Selasa. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci kopi Senin. Sepatu datar. Dapur sudah hidup. Mama nasi, teh, radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Skip?” “Tidak.” “Bagus. Angka. Jangan stasiun. Mama jaga mata. Kau jaga kolom. Kalau hujan, jangan jadi korban di warung. Makan. Omong. Pulang. Mama cabut wifi kalau jari gatal lobby. Mama cabut katalog kalau jari gatal basah jadi novel.”
Papa koran, kacamata, tidak menoleh dulu. “File. Muka boleh lelah. Angka jangan. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan muka liburan. Jangan muka hujan. Hujan bukan alasan diam. Hujan bukan alasan stasiun. Papa capek orang yang nunggu di depan kantor sampai basah. Papa tidak capek hidup.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Ojek. Panas yang sudah berawan, langit yang sudah menahan. Lobby, satpam, “Selamat pagi, Nona. Hujan siang, hati-hati.” Lift. Rekan plot, yogurt, “Serial? Hujan, file, tahun depan, jemput di lobby?” “Tidak. Deadline. Jangan jemput. Jangan serial.” File. Kopi pahit. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search, gue cek tanggal dua kali. Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap, enam. “Udah. File. Jangan telepon. Kalau hujan, omong. Saya nggak nunggu di lobby.” “Siap. Audit. Siang saya ke lapangan. Sore mungkin macet. Saya omong. Jangan nunggu lapar. Jangan ke stasiun. Siapa di mobil: nanti. Sekarang angka.” Papa angguk dari jauh. Siang file. Kolom. Cukup. Nyata.
Sore hujan turun sebelum jam pulang, bukan gerimis sopan, hujan yang bikin ojek tawar dan lobby jadi peron palsu, kaca jadi salju Osaka yang salah musim. Rekan, “Tunggu di sini. Cowok lo jemput? Serial bagus, hujan, dasi, handuk.” “Tidak. Saya makan. Saya omong. Saya ojek kalau bisa. Saya nggak jadi orang di stasiun. Jangan plot.” Chat sudah masuk, bukan diam: “Hujan. Lapangan. Molor. Makan. Jangan nunggu. Saya omong, bukan diem. Saya nggak bisa warung. Pagar malam kalau jalan buka. Kalau nggak, video. Siapa di mobil: belum. Sekarang di tenda. Kalau berubah, omong. Tahun ini makan. Termasuk Selasa.”
Gue ketik di pantry, nasi kotak sisa, bukan di lobby yang bisa jadi novel: “Saya makan sekarang. Bukan marah. Saya pulang ojek. Rumah. Nasi. Kalau Mas masih bisa, pagar, izin Mama, tiga puluh menit, bukan pidato. Kalau nggak, omong. Saya nggak ke stasiun. Saya nggak blokir. Saya nggak skip. Saya nggak nunggu basah di depan kantor.”
“Siap. Makasih nggak diem. Makasih nggak ke lobby nunggu. Ina ancam telinga saya kalau saya nyuruh kamu basah di depan kantor. Ibu saya: jangan stasiunin orang. Makan. Pulang. Saya omong jam tujuh. Siapa di tenda: saya. Kalau berubah, omong.”
Papa lewat pantry, “Muka. Hujan. Pulang. Jangan nunggu. Kasur. Kerja sudah. Jangan muka ditinggal. Jangan muka liburan. Ojek. Rumah. Nasi.” Ojek. Basah di bahu, di tas, di sepatu datar. Samping kosong, agak penuh, lalu tidak. Bukan IGD. Bukan peron. Bukan lobi apotek. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring, handuk di kursi. “Makan. Mama tidak tanya hujan. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke lobby sampai basah, atau ke stasiun, atau ke lapangan.” Nasi. Hangat. Bukan roti gosong. Papa, “Kasur. Video. Jangan ngebut jadi orang yang nunggu di hujan. Nunggu di rumah beda. Ada nasi. Ada Mama. Ada orang yang omong. Cukup.”
***
Jam tujuh chat: “Jalan buka. Saya ojek. Basah. Tangan kosong. Izin Mama. Tiga puluh menit. Bukan pidato. Udah makan. Kamu? Siapa di ojek: saya. Kalau berubah, omong.” Gue: “Udah. Nasi Mama. Datang. Pelan. Jangan ngebut di hujan. Saya nggak di lobby. Saya di rumah.” Bel. Jantung naik, bukan tiket. Ia basah, muka lelah, sepatu berat, jaket menetes, bukan bunga, bukan kotak, bukan katalog. “Maaf. Hujan. Saya omong. Saya nggak turun diam-diam. Saya nggak nyuruh kamu nunggu di lobby. Terima kasih udah pulang. Terima kasih udah makan. Tahun ini makan. Termasuk Selasa.” Papa persilakan, handuk dari Mama, kopi, gula terpisah, bukan sidang. Tidak CV. Tidak list. Mama dari dapur, telinga nyala, tidak menyerbu.
“Besok angka. Jangan ngebut file sampai lupa orang di hujan,” kata Papa pelan. “Nengok yang basah lebih baik daripada nunggu yang diem. Papa capek altar. Papa tidak capek hidup. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Papa dengar tenda. Papa tidak dengar diam. Termasuk Selasa yang hujan.”
“Siap, Pak. Saya dengar. Saya omong. Saya nggak nyuruh Git jadi orang di stasiun. Saya nggak nyuruh nunggu basah. Tahun ini bukan gedung. Bukan cincin.”
Mama tupperware. “Malam. Dua-duanya. Jangan telat makan. Hujan bukan tiket. Kasur setelah.” Di pagar, angin, hujan sisa, anjing, kelingking basah konyol. “Ini hujan. Kita omong. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan blokir. Bukan lobby.” “Bukan IGD. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong.” Gue tutup pagar. Dada penuh. Bukan sesak. Lulus hujan. Bukan lulus kawin. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Bukan packing. Bukan stasiun. Bukan lobby.
Kamar. Gaun tertutup. Tas kerja di sudut. Handuk basah di kursi, bukan altar. Diary kepala: Selasa. Hujan. Makan dulu. Pagar basah. Omong. Bukan lobby. Bukan search. Bukan skip. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Chat: “Udah makan. Selamat malam. Siapa di mobil?” “Saya. Kalau berubah, omong. Janji, bukan tagihan. Tidur. Jangan ngebut. Jangan search. Jangan skip. Tahun ini makan.” Gue miring ke dinding. Tidak packing. Tidak buka katalog. Gue tidur sebelum hujan jadi luka ditutup paksa, sebelum basah jadi packing, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum lobby jadi peron. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Selasa lunas hujan yang diomongin. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Bukan tol. Bukan IGD. Siapa di mobil masih. Tahun ini makan.