Aira keluar dari ruang ganti dengan membawa handuk kecil di tangannya. Matanya memindai dan mencari keberadaan Wira untuk menanyakan dimana personal trainer yang akan melatihnya.
Aira terus mencari di ruangan penuh orang-orang yang tengah berolahraga tersebut, saking fokusnya sampai tak menyadari jika dia tengah menjadi objek tatapan beberapa pria di sekitarnya. Sebenarnya tubuh Aira cukup bagus bahkan tanpa latihan berlebihan sekalipun, memang Aira berniat melakukannya untuk menghabiskan waktu luang saja, apalagi dia tak mau berlama-lama di rumah mertuanya.
Beberapa saat mencari dia memutuskan bertanya pada seorang wanita berseragam office girl. “Permisi, Mbak. Lihat Mas Wira?”
Wanita itu mengernyit. “Wira? Oh, Coach Wira?”
Aira mengangguk.
“Dia sedang melatih di sebelah sana.” tunjuknya pada beberapa orang wanita yang tengah berkumpul. Di depan mereka Wira tengah menerangkan cara untuk menggunakan alat- alat olahraga dengan baik dan benar lewat tayangan vidio.
Aira melangkah mendekat, semakin dekat dan justru melihat tatapan nakal dari para wanita tersebut pada Wira.
Memang benar, harus Aira akui diantara semua pria yang ada disana hanya Wira yang menarik banyak perhatian termasuk dirinya.
Wajahnya hitam manis dengan kulit sawo matang dan tubuh atletis yang menggoda. Otot-otot yang tak terbalut singlet hitamnya mulai berkilau karena keringat sebab pemanasan yang dia lakukan.
“Sudah ganti bajunya?”
Aira mengangguk. Saat tatapan Wira jatuh pada bagian perut Aira yang terbuka sebab hanya mengenakan sport bra pria itu mengernyit namun tak mengatakan apapun.
“Ayo ikut pemanasan dengan yang lain.”
Aira lagi- lagi hanya mengangguk dan mengikuti instruksi Wira untuk melakukan pemanasan di barisan belakang sebelum mulai olahraga lainnya.
….
“Gimana perasaan kamu?” Wira memberikan sebotol minuman pada Aira.
“Keringetan.” Aira terkekeh lalu membuka botol minumannya dan meneguknya. Air meleleh sedikit dari ujung bibirnya dan melewati lehernya, yang dengan cepat Aira seka dengan handuk kecil di tangannya. Nafasnya yang terengah menunjukkan jika dia masih merasa efek lelah dari menaiki treadmil. Wira menyarankan agar Aira memulai dari yang mudah karena pemula, sebelum ke alat lain yang lebih berat.
“Kamu juga bisa ikut kelas yoga, kalau mau yang lebih ringan. Bisa menenangkan pikiran juga.”
Wira tak memalingkan wajahnya dan hanya menatap Aira tak peduli Aira jadi salah tingkah karenanya. “Tubuh kamu sudah bagus sebenarnya. Gak perlu terlalu berat.”
Wira memindai ke bawah, “Perut rata dan bookong yang lumayan sekal, bahkan bagian d**a yang sempurna.”
Wajah Aira memerah. Mendapat pujian seperti itu tentu saja hatinya sedikit senang. Terlebih Heru yang selalu acuh bahkan hanya memuji dingin membuat Aira kesal. Padahal tubuhnya ini memang menggoda dan sempurna, dan Wira pun mengakuinya.
“Tapi, hati- hati adik ipar banyak mata yang melihat kamu. Kamu yakin Heru gak akan cemburu?”
Semburat di wajah Aira sedikit memudar. Heru tidak akan peduli.
“Gak kok, Mas.” Aira tersenyum canggung.
“Kalau aku pasti cemburu. Apalagi kalau sampai semua mata tertuju padamu seperti sekarang.”
Aira mengerutkan keningnya lalu menatap Wira. Apa maksud pria ini bicara begitu?
“Siapa yang gak tergoda melihat perut kamu yang terbuka? Atau belahan d**a kamu.” Suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya.
Aira kembali terdiam, namun kali ini dia melihat dirinya, lalu sekitarnya. Tak ada yang aneh beberapa orang juga mengenakan pakaian yang sama sepertinya, kenapa Wira terganggu dengannya? Karena dia istri Heru, adiknya?
“Saranku pakai yang lebih tertutup kalau gak mau kamu diterkam mereka, adik ipar.” Wira menggerakkan kepalanya pada sekumpulan pria yang memang memperhatikan mereka, lebih tepatnya memperhatikannya.
Aira menelan ludahnya kasar lalu melebarkan handuknya ke bagian d**a demi menutupi bagian yang terbuka itu. Meski handuk kecil itu tak bisa menutupi semuanya.
“Mas kok ngomong begitu?”
Wira terkekeh melihat wajah Aira yang ketakutan.
“Orang-orang juga pake kayak gini gak papa?”
“Karena kamu memang menarik perhatian mereka.”
“Ya gimana, udah terlanjur beli lagi.” Aira mengeluh, dia bahkan membeli beberapa setel sport bra dengan beberapa warna berbeda.
“Kamu bisa pakai di rumah.” Wira menjauh lalu pergi meninggalkan Aira yang tertegun.
Pakai dirumah?
Kenapa pikirannya jadi kemana-mana…
….
Aira pulang di jam sebelas siang. Wajahnya lebih segar sebab sebelum pulang dia membersihkan dulu tubuhnya di toilet ruang ganti wanita.
Aira pulang dengan taksi sementara Wira harus melatih kelas lain.
Saat tiba di rumah wajah ketus Tantri menyambutnya. “Siang, Bu.” Aira menyapa.
“Jam segini baru pulang?” Tantri berucap sedikit kesal.
“Maaf, Bu. Karena pemula aku agak lama.” Padahal Aira hanya dua jam di sana sisa waktunya habis di perjalanan.
“Ya udah siapin makan siang sana. Ayah pulang sebentar lagi.”
“Iya, Bu.” Aira pergi ke lantai atas untuk menyimpan tasnya lebih dulu lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Aira memasak semua menu untuk makan siang, menu dengan bahan yang sudah lebih dulu disiapkan oleh Tantri, hingga semua masakan tersedia di meja makan bertepatan dengan Aby dan Wira pulang ke rumah.
Tepat pukul satu siang keduanya pulang untuk makan siang sebelum kembali untuk bekerja.
“Kapan kamu mau periksa?” Aira yang tengah mencuci piring bekas makan mereka menoleh saat terdengar suara Tantri.
“Periksa apa, Bu?”
“Kesuburan kamu?” Gerakan Aira terhenti punggungnya tiba-tiba terasa dingin.
“N—anti tunggu Mas Heru, Bu.”
Tantri berdecak. “Heru kan sibuk, kamu periksa sendiri sajalah.”
Aira melipat bibirnya dengan tangan yang masih terus bergerak membersihkan piring- piring kotor itu.
“Aku gak tahu harus kemana, Bu.” Suara Aira lebih kecil dan mencicit, rasanya tiap di singgung soal anak Aira merasa hatinya sakit.
“Ya tinggal ke bagian obgyn, periksa rahim kamu, selesai.”
Terdengar sepele, tapi percayalah jika ada di posisinya akan sakit hati. Aira membasuh lengannya lalu berbalik saat kegiatan mencucinya selesai.
“Iya, Bu.” Hanya itu yang bisa Aira katakan. Pasrah saja dengan apa yang Tantri katakan.
Baru akan pergi Tantri melihat Wira yang baru turun dari lantai satu.
“Nah, Wira kamu antar Aira sana!”
Wira yang di panggil tiba-tiba mengernyit. “Kemana?”
“Dokter obgyn, periksa rahim Aira!” Setelahnya Tantri pergi meninggalkan Aira yang menunduk dalam dengan Wira yang menatapnya masih dengan dahi yang mengernyit.