Berbeda dengan Nari yang sudah tertidur pulas di rumahnya, di sebuah rumah besar dengan fasilitas mewah justru menimbulkan keributan. Ruang keluarga yang seharusnya memeberikan kehangatan berubah menjadi tempat mengerikan bagi Rafa.
Ayahnya yang baru pulang kerja langsung memanggil Rafa ke ruang keluarga.Rafa sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi tetap saja ia merasa tertekan tiap kali harus berurusan dengan ayahnya.
"Kenapa kamu pukul anak itu?" Brama memang telah mendengar tentang perkelahian putranya dengan Jeka. Pihak sekolah menelpon pria itu, agar bisa menasehati Rafa. Bukannya guru-guru SMA Garuda tidak peduli, tapi Rafa adalah sosok yang susah diajak berdiskusi. Oleh karenanya, pihak sekolah mempercayakan orang tua Rafa.
"Mau sok jagoan kamu?" tambah Brama dengan tajam.
Rafa yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya kemudian mendongak, "Enggak, Pa"
Brama berdiri dari duduknya. Ia melempar asal dasi biru ditangannya, "TERUS APA?!"
Rafa diam.
"MAU BIKIN PAPA MALU?"
Rafa tetap diam. Ia tidak berniat bersuara lagi, karena apapun yang ia katakan tidak akan membuat ayahnya percaya. Rafa tahu itu semua, karena ia sudah berkali-kali melakukannya.
"DASAR ANAK BODOH!"
Plak.
Brama menampar Rafa dan membuat anaknya itu terhuyung ke samping.
"MAU JADI APA KAMU NANTI KALAU KERJAANNYA CUMA BERKELAHI?!" Brama meninju pipi kanan Rafa.
Rafa kali ini benar-benar tersungkur dilantai.
"MEMANGNYA KAMU SEPINTAR APA SAMPAI PUNYA WAKTU BERKELAHI HAH?!"
Rafa tidak tahan lagi.
Ia berdiri sambil menahan nyeri di pipinya, "Papa kira selama ini aku cuma berkelahi?" Rafa tersenyum miris lalu menatap dingin Brama, "RAFA BELAJAR PA! RAFA SELALU IKUTIN KEMAUAN PAPA!"
"BERANI KAMU MEMBENTAK SAYA?!"
Brama naik pitam melihat anaknya bersikap kurang ajar.
"APA YANG RAFA OMONGIN EMANG BENER KAN? PAPA MAU RAFA BELAJAR, RAFA BELAJAR. PAPA MAU RAFA KELUAR DARI KLUB FUTSAL, RAFA TETAP IKUTIN!" Rafa menarik dan menghembuskan pelan napasnya yang memburu. Segala unek-uneknya akhirnya tertumpahkan sekarang, "Tapi, apa pernah Papa sekali saja nanya selain nilai ujian? Atau Papa pernah nanya kemauan Rafa apa? Enggak kan? Yang ada diotak Papa cuma nilai,nilai, dan nilai! Papa gak pernah tahu seberapa capek Rafa selama ini. Rafa terbebani Pa!"
"BERANI KAMU SAMA SAYA? DASAR ANAK KURANG AJAR!" Brama tidak suka diceramahi apalagi disalahkan oleh anaknya sendiri.
"IYA! RAFA EMANG KURANG AJAR! TAPI INI SEMUA KARENA PAPA!"
Bukh.
Brama lagi-lagi menyakiti Rafa. Pria itu mendorong putranya ke belakang, sehingga punggung Rafa menabrak lemari kayu di sana.
"RAFA!" Priska berlari ke tempat putranya terjatuh. Wanita empat puluh lima tahun itu langsung membantu Rafa berdiri. "Papa apa-apaan sih?!"
"Kamu urus anak kurang ajar ini. Jangan tahunya cuma berkelahi saja!" Brama segera pergi ke kamar dan meninggalkan istri dan juga anaknya yang sibuk mengontrol emosi masing-masing.
"Rafa ayo duduk dulu" Priska mengajak Rafa duduk di sofa. "Biar Mama yang bicara sama Papa kamu nanti" kata Priska sambil melihat pipi Rafa yang membiru.
"Aaw" Rafa merasa kesakitan saat Priska menyentuh pipinya.
"Tunggu dulu ya" Priska lalu beranjak dari sana untuk menuju ke dapur. Tidak lama, ia lalu kembali dengan baskom kecil berisi air dan sebuah kain.
Priska duduk di samping putranya itu sambil mengompres pipi Rafa pelan-pelan. "Kamu kenapa lagi sama Papa?"
Rafa menghela napas pelan, lalu menatap ibunya, "Ma, apa Rafa masih bodoh?"
Priska terkejut mendengar ucapan Rafa. Ia tidak setuju dengan hal itu, bagaimana mungkin anaknya yang sering juara itu dibilang bodoh. "Siapa bilang? Kamu itu anak Mama yang paling pintar"
"Tapi, kenapa Papa masih menuntut Rafa? Apa belum cukup peringkat satu di kelas? Apa Rafa juga harus menggeser posisi Liana?"
Priska sangat tahu ke mana arah pembicaraan putranya itu. Liana, adalah gadis yang mendapat peringkat satu paralel sejak masih kelas 10, dan Rafa tepat dibawah gadis itu, peringkat kedua. Selama ini, Brama terus menuntut Rafa untuk menjadi yang pertama. Tapi, selama itu pula, Rafa hanya sanggup meraih yang kedua. Liana adalah saingan terberat Rafa dan akan menjadi sumber beban Rafa selama bersekolah di SMA Garuda.
"Apa yang kamu usahakan sudah bagus dan Mama bangga sama kamu" Priska mengelus rambut hitam Rafa yang mulai memanjang sedikit, "Bagi Mama peringkat satu di kelas sudah sangat cukup, dan peringkat dua paralel sudah sangat hebat. Pokoknya apapun yang bisa kamu raih selama itu hal positif, Mama pasti ikut senang dan bangga"
"Tapi Papa gak pernah merasa cukup dengan apa yang Rafa raih. Papa enggak pernah mau tahu kalau selama ini Rafa udah belajar mati-matian biar bisa geser posisi Liana. Apa Rafa salah karena gak bisa penuhin permintaan Papa?"
Priska menggeleng kuat, "Enggak, Rafa gak salah sama sekali. Apa yang Rafa sudah lakukan patut dihargai"
Rafa tiba-tiba berdiri dan mengejutkan Priska yang ingin kembali mengompres putranya itu, "Tapi Papa gak pernah menghargai usaha Rafa" Rafa langsung berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.
Priska menatap sedih punggung putranya yang menjauh. Sejujurnya ia sangat kasihan melihat Rafa yang terlalu di tuntut Brama. Priska tahu betul kalau Rafa sangat frustasi karena hal itu. Andai saja Priska bisa membujuk suaminya, sudah pasti Rafa tidak akan menjadi sosok yang dingin seperti sekarang ini.
***
Rafa berbaring di tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna cokelat. Pikirannya dipenuhi dengan segala makian Brama yang selalu ia dapatkan ketika terlibat masalah.
Selalu seperti itu.
Rafa mendengus kasar. Ia teringat akan sosok kakaknya yang selalu berbuat kesalahan bahkan lebih parah dari Rafa, tapi kenapa Haris tidak pernah mendapat hukuman? Ini tidak adil.
Rafa dan prestasinya justru kalah dengan Haris yang penuh masalah.
Brama benar-benar pilih kasih.
Mengingat Haris, tiba-tiba Rafa memikirkan Nari.
Cewek itu sepertinya kenal akrab dengan Haris yang notabenenya selalu dingin dengan orang baru. Tapi bagaimana bisa dia merobohkan dinding itu dalam waktu singkat?.
Belum lagi perihal kemampuan Nari yang lumayan bagus. Membuat Rafa sangat kesal. Cukup Liana saja, jangan tambah lagi saingannya.
Namun seketika pikiran Rafa terlempar saat berada di rumah Raya. Saat menerima telpon dari ibunya, samar-samar Rafa bisa mendengar jika Raya dan Nari membicarakan tentang senter. Memang tidak ada yang spesial dari kata 'senter' itu, tapi Rafa juga mendengar jika Nari akan pulang berjalan kaki.
"Emangnya dia mau ngeronda?" Rafa tertawa pelan jika hayalannya benar-benar kenyataan.
Andai saja Rafa tahu alasan Nari meminta senter, sudah dipastikan cowok itu akan mengejek atau justru kasihan? Entahlah.
Hati Rafa terlalu dingin untuk mengasihani orang lain. Hidupnya saja masih berantakan, jadi untuk apa memikirkan urusan orang lain yang sama sekali tidak menguntungkan baginya.
Merepotkan memang tapi entah kenapa dia justru menawarkan tumpangan untuk Nari.
"Dia datang sama gue berarti pulang sama gue juga" Rafa meyakinkan dirinya jika bentuk bantuan yang ia berikan pada Nari hanya semata-mata karena prinsipnya itu.
Tapi kini, Nari diantar oleh Haris.
Rafa gagal memegang prinsipnya kali ini.