Ruangan notaris itu terasa dingin. Bukan dingin AC—Anya sudah cukup sering masuk gedung perkantoran Jakarta untuk tahu perbedaan antara dingin AC sentral dan dingin yang muncul dari dalam tulang sendiri. Yang ini jenis kedua. Dingin yang berasal dari kombinasi insomnia tujuh hari, kafein berlebihan, dan kesadaran bahwa hidupnya akan dijatuhkan vonis dalam tiga puluh detik ke depan.
Anya duduk kaku di kursi kulit cokelat yang sudah pudar di pinggirannya. Jari-jarinya saling meremas di atas pangkuan—gerakan yang sudah menjadi kebiasaan sejak SMA, sejak ibu meninggal dan ayah mulai jadi terlalu sibuk untuk hadir di acara-acara penting hidupnya. Meremas jari adalah cara tubuhnya menahan diri supaya tidak meledak. Kebiasaan yang sekarang, di hadapan notaris keluarga, terasa lebih perlu dari sebelumnya.
Pak Hartono di seberang meja membuka folder dengan gerakan terlatih. Pria tua itu—rambut perak rapi, kacamata bingkai tipis, tangan yang tidak gemetar walaupun sudah enam puluh delapan tahun—telah menjadi notaris keluarga Wijaya sejak Anya kecil. Anya pernah duduk di lantai kantornya sambil mewarnai buku gambar saat ayahnya berkonsultasi soal kontrak. Pak Hartono yang menyiapkan teh manis untuknya. Pak Hartono yang mengirim hadiah ulang tahun setiap tahun—buku, biasanya, dengan tulisan tangan di halaman pertama.
Sekarang Pak Hartono itu tampak seperti orang yang sedang menyiapkan diri untuk memberikan vonis mati.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Wijaya," kata pria itu pelan. Suaranya sopan, tapi ada sesuatu yang berat di balik formalitas. "Sebelum saya membuka isi wasiat, saya perlu menyampaikan bahwa permintaan ayahmu... sangat tidak biasa. Saya sudah mendiskusikan ini dengan ayahmu selama enam bulan terakhir, sebelum—" Pak Hartono mengelap matanya, "—sebelum kondisinya memburuk. Ia tahu kau akan terkejut. Ia minta maaf, lewat saya, sebelumnya."
Anya mengangguk. Setelah seminggu pemakaman, ia sudah bersiap untuk berita apa pun. Hutang yang Anya tidak tahu, mungkin. Atau perusahaan yang ternyata bangkrut sebelum Anya sempat masuk papan. Atau anak haram yang baru muncul di pertemuan keluarga.
Apa pun. Asal jangan...
"Ayahmu mewariskan seluruh saham mayoritas Wijaya Group kepadamu," lanjut Pak Hartono.
Anya menahan napas. Ini bukan kabar buruk. Ini kabar besar—lima puluh tujuh persen saham di perusahaan dengan valuasi tiga triliun rupiah—tapi bukan buruk.
"Dengan satu syarat."
Suaranya terlalu cepat. Anya tahu sebelum kalimat lanjutan keluar.
"Syarat apa, Pak?"
Pak Hartono menatapnya lama, seolah menimbang seberapa keras kata-katanya akan menampar. Lalu, dengan suara yang pelan tapi jelas:
"Kamu harus menikah dengan Reza Mahendra dalam tiga puluh hari ke depan."
Dunia Anya berhenti berputar.
Reza Mahendra. CEO Mahendra Group—perusahaan investasi multinasional dengan portofolio yang membentang dari properti komersial sampai teknologi finansial. Pria yang ditakuti separuh kota karena ketegasan di ruang rapat. Pria yang—menurut artikel Forbes Indonesia tahun lalu—dijuluki "the youngest billionaire who hasn't smiled at a press conference in eight years."
Pria yang... terakhir kali ia temui bertahun-tahun lalu, di sebuah acara amal yang Anya datangi karena tugas kantor. Reza datang sebagai donor utama. Mereka bertukar kalimat singkat—sopan, dingin, profesional. Tidak ada yang menunjukkan bahwa mereka pernah saling kenal. Tidak ada yang menunjukkan bahwa mereka pernah berbagi—
Anya menelan ludah. Memori-memori lama tidak boleh keluar sekarang.
"Bercanda kan, Pak?" suara Anya nyaris berbisik.
Pak Hartono menggeleng pelan. "Ini bukan candaan, Anya. Saya sudah membaca pasal-pasal wasiatnya berulang kali, mencari celah hukum—saya jujur, saya tidak setuju dengan keputusan ayahmu. Tapi wasiat ini sudah ditandatangani di hadapan tiga saksi independen, didaftarkan di kantor notaris pusat, dan—" Pak Hartono menarik napas, "—dan kontraknya sudah ditandatangani Reza minggu lalu."
Anya merasakan dunianya runtuh untuk kedua kali dalam minggu itu.
"Reza... sudah tanda tangan?"
"Iya."
"Tanpa konsultasi saya?"
"Wasiat ini ditujukan ke kalian berdua, Anya. Reza dapat informasi sebelum kau—saya akui itu tidak adil, tapi itu instruksi ayahmu."
Anya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata yang sudah ditahan selama tujuh hari terakhir akhirnya keluar—tidak deras, hanya perlahan, di bawah jari-jarinya.
"Pak. Kalau saya menolak?"
"Kalau kau menolak, semua aset Wijaya Group jatuh ke yayasan amal yang dipilih ayahmu. Ribuan karyawan akan kehilangan pekerjaan dalam enam bulan, karena yayasan tidak punya kapasitas mengelola operasional perusahaan. Kau tetap dapat hak waris pribadi—rumah, deposito, uang tunai—tapi perusahaan akan dilikuidasi."
"Dan kalau saya menikahi Reza, lalu cerai dalam dua minggu?"
"Wasiat mensyaratkan minimal lima tahun pernikahan. Cerai sebelum itu, semua aset jatuh ke yayasan. Ditambah pasal denda untuk Reza—seratus miliar—yang Reza akan tagih ke kau secara pribadi."
Anya tertawa pahit. "Ayah benar-benar... pintar."
"Ayahmu sangat memperhitungkan, Anya."
"Pak Hartono, kenapa Reza setuju?"
Pak Hartono ragu. Akhirnya: "Saya tidak tahu, Anya. Itu pertanyaan yang harus kamu tanyakan langsung kepadanya."
Anya berdiri pelan. Kakinya terasa seperti agar-agar yang baru dingin.
"Pertemuan dengan Reza?"
"Kantornya. Senin. Pukul dua siang. Saya akan menemani."
"Iya, Pak."
Anya berjalan menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia berbalik.
"Pak Hartono."
"Iya, Anya."
"Apakah ayah... pernah bilang kepada Bapak, kenapa Reza? Kenapa harus dia, dari semua pria di Jakarta?"
Pak Hartono menatapnya lama. Mata abu-abu di balik kacamata tipis itu menyimpan sesuatu yang Anya tidak bisa baca—kesedihan, mungkin, atau penyesalan, atau keduanya.
"Anya. Saya akan jujur padamu satu hal. Ayahmu, di minggu-minggu terakhirnya, lebih sering bicara tentang Reza Mahendra daripada bicara tentang siapa pun. Termasuk daripada bicara tentang kamu."
Anya membeku di pintu.
"Bapak bilang... apa?"
"Saya bilang ayahmu menyimpan rahasia tentang Reza Mahendra. Atau—mungkin lebih tepat—rahasia tentang sesuatu yang terjadi antara keluarga Wijaya dan keluarga Mahendra bertahun-tahun lalu. Sesuatu yang ayahmu coba tutup, dan yang—mungkin, hanya mungkin—ia coba perbaiki lewat wasiat ini."
"Perbaiki?"
"Atau menebus. Saya tidak tahu kata yang tepat."
Anya menatap Pak Hartono. Pria tua yang sudah ia anggap sebagai paman selama tiga puluh tahun.
"Pak. Saya mau bilang sesuatu."
"Iya."
"Saya tidak percaya ayah saya orang baik. Tapi saya juga tidak siap untuk tahu seberapa buruk dia sebenarnya."
Pak Hartono mengangguk.
"Kamu akan tahu sendiri, Anya. Pernikahan ini... saya rasa adalah cara ayahmu memaksa kebenaran keluar. Cara yang kejam, tapi mungkin satu-satunya yang ia tahu."
Anya keluar dari kantor itu dengan tas kerja yang tiba-tiba terasa berat sepuluh kilogram lebih. Sopir sudah menunggu di pintu masuk gedung. Anya menyuruhnya pulang, memilih jalan kaki ke kafe terdekat—butuh udara terbuka, butuh suara klakson Jakarta, butuh segala sesuatu yang membuktikan bahwa hidupnya bukan tiba-tiba berubah jadi sandiwara murahan.
Tapi setiap langkah hanya mengulang nama itu di kepalanya:
*Reza Mahendra. Reza Mahendra. Reza Mahendra.*
Dan satu pertanyaan yang tidak ia berani tanyakan di kantor Pak Hartono:
*Reza, kau setuju karena ada hal yang aku tidak tahu, kan?*