Selasa. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Suhu sudah turun. Koper foyer kosong. Nasi. Mama radar. “Makan. Kantor jangan jadi lari. Jangan packing karena sudah lulus demam. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun.” Papa, “File. Kasur. Kerja. Kalimat sama. Oke warung.” Gue suap. Ojek. File. Pantry. Chat: “Udah makan. Siapa di mobil?” “Saya. Kalau berubah, omong. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol. Oke warung.” Pulang wajar. Nasi Mama. Tidur.
Rabu file, pantry, pulang wajar. Tidak book. Tidak lingkar. Tidak angkat gelas. Inara: “Jangan injek. Nat tidur. Aldo charger. Jangan bawa koper ke kantor di kepala.” Gue: “Nasi. Kosong.” Papa angguk di koridor. “Muka utuh. Kalimat sama.”
Kamis Papa lewat, “Jumat dua meja. Rumah ini dulu. Rumahnya belakangan. Teh. Bukan pengumuman. Bukan list. Makan dulu. Omong. Pulang. Jangan ngebut jadi orang yang kira dua rumah harus jadi satu altar.” Gue: “Siap, Pa. Teh. Bukan pengumuman.” Chat: “Udah makan. Selamat malam. Besok dua meja. Bukan list.” “Siap. Saya izin Ibu. Tangan kosong. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol. Oke warung.” Tidur.
***
Jumat. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci koper. Sepatu datar. Nasi. Mama radar. “Malam dua meja. Rumah ini dulu. Rumahnya belakangan, kalau Ibu izinin, teh, bukan pengumuman. Mama cabut wifi kalau jari gatal altar. Mama cabut katalog kalau jari gatal sepi. Mama tanya perut, bukan tamu. Mama tidak turunin dus. Mama tidak lingkar tanggal. Mama tidak catat nama.” Papa koran, “Jumat. File. Sore pulang. Malam teh di sini. Bukan sidang. Bukan list. Kalimat sama. Oke warung. Bukan oke aula. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol.”
“Siap, Pa. Siap, Ma. Dua meja. Makan. Bukan pengumuman.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Bukan roti gosong. Ojek. Lobby. Satpam. Lift. Rekan plot, “Serial? Dua meja, mertua, tahun depan, aula?” “Tidak. Deadline. Teh. Bukan pengumuman. Jangan list.” File. Kopi pahit. Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap, enam. “Udah. File. Malam dua meja. Bukan pengumuman. Jangan telepon. Jangan packing. Kalimat sama.” “Siap. Audit. Sore. Saya izin Ibu. Teh. Tangan kosong. Bukan list. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol. Oke warung.” Papa angguk dari jauh. Siang file. Setiap ingin search undangan, gue cek tanggal dua kali, tanggal file. Setiap ingin buka lemari gaun, gue tutup laci meja. Kantor Jumat tidak boleh jadi aula kedua. Kolom. Rumus. Kopi kedua, masih pahit.
Sore pulang wajar. Ojek. Samping kosong, tidak sakit. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya tamu. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke pengumuman, atau ke stasiun, atau ke list.” Nasi. Hangat. Papa, “Kasur sebentar. Malam teh. Dua meja. Bukan list. Kalimat sama. Jangan ngebut jadi istri. Jadi orang yang makan dulu.”
***
Malam meja pertama, rumah Mama. Teh, kue, piring biasa, bukan dus. Bel. Ia kemeja rumah, tangan kosong, Ibu dan Bapak tidak dibawa malam ini, bukan sidang mertua. “Maaf. Saya omong. Saya makan. Saya izin. Tangan kosong. Bukan pengumuman. Tahun ini makan. Kalimat sama. Oke warung. Bukan aula. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol.” Papa persilakan. Mama isi teh. Tidak CV. Tidak list. Tidak lingkar. Mereka omong kerja pelan, Saka, Tasyi, demam yang sudah turun, koper yang kosong, toast orang, tidak book. Satu jam. Burung. Anjing. Hidup. Dua cangkir. Bukan altar.
Papa, “Cukup. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol. Dua meja artinya dua rumah masih ada. Bukan satu altar. Jangan sombong. Lulus satu teh bukan lulus kawin. Oke warung. Papa capek altar. Papa tidak capek hidup.” Ia, “Siap, Pak. Saya dengar. Saya nggak bawa list. Saya nengok. Kalimat sama. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong.” Gue, “Saya sama. Dua meja. Bukan pengumuman. Packing, tidak. Kalimat sama.” Mama dari dapur, “Minum. Jangan ngebut. Meja kedua belakangan. Pulang ke sini malam ini. Kasur Mama, bukan altar.”
Izin. Mereka ke meja kedua, rumah Inara, teh Ibu, piring biasa, bukan sidang. Ibu tidak gue namai di kepala lebih dari Ibu. Bapak angguk dari koran. Inara, “Lo jangan injek. Lo jangan pidato. Nat tidur. Aldo charger. Teh. Bukan aula. Dua meja lo jangan jadi WO.” Ibu, “Makan. Tahun ini. Mama kamu sudah omong. Saya dengar. Saya tidak minta list. Saya minta piring. Kalau jenuh, omong. Jangan diam di stasiun. Jangan packing. Saya capek altar. Saya tidak capek hidup.” Ia, “Siap, Bu. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol. Kalimat sama. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong. Oke warung.” Gue, “Saya sama, Bu. Nasi. Teh. Bukan pengumuman. Packing, tidak. Oke warung. Kalimat sama.” Bapak angguk sekali. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Dua rumah. Satu aturan. Bukan satu altar.
Pulang, ojek, samping tidak kosong sebentar, lalu rumah Mama. Chat Inara: “Dua meja lulus. Lo jangan ganti jadi aula.” Gue: “Nasi. Bukan paket.” Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Dua meja. Udah makan. Bukan cincin. Bukan packing.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kasur. Mama puas kamu pulang ke sini, bukan ke altar.” Pintu.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Koper foyer kosong. Diary: Jumat. Dua meja. Bukan pengumuman. Teh. Omong. Tahun ini makan. Kalimat sama. Jenuh, belum. Oke warung. Foto Saka. Pesan: “Udah makan. Selamat malam. Siapa di mobil: saya. Dua meja. Bukan altar. Janji, bukan tagihan. Tidur. Jangan ngebut.” Gue miring. Tidur sebelum teh jadi luka, sebelum dua rumah jadi aula, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Jumat lunas dua meja. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Bukan tol.