"RAM, SI JEKONG NGAMBIL PULPEN GUE NIH!"
"AWAS-AWAS ADA AIR PANAS"
"JESYA SINI LO!"
"BON, TANGKEP!"
Semenjak kabar bahwa hari ini Bu Nada tidak masuk dan hanya menitip tugas, membuat kelas kembali menuju habitat aslinya. Hutan.
Ram alias Ramsyah Anandra sudah sangat capek memegang tanggung jawabnya selama tiga bulan ini. Menjadi ketua kelas bukan pilihannya, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus tetap mengurus manusia-manusia setengah waras ini.
Ram memijit pangkal hidungnya dan menhela napas pasrah. Lagi dan lagi, kelas menjadi pasar ikan. Berisik. "Sampai kapan gue jadi ketua kelas?", tanya Ram kepada dirinya sendiri.
"Sampai dunia api menyerang", sahut Dino—teman sebangku Ram yang sedang bermain game diponselnya.
"Suka-suka lo!", balas Ram.
Dari belakang Ram, seseorang menyahut, "Yaelah Ram, di bawa santai aja. Lagi pula jadi ketua kelas itu keren loh. Calon pemimpin di masa depan".
Ram sontak berbalik dan menatap tajam Fira. "Apanya yang keren kalau harus ngurus bayi gak waras?!".
Fira terkekeh melihat kekesalan di wajah Ram. Cowok itu memang tidak sudi ketika diberi jabatan ketua kelas. Bagaimana tidak? Ia tidak pernah mengajukan diri, tapi dengan lancangnya semua orang di kelas ini justru menunjuk dirinya. Kata mereka, Ram adalah sosok pemimpin yang cocok untuk 11 IPA 2 dan di tambah satu-satunya cowok terwaras di kelas ini. Mengingat ketika kelas 10 mereka memilih Bondan menjadi ketua kelas, bukannya bertanggung jawab tetapi justru ikut andil memporak-porandakan kelas. Benar-benar hancur. Dari luar Bondan terlihat tegas tapi setelah di tindak lebih lanjut ia tetap sama dengan sepuluh cowok lainnya minus Rafa dan Ram.
Berbicara tentang Rafa, entah bagaimana ceritanya ia menjadi wakil ketua kelas. Seluruh penghuni 11 IPA 2 tidak ada yang memilihnya saat pemilihan pengurus kelas. Seharusnya posisi wakil ketua kelas di duduki Gara, tapi Pak Dito selaku wali kelas bilang bahwa Rafa lebih cocok berkerja sama dengan Ram. Entah di mana letak kecocokan itu. Di lihat dari sisi manapun, Ram dan Rafa itu tidak ada akrab-akrabnya. Bahkan berbicara saja tidak lebih dari tiga menit, itupun mereka hanya berbicara tentang tugas yang biasa di titip ke Ram atau mereka berdua bersama Caca—sekretaris kelas dan Mia—bendahara kelas berdiskusi mengenai urusan kelas. Itu saja Rafa hanya berbicara sekali dua kali, selebihnya mengikut dengan yang lain.
"BERITA TERBARU!" Dalam satu tarikan napas, Gara berteriak di depan pintu. Napasnya yang putus-putus menandakan bahwa cowok itu baru saja berlari.
"Apaan?" tanya Sari yang sibuk mengecat kukunya menjadi merah darah. Sangat indah untuk kulitnya yang putih.
Meski Gara sudah sangat serius berdiri di depan kelas, namun cuma satu dua orang saja yang menyimak, selebihnya masih tetap melakukan hal-hal ajaib.
"BAKAL ADA ANAK BARU DI SINI" Gara menjawab dengan lantang.
Seketika seluruh aktivitas di kelas terhenti. Bahkan, Hasna yang sedang menyuap bekal nasi goreng kesukaannya terhenti di udara. Mungkin kelihatan berlebihan, tapi untuk pertama kalinya mereka akan mendapat teman baru. Sontak saja semua siswa memgerumuni Gara.
"Serius lo?"
"Cewek apa cowok?"
"Bahaya nih kalau masuk sini, bisa-bisa dia jadi gesrek"
Kurang lebih seperti itu pembicaraan yang mereka utarakan.
***
Semenjak Nari ketahuan oleh neneknya, ia terpaksa pindah sekolah. Lebam-lebam di tangan yang sering ia tutupi oleh baju lengan panjang, ternyata tidak mampu menipu mata neneknya.
Hampir tiap hari Nari di bully oleh teman sekelasnya sendiri, mungkin lebih tepat jika di sebut musuh saja.
Nari yang memang terkenal akan kejeniusannya membuat Dina naik pitam. Ia sudah lama berusaha menyingkirkan Nari dari posisi pertama, namun segala usahanya sia-sia. Bahkan, les sana sini tidak membuatnya menjadi peringkat pertama.
Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya adalah cara terbaik Nari untuk menghilangkan kegugupannya. Sekarang ia sudah berada di salah satu sekolah negeri di daerahnya. Meski bukan sekolah unggulan seperti yang di mimpikannya, namun Nari tetap bersyukur masih bisa melanjutkan pendidikan di saat kondisi perekonomiannya jauh dari kata cukup. Semuanya serba pas-pasan. Tapi, ia beruntung bisa menerima beasiswa full di sekolah barunya, berkat kemampuan yang ia miliki.
Sambil memegang erat kedua tali tasnya, Nari mengikuti seorang guru memasuki sebuah kelas.
Pada langkah yang ketiga Nari berhenti.Kaget dan bingung dengan apa yang di lihatnya sekarang. Namun, guru yang bersamanya tadi terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak terganggu dengan kondisi di hadapan mereka berdua.
"Jeka, pasang dasi kamu!"
"Raya, berhenti bercermin!"
"Rapikan meja mu, Bondan!"
"Siska, bawa bedak kamu ke meja saya!"
"Roni, simpan sapu dan ember itu!"
Nari tidak mungkin salah dengar saat kepala sekolah menyebut nama kelasnya. Ia yakin ia berada di kelas 11 IPA 2. Dan lagi, seperti di sekolahnya yang dulu, anak IPA tidak ada yang pernah berbuat seperti kacau ini. Bahkan ini lebih seperti kelas IPS dengan segudang anak bermasalah.
Setelah semua perintah guru tadi terlaksana, Nari mulai memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan, nama saya Hanari Anista. Saya pindahan dari SMA Cendana"
"Anak yang ingin di tanyakan?" tanya guru itu kepada 26 siswa di hadapannya.
"Saya—"
"Baik kalau tidak ada pertanyaan, sekarang kamu duduk di sana" guru itu menunjuk sebuah meja yang terletak di belakang bagian tengah.
Nari mengangguk lalu berjalan ke tempat duduknya yang akan ia tempati setahun kedepan.
"Itu saja yang ingin saya sampaikan. Selamat pagi" guru beranjak dari sana, meninggalkan para murid dengan wajah penasaran.
"Sial, padahal gue mau bertanya!" Kiko sangat kesal karena tadi ucapannya di potong. Bukan sekali itu saja ia di perlakukam oleh Pak Gema–guru yang mengantar Nari. Saat masih kelas satu ia berada di kelas 10 IPA 4, dan kebetulan ia mendapat siswa pindahan juga. Namun, ketika ingin bertanya, Pak Gema yang lagi-lagi mengantar siswa baru itu memotong ucapannya. Entah salah apa Kiko sampai di perlakukan seperti itu, ia juga tidak tahu.
"Yaelah Kik, lo itu haru peka dong kenapa Pak Gema motong omongan lo mulu" Kata Dimas yang notabenenya adalag teman sebangku Kiko.
"Emang kenapa?"
Dengan senyum tertahan sambil memasang ancang-ancang untuk berlari, Dimas berteriak "OMONGAN LO GAK BERKUALITAS"
"AWAS LO!" Kiko berlari keluar kelas menyusul Dimas yang tertawa terbahak-bahak.
Nari yang melihat hal itu terlihat kaget bukan main. Apalagi di tambah dengan kelakukan absurd teman sekelasnya yang lain. Makan, main bola dari kertas, berdandan, tidur, dan belajar.
Belajar?
Mungkin dari 26 siswa di kelas ini, kecuali dirinya, masih ada satu orang yang memiliki sifat keambisan khas anak IPA meski tidak ada guru. Di bangku kedua sebelah kanan, anak berkacamata itu terlihat membaca sebuah buku. Tebal. Nari yakin seratus persen, itu bukan novel.