ada reaksi ayah Ratih, dan tentu saja terjadi di warung kopi yang sama. Mereka menyampaikannya berdua, dan sopir angkot paling keras di kota itu mendengarkannya tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, menyesap kopinya pelan-pelan, meletakkan gelasnya, dan berkata datar: "Sudah kuduga. Kamu akhir-akhir ini makan terus. Saya sopir, saya tahu penumpang yang isinya dua." Lalu, sebelum Ratih sempat protes, ia berdiri dan berteriak ke seluruh warung—ke seluruh pelanggan, ke pemilik warung, ke tukang parkir di seberang: "SAYA JADI KAKEK! KOPI HARI INI SAYA YANG BAYAR, SEMUANYA, SAMPAI YANG DI SEBERANG JALAN!" Dan menurut laporan saksi mata, ia memeluk menantunya dengan tepukan di punggung yang begitu keras sampai Pak Bos—pria yang menghadapi rapat direksi tanpa kedip—tersedak dan harus diberi air dua gelas. Ibunya, seperti biasa, merespons dengan cara ibunya: pulang ke rumah dan kembali satu jam kemudian dengan dua stoples kue, satu untuk menantu ("untuk anak yang di dalam, biar dia tahu rasa rumah sejak awal") dan satu untuk seluruh warung.
Berita itu mengubah sesuatu di kantor dengan cara yang menghangatkan: Pak Bos berjalan di lorong-lorong dengan langkah yang—kata analisis resmi pantry—"lebih ringan dua kilogram", dan ibu-ibu keuangan membentuk kembali Tim Persiapan yang dulu dibubarkan, kali ini dengan target yang lebih nyata dan jadwal yang lebih pasti. Pak Willy, yang ditodong komentar, hanya mengatakan satu kalimat yang langsung menjadi legenda kantor: "Bagus. Perusahaan ini butuh generasi penerus yang sudah terbukti kualitas ibunya."
Dan di rumah kontrakanku, malam itu juga, Ratih dan aku duduk di lantai dengan peta rencana yang mulai ia susun—karena Ratih tetap Ratih, dan kehamilannya pun sudah punya timeline: "Aku akan bekerja sampai bulan ketujuh, itu keputusan bersama, jangan coba-coba menasihati, dan setelah lahiran aku mau kau yang pertama menggendong setelah keluarga, itu tidak bisa ditawar, dan kalau anaknya perempuan aku mau menamainya dengan nama yang ada huruf dari namamu, supaya dia tumbuh keras kepala untuk hal yang benar."
"Astaga, Rat. Pelan-pelan. Anaknya bahkan belum sebesar kacang."
"Perencanaan tidak mengenal ukuran, Lovi. Kau yang mengajariku itu, dengan timeline dua puluh enam Juni-mu yang melegenda."
Kami tertawa sampai tetangga mengetuk dinding—tradisi yang juga tidak berubah—dan kemudian, dalam keheningan sesudahnya, Ratih berkata dengan suara yang pelan dan jujur, suara Ratih yang hanya ada untuk lantai dapur dan sahabat dua puluh tahun: "Aku takut, Lovi. Bukan takut melahirkan. Takut menjadi ibu. Ibuku menjadikannya terlihat mudah, dan aku tidak tahu apakah aku punya bahan yang sama."
Dan aku menjawabnya dengan jawaban yang kupinjam dari semua yang sudah kami lalui berdua: "Kau punya bahan yang lebih baik: kau tahu bahwa kau takut, dan kau mengatakannya keras-keras. Ibu-ibu yang baik bukan yang tidak takut—tapi yang takut dan tetap belajar. Dan lagipula, kau tidak akan sendirian. Ada suami yang menangis di depan jendela, ada Tim Persiapan ibu-ibu keuangan, ada Bunda yang sudah memesan hak mengasuh, dan ada aku—tante resmi yang sudah dibayar di muka dengan kue. Anak itu akan lahir ke kerumunan yang berebutan mencintainya. Itu modal yang tidak semua anak punya."
Jam sepuluh malam itu, di video call, kuceritakan semuanya kepada Javar, dan ia diam sebentar sebelum berkata dengan senyum yang pelan: "Warung bakso itu akan punya pelanggan generasi kedua. Dan aku sudah bisa membayangkan pemiliknya menyiapkan kursi kecil. Semua yang berawal dari meja-meja kecil itu ternyata benar-benar tumbuh, Lovia. Satu per satu, semuanya tumbuh."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini kabar datang lewat sekotak kue: sahabatku akan menjadi ibu, dan sebuah rumah yang dulu sunyi akan berisi tangis kecil yang paling ditunggu. Aku memikirkan semua meja dalam cerita ini—meja pojok warung soto, meja kayu warung bakso, meja warung kopi bapak sopir—dan bagaimana meja-meja itu sekarang akan punya satu kursi kecil tambahan. Hidup memang paling pintar melanjutkan dirinya sendiri. Ia tidak pernah berhenti di satu generasi; ia selalu menulis halaman baru dengan tangan-tangan yang lebih kecil."
Dan untuk calon keponakanku, kalau suatu hari kau membaca halaman ini: tantemu sudah dibayar di muka dengan kue, dan ia berniat menagih sisanya seumur hidup.