26 JUNI 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Tempat itu adalah aula tua kampus kami.
Aku berdiri di depan pintu kayunya yang berderit dengan nada yang sama seperti dua tahun lalu, dan semuanya jatuh ke tempatnya dalam satu detik—bukit layang-layang itu untuk pertanyaan tentang peta, katanya dulu; pertanyaan yang ini layak mendapat tempatnya sendiri, kataku dulu. Dan tempatnya adalah ini: gedung tua tempat aku pertama kali melihatnya berdiri di podium dan pura-pura tidak memperhatikannya, gedung tempat dua orang yang dulu menjadi mahasiswa dan sekarang menjadi dua orang yang sudah selesai dengan delapan tahun yang salah.
"Masuklah," ucap Javar, membuka pintunya. "Ada yang ingin kutunjukkan."
Di dalam, aula itu tidak kosong—tapi juga tidak penuh. Kursi-kursi kayu yang berbaris itu kosong semua, kecuali satu hal: di setiap kursi, ada selembar kertas. Satu kursi, satu lembar. Dan ketika aku berjalan mendekat dengan langkah yang sudah mulai gemetar, aku melihat apa yang tercetak di kertas-kertas itu.
Halaman-halaman notebook kami.
Fotokopian halaman-halaman dari dua tahun kami—halaman pertama yang kutulis di kereta ("Hari pertama jarak"), halaman tentang Menara Eiffel, halaman tentang mangkuk soto sendirian di meja pojok, halaman tentang laporan tahunan dua kota, halaman tentang anak yang bertanya apakah tali masih ada kalau pemegangnya sudah di surga. Dan halaman-halamannya juga: tentang malam pertama di kamar kos, tentang dua puluh anak yang menunggu cerita, tentang tiga kandidat tempat. Puluhan kursi, puluhan halaman—dua tahun hidup kami duduk berbaris di aula itu seperti penonton yang datang lebih dulu.
Aku berjalan di lorong tengahnya pelan-pelan, membaca halaman demi halaman di kursi demi kursi, dan di setiap kursi aku melewati satu minggu, satu bulan, satu keputusan—sampai aku tiba di barisan paling depan, di satu kursi kosong tanpa kertas, di depan podium itu.
Dan Javar sudah berdiri di sana, di belakang podium kayu yang sama, dengan dua tangan di tepinya—persis seperti dua tahun lalu, saat ia berbicara kepada kursi-kursi kosong dan berkata, "kalian semua sudah pulang, tapi saya masih di sini."
"Saudari sekalian," ucapnya, ke arah kursi-kursi berkertas itu, dengan suara oratornya yang menggema—dan aku tertawa di tengah air mata yang sudah tidak bisa kutahan, "kalian semua sudah membaca halaman-halamannya. Jadi kalian tahu, hari ini saya tidak membawa naskah. Saya tidak pernah membawa naskah untuk hal-hal yang benar-benar penting."
Ia menoleh kepadaku, dan aula tua itu hening dengan cara yang hanya dimiliki gedung-gedung tua yang sudah menyimpan terlalu banyak suara.
"Dua belas tahun yang lalu, di podium ini, aku berbicara untuk pertama kalinya di depan umum—dan di barisan belakang, ada seorang mahasiswi yang pura-pura tidak memperhatikan. Aku tahu ia memperhatikan. Aku selalu tahu. Dan sejak hari itu, setiap kali aku berdiri di podium mana pun, di kampus mana pun, di depan siapa pun—aku mencari wajahnya di barisan belakang. Selama delapan tahun aku berpidato untuk kursi-kursi kosong karena wajah itu tidak ada. Dan selama dua tahun terakhir, aku tidak pernah lagi harus mencarinya, karena ia selalu ada—di barisan mana pun, di kota mana pun, di halaman mana pun."
Ia keluar dari balik podium, dan berjalan turun dari panggung, dan berhenti satu langkah di depanku—dan dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, dan ia berlutut di lantai panggung yang kayunya sudah tua itu, di depan puluhan kursi berisi dua tahun hidup kami.
"Diandra Lovia Saradika. Setahun yang lalu, di bukit layang-layang, kau memintaku menanyakan ini dengan kata-kata, di tempat yang dirancang khusus. Ini tempatnya: gedung tempat suaraku dimulai, dan tempat di mana aku pertama kali tahu bahwa aku ingin didengar olehmu—hanya olehmu—selama sisa hidupku. Aku tidak akan memintamu mengorbankan apa pun, karena kita sudah selesai dengan pengorbanan-pengorbanan yang salah. Aku hanya memintamu melanjutkan: dua kota, dua notebook, dua tangan di satu gulungan tali—menjadi satu rumah, satu buku, satu hidup yang kita tulis bersama di halaman yang sama." Ia membuka kotaknya, dan di dalamnya ada cincin yang sederhana—lingkaran polos dengan satu ukiran kecil di dalamnya yang nanti akan kubaca: dua titik yang tersambung satu garis. "Maukah kau menikah denganku?"
Dan aku—penonton paling setia di aula itu selama dua belas tahun—melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan penonton mana pun: aku berjalan naik ke panggung, ke belakang podium itu, ke tempatnya berdiri selama dua belas tahun, dan aku mengambil posisi di belakang podium kayu itu dengan dua tangan di tepinya, dan aku menjawab dari atas sana, dengan suara yang menggema ke seluruh aula, dengan kalimat yang sudah kusiapkan sejak setahun yang lalu:
"Saudara sekalian—" kataku kepada kursi-kursi berkertas itu, "saksi-saksi dari dua tahun kami—jawabannya adalah: mau. Resmi. Dengan kata-kata. Dari atas podium, supaya tercatat dengan benar untuk selamanya."
Dan aula itu meledak.
Dari pintu-pintu samping dan belakang, mereka berhamburan masuk—Bunda dengan tangis yang sudah tidak disembunyikan sama sekali, ibu Javar yang memeluk ayahnya yang korannya sudah benar-benar tidak ada di mana-mana, Ratih dengan perutnya yang sudah membuncit dan teriakan "AKU YANG PERTAMA DIPANGGIL SETELAH BUNDA, ITU KONTRAKNYA", Pak Bos yang bertepuk tangan dengan cara berdiri yang paling formal dari semua orang, Wisnu dengan pengeras suaranya—sungguhan, ia membawanya—yang mengumumkan "SAH! RESMI! TERCATAT DALAM RISALAH!" kepada seluruh aula, dan di barisan paling belakang, melompat-lompat supaya terlihat, dengan pita merah yang baru: Sari, yang berlari membelah lorong tengah dan menubruk kami berdua di kaki panggung sambil berteriak, "AKU TAHU DARI DULU! Aku yang kasih tahu Kak Javar tempat ini bagus! Aku konsultannya!"
Aku berlutut dan memeluknya di tengah aula yang riuh itu, dan ia berbisik dengan keras—bisikan Sari yang bisa didengar tiga dusun: "Kak Lovia, cerita yang tadi itu, itu cerita paling bagus. Lebih bagus dari layang-layang. Judulnya apa?"
Dan aku menjawabnya dengan jujur, sambil menatap Javar yang berdiri di sampingku dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum: "Belum ada judulnya, Sari. Cerita ini baru mulai ditulis. Dan kau akan jadi salah satu tokohnya."
EOF
echo done
Malam itu, di rumah Bunda yang penuh dengan dua keluarga yang merayakan sampai larut, aku menulis di notebook-ku—halaman yang kali ini kubacakan keras-keras kepada semua orang, karena halaman ini bukan rahasia: "Hari ini, di aula tempat semuanya dimulai dua belas tahun yang lalu, kursi-kursi kosong itu akhirnya terisi—oleh halaman-halaman kami sendiri. Dan aku menjawab dari atas podium, karena untuk sekali ini, akulah yang berbicara dan dialah yang mendengarkan dari barisan depan. Dua kota, dua notebook, dua tangan—menuju satu rumah, satu buku, satu hidup. Cincin di jariku berukiran dua titik yang tersambung satu garis. Dan aku tahu persis dua titik itu siapa, dan garis itu terbuat dari apa: soto, kereta, dan kata-kata yang akhirnya selalu diucapkan, tidak pernah lagi ditelan."