Rabu. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci klinik. Sepatu datar. Nasi. Mama radar. “Balas?” “Belum ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak. Bukan saya yang pergi.” “Yogya?” “Belum. Kalau jadi, omong. Saya di sini.” “Bagus. Kalau dia ke Yogya, kamu tetap di sini. Nasi. File. Video. Jangan stasiun. Mama cabut wifi kalau jari gatal peron. Mama cabut katalog kalau jari gatal sepi. Mama cabut koper kalau jari gatal nyusul diam-diam.” Papa, “Rabu. File. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Papa dengar Yogya. Papa tidak dengar diam-diam. Kalau jadi, dia omong. Kamu makan. Kalimat sama. Cukup.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Ojek. Lobby. Satpam. Lift. Rekan serial gagal. File. Kopi pahit. Jam sembilan lewat, chat: “Jadi. Yogya. Satu malam. Kantor. File. Saya omong sekarang, bukan diem. Saya nggak minta kamu ke stasiun. Saya berangkat siang. Pulang besok sore. Udah makan. Kamu makan. Video malam. Siapa di kereta: saya. Kalau berubah, omong. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan packing diam-diam. Kalimat sama.”
Gue di pantry, nasi kotak, jari diam, dada naik, bukan tiket. Kepala mau ngebut: blokir, packing, Osaka, gaun, stasiun, IGD, search kereta, search Mayang, nyusul Yogya diam-diam. Aturan: omong. Jangan turun diam-diam. Jangan jadi korban di peron. Makan. Jangan katalog. Kalimat sama.
Gue ketik, hapus, ketik: “Saya makan sekarang. Bukan marah. Saya nggak ke stasiun. Saya nggak blokir. Saya nggak packing. Saya nggak nyusul diam-diam. Video malam. Nanya udah makan. Kalau macet pulang, omong. Siapa di rumah: saya. Kalau berubah, omong. Tahun ini makan. Termasuk Rabu yang Yogya. Kalimat sama.”
“Siap. Makasih nggak diem. Makasih nggak ke peron. Ina ancam telinga saya kalau saya pidato di chat. Ibu saya: jangan stasiunin orang. Bapak saya: cabut telinga, jangan cabut orang. Saya diem yang benar: berangkat, sampai, makan, video. Bukan diem yang salah. Kalimat sama.”
Papa lewat pantry, angguk. “Muka utuh. Dia omong. Kamu makan. Pulang wajar. Jangan muka ditinggal. Jangan muka liburan. Angka. Kasur. Papa capek Yogya diam-diam. Papa tidak capek hidup.” Rekan, “Serial? Cowok lo kabur ke Yogya?” “Tidak. Satu malam. Omong. Deadline. Jangan plot. Jangan stasiun.” File. Setiap ingin search kereta, gue cek tanggal dua kali. Setiap ingin buka katalog, gue tutup laci. Kantor Rabu tidak boleh jadi stasiun kedua.
Siang Inara: “Mas gue berangkat Yogya. Lo jangan ke Gambir. Lo jangan drama. Nat di rumah, jangan injek. Aldo charger. Gue masak malam, lo ke sini atau ke Mama. Pilih. Jangan peron. Jangan search.” Gue: “Mama. Nasi. Video. Bukan paket. Bukan stasiun. Kalimat sama.” Zenata: “Saka tidur. Lo makan. Jangan WO karena sepi. Jangan nyusul Yogya.” Cukup. Nyata.
Sore pulang wajar. Ojek. Samping kosong, menyakitkan sedikit, lalu tidak. Bukan IGD. Bukan peron. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya Yogya. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke stasiun.” Nasi. Hangat. Papa, “Kasur. Video. Jangan ngebut jadi orang yang nunggu di peron. Nunggu di rumah beda. Ada nasi. Ada Mama. Ada file besok. Ada orang yang omong. Kalimat sama. Cukup.”
***
Malam teh, bukan sidang. Mama kue, piring kedua. “Gaun di lemari. Nanti. Jangan dipakai karena sepi. Mama senang kamu di sini, bukan di stasiun. Mama dengar Yogya. Mama tidak dengar diam-diam. Bagus. Makan kue. Sepi bukan tiket. Sepi bukan alasan packing.” Gue suap. Manis. Papa angguk. “Video. Kasur. Jangan ngebut jadi orang yang kalah sama kereta. Kereta pergi. Kereta pulang. Kamu di meja. Cukup.” Hidup. Bukan altar. Bukan tol. Bukan peron.
Jam delapan video. Ia di kamar yang tidak gue kenal namanya, kemeja rumah, muka lelah, nasi kotak di meja, lampu kuning. “Udah makan?” “Udah. Nasi Mama. Kue. Mas?” “Udah. Kotak. Tidak enak. Ada. Saya omong: sampai, file, makan, bukan pidato. Ina ngejek. Kalimat sama. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Saya nggak minta kamu ke sini. Saya nggak minta kamu ke stasiun.”
Gue nengok layar, bukan etalase. Kamar gue, AC, gaun tertutup, laci tertutup. “Tahun ini makan. Termasuk Rabu yang Yogya. Omong. Jangan stasiun. Jangan IGD. Jangan Osaka diam-diam. Jangan Yogya diam-diam. Saya di rumah. Siapa di rumah: saya. Kalau berubah, omong. Saya nggak buka katalog. Saya nggak search. Saya nanya udah makan. Kalimat sama.”
“Siap. Siapa di Yogya: saya. Kalau berubah, omong. Besok sore saya pulang. Macet, saya omong. Pagar, izin Mama, tiga puluh menit, bukan pidato. Tangan kosong. Bukan bunga. Bukan cincin.” Tasyi nyusul di layar Inara sebentar, Om Iyoo, Tante Git, jepit wortel, lagu salah tiga kali. Mbak Nares dari belakang, “Jangan ngebut. Belajarnya kelihatan. Lanjutin. Jarak kecil, omong. Jarak besar dulu, lulus. Jangan ulang yang diam. Kalimat sama.” Dhafin angguk. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti.
Setelah video, Inara chat: “Lo utuh? Jangan injek. Jangan search gedung. Jangan search Mayang. Jangan ke Gambir.” Gue: “Utuh. Nasi. Kue. Video. Jari diam. Kalimat sama.” Kavin tidak chat. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Video. Udah makan. Bukan cincin. Bukan stasiun. Yogya, omong.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kantor besok. Kasur. Mama puas kamu di sini.” Pintu.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Diary: Rabu. Yogya. Satu malam. Omong. Bukan peron. Bukan blokir. Nasi Mama. Video. Kalimat sama. Gue miring. Tidak packing. Tidak buka katalog. Tidak ke stasiun. Gue tidur sebelum satu malam jadi luka ditutup paksa, sebelum sepi jadi packing, sebelum Yogya jadi altar, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Rabu lunas Yogya yang diomongin. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Siapa di rumah masih. Kalimat sama.