Tidak sia-sia Nari berlari sepanjang koridor bahkan hampir tersandung karena ia bisa tepat waktu masuk dalam kelas.
Sepanjang proses pembelajaran biologi, Nari terus membayangkan tulang-tulangnya sendiri.Meski sebelumnya Nari sudah pernah membaca tentang anggota gerak tubuh,tapi tetap saja Nari belum terlalu paham.
Memang sangat beda jika dijelaskan dengan guru, pikir Nari.
"Baik anak-anak, sekarang saya akan berikan waktu lima belas menit untuk menghafal letak dan nama latin dari setiap tulang. Nanti saya akan menunjuk beberapa siswa secara acak. Dan seperti biasa, yang tidak tahu jawabannya akan saya beri hadiah" kata Pak Bram sambil tersenyum di akhir kalimatnya.
"Yah..." beberapa siswa terlihat mengeluh dengan penyakit Pak Bram yang suka menunjuk siswa seenaknya.
"Tugas kemarin aja belum selesai. Masa di tambah lagi?" keluh Hasna sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Nari yang mendengar suara di benturan kecil di samping mejanya langsung mengalihkan pandangannya dari papan tulis. "Kenapa lo?" Nari bingung melihat Hasna yang justru menutup matanya, padahal mereka sedang diberi tugas.
Hasna membuka kembali matanya dan menatap Nari, "Nar, lo ngerasa gak kalau Pak Bram itu kelewatan?"
Nari mengernyit bingung, "Kelewatan?"
Hasna menegakkan punggungnya kembali. Mengatur posisi duduk sebaik mungkin kemudian meneliti wajah Nari, "Lo emang gak ngerasa ada yang salah?"
"Emangnya apa sih yang salah?" Nari benar-benar tidak mengerti maksud Hasna.
"Gak jadi" Hasna kembali menjatuhkan kepalanya dengan posisi membelakangi teman sebangkunya itu.
Nari yang melihat Hasna yang kembali tidur, cuma bisa mengedikkan bahunya. Ia tidak mengerti dan tidak mau ambil pusing dengan apa yang dimaksud Hasna tadi. Nari kembali menghafal seperti sebelumnya.
Di tempat lain namun ruangan yang sama, seorang cowok yang tengah bermain ponsel di bawah meja tidak merasa terganggu sama sekali meski jelas-jelas teman sebangkunya menatap sinis ke arahnya.
"Ayo...ayo... Sial!" decak Dino pelan karena akhirnya ia kalah.
"Berisik lo!" Ram yang sedang menghafal merasa terganggu karena keributan kecil yang sedari tadi terus Dino ciptakan.
"Santai aja kali Ram" Dino menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu membuka buku cetak miliknya yang belum ia buka sama sekali, "Gue aja belum hafal apa-apa"
"Pengen banget lo di kasih hadiah Din?" Fira yang berada di belakang Ram langsung ikut nimbrung, setelah menghafal beberapa tulang. Iya, Hari ini Fira menjadi tipe ambis parah.
Merasa namanya di sebut, Dino pun membalikkannya badannya. "Kayak lo udah hafal aja" cibir Dino.
"Dih, gue udah hafal dong"
"Masa? Emang lo udah hafal berapa?" Dino belum percaya dengan ucapan Fira.
"Tujuh!" jawaban ucapan Fira yang sangat menggebu-gebu, membuat Dino tertawa keras.
"BERISIK!" tepat di depan Dino, seorang cowok berkacamata dengan lantangnya berteriak ke arah mereka.
Pak Bram yang dari tadi keluar dan belum datang juga memang membuat kelas kembali riuh. Anak-anak tipe ambis parah sudah menegur tapi mereka tidak peduli. Namun, kali ini Rafa langsung angkat suara setelah dari tadi menahan diri.
Suara-suara yang tadinya terdengar di kelas 11 IPA 2 berangsur-angsur hilang. Meski masih ada beberapa yang tetap membuat keributan kecil, dan tidak peduli dengan teriakan Rafa barusan.
"Karena menang badan doang, lo pada mau di teriakin gitu" kata Jeka sambil berjalan keluar kelas.
"Apa lo bilang?" Rafa berdiri dari kursinya masih dengan tatapan ke papan tulis, namun detik berikutnya ia menatap tajam ke arah Jeka.
Jeka yang mendengar ucapan Rafa barusan berhenti tepat di ambang pintu. Ia kemudian berbalik saat merasa seseorang berjalan ke arahnya.
"Lo itu cuma menang di badan doang" jawab Jeka sambil tersenyum kecil.
Bukh!
Satu pukulan awal dari Rafa membuat Jeka terhuyung ke belakang. Tidak terima dengan nyeri di pipi kanannya, Jeka langsung membalas dengan pukulan di pipi juga.
Aksi pukul memukul pun terjadi.
"WOI! WOI! WOI!" Bondan yang melihat pertama langsung berlari ke depan memisahkan kedua petarung itu.
"RAFA, JEKA, BERHENTI!" Ram yang sudah kembali fokus menghafal justru dibuat sibuk lagi.
Caca berteiak histeris melihat hidung Jeka yang mengekuarkan darah "ASTAGA JEKONG!"
"RAFA UDAH!" Mia langsung menarik tangan Rafa, namun ia justru terdorong ke samping dan menyebabkan cewek itu menabrak meja.
"MIA!"
***
"Sekarang kalian jelaskan apa penyebab perkelahian ini?" Pak Budi mengawali pembicaraan dihadapan kedua muridnya.
Karena perkelahian tadi, Rafa dan Jeka akhirnya dibawa ke ruang BK oleh Pak Bram. Sebenarnya mereka bisa saja tidak perlu berurusan dengan guru BK, namun tidak ada niatan untuk mengatakan sumber masalah dan berdamai, membuat mereka berdua harus terseret ke ruangan 4 x 5 meter itu.
"Jeka, ada masalah apa ini sebenarnya?" ulang Pak Budi karena tidak mendapat jawaban dari kedua muridnya.
Jeka mendengus pelan sambil melirik Rafa yang menatap ke bawah lantai, "Tanya aja sama dia, Pak"
Dengan sigap, Rafa langsung menarik kasar kerah Jeka, "Apa lo bilang?!"
Melihat kedua muridnya yang siap memulai perkelahian Pak Budi langsung menggebrak meja, "BERHENTI KALIAN!"
Pak Budi kemudian memijit pelan keningnya lalu menghela napas pasrah, "Sekarang kalian saya hukum saja. Tidak ada gunanya berbicara lagi"
Pak Budi lalu berdiri dari kursinya, "Kalian berdua ikuti saya"
Rafa dan Jeka pun berdiri dari kursi mereka, lalu mengikuti Pak Budi keluar dari ruangan itu.
Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor lantai dua. Melalui beberapa kelas yang tak sedikit menarik perhatian ke arah mereka. Bagaimana tidak? Lebam-lebam di wajah Rafa dan Jeka masih tercetak dengan jelas meski mereka berdua tidak mengeluh sakit sama sekali.
Sebuah ruangan berpintu satu dengan tulisan yang bergantung di pintu, membuat Jeka mengernyit bingung, "Lah, Pak, kok di WC sih?"
"Kamu jangan protes. Sekarang masuk dan bersihkan sampai bersih!" perintah Pak Budi kemudian langsung meninggalkan Jeka dan Rafa di pintu toilet laki-laki.
"Males banget seruangan sama lo!" ucap Jeka dengan sinis sambil membuka pintu toilet tersebut.
Rafa yang masih mematung di luar toilet hanya bisa menghela napas dengan kasar. Hukuman membersihkan toilet tidak masalah bagi Rafa. Hanya saja, ia baru saja menciptakan masalah baru yang menunggunya di rumah.
Tidak ingin memikirkan hal itu, Rafa langsung masuk ke toilet laki-laki. Ia harus membersihkannya segera, agar bisa masuk di pelajaran berikutnya.
"Sorry" ucap Rafa tiba-tiba setelah selesai membersihkan bilik ketiga.
Jeka yang saat itu sedang berdiri di wastafel untuk mengelap cermin yang bergantung di sana, sontak berbalik. "Lo barusan bilang apa?"
Rafa menutup bilik ketiga itu lalu bersandar di sana, "Maaf soal yang tadi"
Ini bukan pertama kalinya Jeka berbuat masalah. Tapi ini pertama kalinya ia bermasalah dengan Rafa, spesies yang dingin dan anti sosial. Jadi jelas saja, saat mendengar kata 'maaf' dari mulut cowok itu, Jeka justru melongo seperti orang bodoh. "Lo sakit?"
"Gue cuma mau bilang itu" Rafa kemudian berjalan ke pintu keluar toilet "Gue udah bersihin tiga bilik seperti ucapan lo"
Jeka yang masih mematung di posisinya cuma menanggapi ucapan Rafa dengan anggukan kecil. Jeka masih berusaha mencerna kejadian barusan. Rafa yang memukulnya dan meminta maaf juga pada hari yang sama tanpa paksaan dari siapapun.