15 APRIL 2023
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Pagi itu aku berdiri di depan cermin dengan gaun yang membuatku merasa dihormati, dan di sebelahku, di kursi rias itu, Ratih sibuk merapikan kerudungku sambil menangis sejak jam enam pagi—lebih pagi dari jadwal menangisnya sendiri di pernikahannya dulu, sebuah rekor yang ia banggakan dengan bangga yang tidak masuk akal.
"Kau tahu apa yang paling gila?" ucapnya, menyeka matanya untuk keempat belas kalinya. "Dua tahun lalu kita duduk di dapur kosmu, dan kau baru saja mulai berani lagi, dan sekarang kau di sini, dengan gaun ini, dan aku yang merapikan kerudungmu. Dua tahun, Lovi. Dua tahun yang panjang sekali kalau dihitung harinya, dan cepat sekali kalau dihitung keajaibannya."
Di ruang rias itu juga ada Bunda—yang sejak subuh sudah memeriksa semuanya tiga kali dengan mata yang merah tapi tangan yang stabil—dan ibu Javar, yang menyematkan sesuatu di gaunku tanpa mengumumkannya: sebuah bros kecil, bros perak yang sudah tua. "Pemberian ibu mertuaku," katanya pelan. "Dipakai ibuku saat menikah, dipakai aku saat menikah. Sekarang dipakai kamu. Bukan barang mahal—tapi barang yang sudah belajar dua kali bagaimana cara menjadi saksi yang benar. Dia akan menjagamu seperti dia menjaga kami."
Dan di kursi depan pendopo itu nanti, di antara Bunda dan ayah Javar, ada satu kursi yang disiapkan dengan foto dan bunga—kursi untuk ayahku, yang tidak sempat melihat hari ini dengan matanya, tapi yang hadir dengan cara yang disiapkan Bunda dengan tangannya sendiri. "Supaya dia tidak ketinggalan," kata Bunda. Dan ia tidak ketinggalan. Aku menyapa foto itu sebelum berjalan ke pendopo—menyapanya pelan, dengan dua jari menyentuh bingkainya, dengan bisikan yang hanya untuknya: "Aku berangkat, Yah. Doakan. Dan jangan khawatir—keras kepalanya masih ada, masih utuh, masih untuk hal yang benar."
Akad itu berjalan dengan khidmat yang membuat seluruh pendopo diam seperti satu tarikan napas. Pamanku—kakak Bunda, yang berdiri sebagai wali dengan jas yang sudah ia persiapkan sejak sebulan lalu dan latihan kalimat yang ia jalankan setiap malam (kata Bunda, ia berlatih di depan cermin sambil menyetir bajaj imajiner)—menjabat tangan Javar dengan tangan yang gemetar hanya sedikit, dan mengucapkan kalimatnya dengan suara yang besar dan jelas, dan Javar menjawabnya dengan satu tarikan napas yang utuh, dengan suara oratornya yang dua belas tahun dilatih di podium-podium, dengan lantang dan tegas yang membuat seluruh pendopo mengetahui dalam satu detik bahwa jawaban itu sah—sah, resmi, dengan kata-kata, dari atas segala podium kehidupan.
Dan aku menangis di kursiku—tidak bisa ditahan, tidak perlu ditahan—bersama dengan Ratih yang menangis lebih keras, ibu-ibu keuangan yang menangis berjamaah, Sari yang menangis sambil tetap menjalankan tugasnya sebagai koordinator tamu cilik ("berhenti menangis nanti saja, sekarang tugas dulu, ambilkan tisu untuk barisan depan"), dan Bunda yang menangis dengan tangan yang terus merapikan apa pun yang bisa dirapikan karena itulah cara Bunda menangis: dengan tetap bekerja.
Resepsinya berjalan dengan kehangatan yang tidak bisa dirancang oleh wedding organizer mana pun. Wisnu menjadi pembawa acara dengan pengeras suaranya—diturunkan volumenya atas perintah bersama dua keluarga, sebuah kompromi bersejarah—dan membuka acara dengan kalimat yang langsung membakar suasana: "Saudara-saudari, hari ini kita menyaksikan pernikahan dua orang yang membuktikan bahwa risalah yang baik bisa mengalahkan jarak, waktu, dan delapan tahun yang bodoh!"
Pak Willy menjalankan logistiknya dari pos komando di sudut tenda dengan earphone dan daftar periksa—penampakan yang membuat beberapa tamu mengira ada acara kenegaraan. Pemilik warung soto duduk di meja keluarga dengan baju terbaiknya, dan saat bersalaman dengan kami berdua ia berkata dengan mata yang berkaca: "Empat puluh tahun saya menunggu plakat itu ada buktinya. Hari ini buktinya berdiri dua orang. Taburannya dobel seumur hidup, dan itu sudah tercatat di buku warung, tidak bisa diubah siapa pun."
Dan anak-anak pos pertama—dua belas anak dengan seragam batik kecil yang disiapkan relawan—tampil membawakan satu lagu yang mereka latih diam-diam selama sebulan, dengan Sari sebagai dirigen yang mengangkat tangannya dengan keseriusan orkestra nasional, dan lagu itu—lagu sederhana tentang rumah—membuat seluruh pendopo bertepuk tangan sebelum bait pertama selesai karena tidak ada yang sanggup menunggu sampai akhir untuk berterima kasih.
Dan kemudian tibalah saat yang sudah diperingatkan Wisnu dalam rundown-nya sebagai "agenda utama yang tidak boleh diganggu dengan alasan apa pun": janji dari mempelai.
Javar berdiri di depan tanpa naskah—tentu saja tanpa naskah—dan berbicara tentang dua kota, tentang tali yang tidak putus, tentang delapan tahun yang mengajarinya bahwa melindungi bukan berarti memutuskan untuk orang lain, dan tentang dua tahun yang mengajarinya bahwa cinta yang benar adalah cinta yang ditulis bersama. "Aku tidak akan menjanjikan bahwa kami tidak akan pernah bertengkar," katanya, dan para tamu tertawa pelan, "karena kami sudah pernah, dan kami selalu menyelesaikannya sebelum matahari terbit. Yang aku janjikan adalah ini: tidak akan pernah ada lagi keputusan yang kuambil tanpa dirinya. Tidak ada lagi pergi tanpa pamit. Tidak ada lagi kata yang ditelan. Mulai hari ini, sampai halaman yang paling akhir, semua keluar lewat mulut—tidak ada yang lewat pintu."
Dan aku berdiri di sebelahnya, dengan bros perak dua generasi di gaunku, dan mengucapkan janjiku—janji yang kutulis sendiri di notebook, yang kubaca berulang sampai tidak kubutuhkan lagi teksnya, yang keluar dengan suara yang stabil meskipun hatiku tidak: "Aku berjanji untuk tidak pernah lagi menolak hal-hal yang baik untukku, dan kau adalah yang paling baik dari semuanya. Aku berjanji untuk terus menulis—cerita-cerita untuk anak-anak di pos-pos kita, dan halaman-halaman untuk rumah kita. Dan aku berjanji bahwa tali ini tidak akan pernah kulepas, di kota mana pun, di tahun mana pun, di halaman mana pun. Kau boleh terbang setinggi apa pun. Aku yang memegang ujungnya, dan genggamanku sudah lulus ujian dua kota."
Dan Pak Bos, yang diminta menutup rangkaian sambutan, berdiri dengan Nadia di lengannya—yang tidur sepanjang acara dan bangun tepat untuk momen ini, seolah sudah membaca rundown—dan berkata singkat dengan caranya yang tidak pernah panjang: "Saya sudah melihat dua pernikahan indah dalam dua tahun, dan dua-duanya berawal dari gedung yang saya pimpin. Maka secara resmi, mulai hari ini, saya menyatakan bahwa investasi terbaik perusahaan kami bukan di saham atau di tanah—melainkan di orang-orang yang berani membuka hatinya di tempat kerja. Untuk Lovia dan Javar: rumah kalian sudah lama dibangun, hari ini tinggal serah terima kuncinya. Selamat. Rawat baik-baik."
Kami menutup malam itu dengan berdiri berdua di tengah pendopo, dikelilingi semua orang yang kami sayangi—dua keluarga yang sudah menjadi satu, dua kota yang sudah menjadi satu, dua notebook yang besok akan digantikan satu—dan Javar berbisik di tengah keramaian itu, hanya untukku:
"Ineffable."
Dan aku menjawab, dengan senyum yang sudah tidak bisa diukur oleh kata apa pun: "Ineffable. Selamanya."