Young Eun turun dari dalam mobil ketika melihat Seo Jin bergerak keluar dari dalam mobil yang terparkir di halaman rumah mewah di depannya. Young Eun memandang Seo Jin lalu berpaling ke sekelilingnya dengan tatapan heran sekaligus terkagum dengan luasnya halaman rumah dan mewahnya rumah di depannya ini, bisa dibilang jika rumah ini lebih mirip seperti kastil, benar-benar mewah dengan interior yang klasik.
“Apa kau akan berdiri di sana terus?” tanya Seo Jin menyadarkan Young Eun. Perempuan itu seketika tersenyum dengan canggung dan bergegas berjalan mengekor di belakang Seo Jin.
“Bukannya kita akan makam malam? Kenapa datang ke sini? Memangnya ini rumah siapa?” tanya Young Eun yang tak bisa menyembunyikan keingintahuan dalam dirinya.
“Rumah orang tuaku,” sahut Seo Jin dengan enteng.
Jawaban singkat dan dengan nada tenang itu seketika membuat Young Eun menghentikan langkahnya dengan wajah terkejut seperti baru saja mendengar petir di tengah hari.
“Jadi, maksudnya kita ... ah, maksudnya aku makan bersama ... orang tuamu?” tanya Young Eun dengan dua mata membulat sempurna.
Seo Jin menghentikan langkahnya lalu menatap Young Eun. “Kenapa? Kita hanya akan makan malam, bukan pergi ke kandang singa.” Seo Jin mengatakannya dengan nada enteng, seolah-olah hal ini bukan masalah besar baginya.
Berbanding terbalik dengan reaksi Young Eun, perempuan itu justru merasa mereka akan masuk ke dalam kandang singa. Young Eun tidak tahu kenapa Seo Jin memintanya datang untuk makan malam dengan orang tuanya, sedangkan dirinya bukan siapa-siapa yang pantas untuk berada di tengah acara keluarga semacam ini.
“Tunggu dulu!” sergah Young Eun dengan ragu. “Kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kita akan makan malam di sini,” ujar Young Eun setengah merengek.
“Kau sudah setuju,” sahut Seo Jin tanpa rasa bersalah.
“Lagi pula, ini terasa sama menakutkannya dengan masuk ke dalam kandang singa,” gumam Young Eun. Pada akhirnya dia mengikuti langkah Seo Jin di belakang punggung pria itu dengan perasaan bercampur aduk.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah, sudah ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan mereka dan mengantar mereka menuju meja makan. Mereka harus berjalan melewati lorong kecil dan sebuah ruangan besar sebelum akhirnya sampai di meja makan.
Young Eun tiba-tiba merasa tubuhnya berubah menjadi kerdil ketika melihat kedua orang tua Seo Jin sudah duduk di meja makan besar dengan hidangan mewah itu menatap ke arahnya dengan penuh pertanyaan.
“Dia adalah asisten pribadiku, aku harus selalu membawanya bersamaku.” Seolah mengerti dengan apa yang akan di tanyakan oleh ayah dan ibunya, Seo Jin sudah lebih dulu menjelaskan.
Young Eun dengan senyum seramah mungkin, memberi salam pada ayah dan ibu Seo Jin lalu menarik kursi yang ada tepat di samping Seo Jin. Young Eun hanya bisa menunjukkan senyum manis dan ramah ketika Kim Byung Joo menatap ke arahnya dengan tatapan tajam, membuat Young Eun bergerak gelisah di tempat duduknya.
“Syukurlah jika dia asisten pribadimu, ibu pikir kau mau memperkenalkan pacar.” Mi Jung berujar dengan nada lega, tak memedulikan perubahan raut wajah Seo Jin saat ini.
“Aku pikir kau tidak akan datang setelah tindakan kurang ajarmu,” ujar Byung Joo dengan tak acuh.
Seorang pelayan menuangkan minuman ke gelas Young Eun dan Seo Jin. Young Eun hanya bisa bergumam pelan mengucapkan terima kasih, dia melirik Seo Jin yang terlihat biasa saja dengan kalimat yang dilontarkan oleh Byung Joo. Hanya melihat sekilas saja, Young Eun tahu bahwa hubungan ayah dan anak itu sama sekali tidak berjalan dengan baik.
“Aku datang hanya karena ibu memaksaku,” ujar Seo Jin dengan nada biasa. “Lagi pula, sebesar apa pun pemberontakan yang aku lakukan, ayah tidak akan pernah melepaskan ku.” Byung Joo meletakkan sumpitnya di atas meja dengan suara keras, membuat Young Eun sedikit berjingkat kaget.
“Aku sudah mengatakan ratusan kali padamu untuk berhenti dari pekerjaan konyol ini. Lagi pula, apa yang kau dapatkan? Popularitas? Kau bisa memilikinya dengan menjadi penerus keluarga ini.” Byung Joo meneguk minumannya dengan cepat, menatap Seo Jin dengan tajam.
Young Eun tak bisa melanjutkan menyuap makanan ke dalam mulutnya dengan tenang saat melihat situasi di atas meja makan yang semakin memanas. Sedangkan Mi Jung melempar senyum tipis pada Young Eun.
“Sepertinya kau tidak perlu meributkan hal itu di atas meja makan. Seharusnya kau mengatakan hal yang baik pada Seo Jin karena dia sudah bersedia datang ke sini.” Mi Jung mencoba untuk menengahi situasi di antara mereka.
“Ke ruanganku, sekarang!” Byung Joo beranjak dari tempat duduknya.
Seo Jin yang sejak tadi berusaha bersikap tak peduli dan tetap menyuap makanan ke dalam mulutnya, berhenti saat Byung Joo memberikan perintah itu.
“Tunggulah di sini,” ujar Seo Jin pada Young Eun. Dia lalu menatap Mi Jung sejenak. “Jangan membuatnya mengalami kesulitan dengan bertanya macam-macam padanya,” tambah Seo Jin pada Mi Jung.
“Kau harusnya mencemaskan dirimu. Kau selalu menyulut kemarahannya,” ujar Mi Jung dengan nada kesal bercampur cemas, namun Seo Jin hanya melempar tatapan tak peduli dan berjalan menuju lantai dua.
Sementara Young Eun yang ditinggalkan sendirian di meja makan dengan Mi Jung, bergerak dengan tidak nyaman di tempat duduknya. Young Eun mencoba untuk melanjutkan menyantap makanannya, namun urung saat Mi Jung mengalihkan pandangan ke arahnya dengan tatapan ingin tahu. Sekilas melihat wajah Mi Jung saja, membuat perasaan Young Eun semakin tidak nyaman. Jika tahu dia akan berakhir di sini, Young Eun tidak akan pernah menyetujui permintaan konyol Seo Jin, ini seperti menyuruh Young Eun masuk ke dalam kandang singa secara sukarela.
“Ngomong-ngomong, aku belum pernah melihatmu saat Seo Jin datang ke sini terakhir kali. Berapa lama kau sudah bekerja dengan putraku?” Meski nadanya terdengar ramah, namun tak bisa dibilang jika wajahnya juga ramah. Pertanyaan itu justru terdengar seperti intimidasi bagi Young Eun.
“Baru sekitar dua Minggu,” ujar Young Eun dengan ragu. Dia meremas jemarinya yang saling bertautan dengan gugup bercampur gelisah.
“Siapa namamu?” tanya Mi Jung tak acuh. Dia mengusap mulutnya dengan sapu tangan setelah menyelesaikan makan malamnya.
“Seo ... Young Eun,” sahut Young Eun dengan nada sopan.
Mi Jung yang tadinya hendak meneguk wine di gelasnya, tangannya terhenti di udara. Wajahnya berubah pucat dengan mata bergetar menatap ke arah Young Eun setelah perempuan itu menyebutkan namanya.
“Seo ... Young Eun?” ulang Mi Jung dengan nada gemetar.
Young Eun menjadi kebingungan dengan reaksi yang diberikan oleh Mi Jung setelah dia menyebutkan namanya. Bahkan kedua tangan wanita itu terlihat gemetar lalu dengan cepat Mi Jung menyembunyikannya di bawah meja.
“Margamu ... Seo?” tanya Mi Jung lagi masih dengan suara gemetar yang sama. Wanita itu seperti baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia dengar sama sekali. Ia seolah merasa membuka kotak Pandora hanya karena sebatas bertanya tentang nama perempuan di hadapannya.
“Apa ada masalah, nyonya?” tanya Young Eun semakin kebingungan saat melihat wajah pucat Mi Jung. Wanita itu perlahan beranjak berdiri dengan gerakan pelan, namun jelas sekali bahwa dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari raut wajahnya.
Young Eun tak bisa mengatakan apa pun lagi ketika Mi Jung bergegas pergi dari meja makan dengan raut wajahnya yang pucat, meninggalkan tanda tanya besar dalam benak Young Eun.
•••••
PLAK!
Suara tamparan keras memenuhi ruangan kerja Byung Joo. Bukan pertama kalinya Seo Jin menerima pukulan di wajahnya dan bukan pertama kalinya dia membuat ayahnya marah seperti saat ini. Seo Jin menjadi terbiasa menghadapi dan menerima perlakuan ayahnya, hingga dia tidak merasakan sakit, karena hati dan tubuhnya sudah menjadi kebal karena pukulan yang selalu dia dapatkan sejak masih anak-anak. Akan tetapi, karena hal itu pula, luka serta rasa sakit yang dia derita dan dia pendam selama bertahun-tahun, menggerogoti jiwanya secara perlahan.
Seo Jin bukan anak yang pembangkang sebenarnya, hanya saja setiap kali Byung Joo tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh Seo Jin atau ketika Seo Jin tidak melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan oleh Byung Joo, ayahnya tidak akan pernah ragu untuk memarahinya hingga memukulnya. Sewaktu kecil, Seo Jin kerap kali dikunci di gudang bawah tanah setiap dia melakukan kesalahan dan setiap itu pula dia hanya bisa menangis dan memeluk kedua lututnya tanpa bisa melakukan perlawanan.
Seo Jin tersenyum sinis setelah menerima tamparan keras di pipinya. Dia menatap ayahnya dengan berani.
“Sampai kapan?” tanya Seo Jin dengan suara dalam dan rendah. “Sampai kapan ayah akan memperlakukan anakmu sendiri seperti sampah? Apa ayah pikir aku akan menurut setiap kali ayah memukulku? Apa ayah pikir aku akan menuruti semua keinginan ayah setiap kali ayah mengunciku di gudang bawah tanah?” Seo Jin mendesis pelan.
“Sejak kecil ayah tidak pernah memperlakukan aku dengan manusiawi! Ayah selalu memukulku ketika aku melakukan kesalahan! Ayah selalu marah setiap kali aku tidak bisa menuruti keinginan ayah! Bagaimana ... BAGAIMANA BISA ORANG SEPERTI ITU PANTAS AKU SEBUT SEBAGAI AYAH?!”
Ketakutan seorang anak kecil yang dulu sering terkunci di dalam gudang bawah tanah yang sepi dan gelap, kini tak ada lagi. Seo Jin yang berdiri di hadapan Byung Joo adalah Seo Jin yang tidak akan menerima apa pun yang dilakukan Byung Joo pada dirinya.
“Kau ... sekarang kau semakin berani membantah dan membalas kata-kataku?!” geram Byung Joo semakin menyulut oleh kemarahan. Dia kembali melayangkan pukulan lebih keras ke wajah Seo Jin hingga membuat pria itu limbung dan jatuh.
Byung Joo menatap Seo Jin dengan marah. “KAU BENAR-BENAR ANAK TIDAK BERGUNA! UNTUK APA KAU DATANG KE SINI LAGI?! KAU HANYA MEMBUATKU SEMAKIN INGIN MEMBUNUHMU!” Byung Joo berteriak dengan suara menggelegar. Kali ini dia menendang tubuh Seo Jin dengan membabi buta. Byung Joo berjalan menuju tempat dia meletakkan tongkat golfnya, nyaris saja benda itu akan memukul wajah Seo Jin jika Mi Jung yang mendengar teriakan marah Byung Joo tidak segera menerobos masuk ke dalam ruangan dan berusaha menghentikan Byung Joo untuk sekian kalinya.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” HENTIKAN!! KAU BISA MEMBUNUHNYA!” teriak Mi Jung dengan histeris. Dia berusaha menjauhkan Byung Joo dari Seo Jin yang masih terduduk di lantai dengan wajah datar. Sudut bibirnya sudah berdarah, sedangkan pipi kanannya memerah karena pukulan dari Byung Joo, namun Seo Jin sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikit pun.
“BIARKAN AKU MEMBUNUH ANAK TIDAK BERGUNA ITU!” teriak Byung Joo berusaha mendorong Mi Jung menjauh dan menghalanginya untuk menghajar Seo Jin. “BERHENTI MEMBELA ANAK TIDAK BERGUNA INI!” Mi Jung tidak peduli dengan teriakan Byung Joo, dia terus bersusah payah menahan Byung Joo agar tidak bisa mencapai Seo Jin.
Young Eun yang mendengar kegaduhan tersebut, bergegas berlari ke lantai dua tanpa berpikir dua kali. Saat Young Eun sampai di ruangan dengan pintu terbuka tersebut, matanya membulat lebar saat melihat Mi Jung yang masih berusaha menenangkan Byung Joo dan Seo Jin yang terduduk di lantai dengan wajah memar.
Seo Jin tak menunjukkan reaksi apa pun, dia hendak berdiri dari posisinya ketika Young Eun menatapnya dari mulut pintu, namun kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit diiringi dengan bunyi berdenging keras di kedua telinganya, Seo Jin kembali tumbang. Sedangkan Young Eun saat melihat kondisi pria itu, berlari dan berusaha membawa Seo Jin yang mengerang kesakitan untuk pergi dari sana.
“KAU SAMA TIDAK BERGUNANYA KARENA MELAHIRKAN DIA!” teriak Byung Joo pada Mi Jung.
“MEMANGNYA KENAPA?! LEBIH BAIK KAU MEMBUNUHKU KARENA AKU YANG MELAHIRKAN DIA!!” balas Mi Jung histeris. “CEPAT! BUNUH AKU!”
Byung Joo membuang napas kasar lalu melempar tongkat golfnya ke lantai. “KELUAR!” perintah Byung Joo. “KELUAR SEKARANG!!”
Mi Jung tak segera beranjak dari sana. Napasnya masih menderu cepat karena emosi dalam dadanya. “Kau pikir Seo Jin benar-benar lupa akan perbuatanmu pada keluarga anak itu? Kau pikir Seo Jin tidak ingat sama sekali tentang kejadian lima belas tahun lalu?” Kalimat itu seketika membuat Byung Joo menatap Mi Jung dengan wajah terkejut.
••••
Young Eun bersusah payah membopong Seo Jin menuju mobil dengan dibantu oleh salah satu pelayan. Young Eun mengucapkan terima kasih pada pelayan tersebut setelah membantunya memasukkan Seo Jin ke dalam mobil. Young Eun berusaha mencari obat Seo Jin yang ada di laci dasbor mobil, namun saat ia membuka botol obat tersebut, tak ada satu pun yang tersisa di dalam sana.
“Aduh! Bagaimana ini? Obatnya habis,” keluh Young Eun semakin panik. Dia berusaha menenangkan Seo Jin yang masih terus mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya.
“Seo Jin-sshi, tolong tenangkan dirimu. Tolong ... ku mohon, tarik napas pelan-pelan.” Kalimat Young Eun sama sekali tidak membuat keadaan Seo Jin membaik. Pria itu semakin meringkuk di tempat duduknya seraya memegangi kepalanya.
Young Eun berusaha menggeledah tasnya dan berganti ke dalam tas Seo Jin, berharap menemukan sisa obat Seo Jin. Di tengah kepanikan yang melanda Young Eun, Seo Jin tiba-tiba memegang lengan Young Eun dengan erat, membuat perempuan itu berhenti menggeledah tas Seo Jin dan menatap pria itu dengan wajah tegang.
“Seo Jin-sshi?” panggil Young Eun dengan ragu saat melihat Seo Jin tiba-tiba diam dengan kepala menunduk. “Seo Jin-sshi? Kau baik-baik saja?” Perlahan, Seo Jin mengangkat kepalanya, menatap Young Eun dengan seulas senyum tipis namun hangat.
Menyadari apa yang terjadi saat ini, wajah Young Eun seketika pucat pasi. “Si-siapa ...?” tanya Young Eun dengan suara sedikit bergetar bercampur ragu.
Seo Jin tersenyum dengan ramah dan hangat, semakin menimbulkan kerutan tebal di kening Young Eun. Tentu bukan pertanda yang baik jika Seo Jin menunjukkan senyuman seperti saat ini. “Kim ... Nam Jung.”
Seketika jantung Young Eun seperti melorot turun dari tempatnya.
“Astaga! Tidak sekarang ...,” keluh Young Eun putus asa.
•••••••