16 JULI 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Kardus itu tiba di kantor yayasan hari Kamis, dan Wisnu meneleponku dengan suara yang sudah tidak bisa dijaga sejak kata pertamanya: "Datang akhir pekan ini. Ada kiriman. Jangan tanya apa. Bawa Javar—tidak, Javar sudah di sini, Javar memang di sini, pokoknya kau yang harus datang."
Aku sudah tahu apa isinya, tentu saja—aku yang menandatangani persetujuan cetaknya di komite—tapi mengetahui dan memegang adalah dua hal yang berbeda, dan perbedaan itu baru kurasakan sepenuhnya Sabtu pagi, di kantor yayasan, ketika Wisnu membuka kardus itu dengan pisau yang ia pegang seperti pedang upacara, dan mengeluarkan satu eksemplar dan meletakkannya di tanganku.
Buklet itu kecil—dua puluh empat halaman, sampul berwarna kuning hangat dengan gambar layang-layang di atas bukit—dan di sampulnya, di bawah judul "Layang-Layang yang Tidak Mau Putus dan Cerita-Cerita Lain dari Titik Terang", ada tiga kata yang membuat tenggorokanku berhenti bekerja sebentar: "Oleh: Lovia Saradika."
Namaku. Di sampul buku. Dipegang oleh tanganku sendiri, yang dulu hanya menulis di notebook yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
Aku membuka halaman-halamannya pelan-pelan—ilustrasinya digambar oleh seorang relawan yayasan yang kuliah seni, dengan gaya yang hangat dan garis yang sederhana: layang-layang dengan tali yang melintang dari halaman ke halaman, kereta kecil yang membawa amplop-amplop, gubuk dengan pintu yang terbuka. Dan di halaman paling belakang, ada satu halaman yang membuatku harus duduk: profil penulis satu paragraf, dengan foto kecil, dan di bawahnya satu kalimat yang tidak kusangka akan ada di sana—"Sebagian dari penjualan buklet ini untuk umum akan kembali ke pos-pos belajar, supaya cerita-cerita ini terus berjalan ke anak-anak yang belum terjangkau."
"Itu idemu?" tanyaku kepada Wisnu.
"Itu ide komite kalian, disempurnakan oleh kami, disetujui oleh semua pihak yang berwenang, dan ditandatangani dengan penuh sukacita," jawabnya. "Buklet ini akan ada di dua tempat: gratis di semua pos belajar, dan dijual untuk umum—dan setiap rupiah dari yang dijual kembali ke pos-pos. Cerita yang membantu membangun tempat bercerita. Kau melingkar penuh, Lovia."
Sabtu malamnya, sebelum ke pos, aku pulang dulu ke rumah Bunda dengan satu eksemplar yang sudah kusisihkan sejak kardus itu dibuka—eksemplar yang di halaman dalamnya kutuliskan sesuatu dengan pena pemberian Javar. Bunda menerimanya di meja dapurnya, membacanya dari sampul ke sampul dua kali tanpa bersuara, dan kemudian membuka halaman dalamnya dan membaca tulisanku di sana: "Untuk Bunda, yang menyelundupkan bayam ke dalam bakso supaya anaknya tumbuh kuat. Buku ini diselundupkan ke dunia dengan cara yang sama—pelan-pelan, dengan sayang, tanpa anaknya sadar sudah jadi apa-apa. Ternyata kuncinya memang tidak pernah berubah: yang keras kepala untuk hal yang benar tidak pernah sia-sia."
Bunda membacanya dengan bibir yang bergetar, lalu menutup bukletnya, lalu berkata dengan nada yang dibuat setenang mungkin dan gagal sepenuhnya: "Buklet ini tidak boleh kena air. Akan kusimpan di lemari kaca, di sebelah piring-piring antik. Piring-piring itu turun satu tingkat mulai hari ini."
Akhir pekan itu juga, distribusi pertama dimulai—dan aku meminta satu kehormatan yang tidak bisa ditolak siapa pun: aku ingin menyerahkan eksemplar pertama kepada Sari, dengan tangan sendiri.
Maka Minggu pagi, di pos belajar pertama, di depan dua puluh anak yang sudah mendengar kabarnya entah dari mana (jaringan berita anak-anak adalah satu-satunya jaringan yang menyaingi pantry kantor kami), aku berlutut di depan Sari dan menyerahkan buklet itu ke tangannya yang kecil.
Ia memegangnya dengan dua tangan seperti memegang piala, dan membuka sampulnya, dan menatap gambar layang-layangnya lama sekali—dan kemudian ia menemukan sesuatu yang membuat matanya membesar: di halaman persembahan, di baris yang kuminta khusus kepada percetakan, tertulis: "Untuk Sari, yang memintaku bercerita, dan untuk semua anak yang sedang mencari talinya."
"Kak," ucapnya, dan suaranya untuk pertama kalinya tidak keras—pelan, hampir tidak terdengar, "namaku. Namaku ada di buku."
"Namamu memang harus ada di buku," jawabku. "Karena buku ini tidak akan ada kalau kau tidak memintaku bercerita. Jadi secara resmi, kau adalah penyebabnya. Itu tertulis dan tidak bisa diubah lagi."
Sari memeluk buklet itu ke dadanya—bukan memelukku, memeluk bukletnya, dan aku tidak tersinggung sedikit pun, karena aku mengerti—dan kemudian ia berdiri di depan teman-temannya, mengangkat buklet itu tinggi-tinggi, dan mengumumkan dengan suara mandornya: "MULAI HARI INI, AKU YANG MEMBACAKAN. Setiap ada anak baru, aku yang membacakan cerita ini. Kak Lovia yang menulis, aku yang membacakan. Itu pembagian kerjanya. Ada yang keberatan?"
Tidak ada yang keberatan. Tidak akan pernah ada yang keberatan.
Dan sore itu, saat kami berkendara pulang, Javar berkata dengan mata yang tetap di jalan dan senyum yang tidak: "Kau tahu apa yang baru saja kau mulai? Anak itu akan membacakan ceritamu kepada ratusan anak lain, tahun demi tahun, dengan suara yang semakin besar. Cerita yang baik memang selalu mencari pembacanya sendiri. Ia tidak butuh panggung besar—ia cuma butuh satu anak berpita merah yang percaya bahwa cerita itu penting, dan sisanya akan berjalan sendiri."
Seninnya, berita buklet itu sampai ke kantorku—lewat Ratih, tentu saja, yang sudah membualkannya ke satu gedung sebelum aku sempat memarkir mobil. Dan siang harinya, aku dipanggil ke ruangan Pak Bos, yang menunjuk satu buklet di mejanya dengan ketukan jari. "Aku membaca tiga ceritanya semalam. Ratih membacakannya keras-keras, dan aku tidak menyuruhnya berhenti." Ia menatapku dengan tatapan menimbang yang sudah lama tidak ia berikan—dan aku menyadari, kali ini tatapannya bukan menimbang pekerjaan. "Perusahaan akan membeli dua ratus eksemplar. Bukan disumbangkan—dibeli, dengan harga penuh, supaya angkanya berbalik ke pos-pos itu dua kali. Satu untuk perpustakaan kantor di setiap cabang, dan sisanya untuk paket akhir tahun karyawan. Ada anak-anak karyawan yang perlu membaca cerita tentang tali yang tidak putus. Termasuk satu yang sedang tumbuh di rumahku."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini aku memegang buklet pertamaku, dan seorang anak menemukan namanya tertulis di halaman persembahannya. Dua hal itu terjadi di hari yang sama, di pos yang sama, di lantai gubuk yang sama tempat aku dulu ragu-ragu bercerita. Dan aku mengerti sekarang bahwa cerita memang bukan milik penulisnya—cerita adalah milik anak yang menemukan namanya di dalamnya. Aku hanya menuliskannya. Merekalah yang membuatnya hidup."
Dan untuk pembaca halaman ini di masa depan: kalau kau menemukan buklet kecil bersampul kuning di sebuah pos belajar, ketahuilah—ia dimulai dari satu permintaan sederhana seorang anak berpita merah: "Jangan cuma bawa buku. Bawa cerita."
Itu saja. Hanya itu. Dan lihat apa yang terjadi kemudian.