Langkahnya tenang tertata menaiki setiap anak tangga. Air mukanya masih sama dingin seperti biasa. Sorot matanya menatap tajam pada sebuah pintu yang berjarak lima meter di depannya. Seo Jin hanya menatap datar pada pelayan yang membungkuk memberi salam padanya saat mereka berpapasan di dekat tangga. Tanpa keraguan sedikit pun, Seo Jin membuka pintu berwarna putih gading di hadapannya, menampilkan sebuah ruangan luas dengan desain minimalis yang di d******i warna krem dan coklat.
Ada beberapa lukisan karya pelukis terkenal tergantung di dinding ruangan, sebuah meja besar ada di tengah ruangan, lalu satu set sofa berwarna putih gading ada di sudut lain yang berdekatan dengan lemari dan rak yang dipenuhi dengan dokumen. Seo Jin mengedarkan pandangannya ke arah jendela ruangan, mendapati sosok pria dengan setelan jas mahal sedang berdiri di sana, seperti sedang menunggu kedatangannya.
“Selamat siang, ayah.” Seo Jin memberi salam.
Kim Byung Joo—pria itu berbalik menatap ke arah Seo Jin, lalu berjalan ke mejanya dan duduk di kursi. Ia memberikan isyarat tangan pada Seo Jin untuk duduk di kursi seberang mejanya. Seo Jin menurut tanpa mengatakan apa pun.
“Apa kau masih akan terus bermain-main?” Byung Joo menatap Seo Jin dengan tatapan tegas. Wajahnya yang mulai dipenuhi oleh garis keriput halus, tak bisa menyembunyikan ketampanannya sewaktu muda. Bisa semua orang ketahui bahwa wajah tampan Seo Jin tentu di dapat dari Byung Joo, meski begitu Seo Jin tak pernah merasa mirip dengan ayahnya.
“Kau adalah penerus Sujin grup, sampai kapan kau akan berkeliaran di luar sana sebagai penghibur?” Kalimat yang diucapkan dengan nada santai itu justru terasa menyakitkan untuk Seo Jin.
“Apa aku pernah mengatakan pada ayah akan menjadi penerus Sujin?” tanya Seo Jin dengan tatapan dalam.
Byung Joo mengeraskan rahangnya. “Aku memberimu waktu terlalu banyak selama ini. Menurutmu kenapa aku masih diam saja dengan apa yang kau lakukan?” Byung Joo menatap Seo Jin dengan tajam. Sejak Seo Jin memutuskan untuk menjadi seorang entertainment, Byung Joo marah besar dan menghajar pria itu habis-habisan. Bahkan Byung Joo mengusir Seo Jin tanpa memberinya apa pun.
“Ayah tidak perlu cemas. Aku punya banyak uang dari hasil sebagai penghibur,” ujar Seo Jin dengan nada tenang tertata. “Jika ayah membutuhkan seorang penerus untuk Sujin grup, ayah bisa membayar orang untuk mengisi posisi itu.”
Byung Joo mengetatkan rahangnya, marah. “Kau semakin kurang ajar!” Pria itu berdiri dari duduknya, lalu mengambil cemeti yang ada di laci mejanya.
Seo Jin hanya diam melihat apa yang akan dilakukan ayahnya pada dirinya. Dia tahu, setiap kata-katanya yang melawan Byung Joo, pria itu akan membalasnya dengan satu pukulan di tubuhnya. Kali ini, dia sudah bersiap untuk apa pun yang terjadi saat dia telah memutuskan untuk menginjakkan kakinya di rumah ini.
Byung Joo berjalan mendekati Seo Jin yang berdiri dari tempat duduknya. “Ayah tidak pernah mengajarimu untuk melawan kata-kataku,” desis Byung Joo tajam.
Seo Jin tersenyum tipis. “Ayah tidak pernah mengajariku apa pun selain memukulku.”
Kalimat Seo Jin itu semakin menyulut amarah Byung Joo. “Kau masih saja menjadi anak tidak berguna!” Byung Joo melayangkan satu lecutan cemeti ke punggung Seo Jin, pria itu berpegangan pada pinggiran meja untuk menahan tubuhnya yang hendak tumbang. Dia tidak boleh lemah atau ayahnya akan semakin merasa menang.
Tepat ketika Byung Joo hendak mengayunkan cemetinya untuk kedua kalinya, pintu ruangan dibuka dengan kasar diiringi dengan suara teriakan seorang wanita yang berlari tergesa masuk ke dalam ruangan.
“Tidak! Jangan memukulnya lagi!” Mi Jung memasang badan di depan tubuh Seo Jin untuk mencegah Byung Joo memukul Seo Jin lagi. “Kau berjanji kalau dia datang kau tidak akan memukulnya lagi!” seru Mi Jung histeris.
Byung Joo mendorong tubuh Mi Jung hingga perempuan itu jatuh ke lantai. Seo Jin hanya bisa diam, namun kedua tangannya sudah terkepal dengan erat, menahan amarah. Byung Joo kembali melayangkan cemetinya, namun pada detik terakhir saat benda itu hendak menyentuh tubuh Seo Jin, pria itu menahannya dengan genggaman tangannya.
Byung Joo melotot marah melihat Seo Jin berhasil menahan cemetinya. Sedangkan Mi Jung bergegas bangkit dan menarik Byung Joo menjauh dari Seo Jin. “Tidak! Kumohon sudah cukup kau memukulnya! Dia bukan anak kecil lagi! Apa kau suka jika melihatnya terbaring lagi di rumah sakit!” Mi Jung tak bisa menahan diri lagi melihat bagaimana penderitaan yang harus dialami oleh Seo Jin.
“Seo Jin-ah, pergilah.” Mi Jung mengarahkan tatapannya pada Seo Jin yang masih berdiri diam di tempatnya. “Pergilah. Jangan kembali meskipun ibu memintamu datang,” ujar Mi Jung dengan suara bergetar.
“HWANG MI JUNG!” teriak Byung Joo dengan murka. “Inilah yang membuatnya membangkang! Kau selalu memanjakan dia sejak kecil!” Byung Joo berusaha bergerak untuk kembali memukul Seo Jin, namun Mi Jung sekuat tenaga menghalangi pria itu.
“Benar! Karena itulah satu-satunya yang bisa aku lakukan untukmu sebagai seorang ibu!” seru Mi Jung keras dan putus asa. “SEO JIN, PERGILAH!” teriaknya lagi pada Seo Jin.
Seo Jin menatap meminta maaf pada Mi Jung lalu berpaling pada Byung Joo dengan tatapan dingin. Byung Joo berteriak marah ketika Seo Jin berjalan keluar pintu ruangan.
“KIM SEO JIN! JIKA KAU KELUAR DARI PINTU ITU, KAU BUKAN LAGI ANAKKU!!”
Seo Jin hanya tersenyum tipis mendengar teriakan itu. Dia menuruni anak tangga dengan langkah tenang, namun pada ujung tangga terakhir, kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit. Tae San yang duduk di sofa ruang tamu, berlari menghampiri Seo Jin yang sedang memegangi kepalanya sembari meringis kesakitan.
“Kau tidak apa-apa?” Tae San berusaha menuntun Seo Jin keluar. Dia telah mendengar semuanya dari lantai bawah. Bukan karena dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Seo Jin, namun Tae San sudah berjanji pada Seo Jin untuk tidak pernah ikut campur dengan masalah keluarganya.
Seo Jin nyaris jatuh jika saja Tae San tidak dengan cekatan menahan berat tubuh pria itu. Dia berusaha berjuang dengan rasa sakitnya, membuat Tae San semakin merasa cemas. Dia bergegas cepat membawa Seo Jin ke dalam mobil dan mengambil obat untuk pria itu. Ketika Tae San sedang berusaha mencari obat di dalam mobil, Seo Jin tiba-tiba menahan lengan pria itu dengan kuat.
“Aku baik-baik saja, Tae San-sshi.” Mendengar suara itu, tubuh Tae San mendadak menjadi kaku dan tegang, bahkan saat dia berusaha berbalik untuk melihat Seo Jin, lehernya terasa sangat kaku. Kepalanya mulai dipenuhi dengan berbagai macam spekulasi, membuat detak jantungnya berdetak sangat cepat.
“Kim Seo Jin?” Tae San tidak ingat berapa ratus kali dia menggumamkan nama Seo Jin dengan nada dan raut wajah ketakutan seperti saat ini, apalagi saat dia melihat tatapan jenaka dan senyum lebar di wajah Seo Jin saat ini. Tae San merasa dunia seperti runtuh dalam detik itu juga.
“Kita bertemu lagi, Tae San-sshi.”
••••
Young Eun berjalan dengan langkah gontai menyusuri g**g menuju rumahnya. Sesekali dia membenarkan letak tas selempangnya, lalu bersamaan dia menatap tangan kanannya yang sudah dibalut perban oleh Ji Hoon, sejak SMA pria itu selalu bersikap baik padanya, yang terkadang membuat Young Eun merasa tidak enak. Sesaat Young Eun tersenyum lalu menghela napas berat.
Langkahnya terhenti disertai dengan tatapan menerawang, menatap rumah sederhana yang masih berdiri dengan kokoh meski sebagian dindingnya sudah terlihat mulai lapuk dengan cat yang sudah mengelupas. Dalam hati, Young Eun merasa tetap harus bersyukur karena dia masih memiliki tempat untuk tidur dan berteduh.
Young Eun membuka pintu rumah tersebut dengan pelan, hal pertama yang menyambut penglihatannya adalah botol alkohol yang sudah kosong berserakan di ruang tamu, seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan sedang terbaring di lantai dalam kondisi mabuk. Young Eun seketika menarik napas dalam-dalam melihat pemandangan yang sebenarnya sudah biasa baginya.
Dia menuntun langkahnya menuju kamarnya. Sejenak dia melirik ke arah pigura foto yang ada di meja dekat televisi, menimbulkan perasaan sesak dalam dadanya. Setelah masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian dengan setelan serba hitam, Young Eun keluar kamar. Dia melihat kakaknya sudah duduk dan sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu Young Eun benci. Setiap kali Hyun Joong menatapnya seperti itu, pasti ada sesuatu yang dia inginkan dari Young Eun.
“Kau punya uang?” Young Eun tak segera menjawab. Dia berbalik untuk mengunci pintu kamarnya lalu menatap Hyun Joong datar.
“Jika untuk berjudi, aku tidak akan memberikan sepeser pun untuk kakak.” Young Eun berjalan melewati Hyun Joong yang masih duduk di lantai ruang tamu. Pria itu masih setengah mabuk.
“Kau ingin melihatku mati dalam kondisi seperti ini?” Pertanyaan itu membuat Young Eun menghentikan langkahnya yang sudah hampir sampai di mulut pintu. Perempuan itu perlahan berbalik dengan tatapan marah.
“Apa kakak tahu hari ini adalah peringatan kematian ayah dan ibu?!” tanya Young Eun dengan nada meninggi.
Hyun Joong menunjukkan reaksi yang biasa. Tak ada kesedihan di wajahnya mendengar perkataan Young Eun. “Kenapa kau malah mengalihkan pembicaraan? Lagi pula untuk apa memperingati hari kematian mereka? Mereka hanya meninggalkan rasa malu untuk kita dan kehidupan yang menyedihkan ini,” dengus Hyun Joong tak peduli.
Young Eun mengepalkan kedua tangannya dengan erat. “Rasa malu?” bisik Young Eun dengan nada terluka. “Kakak sendiri yang mempermalukan keluarga ini! Kakak yang hidup dengan menyedihkan seperti ini!”
Hyun Joong membulatkan kedua matanya tak terima dengan kalimat Young Eun. “YA! Jadi menurutmu aku lebih baik mati menyusul mereka dari pada hidup seperti ini?!”
“BENAR!” teriak Young Eun keras. Dadanya naik turun karena napasnya memburu dengan cepat menahan kemarahan yang mulai menyelimuti dirinya. “JIKA KAKAK TERUS HIDUP DENGAN MENYEDIHKAN SEPERTI INI, LEBIH BAIK MATI SAJA!” Untuk pertama kalinya Young Eun mengatakan hal kejam itu pada Hyun Joong. Dia hanya terlalu lelah dengan situsnya, sedikit berharap bahwa kakaknya akan memahami kondisinya, kenyataannya Hyun Joong justru seperti memperburuk kondisinya.
“YA! KAU BERANI MENGATAKAN HAL ITU PADA KAKAKMU!” Hyun Joong berdiri dengan gusar. Wajahnya memerah karena marah atas kalimat Young Eun.
“KENAPA? Bukankah akan lebih baik jika kakak mati dari pada harus hidup seperti ini? Selama lima belas tahun aku melakukan semua hal sendirian tanpa bantuan kakak! Kakak tak pernah peduli denganku! Kakak hanya sibuk berjudi dan mabuk setiap hari! Memangnya akan ada yang berubah jika kakak mati?” Perasaan Young Eun semakin sesak dengan setiap kata yang meluncur bebas dari bibirnya. “TETAP SAJA AKU MENYEDIHKAN ADA ATAUPUN TIDAKNYA KAKAK!” Setelah mengeluarkan semua isinya hatinya, Young Eun berbalik melangkah keluar rumah.
“YA! SEO YOUNG EUN!!” Teriakan Hyun Joong sama sekali tidak dihiraukan oleh Young Eun. Perempuan itu berlari melewati g**g rumah dan menuju jalan raya dengan perasaan hancur. Sejenak dia menyesal karena mengatakan hal kejam itu pada Hyun Joong, namun dia merasa tidak sanggup untuk menahan rasa sakitnya terlalu lama. Dia mengatakannya karena terlalu kecewa pada Hyun Joong. Seorang kakak yang seharusnya melindungi dirinya, justru menjadi seseorang yang selalu memaksa dirinya untuk melempar tubuhnya ke tepi jurang.
••••
Young Eun meletakkan setangkai bunga lili di samping tempat penyimpanan abu kedua orang tuanya. Perempuan itu menatap foto ayah dan ibunya yang diletakan di samping tempat abu. Dia ingin sekali menangis, namun Young Eun sudah begitu lama tidak bisa menangis. Dia tidak lagi bisa meneteskan air mata sejak kepergian kedua orang tuanya lima belas tahun lalu. Bahkan ketika dia merasa perasaannya sangat sesak dan sakit sekalipun, Young Eun tidak bisa menangis.
“Kalian tidak perlu mencemaskanku dan kakak. Kami hidup dengan baik dan rukun sesuai pesan kalian.” Young Eun akan selalu mengatakan kalimat itu setiap kali dia berkunjung ke sini. Sebuah kebohongan yang terus Young Eun ucapkan, hanya karena dia berharap bahwa hal itu akan benar menjadi kenyataan.
Young Eun selalu berharap bahwa kakaknya akan berubah, lalu setidaknya mereka masih bisa menjalani kehidupan berdua dengan baik meskipun dengan kondisi yang terbatas. Paling tidak, Young Eun memiliki tempat bersandar disaat seluruh dunia sedang memaki dan meludahinya. Walaupun dia terlihat begitu tegar dan keras, kenyataannya Young Eun hanya perempuan biasa yang lemah, yang tidak hanya sekedar membutuhkan pelukan.
Young Eun menyusuri jalanan beraspal di kawasan Myeong-dong. Sesekali dia mendongak tatkala daun maple jatuh di depannya, semakin membuat perasaannya menjadi tidak menentu. Young Eun terus berjalan sampai akhirnya dia berhenti di penyeberangan jalan. Untuk beberapa lama, dia hanya menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong. Seperti tak ada keinginan untuk menyeberang jalan, dia hanya berdiri di sana dengan kedua kaki tak bergerak sedikit pun.
Suara lampu lalu lintas penyeberangan berbunyi. Semua orang yang berdiri di sekitarnya berjalan untuk menyeberang, sementara dirinya hanya berdiri dengan tidak bergerak. Entah, dia tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Sampai akhirnya ketika hitungan lampu penyeberangan jalan itu mulai selesai, tanpa sadar Young Eun menuntun kedua kakinya untuk menyeberang. Sembari mengepalkan kedua tangannya dengan erat, Young Eun melangkah ke tengah jalan dengan tenang.
Selama ini aku selalu berpikir bahwa kehidupan yang aku jalani hanya berisi kemalangan. Akan tetapi, aku merasa tidak pantas mengatakannya sementara di luar sana ada orang yang jauh lebih malang dan menderita dibandingkan apa yang aku alami.
Tepat ketika Young Eun berada di tengah jalan, perempuan itu menghentikan langkahnya. Beberapa mobil yang seharusnya menginjak gas, harus menunggu dengan tidak sabar. Melihat Young Eun yang tidak bergerak sedikit pun di tempatnya, membuat mereka harus menekan klakson berkali-kali untuk meminta Young Eun menyingkir dari tengah jalan.
Bukannya berlari untuk segera pergi dari sana, Young Eun justru seperti kehilangan kesadarannya saat sebuah kilasan ingatan berkelebat di depan matanya lagi. Young Eun kali ini mendengar suara klakson mobil yang dibunyikan dengan sangat keras hingga memenuhi kepalanya. Perempuan itu seketika jatuh terduduk di tengah jalan. Sembari menutup kedua telinganya, berharap suara-suara keras itu menghilang, tapi justru semakin terdengar jelas dan menyakitkan di dalam pikirannya. Napasnya yang semula teratur, kini memburu cepat.
Aku tidak bisa mengingat apa pun sejak kecelakaan itu terjadi. Aku hanya bisa mengingat potongan-potongan kecil dari kejadian lima belas tahun lalu, seperti kepingan puzzle yang berserakan. Aku tidak bisa menyusunnya. Setiap kali ingatan itu datang, aku selalu mendengar suara-suara itu dalam kepalaku, seperti hendak meledakkan kepalaku saat itu juga.
Young Eun nyaris jatuh pingsan jika saja tidak ada sepasang tangan kekar yang menahan tubuhnya. Di tengah kesadarannya yang perlahan menghilang, Young Eun dengan samar melihat wajah seorang pria yang mendekap tubuhnya.
•••••