Byung Joo sibuk menulis sesuatu di dokumennya ketika suara pintu ruangannya terbuka, menampilkan sosok wanita dengan pakaian rapi berjalan ke arahnya. Tatapan wanita itu sama sekali tidak menunjukkan keramahan atau perasaan senang karena datang menemui Byung Joo. Justru sebaliknya, wajah wanita itu terlihat kesal menatap suaminya yang sedang sibuk dengan dokumen di depannya, tanpa memedulikan kedatangannya.
“Kenapa? Kau ingin mengatakan sesuatu yang tidak penting lagi?” tanya Byung Joo tanpa menoleh pada Mi Jung sedikit pun.
Mi Jung mendesis kesal. Dia menarik kursi kosong di seberang meja Byung Joo. “Tidak bisakah kau berhenti memukul Seo Jin? Apa kau lupa apa yang terjadi padanya terakhir kali karena kau memukulinya?!” Jelas sekali jika wanita itu sedang berusaha menahan kemarahan dalam dirinya saat ini. Mengingat apa yang terjadi pada putra satu-satunya dua hari lalu, Mi Jung merasa bersalah karena telah menyuruh Seo Jin datang berkunjung.
“Jika aku tahu kau masih bersikap seperti itu padanya, aku tidak akan pernah memintanya datang menemuimu!” Kalimat itu sama sekali tidak membuat Byung Joo menatap ke arah Mi Jung.
“Kau hanya terlalu lembek padanya,” sahut Byung Joo dengan nada santai.
Mi Jung mendelik. “Terlalu lembek? Apa kau tahu bahwa dia pernah merasa sangat ketakutan hanya dengan mendengar namamu saja?! Apa kau lupa apa yang terjadi padanya lima belas tahun lalu?!” Kali ini, kalimat Mi Jung membuat Byung Joo menghentikan menulis sesuatu di dokumennya, ia mengangkat kepalanya lalu menatap Mi Jung dengan sorot mata tajam menusuk.
“Apa kau hanya bisa menggunakan mulutmu seperti ini?” tanya Byung Joo mulai naik pitam.
Mi Jung tersenyum miring. Dia terlihat tidak gentar dengan tatapan Byung Joo saat ini, seperti sudah terbiasa menghadapi suaminya dengan sorot mata itu. Meski keduanya telah hidup bersama selama hampir tiga puluh tahun, tak ada hari tenang bagi keduanya.
“Apa kau ingin aku menggunakan mulut ini untuk mengatakan yang sebenarnya pada Seo Jin, bagaimana caramu menyingkirkan gadis itu dan keluarganya.”
Mendengar kalimat itu, Byung Joo berdiri dari duduknya dengan kasar lalu berjalan menghampiri Mi Jung. Byung Joo menarik lengan Mi Jung dengan kasar hingga wanita itu berdiri dari duduknya.
“Lakukan jika kau ingin hidup putramu hancur karena mulutmu sendiri! Lakukan jika kau juga ingin merusak kariernya!” desis Byung Joo tepat di depan wajah Mi Jung.
Mi Jung terenyak. Wajahnya perlahan berubah memucat. Byung Joo sepertinya tahu benar bahwa Mi Jung tidak akan sanggup melakukan hal itu, karena jika begitu, Mi Jung juga akan menghancurkan hati dan hidup Seo Jin. Tentu dia sebagai seorang ibu tidak akan bisa melihat putranya semakin menderita seperti itu.
“Kau tidak bisa, bukan?” Byung Joo meremas lengan Mi Jung dengan erat. “Karena itu, tutup mulutmu selamanya. Jangan pernah katakan apa pun pada Seo Jin tentang kebenaran lima belas tahun lalu, kecuali kau ingin melihat putramu hancur!” Byung Joo menyentak lengan Mi Jung dan melepaskannya dengan kasar. Dia berjalan memutari meja lalu duduk kembali di kursinya dengan tenang. Sedangkan Mi Jung masih mematung di tempat dengan wajah memucat.
“Apa kau akan terus berdiri di sana?” tanya Byung Joo saat Mi Jung tak kunjung beranjak keluar dari ruangannya. “Kau harus tetap menjalani hidupmu seperti sebelumnya. Kau tetap bisa berpura-pura tidak melihat dan mendengar apa pun!” tambah Byung Joo dengan nada dingin yang menusuk.
Mi Jung tersadar. Dia membalikkan tubuhnya, menatap Byung Joo penuh kemarahan. “Kau memang iblis b******k!” maki Mi Jung sebelum akhirnya melangkah dengan kasar keluar dari ruangan kerja Byung Joo dan membanting pintu dengan keras.
Sepeninggal Mi Jung, Byung Joo tak bisa lagi berkonsentrasi dengan dokumen di depannya, pikirannya menjadi kacau karena perdebatan yang terjadi antara dirinya dan Mi Jung. Pria itu menutup dokumennya dengan kasar lalu melempar gelasnya ke dinding dengan marah.
••••
Beberapa pelanggan Daebak Kafe terlihat saling berbisik dan mencuri pandang ke arah Ji Hoon yang sedang sibuk membersihkan meja di dekat mereka. Sementara Ji Hoon tidak menyadari bahwa dia sedang menjadi pusat perhatian para pelanggan perempuan, pria itu terus melakukan aktivitas-aktivitas bahkan ketika Da In masuk ke dalam Kafe, Ji Hoon masih fokus dengan apa yang dia lakukan.
“Apa ini caramu membuat para pelanggan disini betah?” Sebuah suara ringan itu membuat Ji Hoon berpaling.
“Da In-ah,” sapa Ji Hoon dengan ramah. Dia menyelesaikan mengelap meja di depannya dan menyambut Da In, para pelanggan perempuan yang sejak tadi memperhatikannya seketika memberengut melihat keakraban Da In dan Ji Hoon.
Da In duduk di salah satu meja yang dekat dengan meja barista. “Bagaimana mungkin kau tidak menyadari bahwa semua perempuan disini sedang menatapmu seperti singa yang kelaparan,” ujar Da In mengedikan dagunya. Mereka seketika mengalihkan wajah ke arah lain saat Da In melirik ke arah mereka.
Ji Hoon tertawa renyah mendengar candaan itu. Di menarik kursi di depan Da In, lalu melepaskan apron yang sejak tadi dipakainya.
“Tapi sepertinya hanya kau yang tidak menatapku seperti singa yang kelaparan,” ujar Ji Hoon jenaka.
Da In tertawa pelan. “Kenapa aku tidak melihat Young Eun?” Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke arah meja barista, namun tidak menemukan Young Eun di sana.
“Dia bilang sedang ada urusan di suatu tempat,” ujar Ji Hoon. Dia sendiri tidak tahu di suatu tempat dimana lebih tepatnya.
“Pantas, dia membuat bos-nya harus bekerja seperti ini.” Meski kalimatnya terdengar serius, namun Da In mengatakannya dengan nada bergurau.
“Bukankah itu bagus? Aku membuat para pengunjung betah di sini,” gurau Ji Hoon.
Da In tersenyum. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya. “Apa sunbae tahu Young Eun memiliki kekasih?” Pertanyaan itu membuat Ji Hoon sedikit terkejut, namun dia berusaha menyembunyikannya dengan menggelengkan kepalanya. “Jika begitu, bukan sunbae yang membuatnya mabuk dan kesal kemarin?”
“Mabuk?” tanya Ji Hoon kembali terkejut.
Da In mendesis pelan. “Dia terlihat sangat kesal. Seperti baru saja dicampakkan,” sahut Da In. Dia bertopang dagu, ada binar lain dalam sorot matanya ketika menatap Ji Hoon.
“Ah ... begitu.” Ji Hoon tidak tahu harus mengatakan apa untuk memberikan respons. Sebenarnya dia merasa ingin tahu, tapi sedikit malu untuk bertanya pada Da In lebih jauh.
Da In terdiam sejenak, dia seperti ragu untuk mengatakan sesuatu. “Bagaimana dengan kencan butamu?” Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Ji Hoon menjadi gugup di tempat duduknya.
“Kau tahu sendiri, aku selalu mengacaukannya,” ujar Ji Hoon dengan nada pelan. “Meski begitu, ibuku tidak pernah menyerah.” Terlihat sekali wajah Ji Hoon sedang kesal bercampur tertekan dari paksaan ibunya yang menyuruhnya untuk berkencan dan segera menikah.
Da In menganggukkan kepalanya mengerti. “Melihat usiamu memang sudah seharusnya kau menikah,” sahut Da In dengan nada enteng, tidak peduli dengan delikan sebal dari Ji Hoon.
“Lagi pula, perempuan seperti apa yang kau inginkan, sunbae? Padahal sejak di SMA, kau cukup populer, tapi tidak pernah mengencani gadis mana pun. Bahkan, kau juga menolakku saat itu.” Da In mengatakannya seperti tidak ada beban sedikit pun.
Ji Hoon yang mendengar kalimat itu merasakan perasaan bersalah untuk sekian kalinya setiap kali teringat dengan apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Da In di masa lalu. Perempuan itu dulu pernah menyatakan cinta padanya dan berkata bahwa Ji Hoon adalah cinta pertamanya, namun Ji Hoon tidak pernah membalas pernyataan cinta Da In atau pun memberikan respons pada perempuan itu.
“Aku ...”
“Tidak masalah. Itu sudah lama sekali, aku tidak menyimpan dendam pada sunbae,” ujar Da In dengan senyum jenaka.
Ji Hoon tersenyum dan mengangguk pelan. Dia merasa semakin tidak enak pada Da In setiap kali mereka membahas tentang masa lalu.
“Ah ..., benar! Aku datang untuk memesan satu caramel macchiato.”
“Baik. Aku akan membuatkan yang spesial untukmu.” Ji Hoon bangun dari duduknya dan berjalan menuju meja barista. Pria itu tidak menyadari senyuman di bibir Da In perlahan menghilang ketika pria itu berbalik pergi.
Da In menghela napas panjang. Sebenarnya masih ada luka dalam hati Da In karena perasaannya pada Ji Hoon masih sama seperti dulu. Hanya saja, dia tidak mau mengungkitnya lagi dan memilih untuk tetap menyimpannya diam-diam, karena Da In tahu Ji Hoon menyukai Young Eun, sejak dulu.
••••
Young Eun memicingkan kedua matanya, menatap pria yang duduk di depannya. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a, lalu berpaling pada Tae San yang duduk di samping Seo Jin.
“Jadi, apa yang akan kita bicarakan?” tanya Young Eun ingin tahu. “Kau membuatku harus izin bekerja hari ini, ku harap pembahasan kita kali ini bukan sesuatu yang sia-sia,” ujar Young Eun mengukir senyum manis yang dibuat-buat. Sebenarnya dia merasa kesal pada pria yang duduk tepat di depannya, yang terus menatapnya dingin dan datar.
“Kita akan membicarakan kontrak.” Seo Jin memberikan isyarat pada Tae San. Mengerti dengan maksud pria itu, Tae San mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Young Eun.
Young Eun sejenak menatap kertas di depannya dengan kening berkerut, lalu beralih menatap Seo Jin. “Apa ini?”
“Baca dengan hati-hati,” perintah Seo Jin.
Young Eun mencibir pelan melihat sikap Seo Jin yang menjengkelkan itu. Dia mengambil kertas tersebut lalu mulai membaca kalimat paling atas yang tertulis di sana dengan ekspresi terkejut.
“Kontrak perjanjian kerja?” desis Young Eun menatap dua pria didepannya bergantian.
Seo Jin menegakkan tubuhnya. “Mulai sekarang, kau adalah pihak B dan aku adalah pihak A.” Seo Jin mulai menjelaskan. “Nomor satu, pihak B wajib ikut ke mana pun pihak A pergi sebagai asisten pribadi, tanpa terkecuali. Nomor dua, pihak B wajib menjaga rahasia pihak A sampai dia mati.” Young Eun sudah melotot kesal mendengar Seo Jin membacakan isi kontrak perjanjian itu sejak awal. Bagaimana bisa pria di hadapannya ini begitu tidak berperasaan.
“Nomor tiga, pihak B wajib melindungi dan menjaga pihak A dengan cara apa pun ketika salah satu kepribadian muncul. Nomor—“
“TUNGGU!” seru Young Eun memotong perkataan Seo Jin dengan cepat. “Apa kau sudah gila? Kenapa dari pasal satu sampai empat sangat merugikan pihak B? Apa ini kontrak p********n?!” Young Eun melempar kertas di tangannya ke atas meja dengan penuh kekesalan.
Seo Jin melipat kakinya, meletakkan kertas kontrak tersebut ke atas meja. “Apa kau baru saja menolak? Kau sungguh ingin namamu menghiasi tag line berita bulan ini denganku?” Jelas sekali jika saat ini Seo Jin mulai mengancamnya.
“YA! Kenapa jadi kau yang mengancam? Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu? Kau yang akan dirugikan jika sampai ada skandal buruk tentangmu!” Young Eun merasa gusar dengan ancaman Seo Jin. Padahal sebenarnya jika skandal dan rumor itu keluar, bukankah yang paling rugi adalah Seo Jin, pria itu pasti akan kehilangan kariernya. Young Eun cukup tahu bagaimana cara kerja media hiburan di Korea.
“Aku sudah biasa dengan berita semacam itu, lagi pula aku tidak akan jatuh miskin hanya karena skandal itu,” ungkap Seo Jin dengan raut wajah angkuh.
“Dia benar.” Tae San yang sejak tadi diam diantara keributan dua orang itu menyahut. “Para penggemar Seo Jin tentu tidak akan diam saja jika mereka tahu kau adalah perempuan yang menjalin hubungan diam-diam dengan pria yang mereka sukai. Kau pasti tahu benar bagaimana fanatiknya penggemar Seo Jin.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tae San, Young Eun mulai gentar. Dia teringat dengan perang legendaris yang pernah terjadi antara penggemar Sechskies dan penggemar HOT yang pernah bertengkar di depan umum karena persaingan antara idol mereka. Membayangkan jika Young Eun di serang secara langsung oleh penggemar Seo Jin, mungkin dia tidak akan selamat.
Young Eun menggelengkan kepalanya keras. Membayangkannya saja dia sudah merasa sekujur tubuhnya gemetaran. Dia menatap Seo Jin dengan bibir terkatup rapat, sebelum akhirnya mengangguk dan berkata, “baik. Aku akan setuju!” ujarnya masih dengan nada terpaksa.
“Nomor empat, pihak B tidak boleh pergi tanpa seizin dari pihak A dan tidak boleh menyembunyikan apa pun dari pihak A, terutama berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh semua kepribadian.” Seo Jin menyunggingkan seulas senyum tipis setelah selesai membacakan setiap pasal di dalam kontrak perjanjian mereka. “Dan nomor lima, pihak A maupun pihak B, tidak boleh terikat perasaan satu sama lain. Jika melanggar, maka kontrak perjanjian selesai dan pihak B harus melupakan apa pun tentang pihak A.”
Sementara Young Eun terlihat lemas setelah membaca semua isi kontrak tersebut. Dia menyenderkan punggungnya di sofa lalu menghela napas panjang. “Benar-benar s**l,” umpat Young Eun pelan. “Lagi pula, siapa yang akan jatuh cinta pada pria sepertimu,” gumam Young Eun pelan. Tae San tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat bagaimana tak berdayanya Young Eun dengan isi surat kontrak tersebut.
“Mulai besok kau sudah harus mulai bekerja dan tinggal disini!” Seo Jin beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya. Pria itu diam-diam tersenyum tipis.
“Mulai sekarang, kau akan merasakan bagaimana menjadi budaknya,” ujar Tae San pada Young Eun dengan air muka simpati. “Semangat, Young Eun-sshi!”
Young Eun menegakkan tubuhnya dan menatap Tae San dengan wajah memucat. “Apa dia benar-benar seorang psikopat?”
Tae San mengangguk tanpa ragu. “Makanya, jangan pernah berusaha memancingnya,” ujar Tae San memberikan nasihat yang semakin membuat Young Eun kesal sekaligus sakit kepala.
“Aish! Seharusnya aku tidak pernah bertemu dia!” dengus Young Eun mengentakkan kakinya kesal. Kesialan dalam hidupnya kembali dimulai.
••••