Selasa. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci angka. Sepatu datar. Dapur sudah hidup. Mama nasi, teh, radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Skip?” “Tidak.” “Jenuh?” “Belum. Oke warung.” “Bagus. Angka. Jangan stasiun. Kalau ada toast kantor, jangan kira milikmu. Jangan angkat gelas sebagai calon. Mama cabut wifi kalau jari gatal romance. Mama cabut katalog kalau jari gatal basah jadi altar. Mama tanya perut, bukan gelas.”
Papa koran, kacamata, tidak menoleh dulu. “File. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan muka toast. Toast orang bukan alasan diam. Toast orang bukan alasan stasiun. Jangan angkat sebagai calon. Jangan novel. Papa capek orang yang nunggu di lobby sampai basah. Papa capek satu gelas yang dikira cincin. Papa tidak capek hidup. Kalimat sama. Oke warung. Bukan oke aula. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Bukan roti gosong. Ojek. Panas yang sudah biasa. Lobby, satpam, “Ada makan siang lantai, Nona, bukan undanganmu.” Lift. Rekan plot, yogurt, “Serial? Toast, tanda, tahun depan, akad?” “Tidak. Deadline. Toast orang. Jangan novel. Jangan akad. Jangan angkat.” File. Kopi pahit. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search, gue cek tanggal dua kali. Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap nasi kotak Mama, enam. “Udah. File. Ada makan siang orang. Bukan saya. Saya nggak angkat gelas sebagai calon. Saya nggak nunggu di lobby. Jangan telepon.” “Siap. Audit. Sore lapangan. Saya omong. Saya nggak kirim bunga. Jangan nunggu lapar. Jangan ke stasiun. Toast orang. Bukan cerita. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol. Oke warung. Bukan oke aula.” Papa angguk dari jauh. Siang file. Kolom. Rumus. Kantor tidak boleh jadi aula kedua.
Siang ruang makan kantor, air putih, bukan champagne novel. Orang lain diangkat namanya, tidak gue kenal, tidak gue catat. Rekan, “Tunggu. Toast, serial, dasi, novel. Lo angkat, tahun depan.” “Tidak. Bukan nama saya. Saya makan. Saya omong. Saya balik ke meja. Saya nggak jadi orang di stasiun. Jangan plot. Jangan novel. Jangan akad. Tahun ini makan.” Chat: “Toast orang. Bukan saya. Saya makan. Saya nggak angkat sebagai calon. Jangan nunggu. Saya pulang wajar. Pagar malam kalau jalan buka. Kalau nggak, video. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Toast orang. Bukan novel. Kalimat sama. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol.”
Gue ketik di pantry, nasi kotak sisa, bukan di lobby yang bisa jadi novel: “Saya makan sekarang. Bukan marah. Saya pulang ojek. Rumah. Nasi. Kalau Mas masih bisa, pagar, izin Mama, tiga puluh menit, bukan pidato. Kalau nggak, omong. Saya nggak ke stasiun. Saya nggak blokir. Saya nggak angkat gelas. Oke warung. Kalimat sama.” “Siap. Makasih nggak diem. Makasih nggak angkat. Ina ancam telinga kalau saya bikin novel toast orang. Ibu saya: jangan stasiunin orang. Makan. Pulang. Saya omong jam tujuh.” Papa lewat, “Muka. Toast. Pulang. Jangan nunggu. Kasur. Toast orang. Bagus. Kerja sudah. Jangan muka ditinggal.” Ojek. Samping kosong, tidak sakit. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya gelas. Mama tanya perut. Mama dengar orang lain. Mama tidak dengar novel. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke lobby sampai basah.” Nasi. Hangat. Papa, “Kasur. Video. Jangan ngebut jadi orang yang angkat gelas orang. Nunggu di rumah beda. Ada nasi. Ada Mama. Ada orang yang omong. Toast orang. Cukup. Kalimat sama.”
***
Jam tujuh chat: “Jalan buka. Saya ojek. Tangan kosong. Izin Mama. Tiga puluh menit. Udah makan. Kamu? Siapa di ojek: saya. Saya nggak bawa gelas.” Gue: “Udah. Nasi Mama. Datang. Pelan. Saya di rumah. Bukan lobby. Toast orang. Bukan novel. Kalimat sama.” Bel. Ia keringat, muka lelah, tangan kosong, bukan bunga, bukan kotak. “Maaf. File. Saya omong. Saya nggak nyuruh kamu nunggu di lobby. Terima kasih udah makan. Terima kasih nggak angkat. Toast orang. Bukan satu cerita. Tahun ini makan. Kalimat sama. Oke warung. Bukan aula. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol.” Papa persilakan, kopi, bukan sidang. Mama dari dapur, telinga nyala, tidak menyerbu.
“Besok angka. Jangan ngebut file sampai lupa orang di meja yang salah,” kata Papa pelan. “Nengok yang kosong lebih baik daripada nunggu yang gelas. Papa capek altar. Papa capek novel toast orang. Papa tidak capek hidup. Tahun ini makan. Toast orang, bagus. Kalimat sama. Oke warung.”
“Siap, Pak. Saya dengar. Saya omong. Saya nggak nyuruh Git jadi orang di stasiun. Toast orang. Bukan tiket. Tahun ini bukan gedung. Bukan tol.”
Mama tupperware. “Malam. Dua-duanya. Jangan telat makan. Gelas bukan cincin. Mama tidak tanya serial. Mama tanya perut.” Di pagar, angin, anjing, kelingking. “Ini toast orang. Kita omong. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan blokir. Bukan novel. Oke warung. Tahun ini makan.” “Bukan IGD. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Kalimat sama. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong.” Gue tutup pagar. Dada penuh. Bukan sesak. Lulus gelas yang bukan milik. Bukan lulus kawin. Cukup. Nyata.
Kamar. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Diary: Selasa. Toast orang. Tidak angkat. Makan dulu. Pagar. Omong. Bukan lobby. Bukan novel. Oke warung. Foto Saka. Chat: “Udah makan. Selamat malam. Siapa di mobil?” “Saya. Kalau berubah, omong. Janji, bukan tagihan. Tidur. Jangan ngebut. Toast orang. Tahun ini makan. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan aula.” Gue miring. Tidur sebelum gelas jadi luka, sebelum toast jadi novel, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Selasa lunas nama yang bukan gue. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Siapa di mobil masih. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol.