Tidur, katanya. Tubuh sudah miring ke dinding. Gelap sopan. AC rumah Mama. Tapi pesan pagar semalam belum turun dari telinga: siapa di mobil, masih, kalau berubah omong. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol. Oke warung. Jenuh, belum. Kalimat sama. Ini pilihan, bukan kebiasaan. Besok nasi. Besok nanya sudah makan. Janji, bukan tagihan.
Ponsel terbalik di nakas. Kalau Mas Rillo subuh, getar. Kalau grup Bagas soal Saka, biar. Kalau Kavin, tidak perlu dibuka untuk mencari perang. Perang sudah selesai di grup dengan satu kata: makan. Gue kapok ngebut. Gue juga gatal ingin balas selamat malam dua kali. Dua-duanya duduk di dada yang sama, lalu duduk diam, lalu tidak jadi perang.
Dari bawah, kulkas berdetak. Anjing tetangga sekali. Mama tidak naik. Itu hadiah: gelap tanpa sidang, tanpa katalog, tanpa tahun depan yang dipaksa jadi rundown malam ini. Gue menekan ibu jari ke bantal. Search “gedung”. Search “tamat”. Search “Kavin Mayang”. Tiga niat. Tiga yang tidak gue izinkan jadi jari. Gue memejam. Mimpi tidak lurus, syukur. Hanya gelap, lalu jam yang pelan-pelan mendekati subuh tanpa gue minta. Anjing lagi. Janji nasi. Bukan tiket. Bukan tahun ini.
Gue hitung napas, bukan sebagai rundown, sebagai orang yang semalam sudah nanya siapa di mobil dan dapat jawaban, lalu masih harus tidur. Gelang di laci tidak gue buka. Gaun di lemari tidak gue buka. Laci tertutup. Koper foyer kosong. Payung kering di sudut. Tahun ini makan. Tahun ini omong. Tahun ini bukan gedung. Siapa di mobil masih. Minggu belum. Nasi belum. Tunggu. Tidur.
***
Tubuh bangun sebelum azan selesai, kebiasaan orang yang takut kesiangan setelah oven Osaka dan file Senin. Minggu. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci jeruk dan kalimat. Sepatu rumah. Wajah untuk Mama: perut. Untuk Papa: tidak lari. Untuk chat pagi: sudah makan.
Dapur sudah hidup. Mama nasi, lauk berlebih, teh terlalu manis. Papa koran, kacamata, belum kopi tamu. Kalender tanpa lingkaran. Dus di atas. Kunci di laci. Gorden pudar. Piring biasa. Anjing. Rumah yang hafal.
“Balas?” tanya Mama, radar Minggu yang tidak kenal hari libur.
“Belum, Ma. Baru bangun. Nasi dulu. Kalau dia nanya, saya jawab. Kalau saya yang nanya duluan, itu juga boleh. Aturan: nanya sudah makan. Bukan nanya gedung. Bukan nanya kapan tamat jadi altar.”
“Bagus. Mama tidak tanya tamat. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu sudah packing ke akhir cerita, atau ke altar, atau diam di kamar karena lulus dikira harus kawin.” Mama menaruh piring sehari-hari. “Makan. Sabtu kamu bayi dan pilihan. Minggu kamu anak yang pulang. Lulus ngebut itu hidup. Bukan rundown. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun. Mama cabut katalog kalau jari gatal altar. Duduk. Makan. Omong. Kasur. Cukup.”
Gue menyuap. Hangat. Bukan roti gosong. Papa menoleh pelan, koran turun sedikit. “Minggu. Rumah. Sakit boleh sebentar. Kantor jangan. Kasur. Hidup. Jangan kabur. Papa dengar kelingking di pagar. Papa tidak dengar cincin. Papa dengar pilihan. Papa tidak dengar aula. Bagus. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol. Kalimat sama. Siang dia boleh. Tangan kosong. Makan. Bukan rundown. Papa capek orang yang kira lulus omong harus diisi gedung. Papa tidak capek hidup. Duduk. Makan. Omong. Kasur. Cukup. Oke warung. Bukan oke aula. Ini bukan jalan tol. Ini omong. Papa mau dengar itu sekali lagi, pelan, lalu Papa cukup.”
“Siap, Pa. Nasi dulu. Siang di meja. Tangan kosong. Bukan kotak. Kalimat sama. Jenuh, belum. Oke warung. Packing, tidak. Ini bukan jalan tol. Ini omong.”
Gue mengangguk tiga arah. Nasi. Telur. Acar. Hidup yang tidak butuh rundown. Pagi gue bantu Mama, talenan aus, pisau, wortel, bawang. Plester cadangan tidak terpakai. Bawang, alasan sah air mata. Mama tidak tertipu, tidak mengungkit Kavin, tidak mengungkit gaun, tidak mengungkit Saka sebagai altar. “Mama senang kamu di talenan, bukan di tahun depan. Mama juga senang kamu makan. Dua senang, satu Minggu. Jangan toko. Jangan nama. Kalau kamu ke kamar, Mama kira packing. Kalau kamu buka lemari, Mama kira kalimat berubah. Tidur di sini. Bukan di stasiun.”
“Saya di sini, Ma. Koper di foyer sudah dikosongin. Gaun ditutup. Laci ditutup. Tas kerja nunggu Senin. Gelang di laci, tidak di jari sebagai janji kawin. Saya nggak packing. Tahun ini tidak berubah jadi gedung. Kalimat sama. Jenuh, belum. Oke warung. Ini bukan jalan tol.”
Jam sembilan ponsel: “Udah makan?” Gue ketik di dapur: “Udah. Nasi Mama. Minggu. Rumah. Papa mau dengar kalimat sekali lagi. Siang boleh, izin Papa, makan, bukan altar. Tangan kosong. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol. Oke warung. Packing, tidak. Ini omong.”
“Udah. Nasi Ibu. Telur. Teh. Saya kalah nanya. Ina ngejek. Saya izin. Tangan kosong. Makan. Bukan rundown. Macet, saya omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol. Oke warung. Ini omong.”
Inara: “Mas gue kalah nanya. Lo jangan sombong. Minggu lo jangan injek. Kalimat lo jangan jadi WO. Nat tidur. Aldo charger. Jangan bawa muka oke ke aula.” “Nasi. Bukan paket. Kalimat sama.” Zenata foto Saka. Fikar: “Jangan rame. Jangan pidato. Buah. Kalimat lo jangan jadi alasan ngebut.” Cukup. Nyata.
***
Siang bel. Papa sudah di ruang tamu, dua cangkir, bukan sidang. Mama di dapur, telinga nyala. Gue buka pagar. Mas Rillo kemeja rumah, tangan kosong, menggaruk kepala yang gue yakin tidak gatal. “Saya nggak telat. Saya omong di jalan: lancar. Aneh. Saya kalah nanya. Saya tetap nanya. Tangan kosong. Makan. Bukan WO. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol. Oke warung. Ini omong.”
“Masuk. Nasi. Bukan pidato. Papa mau dengar yang sama, sekali lagi, lalu cukup.”
Ia menunduk ke Mama, ke Papa, duduk, tidak CV. Mama timbang muka, “Tangan kosong. Lulus. Makan. Papa nggak minta list undangan. Mama nggak minta akhir jadi altar. Mama minta piring. Mama minta tahun ini tetap makan.” Papa menyeruput, lama. “Minggu. Nengok. Bukan nunggu dari jauh. Bagus. Papa dengar banyak minggu. Papa tidak dengar kawin. Papa dengar omong. Papa tidak dengar tol. Cukup. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol. Kalimat sama. Jenuh, omong. Jangan pidato. Jangan CV. Oke warung. Bukan oke aula. Ini bukan jalan tol. Ini omong. Papa cukup mendengar itu dari dua orang yang masih makan.”
Mereka makan, omong kerja pelan, audit, Saka, Tasyi, Yogya yang tidak diam-diam, Osaka yang dijawab dari rumah, demam yang kecil, dua meja yang bukan pengumuman. Tidak ada cincin. Tidak ada Rendi. Tidak ada Ibu Kavin. Tidak ada booking. Satu jam. Burung. Anjing. Hidup. Tidak ada pasar yang jadi toko. Tidak ada mall yang jadi cincin. Duduk. Cukup.
Mas Rillo meletakkan cangkir. “Tahun ini makan, Pak. Bukan gedung. Bukan cincin. Bukan list. Bukan aula. Bukan tol. Tahun depan omong. Kalau jenuh, omong. Saya belum. Hari ini makan. Bukan rundown. Saya nggak ganti kalimat karena perut sudah kenyang. Saya nggak bawa kotak. Oke warung. Bukan aula. Ini bukan jalan tol. Ini omong.”
Gue, “Saya sama, Pa. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Omong bukan gedung. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong. Packing, tidak. Bukan tahun ini. Bukan tol. Oke warung. Kalimat sama. Ini pilihan. Ini hidup. Ini bukan jalan tol.”
Papa berdiri, “Cukup. Kasur. Sore bayi kalau mau. Jangan stasiun. Jangan mall cari tahun depan. Senin angka. Kalimat jangan diganti di kolom. Papa capek altar. Papa capek jalan tol. Papa tidak capek hidup. Lanjutkan yang itu. Papa tidak minta tamat di aula. Papa minta anak pulang makan.” Mama dari dapur, “Sofa. Minum. Sore boleh. Kasur malam. Gaun di lemari. Nanti. Jangan dijual marah. Mama senang kamu di sini.”
Di pagar, tidak cium lama. “Udah makan?” “Udah. Bareng. Aturan. Tahun ini makan. Mas? Jenuh?” “Belum. Kalau iya, omong. Siapa di mobil: saya. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan tol. Oke warung. Kalimat sama. Ini omong.” Kelingking konyol. Ia pergi sebelum ngebut. Gue cuci piring. Dada penuh bukan sesak. Minggu lunas nasi dan satu kalimat yang dipilih. Bukan altar.
***
Sore rumah Nat, kecil, Saka, Nat lebih manusia, Fikar lebih bodoh bahagia. Bukan pesta. Gue bantu kain, isi botol. Orangtua Nat angguk. Mas Rillo datang, izin, buah, ambang, hormat. Bagas, “Plot dibuang. Kalimat lo jangan jadi WO.” “Nasi.” Khalil tisu. Alan rekam, Windy tampar. Marsya plastik. Inara, “Nyariin siapa?” “Udah di sini.” “Bagus. Jangan ngebut. Jangan bawa lulus jadi rundown. Oke warung. Jangan aula. Ini bukan tol. Lo omong. Bagus.”
“Udah makan?” bisiknya. “Udah. Nasi Mama. Buah nanti.” Nat, “Lo makan. Gue yang di rumah. Saka pendek. Hidup. Jangan WO. Tahun ini lo makan. Kalimat lo sama, bagus. Jangan ganti jadi gedung.” Gue makan roti tas. Fikar, “Rumah. Jangan pidato.” Hidup orang. Lebih baik daripada gedung gue.
Sore Kavin tidak kirim apa-apa. Syukur. Atau kirim foto Saka ke grup, Mayang di pinggir. Gue tidak menunggu denyut lama. Jari diam. “Selamat. Makan.” Nengok: jeruk, nyata. Inara tepuk bahu. “Nyariin siapa?” “Nggak ada. Udah di sini. Jeruk. Bukan aula. Bukan layar.” Tidak bohong. Cukup. Nyata. Bukan tol.
***
Malam rumah, nasi Mama, Papa koran, kalender tanpa lingkaran, dus di atas, kunci di laci, gorden pudar, piring biasa, koper kosong, gaun tertutup, gelang tertutup. Hidup. Bukan altar. Bukan tol. Bukan aula.
Bel pagar. Tiga puluh menit, teh, tangan kosong. “Udah makan?” “Udah. Nasi. Jeruk. Grup. Nggak berdenyut. Tidur. Kalimat sama. Pilihan. Packing, tidak. Jenuh, belum. Bukan tol. Oke warung.” “Bagus. Ina ngejek. Saya kalahin pelan. Saya nggak pidato. Saya nengok. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong. Oke warung. Bukan aula. Ini bukan jalan tol. Ini omong.” Papa angguk. Mama isi teh. Saka disebut pelan, bukan alasan kawin. Kalimat disebut pelan, sebagai hidup, bukan penutup yang dipaksa. Cukup. Nyata.
Di pagar, angin, anjing. “Kalau macet, omong. Jangan IGD. Jangan stasiun. Jangan Osaka diam-diam. Jangan aula diam-diam jadi tahun ini. Jangan chat maaf doang. Jangan skip. Jangan search. Kalau HP diem, omong begitu nyala. Makan dulu. Nyusul belakangan. Aturan. Kalimat sama. Jenuh, omong. Oke warung. Bukan aula. Ini bukan jalan tol. Ini omong. Saya cukup bilang itu malam ini. Besok saya nanya lagi. Bukan karena cerita belum selesai. Karena hidup belum selesai.”
“Siap. Kalau kamu jenuh, omong. Jangan packing. Saya nanya udah makan. Kamu nanya saya masih di mobil atau nggak. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan cincin. Bukan list. Bukan aula. Bukan tol. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong. Oke warung. Ini omong. Hidup. Bukan tamat di gedung. Tamat di ngebut.”
“Siap. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Bukan tahun ini. Kalimat sama. Saya belum. Kalau iya, omong. Bukan tol. Oke warung.” Kelingking. Konyol. Aturan. Tidak cium lama. Izin. Ia pergi.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Koper foyer kosong. Payung kering di sudut. Pesan: “Selamat malam, Git. Besok saya nanya lagi. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, saya omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Tidur. Jangan ngebut. Minggu nasi. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol. Jenuh, omong. Saya belum. Oke warung. Kalimat sama. Ini bukan jalan tol. Ini omong.” Gue miring ke dinding. Tidak bersembunyi. Tidak ngebut. Tidak minta jalan tol. Tidak buka katalog. Tidak buka laci. Tidak buka lemari. Tidak packing. Tidak ukur. Tidak buka tautan. Tidak kasih kunci. Tidak catat. Tidak book. Gue tidur sebelum tahun depan jadi altar, sebelum Saka jadi alasan, sebelum kalimat jadi dusta, sebelum jeruk jadi tiket, sebelum hidup dipaksa jadi gedung. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Siapa di mobil sudah ditanya. Masih. Minggu lunas nasi dan pilihan. Dada belum sombong.
Gue ulang, pelan, bukan rundown, sebagai orang yang sudah kapok ngebut: tahun ini makan, tahun depan omong, omong kalau macet, nengok, bukan nunggu dari jauh, jangan skip, jangan search, jangan upgrade, jangan aula, jangan jual marah, jangan packing, jangan ukur, jangan buka, jangan kasih kunci, jangan catat, jangan book, jangan IGD novel, jangan koper, diam kecil omong, jenuh belum, oke warung, kalimat sama, bukan jalan tol.
Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Hidup. Pulang. Kasur. Bukan lari. Bukan packing. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tahun ini. Bukan jalan tol.
Ini omong.
TAMAT